3 Penyebab Kegagalan Mencapai Target Trading Forex

Mungkin sudah cukup sering saya mengungkapkan melalui tulisan atau seminar, webinar, atau workshop yang saya bawakan bahwa yang terpenting bagi seorang trader bukanlah hasil, melainkan proses.

OK, mungkin terdengar terlalu idealis, tetapi disukai atau tidak memang itulah intinya. Karena dalam prosesnya, seorang trader setidaknya harus memiliki cukup pengetahuan dan disiplin. Seorang trader yang disiplin dan berpengalaman bisa dengan mudah mengantisipasi setiap pergerakan pasar yang tidak sesuai dengan harapannya. Tanpa hal-hal dasar ini, tidak mungkin seseorang bisa tiba-tiba menjelma menjadi trader yang kompeten. Pengetahuan, pengalaman dan kedisiplinan membutuhkan proses.

Lebih penting lagi adalah proses dalam mengambil keputusan trading. Seorang trader tidak mengambil keputusan dengan cara menghitung jumlah kancing bajunya. Tidak berdasarkan ramalah zodiaknya. Tidak pula berdasarkan perasaan. Trader kok baper….

Berdasarkan pengalaman pula saya bisa menemukan bahwa ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang trader gagal dalam mencapai target-targetnya dalam trading forex. Tiga di antaranya adalah berikut ini:

  1. Tidak memiliki trading plan yang jelas

Silakan menetapkan target setinggi mungkin yang Anda inginkan, tetapi ingatlah bahwa target tanpa perencanaan yang jelas sama dengan mimpi.

Buatlah target-target berdasarkan trading plan yang terencana dengan baik. Semakin detil trading plan Anda, semakin baik. Masukkan detil-detil seperti pembatasan resiko per transaksi, strategi/sistem trading yang dipergunakan, hingga strategi berupa risk management tool yang akan Anda pergunakan (cut loss, switching, averaging dan sebagainya).

  1. Tidak menjalankan trading plan dengan baik

Banyak trader yang begitu bersemangat ketika menyusun trading plan namun kendur ketika melaksanakannya. Akhirnya trading plan yang ia buat hanya menjadi “monument” belaka yang nasibnya mirip dengan resolusi tahun barunya yang ia buat dengan penuh semangat menjelang akhir tahun, namun akhirnya terlupakan begitu saja.

Jadi, setelah Anda menyusun trading plan, laksanakanlah dengan disiplin bahkan sampai ke hal-hal “kecil”. Jangan melakukan pelanggaran sekecil apa pun terhadap trading plan Anda karena itu akan menjadi kebiasaan dan pada gilirannya Anda akan menjadi semakin permisif dalam mengingkari trading plan tersebut, sehingga Anda akan terbiasa melakukan pelanggaran yang berakibat fatal.

Contohnya, seorang trader tadinya telah menetapkan bahwa resiko per transaksi tidak boleh lebih dari 10% dari modalnya. Misalkan ia memiliki modal sebesar $1,000 maka resiko untuk setiap transaksi yang ia lakukan tidak boleh lebih dari $100.

Suatu ketika ia melihat sinyal trading berdasarkan sistem yang ia miliki. Dengan perhitungan position size, katakanlah semestinya ia hanya membuka 0.1 lot. Tetapi kala itu ia merasa yakin bahwa sinyal trading yang ia lihat sangat akurat, sehingga ia tergoda untuk membuka transaksi lebih besar lagi, misalnya 0.5 lot, dengan cita-cita ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Salah satu alasan mengapa resiko perlu dibatasi adalah untuk menghindari resiko yang terlalu besar. Ketika si Trader memutuskan untuk membuka transaksi sebesar 0.5 lot dengan batasan SL yang tidak berubah, itu artinya ia membiarkan modalnya untuk menghadapi resiko yang lebih besar daripada seharusnya.

Perilaku seperti ini cenderung berulang dan ketika si Trader menyadari kesalahannya, biasanya sudah terlambat. The end has come.

  1. Tidak terbiasa membuat jurnal trading

Ini yang paling sering diabaikan trader. Anda sebaiknya mencatat setiap hal yang terkait dengan transaksi yang Anda lakukan. Anda sebaiknya melakukan pencatatan tersebut setiap kali Anda melakukan transaksi.

Anda bisa mengisi jurnal Anda misalnya seperti ini:

forex trading, trading forex

Ketika transaksi tersebut ditutup, catat juga hasilnya (profit atau loss, tidak perlu detil hingga besaran profit/loss karena sudah ada di Account History). Catat juga apa kira-kira yang menyebabkan transaksi Anda berakhir untung atau rugi.

Jurnal seperti ini akan sangat membantu Anda dalam mengevaluasi hasil trading Anda. Jika total transaksi Anda menghasilkan keuntungan, Anda tinggal mengulang apa yang Anda lakukan. Sebaliknya jika hasilnya merugi, Anda bisa tahu apa yang menyebabkan kerugian itu agar bisa Anda hindari di kemudian hari.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex 100% Berhasil, Mungkinkah?

Sebentar. Sebelum Anda melanjutkan membaca artikel ini, saya mau bertanya. Siapa di antara Anda yang menafsirkan bahwa strategi yang akan saya paparkan kali ini adalah strategi trading forex tanpa loss? Jika Anda menafsirkan demikian, bersiaplah untuk kecewa.

Eits, tunggu dulu. Anda perlu tahu bahwa meskipun ada transaksi yang mengalami loss, strategi yang akan saya paparkan kali ini tetap sering dipergunakan untuk meraih potensi keuntungan. Apa nama strategi itu? Namanya adalah: MARTINGALE.

Apa Itu Martingale?

Sebenarnya strategi ini sangat sering dipraktekkan di meja judi semacam kasino (tempat judi) di Las Vegas. Konon, strategi inilah yang menyebabkan kasino-kasino jaman now menerapkan aturan berupa pembatasan jumlah taruhan maksimun dan minimum. Masalah utama dalam menerapkan strategi ini adalah bahwa Anda mutlak memerlukan dana yang sangat – sangatBESAR. Bahkan saya sendiri sering mengatakan bahwa untuk menerapkan strategi ini agar bisa bekerja 100%, Anda membutuhkan sumber dana yang “tidak terhingga”.

google-review-foreximf

Strategi martingale dibangun di atas teori (setidaknya hipotesa) bahwa harga akan senantiasa mengalami koreksi. Saya ingatkan sekali lagi: tanpa sokongan modal yang cukup besar, penerapan strategi ini hanya akan membawa Anda menuju kegagalan.

Strategi ini sendiri mulai dipopulerkan di abad ke-18. Pertama kali diperkenalkan oleh ahli matematika Perancis bernama Paul Pierre Levy. Aslinya, strategi ini berasal dari teknik bertaruh “doubling down”.

