Fibonacci Retracement

KELAS DASAR

Fibonacci Retracement

Bagi Anda seorang trader forex, pastinya Anda sudah tidak akan asing lagi dengan nama Fibonacci Retracement, bukan?

Tentu saja! Fibonacci menjadi salah satu tools populer baik di kalangan trader forex ataupun komoditi untuk memberikan sebuah informasi semacam support/resistance yang tidak dimiliki oleh indikator forex lainnya.

Cara menggunakan Fibonacci Retracement sendiri cukup mudah. Indikator ini akan menyorot area di mana pullback dapat berbalik arah menuju ke arah trend, dan kemudian membantu mengkonfirmasi entry point jika memakai strategi trading trend.

Secara umum, Fibonacci membantu trading dengan mengisolasi pullback saat akan berakhir. Dengan memanfaatkan situasi seperti ini, trader akan mendapat perkiraan entry point untuk segera mengambil peluang untuk trading.

Perhitungan rasio ini menghasilkan angka-angka yang dapat membantu trader dalam menentukan level entry dan exit.

Meski bisa berdiri sendiri, pada dasarnya Fibonacci dapat digabungkan dengan indikator lainnya untuk memberikan hasil yang maksimal.

Namun, tahukah Anda siapa pencetus dari tools trading paling populer ini? Mari kita lihat secara lebih dalam lagi mengenai sejarah dari Fibonacci Retracement!

Pencetus dan Sejarah Fibonacci

Fibonacci

Leonardo da Pisa atau yang lebih dikenal dengan nama Leonardo Fibonacci, merupakan seorang matematikawan asal Italia yang menemukan bilangan Fibonacci.

Ia juga terkenal karena perannya dalam mengenalkan sistem penulisan dan perhitungan bilangan Arab (algoritma) ke dunia Eropa.

Ayahnya bernama William lebih sering dikenal sebagai Bonacci, maka dari itu Leonardo memiliki julukan Fibonacci yang berasal dari kata Filius Bonacci yang artinya anak dari Bonacci.

Fibonacci banyak menulis buku dimana salah satu yang terkenal dan menjadi tonggak awal penggunaan angka Arab adalah "Liber Abaci".

Pada bab 12 buku tersebut, terdapat sebuah permasalahan yang mampu mengusik akal sehat matematikawan mengenai masalah kelinci beranak-pinak. Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, diperlukan ketelitian dan kejelian lebih untuk berpikir.

“Berapa banyak pasang kelinci yang beranak pinak selama satu tahun bila diawali dengan sepasang kelinci (jantan dan betina) dan kelinci tersebut tumbuh jadi dewasa dan kawin setelah mereka berumur satu bulan, sehingga setiap bulan kedua, masing-masing kelinci betina selalu melahirkan sepasang kelinci baru?”

Dari hasil permasalahan ini, Fibonacci akhirnya memperkenalkan deret angka 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, dst., dimana rasio ini terdapat dalam proporsi bentuk-bentuk di alam dan menjadi dasar terbentuknya bilangan Fibonacci ini.

Kemudian, pada deret tersebut ditemukan rasio yang cukup sering ditemui pada setiap bentuk benda yang ada di alam ini, dimana rasio 1:1.618 atau 0.618:1 lebih dikenal dengan istilah Golden Ratio.

Tidak sedikit dari para trader pada akhirnya menggunakan rasio Fibonacci ini sebagai alat ukur untuk mendapatkan area-area yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengambil posisi yang "berpotensi menghasilkan keuntungan" dalam trading mereka.

Lalu, bagaimana cara menggunakan Fibonacci dalam trading forex?

Cara Menggunakan Fibonacci Dalam Trading Forex

Untuk menggunakan tools ini, Anda tidak perlu menjadi seorang matematikawan untuk dapat menghitung rasio Fibonacci ini di setiap transaksi trading.

Tentu saja Anda bisa langsung menggunakannya pada platform trading FOREXimf untuk memudahkan Anda dalam mengaplikasikan rasio Fibonacci ini secara instan dan tanpa perlu menggunakan rumus!

Dengan menggunakan Fibonacci, Anda bisa menentukan kisaran area yang berpotensi sebagai support dan resistance dengan cukup mudah.

Selain itu, Fibonacci Retracement sering dimanfaatkan dengan baik saat pasar sedang dalam keadaan trending, baik di posisi uptrend maupun downtrend. Namun alat bantu ini menjadi kurang efektif jika diterapkan ketika pasar sedang dalam kondisi sideways.

Untuk bisa menemukan level-level Retracement, Anda harus terlebih dahulu menemukan titik-titik tertinggi dan terendah yang signifikan.

