Candlestick Chart

KELAS PEMULA

3. Candlestick Chart

Apa itu candlestick?

Candlestick merupakan salah satu jenis grafik harga yang membaca pergerakan harga di pasar finansial secara teknikal.

Dinamakan candlestick karena bentuknya mirip dengan lilin. Konon chart ini berasal dari negeri Sakura dan dikenal juga dengan Japanese Candlestick Chart.

Untuk membuat grafik candlestick, Anda harus memiliki data harga pembuka (Open), harga tertinggi (High), harga terendah (Low), dan harga penutupan (Close) atau yang lebih dikenal dengan sebutan OHLC dalam periode tertentu.

Chart ini menyediakan informasi yang tidak jauh beda dengan bar chart. Perbedaan antara kedua chart ini hanya terletak pada  "postur tubuh" saja.

Dasar Candlestick Chart

Gambar 4: Dasar Candlestick Chart

Body itu sendiri menggambarkan jarak antara harga open dan close dalam satu periode waktu tertentu. Biasanya, body dari candlestick chart ini berwarna putih dan hitam.

Jika body pada chart tersebut berwarna putih, maka harga open berada di bawah, sebaliknya jika body berwarna hitam maka harga open berada di atas.

Jika harga open di bawah harga close, maka posisi ini biasa disebut dengan bull candle. Dalam analisis teknikal, istilah bull atau bullish digunakan apabila harga pasar cenderung naik.

Untuk menggambarkan pergerakan harga yang turun, digunakan istilah bear atau bearish, sehingga candlestick yang memiliki harga open di atas harga close disebut bear candle.

Untuk memudahkan Anda dalam menganalisa grafik ini, Anda bisa menggunakan kombinasi warna agar terlihat menarik dan tahu membedakan antara bull candle dan bear candle, seperti pada gambar di bawah ini!

Dasar Candlestick Chart Dengan Warna

Gambar 5: Dasar Candlestick Chart Dengan Warna

Untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai grafik ini, Anda bisa memperhatikan contoh di bawah ini yang menunjukkan terjadinya pergerakan harga.

Candlestick Chart

Gambar 6: Candlestick Chart

Banyak trader lebih suka menggunakan chart jenis ini karena lebih membantu secara visual untuk mengenali harga open, close, high dan low daripada bar chart.

Candlestick juga termasuk dalam salah satu chart yang paling banyak digunakan oleh para analis teknikal dikarenakan kemampuannya yang mudah dikenali dalam menyajikan data.

Lalu, apa saja kunci yang harus dimiliki untuk membaca grafik forex dengan benar?

cara membaca chart grafik forex yang baik dan benar

1. Amati pola pergerakan harga

Anda perlu menyesuaikan pola pergerakan harga dengan jenis transaksi yang anda lakukan. Apabila anda ingin melakukan buy maka fokuskan pada pair mata uang yang grafiknya sedang mengalami kenaikan.

Begitu juga sebaliknya, apabila anda ingin melakukan sell maka carilah mata uang yang grafiknya sedang mengalami penurunan.

2. Cek time-frame yang digunakan dan perhatikan spread-nya

Tidak perlu panik saat melihat pergerakan harga yang fantastis. Lakukan pengecekan secara teliti untuk chart yang anda gunakan karena setiap time frame memiliki karakteristik masing-masing yang perlu disesuaikan dengan sistem trading anda.

Pastikan tampilan chart berada pada time frame yang sama dengan analisa anda. Selain itu, anda juga bisa fokus pada 1 time frame untuk entry, sehingga proses trading bisa lebih terarah.

Ingat, anda juga perlu memperhatikan selisih antara harga jual dan nilai beli agar dapat membaca chart dengan baik dan benar.

Siap untuk mempelajari ketiga grafik ini dengan baik dan benar?

Tidak perlu khawatir jika Anda masih belum memiliki kemampuan untuk membaca grafik. Anda bisa mempelajari cara membaca grafik yang baik dengan menggunakan akun demo yang bisa Anda dapatkan di sini.

Dengan memanfaatkan chart sebagai alat bantu dalam analisa teknikal, Anda dapat menentukan trend serta menemukan pola-pola harga yang berpotensi memberikan profit untuk Anda.

Kuasai secara cepat dan tepat dengan akun demo!

Pelajari lebih dalam lagi mengenai jenis-jenis chart melalui akun demo. Selain Anda bisa dengan mudah mengenali dan membaca chart, akun demo di FOREXimf juga menggunakan harga real-time sesuai dengan harga sebenarnya.

FOREXimf Footer Background