Di meja judi, dengan sistem doubling down, jumlah “taruhan” justru akan digandakan tiap kali mengalami kekalahan. Dengan demikian pada suatu saat semua kekalahan akan tertutup oleh satu kali kemenangan.

Mari kita ambil contoh. Anggaplah Anda sedang “bertaruh” dengan saya. Kita bertaruh lempar koin, yang memiliki dua sisi yaitu sisi “gambar” dan sisi “angka”. Anggaplah besar taruhan kita adalah $1 untuk tiap kali tos (lempar koin). Ingat, tiap kali kalah, Anda akan menggandakan taruhan Anda.

Ingat juga bahwa Anda akan konsisten bertaruh hanya untuk kemunculan sisi “angka”. Meskipun Anda bisa jadi akan beberapa kali kalah, tetapi pada suatu waktu semua kekalahan Anda itu akan terbayar.

Hasil dari “permainan” kita akan saya ilustrasikan dalam tabel berikut:

Dari tabel di atas bisa Anda lihat bahwa dari tos ke-2 hingga ke-6 Anda selalu kalah. Tetapi pada tos ke-7, pilihan Anda muncul dan Anda memenangkan $32. Ketika ditotal, semua kekalahan Anda langsung terbayar dan hasilnya Anda untung sebesar $2.

Tetapi itu asumsinya adalah pada tos ke-10 Anda menang. Jika ternyata sisi “angka” tak kunjung muncul, maka pertanyaannya adalah, “Masih cukupkah uang Anda untuk melanjutkan permainan?”

Aplikasi Martingale Sebagai Strategi Trading

Contoh di atas adalah ilustrasi hasil yang mungkin muncul jika Anda berjudi. Kemunculan sisi “angka” atau “gambar” murni karena keberuntungan (atau kesialan) semata. Tetapi ketika trading, Anda akan melihat bahwa pergerakan harga mata uang cenderung bergerak dalam trend tertentu (price moves in trend) dan trend tersebut bisa berlangsung cukup panjang. Kunci pertama Anda adalah menentukan posisi pertama yang benar (buy atau sell).

Selain itu, trend juga memiliki “koreksi”. Jadi meskipun posisi pertama Anda salah, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar kesalahan tersebut ketika terjadi koreksi.

Trend dan koreksi sendiri merupakan sebuah keniscayaan dalam pergerakan harga. Dengan demikian, unsur “spekulatif” dalam penerapan martingale dalam trading bisa dihilangkan, atau setidaknya diminimalisir. Apalagi jika dikombinasikan dengan analisa teknikal dalam menentukan pembukaan posisi.

Coba Anda simak ilustrasi berikut ini:

strategi trading forex, martingale

Anda bisa melihat bahwa ketika harga naik ke 1.50500 maka si Trader sudah mengalami kerugian sebesar 500 pips (-$500). Dengan sistem martingale, di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar dua lot, digandakan dari  posisi sebelumnya yang hanya 1 lot. Ketika harga naik lagi ke 1.51000, si Trader sudah mengalami kerugian sebesar -$2,000 dan di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar 4 lot.

Ketika harga kembali ke 1.50500, barulah kerugiannya berubah menjadi keuntungan sebesar 1500 pips atau $1,500.

Pertanyaan yang sama kembali muncul, “Sampai sejauh mana modal Anda kuat menahan pergerakan harga?”

Saya lantas membuat hitung-hitungan sederhana. Jika Anda ingin menerapkan martingale dengan memulai transaksi dengan besaran 0.1 lot dengan multiplier (pengali) dua, kira-kira modal yang Anda butuhkan akan seperti ilustrasi di bawah ini:

Interval (jarak) antar posisi : 500 pips
Lot awal : 0.1
Multiplier (pengali) : 2
Deposit awal : USD 50,000
Posisi : Sell

 

Output:

Dari ilustrasi di atas, terlihat bahwa dengan modal $50,000 Anda bisa menahan pergerakan harga hingga 3500 pips. Jika harga tak mengalami koreksi dan terus naik, maka modal sebesar itu bisa habis.

Maka jika Anda ingin menjalankan strategi trading forex ini, modal yang Anda butuhkan sangatlah besar. Bahkan mungkin Anda harus menyiapkan sumber dana yang tak terbatas, seperti yang saya sampaikan di awal. Artinya, resikonya pun mungkin unlimited.

So, the choice is yours. Choose wisely.

Strategi Trading Forex ”London Breakout”

Strategi trading forex “London breakout” merupakan salah satu strategi yang cukup populer dalam forex. Dalam perkembangannya, masing-masing trader/analis yang mengembangkan strategi ini memberikan nama yang berbeda-beda, tetapi konsepnya sama yaitu memanfaatkan pergerakan menjelang pembukaan market London.

Strategi yang termasuk dalam kategori mechanical trading system ini didesain untuk “menangkap” pergerakan cepat yang terjadi menjelang pembukaan pasar London. Untuk bisa mempergunakan strategi ini Anda membutuhkan kemampuan dasar mempergunakan MetaTrader, minimal menggambar kotak dan garis horizontal di chart, plus beberapa jam memantau sesi London.

google-review-foreximf

Saya kira tidak perlu saya beritahu lagi bahwa sebelum pasar London buka sudah ada pasar di sesi Asia yang telah berjalan. Biasanya memang aktivitas pasar yang paling tinggi terlihat pada sesi Eropa, maka dengan strategi ini kita akan mencoba untuk mencari peluang dengan berpatokan pada range harga yang tercipta pada saat sesi Asia.

Sebenarnya Anda tidak perlu mempergunakan indikator apa pun untuk menjalankan strategi trading forex “London Breakout” ini. Meskipun demikian, kalau Anda bisa menemukan indikator “market hour” di internet atau marketplace MetaTrader, itu akan cukup membantu. Tetapi, indikator itu sifatnya opsional, tak ada pun tidak masalah. Yang penting Anda tahu bagaimana cara membuat kotak dan garis horizontal di MetaTrader.

Strategi

Jadi, menjelang memasuki sesi London, Anda telah memiliki range harga sebagai acuan yang terbentuk dari pergerakan di sesi Asia. Adapun range yang dimaksud sebenarnya bukanlah range sesi Asia secara keseluruhan, melainkan tiga jam terakhir saja. Currency pair yang paling cocok untuk strategi ini adalah GBPUSD, EURUSD dan NZDUSD.