Titik-titik tersebut kita sebut sebagai swing high dan swing low.

Pada pergerakan pasar di saat uptrend, yang perlu Anda lakukan adalah menarik Fibonacci Retracement dari swing low ke swing high di mana terlihat pada gambar dibawah ini.

Swing Low Swing High Fibonacci

Sebaliknya jika pergerakan harga saat itu berada di posisi downtrend, yang perlu anda lakukan adalah menarik Fibonacci retracement dari swing high ke swing low yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Swing High Swing Low Fibonacci

Ada enam (6) level Fibonacci Retracement yang perlu anda ketahui yaitu level:

  • 0.0%
  • 23.6%
  • 38.2%
  • 50%
  • 61.8%
  • 100%.

Beberapa level inilah yang dijadikan sebagai area acuan atau referensi oleh para trader dalam menentukan area support dan resistance.

Di antara beberapa level tersebut, level Fibonacci Retracement yang cukup populer adalah level 38.2%, 50%, dan 61.8%.

Di kisaran salah satu dari ketiga level tersebut, seringkali memunculkan sinyal buy atau sell dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

Ada fakta menarik di balik Level 50%. Level ini sebenarnya bukan berasal dari rasio Fibonacci, namun banyak trader sering memperhatikan level ini.

Mengapa demikian?

Karena pergerakan harga memiliki kecenderungan untuk melanjutkan ke suatu arah tertentu setelah melewatinya.

Jika harga tembus level 50% mengarah ke atas, maka reli harga kemungkinan akan sampai level 0.0%. Sebaliknya, jika harga berhasil menerobos level 50% ke arah bawah, maka kemerosotan harga kemungkinan akan berlanjut hingga level 100.0%.

Konsep dasar penggunaan Fibonacci retracement adalah mencari peluang buy ketika harga berada di kisaran support.

Sebaliknya, Anda bisa mencari peluang sell ketika harga berada di kisaran resistance yang diperoleh dari Fibonacci Retracement.

Konsep Dasar Penggunaan Fibonacci dalam Trading

Strategi seperti ini mirip dengan bounce trading. Anda menunggu pullback hingga ke area referensi dan mencari apakah ada konfirmasi sinyal buy atau sell.

Bounce dalam trading forex adalah momen ketika harga memantul setelah mendekati batas support atau resistance.

Jika Anda masih pemula dan belum mempelajari sinyal buy maupun sell lebih dalam, Anda bisa menggunakan Fibonacci Retracement untuk membantu membaca pergerakan harga.

Ketika pergerakan harga tertahan di area referensi tersebut, maka Anda bisa mencoba untuk melakukan sell atau buy.

Coba praktikan cara ini di akun demo!

Lakukan percobaan dan latihan menggunakan Fibonacci Retracement di akun demo untuk mengenali area-area di mana Anda bisa melakukan transaksi buy atau sell. 

Lalu, bagaimana cara mengaplikasikan strategi buy ataupun sell dengan menggunakan fibonacci? Mari kita lihat terlebih dahulu cara kerja Fibbonaci pada strategi buy berikut ini!

Strategi Buy Menggunakan Fibonacci

Anda bisa memanfaatkan area referensi Fibonacci untuk mencari level buy pada saat uptrend.

Untuk memberikan gambaran bagaimana cara menggunakan Fibonacci pada strategi buy, Anda dapat memperhatikan contoh grafik dibawah ini di mana pergerakan GBP/USD terjadi sekitar tanggal 3 November 2011 hingga 8 November 2011!

Strategi Buy Menggunakan Fibonacci Retracement Dalam Trading Forex

Pada grafik tersebut, Anda telah memiliki gambaran tool Fibonacci dengan acuan swing low di 1.59445 (100.0%) dan swing high di 1.60630 (0.0%).

Area berwarna kuning menjadi area referensi Anda.

Di area ini, Anda dapat mencoba mencari konfirmasi pantulan yang merupakan sinyal buy di mana pada area ini terdapat tiga level retracement, yaitu:

  • 60177 (38.2%)
  • 60038 (50.0%)
  • 59898 (61.8%).

Ketiga level tersebut menjadi support saat Anda menunggu harga masuk ke area referensi. Level terbaik untuk buy berada di sekitar 61.8%. Namun, ada kalanya Anda akan mendapatkan konfirmasi pantulan di sekitar 50.0%.

Jika begini, dimanakah level paling cocok untuk Anda bisa mengambil posisi buy? Coba perhatikan secara lebih detail grafik ini!

Area Level Fibonacci yang Cocok Untuk Trading Forex

Seperti yang terlihat pada grafik diatas, pergerakan harga berkali-kali mencoba menembus level 1.59898 (61.8%).