Agar penjelasannya lebih mudah, strateginya akan saya rangkum sebagai berikut:

  1. Pergunakan time frame
  2. Buat kotak di chart dengan tiga candlestick terakhir yang muncul sebelum sesi London dimulai. Jika Anda mempergunakan FOREXimf Trader berplatform MetaTrader, maka candlestick yang menjadi acuan adalah candlestick dari pukul 07:00 sampai 09:00 waktu MetaTrader.
  3. Berdasarkan “kotak” tersebut di atas, gambarlah dua garis horizontal yang masing-masing berfungsi sebagai support dan resistance. Artinya Anda harus menggambar satu garis horizontal di sisi atas “kotak” tersebut dan satu garis horizontal lainnya di sisi bawah “kotak”.
  4. Tempatkan Stop Order:
    1. Buy Stop kira-kira 5 pips di atas resistance, tempatkan SL di level Sell Stop
    2. Sell Stop kira-kira 5 pips di bawah support, tempatkan SL di level Buy Stop
  5. Jika salah satu Stop Order tereksekusi (done), Anda harus segera menghapus (cancel) Stop Order yang menjadi lawannya. Artinya jika Buy Stop yang tereksekusi maka segeralah batalkan oder Sell Stop dan sebaliknya.

Gambar di bawah ini bisa memperjelas strategi yang saya paparkan di atas:

strategi trading forex, strategi london breakout

 

 

 

Kelebihan dan Kekurangan

Sebagaimana mechanical trading system lain, strategi trading forex “London Breakout” ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya adalah:

  • Tidak memerlukan indikator teknikal yang rumit
  • Relatif mudah untuk dimengerti dan diterapkan
  • Murni mempergunakan price action, sehingga mengurangi resiko terlambat masuk posisi

Kelemahannya adalah:

  • Ada potensi “terjebak” oleh bull trap atau bear trap
  • Pada hari Senin atau Jumat sering muncul pergerakan yang “tidak biasa”, sehingga peluang yang muncul di hari tersebut cenderung kurang akurat.

Seperti biasa, saya menyarankan Anda untuk mempelajari dan melatih strategi ini terlebih dahulu di demo account sebelum menjalankannya di real account Anda, sebab belum tentu strategi ini cocok untuk Anda.

Jangan lupa, meskipun mempergunakan demo account Anda tetap harus memperlakukannya seperti real account, terutama dalam hal penempatan SL. Pembiasaan melalui demo account akan membentuk habit yang baik sebagai seorang trader.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex Short-Term: Reversal Bollinger

Anda mungkin sudah sangat mengenal Bollinger Band. Mungkin juga sudah mempergunakannya dalam melakukan forex trading. Kali ini saya akan membahas salah satu strategi trading forex yang mempergunakan Bollinger Band dalam sebuah mechanical trading system yang sederhana untuk transaksi jangka pendek.

Dalam strategi sederhana ini, Bollinger Band bekerja untuk mencari titik balik (reversal) dalam sebuah trend. Anda mungkin telah mengetahui bahwa garis-garis pada Bollinger Band bisa dimanfaatkan sebagai area support dan resistance dinamis.

google-review-foreximf

Tidak seperti indikator berbasis trend lainnya, keberadaan upper dan lower band pada Bollinger Band membuat indikator ini bisa dimanfaatkan saat market sideway, tentunya dengan teknitk tertentu. Nah, kali ini saya akan membahas teknik tersebut.

Menariknya, teknik yang akan saya paparkan kali ini cukup efektif dipergunakan saat sideway, atau kondisi trending yang tidak terlalu curam. Tetapi waspadalah karena kondisi sideway biasanya diikuti oleh penyempitan Bollinger Band (Bollinger squeeze). Squeeze cuku sering diikuti oleh rally pasca penembusan upper atau lower band. Untuk memperkecil resiko maka teknik ini juga mengikutsertakan salah satu indikator osilator, yaitu RSI yang bisa memberikan informasi dini mengenai kondisi jenuh beli atau jenuh jual. Penggunaan RSI diharapkan akan bisa memberikan filter yang lebih baik

Sebagai sinyal untuk melakukan transaksi, strategi ini memanfaatkan kemunculan pola candlestick yang memperlihatkan terjadinya false-break ke atas upper band atau ke bawah lower band. Tentu saja teknik ini hanya bisa menjanjikan potensi rebound jangka pendek saja. Dengan demikian, penempatan target profit (TP) tidak bisa terlalu jauh.

OK, tanpa perlu panjang-lebar, pemaparan berikut ini adalah aturan penggunaan strategi ini.

Pair: currency pair yang tidak terlau fluktuatif, disarankan di USDCAD.

Time frame: H1 ke atas

Indikator Teknikal:

  • Bollinger Band:
    • Period: 50
    • Deviations: 2
    • Apply to: close
  • RSI:
    • Period: 5
    • Apply to: close

Sinyal Trading:

  • Sinyal sell:
    • Jika harga high dari candlestick yang dijadikan acuan lebih tinggi daripada upper band dan harga close-nya berada di bawah upper band.
    • RSI sudah crossing dari atas 75 (ke bawah).
strategi trading forex, bolinger band

Entry sell setelah candlestick acuan close di bawah upper band

  • Sinyal buy:
    • Jika harga low dari candlestick yang dijadikan acuan lebih rendah daripada lower band dan harga close-nya berada di atas lower band.
    • RSI sudah crossing dari bawah 25 (ke atas).
strategi trading forex, bolinger band

Entry buy setelah candlestick acuan close di atas lower band

Strategi exit:

  • Tempatkan SL sejauh 50 pips di atas high candlestick acuan
  • Penempatan TP:
    • Target I: middle band
    • Target II: lower band (untuk posisi sell)/upper band (untuk posisi buy)
    • Tips: jika harga sudah menyentuh target pertama, disarankan untuk mengaktifkan trailing stop atau menutup sebagian posisi (partial close).
strategi trading forex, bolinger band

Close sebagian posisi atau aktifkan trailing stop ketika harga mencapai target I (middle band)

strategi trading forex, bolinger band

Close semua posisi ketika harga mencapai target II (lower band)

 

Peringatan!

Sebagaimana mechanical trading system sederhana lainnya, tidak ada jaminan bahwa strategi ini akan selalu menghasilkan keuntungan. Dalam trading, Anda harus memadukan sistem trading forex Anda dengan risk management dan money management yang baik dan sesuai dengan kekuatan modal Anda.

Selamat mencoba.

Belajar Trading Forex Dengan Benar

Halo, para Trader. Kali ini saya akan berceritera tentang perilaku trading saya di masa lampau. Masa ketika saya masih berstatus newbie (meskipun saat ini belum bisa dikatakan expert) di dunia trading forex yang penuh dengan gelora ini.

Saya mengenal forex di tahun 2005. Saya menghabiskan waktu mempelajari berbagai macam teknik analisa dan trading dalam waktu lebih kurang setahun. Saya tidak peduli meskipun saat itu saya masih berstatus sebagai tenaga pemasar di sebuah pialang berjangka. Bagi saya, yang penting belajar dulu. Cari nasabah belakangan saja. Toh waktu itu saya tidak digaji, hanya mendapatkan komisi dari transaksi nasabah saya, itu pun jika saya berhasil memperoleh nasabah.

google-review-foreximf

Bisa ditebak, perilaku itu berbuah ceramah dan nasihat panjang lebar dari supervisor saya dulu. Beliau pun semakin yakin kalau ia salah merekrut orang. Tetapi beliau rupanya melihat potensi lain pada diri saya, sehingga akhirnya pada tahun 2008 beliau merekomendasikan saya untuk menjadi staf market analyst di pialang tersebut. But thats another story.

Tahun 2006, saya memberanikan diri untuk trading dengan modal patungan bersama tiga orang teman. Di beberapa bulan pertama saya trading real account, saya menganggap performa trading saya “luar biasa”. Mengapa? Di tiga bulan pertama, saya berhasil membukukan keuntungan berturut-turut sekitar 30% dari modal awal. Meskipun sudah dibagi empat, sebagai fresh graduate kala itu perolehan sebesar itu cukup besar bagi saya.

Kepercayaan diri saya bertambah, bahkan cenderung jumawa. Saya merasa sudah berada di puncak dunia. Bayangkan, dalam tiga bulan trading itu saya tidak pernah sekalipun melakukan cut-loss. Catat ya: TIDAK PERNAH. Itu artinya 100% dari transaksi yang saya lakukan dalam tiga bulan tersebut membuahkan profit.

Nahas, di bulan ke-4 saya tak mampu mempertahankan prestasi. Floating loss berlarut-larut hingga akhirnya saya menyatakan diri tidak mampu lagi mengelola modal kami. Untungnya sempat profit, sehingga jika ditotal kerugian kami “hanya” sekitar 50% dari modal awal (bandingkan dengan kebanyakan trader yang harus sampai terkena margin call).

Waktu itu saya menarik kesimpulan ilmu yang saya peroleh kurang lengkap. Tetapi ternyata kesalahan saya lebih dari itu. Kesalahan utama saya adalah mindset yang salah dan cara belajar yang tidak tepat.

Seperti kebanyakan trader pemula, waktu itu saya terlalu fokus untuk mendapatkan hasil yang cepat dan – tentu saja – banyak. Waktu itu forex digambarkan sebagai salah satu bentuk bisnis yang menawarkan hasil yang cepat. Bahkan mungkin hingga saat ini pun mindset masyarakat masih sama tentang forex.

Betul bahwa pergerakan harga mata uang jauh lebih volatile dibandingkan dengan saham, misalnya, sehingga peluang yang tercipta memang jauh lebih besar. Di sinilah “racun”-nya. Ambisi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat seringkali membuat seorang trader membuka transaksi yang terlalu besar. Padahal di balik potensi keuntungan yang besar itu tersimpan pula resiko yang tak kalah besarnya. Itulah sebabnya mengapa sangat dianjurkan untuk membatasi resiko melalui pengaturan penggunaan modal yang tepat (mengatur jumlah lot) serta pembatasan resiko yang sesuai (manajemen resiko). Sayangnya, keinginan untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat membuat banyak trader melupakan hal yang sangat mendasar dalam trading ini.

Itu juga “dosa” yang saya lakukan dulu. Dalam pikiran saya hanya ada “untung, untung dan untung”. Seperti yang saya sampaikan di atas, dalam tiga bulan pertama pengalaman trading saya tidak pernah melakukan cut-loss sekalipun. Tidak pernah membatasi resiko dengan stop loss. Padahal tidak ada seorang pun yang bisa tahu persis ke mana harga akan bergerak. Artinya, kita bisa mengalami kerugian kapan saja. Antisipasi akan hal tersebut adalah manajemen resiko, yang banyak dilupakan trader.

Selain mindset, banyak juga trader yang melewati proses pembelajaran trading forex yang benar. Kebanyakan ingin langsung bisa melakukan trading dengan strategi atau sistem yang siap pakai. Itu pun dulu merupakan dosa saya.

Saya dulu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari berbagai strategi atau sistem trading tanpa meluangkan cukup waktu untuk mempelajari dasar-dasar trading. Saya bahkan baru memahami konsep dasar trend setelah dua tahun terjun ke dunia trading, yang sialnya baru saya pelajari setelah sempat “terjungkal”. Bayangkan, ada trader yang berani trading bahkan sebelum ia paham apa itu trend yang merupakan “nyawa” dari pergerakan harga.

Saya sering menganalogikan belajar trading forex seperti mempelajari beladiri. Tidak mungkin ada seorang karateka yang langsung menyandang sabuk hitam tanpa melalui proses berlatih yang panjang mulai dari sabuk putih, kuning dan seterusnya, kecuali jika ia adalah orang penting yang diangkat sebagai anggota kehormatan perguruan tertentu.

Belajar trading pun demikian. Seseorang sebaiknya mempelajari ilmu tentang trading dari sumber yang kompeten dan dengan cara yang benar juga. Pelajarilah dasar-dasar trading terlebih dahulu, yaitu trend, support dan resistance. Setelah Anda menguasai ketiga elemen tersebut, barulah Anda bisa melanjutkan ke materi lain seperti indikator teknikal, pola harga (price pattern) dan lain-lain.

Kebanyakan kesalahan yang dilakukan trader adalah langsung “loncat” ke sistem atau strategi trading. Padahal untuk bisa mengetahui pada kondisi seperti apa sebuah sistem trading bisa dipergunakan atau tidak, kita harus mengetahui apa yang menjadi dasar sistem trading tersebut. Nah, untuk mengetahui dasar sistem trading tersebut, mau tidak mau kita harus memahami dulu dasar-dasar trading.

Jadi, sekali lagi: belajarlah dari sumber yang reliable dan dengan cara yang benar pula. FOREXimf.com bisa menjadi salah satu rujukan Anda.

Selamat belajar.

5 Alasan Ini Menandakan Trader “Newbie “

Tujuan akhir seseorang melakukan trading forex tentu adalah mencari keuntungan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut cukup lumrah jika seorang trader mengalami beberapa kali kegagalan alias loss.

Jika Anda adalah trader yang sudah cukup “dewasa”, Anda akan dengan mudah melewati hambatan demi hambatan, kerugian demi kerugian. Itu karena Anda sudah kenyang akan pengalaman trading dan bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian untuk dijadikan bekal berharga di kemudian hari.

Lain halnya dengan trader-trader newbie, atau pemula. Tiap kali mengalami kerugian, mereka bisa melontarkan berbagai macam alasan, namun tidak satu pun dari berbagai alasan itu mencerminkan sikap mengevaluasi diri sendiri.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Kali ini saya akan menceritakan beberapa alasan yang cukup sering saya dengar dari para trader newbie. Apakah alasan-alasan ini masih cukup sering Anda lontarkan? Jika ya, mungkin Anda masih tergolong newbie.

Alasan #1: Pasar kacau, tidak masuk akal

Rugi memang tidak enak. Bayangkan, Anda sudah melakukan analisa yang menurut Anda benar, sudah mencari level buy atau sell yang menurut Anda level terbaik, lalu Anda membuka posisi dengan penuh percaya diri. Sudah begitu, masih loss juga.  