Terlihat dari level tersebut dimana pengujian sudah dilakukan sebanyak empat kali, namun candlestick selalu ditutup di atas 1.59898.

Ini menjadi pertanda bahwa support cukup kuat di area tersebut, dan saatnya Anda melakukan pembelian di sekitar 1.60038 (50%).

Targetnya adalah level 1.60630 (0.0%), sementara untuk antisipasi berada di exit point (1) atau exit point (2).

Apa fungsi dari exit point dan Mengapa harus ada dua exit point?

Exit point berfungsi untuk mengantisipasi jika pasar berkehendak lain dan berlawanan dengan perkiraan Anda.

Seringnya pergerakan harga menembus level 76.4% menjadi indikasi awal bahwa arah trend akan berubah, sehingga beberapa trader cenderung memilih untuk bermain aman dengan melepas posisi mereka setelah level tersebut tembus (break).

Namun, konfirmasi perubahan arah trend (reversal) sebenarnya berada pada level 100.0%, sehingga para trader yang lebih berani memilih tembusnya level tersebut sebagai exit point mereka.

Selain itu, hal penting yang perlu Anda ingat adalah tidak ada analisa teknikal yang 100% benar. Oleh karena itu, penting untuk Anda mempelajari manajemen modal dan risiko.

Perpaduan antara ketiga hal ini akan menjadi senjata ampuh dalam trading Anda.

Bagaimana akhir dari GBP/USD setelah melakukan buy?

Hasil Strategi Buy Menggunakan Fibonacci dalam Trading Forex

Jika Anda melihat pergerakan harga pada grafik tersebut menurun, maka ini menjadi waktu yang tepat untuk Anda melepas posisi buy pada salah satu dari kedua level tersebut.

Anda akan melihat GBP/USD naik dan target Anda tercapai!

Setelah Anda memahami penggunaan indikator Fibonacci Retracement untuk strategi buy dalam trading forex ini, sekarang saatnya bagi Anda untuk mengetahui penggunaannya dalam strategi sell berikut ini.

Strategi Sell Menggunakan Fibonacci

Strategi sell sebenarnya merupakan kebalikan dari strategi buy. Jika pada strategi buy dapat dilakukan pada saat uptrend, maka strategi sell ini dilakukan pada saat downtrend.

Untuk melihat cara menggunakan Fibonacci pada strategi ini, Anda dapat melihat contoh pergerakan harga pada grafik EUR/USD di bawah ini!

Contoh Penggunaan Fibonacci dalam Trading Forex Ketika Sell

Pada grafik ini, Anda akan menunggu terjadinya pullback ke area referensi sell yang berada di kisaran antara 1.37461 (38.2%) hingga 1.38995 (61.8%).

Dilanjutkan pada area tengah dimana level 50.0%  berada pada level 1.38228. Ketiga level ini disebut sebagai level resistance.

Bagaimana akhir dari EUR/USD setelah melakukan sell?

Hasil Akhir Dari Strategi Sell Menggunakan Fibonacci dalam Trading Forex

Pada saat pull back telah terjadi, Anda bisa melihat bahwa harga telah berada di dalam area referensi. Perhatikan pada grafik tersebut, harga tidak mampu menembus ke atas level 1.38995 (61.8%), bahkan menurun dan menembus ke bawah level 1.38228 (50.0%).

Ini sinyal baik, Anda diperbolehkan untuk melakukan sell dengan target di level 1.34980 (0.0%). Jangan lupa untuk melakukan antisipasi dengan target di exit point (1) atau (2) jika seandainya perkiraan Anda salah.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex TerbaikJika Anda melihat pergerakan harga pada grafik tersebut mengalami kenaikan, maka ini menjadi waktu yang tepat untuk Anda melepas posisi sell pada level tersebut.

Dalam menggunakan tools Fibonacci Retracement ini, tidak sedikit trader yang melakukan kesalahan dalam menentukan swing high dan swing low.

Sebagai catatan, Anda perlu mengamati dengan jeli dan melakukan latihan untuk mengasah ketajaman anda dalam mengenali dua posisi ini.

Diperlukan kesabaran lebih untuk menanti konfirmasi di area referensi  agar dapat mempraktekkan teori ini dengan baik.

Tertarik untuk mencoba Fibonacci dalam trading Anda?

Anda bisa mencoba mengaplikasikan Fibonacci Retracemenet dengan mudah dan sederhana melalui paltform trading MetaTrader4.

Jika Anda sudah mendapatkan paltform trading tersebut, Anda hanya memerlukan akun demo untuk mengakses pasa forex dengan grafik harga sesungguhnya, sesuai dengan kondisi market saat ini.

FOREXimf Footer Background