Maka alasan yang paling “aman” agar tidak mencederai rasa percaya diri, biasanya adalah menyalahkan pasar. Sesungguhnya ini perilaku aneh. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyalahkan pasar, padahal pasar memang bergerak sesuai dengan kehendaknya. Kita yang harus menyesuaikan diri dengan perilaku pasar, bukan pasar yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak kita.

Pasar memiliki jutaan alasan yang menyebabkan harga bergerak. Artinya ada banyak kemungkinan bahwa arah pasar tidak akan sesuai dengan keinginan kita. Maka dari itu yang penting adalah mempersiapkan diri (dan tentu saja modal) kita untuk menghadapi berbagai skenario. Pastikan Anda melakukan transaksi sesuai dengan kemampuan.

Alasan #2: Broker curang!

Ini alasan yang termasuk paling populer.

Mungkin saja alasan seperti ini muncul karena (terutama di masa lalu) banyak pialang (broker) yang memang melakukan kecurangan. Tetapi perlu Anda ketahui bahwa dewasa ini pengawasan terhadap pialang, khususnya di Indonesia yang dilakukan oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) semakin ketat. Bahkan audit berkala senantiasa dilakukan oleh Bappebti.

Lalu bagaimana dengan broker yang tidak teregulasi Bappebti tetapi beroperasi di Indonesia? Ehem… mohon maaf, saya tidak bisa berkomentar. 😉

Jadi pastikanlah bahwa Anda sudah melakukan transaksi bersama pialang yang legal dan bereputasi baik. Jika Anda sudah trading dengan trader legal dan bereputasi baik tetapi masih menggunakan alasan “broker curang” untuk menutupi ego Anda, mungkin Anda memang masih berada di level newbie.

Alasan #3: Trading memang tidak mungkin bisa profit

Ayolah. Ketika seseorang memulai trading, tidak mungkin tujuannya bukan untuk mencari keuntungan dan ia tentu mengambil keputusan tersebut setelah melihat ada orang lain yang berhasil mendapatkan profit.

Masalahnya adalah ketika seorang pemula memutuskan untuk trading (real), ia datang dengan harapan yang terlalu tinggi. Ia memulai trading dengan konsep yang keliru, dengan mindset bahwa forex trading bisa menghasilkan uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dalam kurang dari sebulan. Betul bahwa memang itu bisa terjadi, tetapi yang perlu juga disadari bahwa untuk mencapai hal tersebut seseorang membutuhkan waktu yang panjang, ilmu yang mumpuni, disiplin yang tinggi dan – tentu saja – modal yang memadai.

Seorang trader minimal harus mempelajari analisa fundamental, analisa teknikal, atau bahkan keduanya. Ia harus mempelajari beberapa sistem trading dan melakukan transaksi tanpa ragu dan konsisten, barulah kemudian ia bisa mengembangkan modal dan menerapkan manajemen resiko yang sebanding dengan modalnya.

Saya sendiri tentu sudah berhenti trading sepuluh tahun yang lalu jika saya tidak yakin bisa mendapatkan keuntungan dari trading. Demikian pula tim saya: tim Market Analyst FOREXimf.com yang hingga sejauh ini masih berhasil mengakumulasikan hasil transaksi yang cukup baik berdasarkan analisa yang kami buat. Hasil analisa itu selalu kami informasikan kepada semua nasabah FOREXimf.com secepat mungkin melalui ponsel mereka masing-masing.

Alasan #4: Tidak ada strategi trading yang bagus

Benarkah?

Alasan ini biasanya muncul dari orang yang sudah merasa mencoba sekian banyak strategi namun tetap gagal. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa semua strategi trading itu omong kosong.

Kalimat yang lebih tepat adalah “tidak ada strategi trading yang paling bagus”. Semua strategi bisa jadi bagus, bisa jadi buruk juga. Itu akan sangat tergantung pada banyak hal, di antaranya adalah kemampuan dan pengtahuan si trader itu sendiri. Belum lagi kesesuaian strategi tersebut dengan style si trader.

Saya ceritakan pengalaman saya ketika berlatih menembakkan senjata api untuk pertama kalinya. Pelatih meminjamkan pistol SIG Sauer P226 yang biasa ia pergunakan kepada saya, dan ia betul-betul menjelaskan bagaimana cara menembak yang baik dan benar. Ia mempraktekkan lebih dulu, lalu saya mengikuti.

Kami menggunakan pistol yang sama, berada di lokasi yang sama dan jarak sasaran yang sama pula. Hasil perkenaan tembakannya? Jauh berbeda. Jadi? Bukan pistolnya yang salah, sayalah yang tidak bisa memaksimalkan potensi pistol tersebut. It’s about the man behind the gun.

Dalam trading, Anda harus benar-benar menguasai strategi yang Anda pergunakan. Strategi itu juga harus cocok dengan gaya trading Anda. Kalau tidak, ya meleset.

Alasan #5: Forex trading itu terlalu rumit

Solusinya sederhana: pelajarilah dengan cara yang benar dan dari sumber yang kompeten. Jangan malu untuk bertanya. Contohnya, pelajari saja semua materi trading di laman EduSpot yang ada di situs kami ini. Anda bingung? Bertanyalah kepada kami. Kami tunggu.

8 Hal Yang Bisa Ditiru Trader Forex Dari Ahli Beladiri

Saya sangat suka menganalogikan seorang trader forex dengan seorang ahli bela diri. Setiap ahli bela diri sangat paham bagaimana rasanya digembleng secara mental, fisik dan emosi. Entah itu dari latihan yang berat yang hampir membuat putus asa, kalah dalam pertandingan atau gagal masuk seleksi tim kompetisi. Seorang praktisi bela diri harus mampu melewati semua tantangan itu dalam perjalanannya menjadi seorang ahli bela diri.

Memang tidak mudah. Kemampuan untuk terus melanjutkan proses meskipun di saat-saat terberat memang sangat bergantung pada kekuatan mental seseorang yang hanya bisa diperoleh melalui latihan dan kerja keras bertahun-tahun.

Demikian pula trader yang berpengalaman, mereka tahu persis bagaimana rasanya menghadapi setiap resiko dan mencoba untuk bangkit setiap saat mereka jatuh. Tidak ada trader yang tiba-tiba muncul sebagai seorang ahli trading tanpa pernah melalui proses belajar, berlatih dan – tentu saja – bergelut dengan kondisi pasar yang kerap tak menentu dan stressful.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Kali ini saya akan mengajak Anda untuk mencoba melihat, kebiasaan apa saja yang bisa kita tiru dari seorang ahli bela diri untuk bisa menjadi trader yang tangguh.

  1. Kemampuan untuk bertahan

Menyerah bukanlah sebuah pilihan. Tak peduli betapa melelahkannya, betapa menyakitkannya proses yang dijalani, tidak boleh menjadi penghalang antara Anda dan tujuan Anda. Jika suatu saat Anda merasa akan menyerah, coba pikirkan, “Seberapa besar keinginan saya untuk berhasil? Apakah saya nanti akan menyesal jika saya berhenti sekarang?” Kalaupuan Anda tak mampu menjawabnya, jangan menyerah. Anda sudah hampir mencapai tujuan Anda.

  1. Kemauan untuk berubah

Tentu saja yang dimaksud di sini adalah berubah untuk menjadi lebih baik. Semakin kuat mental seseorang, sebenarnya akan semakin mudah mereka untuk beradaptasi. Mempelajari teknik baru dan menyempurnakan teknik yang telah dikuasai merupakan hal penting untuk tetap bisa bergerak maju. Mereka yang keras kepala dan ragu untuk mempelajari hal-hal baru akan tertinggal.

Tetapi perlu diingat, semangat mempelajari hal-hal baru bukan berarti Anda secara membabi-buta mempercayai setiap informasi yang Anda terima. Pastikan bahwa hal-hal baru yang Anda pelajari itu datang dari sumber yang kompeten, yang luas pengetahuannya dan memiliki jejak rekam yang baik di bidangnya.

Di bidang trading forex ini, tidak bisa dipungkiri bahwa jam terbang sangat mempengaruhi kompetensi seseorang. Mengapa? Karena pengalaman yang membentuknya.

  1. Kemampuan mengendalikan diri

Salah satu butir “Sumpah Karate” berbunyi “sanggup menguasai diri”. Karateka – dan pasti juga ahli bela diri lain – yang bermental baik selalu bisa mengontrol emosi mereka dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pertandingan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak akan mudah terpancing untuk melayani tantangan seorang berandalan, sebab mereka sadar dengan kemampuan yang mereka miliki, berkelahi dengan seorang berandalan justru bisa berakibat fatal bagi si berandal tersebut.

Ketika dalam pertandingan, mereka tahu persis apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Dengan mengetahui apa yang tidak boleh mereka lakukan, mereka tidak akan membuang-buang waktu untuk itu. Mereka hanya akan fokus pada peluang mana yang benar-benar bisa mereka menangkan, bukannya memaksakan diri melakukan semua serangan tanpa perhitungan.

Sebagai trader forex, kuasai emosi Anda. Jangan mudah terpancing untuk melakukan aksi kecuali jika Anda benar-benar yakin peluang untuk berhasil cukup besar.

  1. Keberanian mengambil resiko

Sekilas mungkin bertentangan dengan poin nomor 3 di atas, tetapi sebenarnya tidak. Mengambil resiko pun tentu dengan perhitungan yang matang. Tanpa perhitungan yang matang, akan konyol akibatnya.

Sematang apa pun strategi pertandingan yang sudah dilatih, akan percuma jika sang ahli bela diri tidak berani membuat serangan. Demikian juga dalam trading. Secanggih apa pun strategi trading Anda, akan percuma jika Anda tak berani membuka transaksi berdasarkan strategi tersebut.

  1. Kemampuan untuk move on

Tidak setiap pertandingan bisa dimenangkan, pasti ada waktunya mengecap kekalahan. Banyak orang yang suka larut dalam masa lalu dan menyesali kejadian yang telah lampau, berharap seandainya mereka mengambil langkah yang berbeda saat itu.

Daripada larut dalam lamunan masa lalu, mengapa Anda tidak memfokuskan pikiran untuk masa depan? Mengakui bahwa telah melakukan kesalahan di masa lalu itu penting, tetapi lebih penting lagi jika Anda mengambil pelajaran dari situ dan bersiap untuk menyongsong masa depan.

  1. Mampu belajar dari kesalahan

Ini berkaitan dengan poin nomor 5 di atas, tetapi “move on” dan belajar dari kesalahan itu adalah dua hal yang berbeda. Setelah mengakui bahwa Anda telah melakukan kesalahan, Anda harus bisa memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu. Sayangnya, untuk bisa belajar dari kesalahan, Anda memang harus mampu betul-betul “move on” dulu.

  1. Percaya diri

Salah satu output dari mempelajari bela diri adalah meningkatnya kepercayaan diri. Tidak mungkin – setidaknya kecil peluangnya – seorang atlet bela diri bisa memenangkan sebuah pertandingan jika ia tidak percaya diri. Kepercayaan diri ini bisa didapat dari latihan rutin – dan tentu saja serius – selama bertahun-tahun.

Jika seorang trader sudah berlatih dengan waktu yang cukup sehingga mendapat pengalaman trading yang cukup, kepercayaan dirinya akan terbentuk. Tidak ada alasan untuk tidak mengambil peluang karena pengalaman mendukungnya untuk mengambil keputusan tersebut. Hanya saja, tingkat kepercayaan diri ini harus diatur sehingga tidak menyebabkan kesombongan. Ini erat kaitannya dengan poin nomor 3 di atas.

  1. Mampu bersabar

Semakin lama Anda belajar bela diri, Anda akan semakin menyadari bahwa kesabaran adalah kunci. Tidak ada hasil yang instan. Semua membutuhkan waktu dan proses seperti pengulangan-pengulangan gerak dan jurus secara rutin, berjam-jam latihan, serta latih tanding. Anda tidak akan berhenti berlatih hingga Anda bisa melakukannya dengan benar. Bahkan setelah itu pun Anda tak boleh berhenti berlatih.

Trading forex pun demikian. Seperti yang sudah disinggung di awal, tidak ada trader yang menjadi legend hanya dalam waktu semalam. Semua butuh proses.

Selamat berlatih. Kita akan bertemu di gelanggang pertandingan dan saya harap Anda akan menjadi juara.

Dua Fakta Tak Terelakkan Dalam Forex Trading

Ada dua fakta yang tak terelakkan dalam forex trading, namun sayangnya tidak banyak yang menyadari dua fakta ini. Padahal jika Anda benar-benar mengingat dua hal ini maka Anda akan memiliki kemampuan psikologis untuk menanggulangi kegalauan pasca loss.

Apa saja dua hal itu? Ini dia:

  1. Hal Tak Terduga Bisa Terjadi Kapan Saja

Ini fakta. Hadapi saja. Sebesar apa pun usaha Anda dalam melakukan analisa, secanggih apa pun teknik analisa yang Anda pergunakan, Anda tidak akan bisa benar-benar yakin serratus persen bahwa pasar akan bergerak persis seperti yang Anda inginkan. Akuilah.

Pasar selalu menemukan cara untuk mengejutkan Anda, dalam arti positif maupun negatif. OK, kita tidak akan membahas kejutan positifnya karena semua orang pasti akan bahagia jika mendapatkan kejutan yang positif dari pasar. Yang kita bicarakan adalah kejutan dalam bentuk pergerakan yang berlawanan dengan kehendak Anda, mungkin dilatarbelakangi oleh intervensi bank sentral, atau mungkin salah seorang gubernur bank sentral utama entah karena angin apa mengeluarkan pernyataan yang dovish. Siapa tahu?

Sebagai contoh, masih ingatkah Anda dengan kejadian di bulan Januari 2015, ketika Swiss National Bank memberi “kejutan” pada pasar dengan menghapus patokan kurs Swiss franc  terhadap euro? Belum lagi kalau kita membicarakan bencana alam, atau jika seandainya Korea Utara tiba-tiba meluncurkan rudal nuklir ke arah Amerika Serikat. Kim Jong Un tidak mungkin akan menggelar konferensi pers dulu sebelum menyerang musuhnya kan?

Hal-hal tak terduga seperti ini bisa menimbulkan gejolak pasar dan sangat-sangat kecil kemungkinannya Anda akan mengetahui hal itu akan terjadi meskipun Anda sangat detil dalam memperhatikan grafik, kalender ekonomi dan memantau berita setiap saat.

  1. Trading Adalah Bentuk Nyata Teori Peluang

Ada dua hal penting dalam “memainkan” teori peluang dalam forex trading :

Pertama, Anda harus “memastikan” bahwa posisi yang akan Anda ambil searah dengan trend yang sedang berlangsung.

Kedua, Anda harus menyadari bahwa tetap ada kemungkinan harga akan bergerak berlawanan dengan posisi yang Anda ambil, meskipun berdasarkan riset peluang bahwa posisi yang Anda ambil akan membuahkan profit – katakanlah – sebesar 70%. Artinya, ada 30% peluang bahwa posisi Anda akan berakhir dengan kerugian. Untuk itulah pembatasan resiko diperlukan.

Contoh kasusnya, katakanlah Anda melihat bahwa GBPUSD saat ini  bergerak di kisaran 1.00000. Anggaplah level tersebut – berdasarkan analisa – merupakan level support yang kuat sekaligus level support psikologis.

Anda sudah menyadari bahwa tidak mungkin Anda bisa 100% yakin GBPUSD akan mengalami rebound, tetapi pada saat yang sama Anda bisa memperkirakan bahwa peluang untuk rebound (bullish) saat itu lebih besar daripada peluang bearish karena level 1.00000 itu adalah strong support.

Dalam situasi seperti ini, tidak terlalu penting apakah Anda akan untung atau rugi, karena Anda sangat paham bahwa keputusan yang Anda ambil betul-betul berdasarkan kemungkinan.

Anda mungkin akan mengalami kerugian dan itu tidak akan menjadi masalah berarti bagi Anda, karena toh Anda sudah menyadari kemungkinan tersebut. Mungkin juga Anda akan mendapatkan keuntungan, yang tentu memang Anda harapkan.

Jadi, apa pun kondisi yang akan Anda dapati, tidak akan menjadi masalah yang terlalu berarti. Kalau untung, ya syukur. Kalau rugi, Anda akan move on dengan mudah.

Mengapa bisa move on dengan mudah?

Karena sejak awal Anda sudah membatasi resiko. Anda menempatkan stop loss dengan baik serta membatasi volume transaksi dengan menyesuaikan jumlah lot berdasarkan perhitungan position sizing. Anda sudah punya trading plan yang matang. Anda sudah siap untuk segala kemungkinan.

Jika Anda sudah siap untuk menerima segala kemungkinan, tidak akan ada hal yang bisa membuat Anda terlalu kecewa.

Jadi, jangan pernah lupakan tips yang kami bagikan ini agar Anda senantiasa bisa trading forex tanpa dihantui rasa kecewa yang terlalu dalam.

Mental Merupakan Modal Dalam Trading Forex

Beberapa waktu yang lalu saya menulis artikel berjudul “Hitung-Menghitung Modal Trading Forex”. Dalam artikel itu yang dibahas adalah berapa besar modal (uang) yang sebenarnya dibutuhkan untuk bisa trading forex dengan nyaman.

Nah, kali ini yang akan dibahas juga modal, tetapi bukan dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk mental. Istilahnya, “modal psikologi”.

Mengapa hal ini penting?

Begini. Tiap kali seorang trader sudah tak tahan lagi dan memilih untuk menyerah karena bertubi-tubi dihantam kerugian, biasanya itu bukanlah karena memang uangnya yang sudah habis. Pada kenyataannya, semangatnyalah yang sudah lenyap. Inilah yang menyebabkan mereka berhenti. “Modal psikologi” mereka sudah habis.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Semakin besar modal yang dipergunakan untuk trading, sebenarnya semakin besar pula beban psikologis yang harus dipikul oleh seorang trader. Maka dari itu, “modal psikologi” Anda pun harus tak kalah kuat.

Kekuatan psikologis seorang trader bisa dilihat dari kemampuannya bertahan (secara mental, tentu saja) dari sekian banyak dampak psikologis yang biasa dialami dengan menjadi trader. Gampangnya, kualitas mental seorang trader akan terlihat dari bagaimana ia bereaksi ketika mengalami kerugian (atau memperoleh keuntungan). Apakah ada efek buruk atau tidak.

Mengalami kerugian dan memperoleh keuntungan, jika Anda kurang berhati-hati, akan memberikan dampak yang sama buruknya bagi kualitas trading Anda selanjutnya.

Sebagai contoh, seorang trader yang kebetulan baru saja memperoleh keuntungan beberapa kali berturut-turut. Dalam kondisi seperti itu, ia rentan terserang sikap sombong dan serakah. Pengalaman profit berturut-turut menyebabkan ia besar kepala sehingga pada transaksi selanjutnya ia tidak mau mempergunakan stop loss dengan tepat, atau melipatgandakan volume transaksi.

Di sisi lain, mental trader yang berturut-turut dihempas kerugian juga bisa runtuh. Bisa saja ia kemudian akan kehilangan kepercayaan diri dan menolak untuk mengevaluasi strategi trading yang ia pergunakan karena ia yakin bahwa strategi tersebut tak berguna.

Sebagai trader, Anda tak hanya berkewajiban untuk memperbesar uang modal tetapi juga memperkuat mental. Anda harus mempelajari bagaimana cara memperkuat mental melalui pengalaman trading, entah itu manis atau pahit, loss or profit.

Ketika Anda mengalami kerugian, sebesar apa pun, jangan sampai kerugian itu mempengaruhi mental Anda ketika melakukan transaksi selanjutnya. Anda harus benar-benar bisa melihat bahwa masing-masing transaksi itu adalah transaksi yang berbeda. Istilah anak jaman now: move on. Jika tidak, Anda akan selamanya dihantui kerugian yang sesungguhnya telah berlalu itu.

Sebaliknya ketika Anda baru saja mengecap keuntungan, penting bagi Anda untuk tetap memperlakukan transaksi yang selanjutnya sebagai transaksi yang memungkinkan terjadinya kerugian. Maka tidak ada alasan untuk merasa jumawa dan mengabaikan setiap resiko yang mungkin bisa muncul.

Keseimbangan mental seperti ini tidak kalah pentingnya dengan memperkuat modal (uang) trading forex Anda, karena kekuatan mental-lah yang membuat Anda akan mampu bertahan di segala kondisi.

Hitung-Menghitung Modal Trading Forex

“Karena trading forex adalah ‘barang baru’ bagi saya, saya mau coba dulu $500. Nanti kalau hasilnya bagus, saya tambah.”

Kalimat seperti di atas merupakan kalimat yang sangat sering saya dengar. Mayoritas trader pemula memang berpikir seperti ini.

Perlu Anda ketahui bahwa trading forex itu tidak sama dengan mencicipi makanan. Ambil dulu sedikit, kalau enak baru tambah.

No. BIG NO. Forex doesnt work that way.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Trading forex lebih mirip dengan merencanakan sebuah ekspedisi penjelajahan daripada acara cicip-mencicip makanan. Saya masih ingat ketika pertama kali mengenal dunia trading forex di tahun 2005, kami mempelesetkan kata “forex” menjadi “forest” karena kami anggap sama dengan “kehidupan liar di rimba belantara yang penuh dengan marabahaya”.

Pelesetan itu tidak sepenuhnya keliru, mengingat forex merupakan bisnis berisiko tinggi (high-risk) di mana Anda bisa kehilangan sejumlah, sebagian, atau bahkan mungkin 80% modal Anda dalam waku yang singkat. Pada kenyataannya trader-trader pemula bergelimpangan di sana-sini.

Sebagian besar pemula pada akhirnya menyerah kalah karena memang modal mereka tidak cukup kuat menahan volatilitas pasar, ditambah kekurangtahuan mereka (dan saya dulu adalah salah satu di antara “mereka” itu) akan teknik trading yang benar yang harus memadukan antara teknik analisa, pengambilan keputusan, manajemen resiko, manajemen modal plus penguasaan emosi. Tanpa semua hal itu, hampir mustahil Anda bisa berhasil dalam forex.

Karena trading forex mirip dengan sebuah ekspedisi maka Anda perlu merencanakan ekspedisi tersebut dengan matang. Anda harus mempersiapkan diri dengan keahlian khusus dan tentu saja: perbekalan yang cukup. Bicara mengenai “keahlian”, Anda beruntung bisa menemukan FOREXimf.com yang sangat peduli pada edukasi trading yang komprehensif. Anda bisa membaca semua konten di area EduSpot kami dan mengikuti webinar-webinar yang kami adakan. Kalau masih belum cukup, Anda bisa mengikuti workshop atau seminar yang kami adakan secara offline. Anda tinggal jauh dari kota kami? Anda bisa menghubungi kami untuk mengatur seminar atau workshop khusus di kota Anda, tentu saja setelah melalui diskusi tentang teknis pelaksanaan dan lain-lain.

Nah, berbicara tentang “perbekalan” artinya kita membicarakan hal yang sangat penting dalam bisnis, yaitu MODAL. Sebuah ekspedisi hampir bisa dipastikan akan gagal jika perbekalan yang dibawa tidak memadai. Sebuah bisnis hampir bisa dipastikan akan gagal jika modalnya tidak cukup kuat. Logis, bukan?

Lalu sebenarnya berapa besar sih modal yang sebaiknya dimiliki sebelum mulai trading?

Yang jelas harus kuat.

OK, lalu seberapa kuat?

Sangat kuat.

Yaelah Bro, kalo itu semua orang juga tau.

Jangan ngambek dulu dong. Saya jelaskan ya.

“Kuat” tidak selalu identik dengan “banyak”. Trader yang memiliki modal (misalnya) hanya $1,000 belum bisa dikatakan “lemah”. Sebaliknya yang memiliki modal $10,000 pun belum tentu bisa dikategorikan “kuat”. Itu semua nanti akan tergantung pada bagaimana cara ia menjalankan strategi dan mengatur modalnya.

Si “Trader 1000” mungkin saja bisa mengalahkan pencapaian si “Trader 10000” asalkan ia memiliki trading plan yang benar-benar tepat. Itu kuncinya.

Tetapi coba kembangkan sedikit lagi imajinasi Anda. Jika seorang “Trader 1000” saja bisa memiliki pencapaian yang baik dengan kunci trading plan yang benar-benar tepat tadi, apalagi si “Trader 10000”?

Tulisan ini tidak sedang mencoba untuk menyepelekan apalagi memupus semangat trader dengan modal mepet. Tidak sama sekali. Yang ingin disampaikan di sini adalah ide bahwa semakin kuat modal seorang trader, mestinya semakin baik, asalkan ia memegang “kunci” yang disebutkan tadi: trading plan yang benar-benar tepat.

Sekarang mari kita lihat realitanya.

Betul bahwa trader dengan modal minimal ($500 misalnya) juga memiliki peluang untuk bisa berhasil. Saya tidak akan menutup-nutupi fakta itu. Bahkan saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Tetapi pada kenyataannya populasi trader seperti itu juga kecil dan hanya diisi oleh trader-trader dengan kualitas “super”. Jika Anda memang trader dengan kualitas super, silakan saja memasuki populasi tersebut.

Tetapi jelas keleluasaan berstrategi dengan modal minimal akan jauh di bawah modal yang lebih besar. Mari kita ambil contoh.

Anggaplah ada peluang yang sama bagusnya di beberapa currency pair sekaligus, pada saat yang sama. Ketika modal yang dimiliki sangat kecil, maka tidak cukup untuk membuka posisi di semua pair tersebut sekaligus karena trading plan yang telah dibuat sebelumnya menghalangi Anda. Karena modalnya “mepet”, akhirnya Anda terpaksa harus memilih salah satu pair yang Anda anggap memiliki potensi paling besar untuk menghasilkan profit.

Namun jika Anda ternyata “salah pilih”, karena justru Anda mengalami loss. Sementara jika Anda membuka posisi pada currency pair yang lain, harusnya mendapatkan keuntungan. Bahkan seringkali keuntungannya bisa menutupi loss posisi di pair yang lain.

Saat itu Anda akan menyadari bahwa seandainya modal yang dimiliki setidaknya dua kali lipatnya saja, maka setidaknya Anda sudah bisa membuka dua posisi di dua pair yang berbeda tanpa perlu khawatir overtrade karena semua sudah diperhitungkan di trading plan.

Kasus lain, akan cukup sering (jika Anda disiplin pada trading plan) menemui kondisi di mana Anda tidak bisa trading meskipun sinyal atau peluangnya cukup bagus karena stop loss melebihi toleransi resiko Anda. Ilustrasi di bawah ini mungkin bisa jadi referensi.

trading forex, forex trading
*Ilustrasi di atas mempergunakan contoh jika Anda melakukan transaksi di broker resmi (LEGAL) di Indonesia, di mana minimum lot yang diizinkan adalah 0.1 lot.

Jadi, masih mau trading forex dengan modal mepet? Think again.