SMA atau EMA

KELAS DASAR

Simple Moving Average atau Exponential Moving Average?

Mungkin Anda bertanya-tanya, “Jadi yang mana yang harus saya pakai? SMA atau EMA?”

Hehe… jangan bingung ya. EMA maupun SMA memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Mari kita bahas satu per satu.

Kalau Anda adalah trader yang agresif dan ingin menggunakan MA yang bereaksi cepat terhadap pergerakan harga, maka EMA merupakan pilihan yang tepat. EMA bisa membantu Anda menangkap peluang lebih cepat dibandingkan SMA.

Dengan demikian profit yang bisa Anda dapatkan tentunya akan lebih besar pula. Namun kekurangannya adalah Anda bisa saja terjebak oleh fake signal (sinyal palsu) yang diberikan oleh EMA.

Nah, SMA sendiri adalah kebalikan dari EMA. SMA bereaksi lebih lamban pada pergerakan harga daripada EMA. Dengan demikian, peluang yang diberikan pun akan lebih lambat muncul.

Artinya, profit yang dihasilkan pun akan lebih kecil. Namun kemungkinan terjebak oleh fake signal lebih kecil.

Jadi pilih yang mana?

Itu semua kembali ke diri Anda sendiri. Apalagi jika Anda sudah tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing MA. Sedikit saran, pilih lah MA yang sesuai dengan karakter Anda.

Ingat selalu kalimat ini,

“… jika harga secara umum bergerak diatas MA, maka trend yang sedang berlangsung adalah Uptrend. Sebaliknya jika harga secara umum bergerak dibawah MA, maka trend yang tengah berlangsung adalah Downtrend.”

Mudah kan?

Itulah prinsip dasar penggunaan MA.

Dengan demikian, berhati-hatilah jika harga bergerak menembus MA (terjadi breakout), karena hal tersebut merupakan indikasi awal (bukan kepastian) bahwa tren akan berubah arah.

Ingat juga bahwa pada saat uptrend, strategi yang terbaik adalah Buy. Sebaliknya pada saat downtrend, strategi yang terbaik adalah Sell.

Pada saat uptrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk buy. Sebaliknya, pada saat downtrend, MA bisa Anda pergunakan sebagai area referensi untuk melakukan sell.

Strategi yang biasanya diterapkan adalah bounce trading.

Mari kita cermati gambar berikut ini:

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Dalam gambar di atas terlihat indikator SMA 50 yang diplot pada grafik 1 jam-an. Terlihat bahwa harga terkoreksi dan mendekati SMA 50 dan memantul. Dengan demikian Anda memperoleh konfirmasi bahwa terjadi pantulan.

Level stop loss yang terlihat di gambar adalah exit point berdasarkan support yang terdekat. Level target yang diambil adalah resistance yang terdekat.

Perlu diingat bahwa jika Anda akan melakukan buy menggunakan MA, maka pastikan bahwa garis MA sedang menanjak (naik).

Kita lihat apa yang terjadi kemudian.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Ternyata bounce yang terjadi valid dan target Anda tercapai. Pada strategi sell, yang dilakukan sebenarnya hanya kebalikan dari strategi buy. Ketika harga mengalami pullback ke area MA, yang Anda lakukan adalah menunggu konfirmasi bounce untuk melakukan sell.

Perhatikan gambar di bawah ini.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Contoh di atas juga mempergunakan SMA 50. Yang pertama kali harus Anda perhatikan adalah apakah garis SMA tersebut sedang turun. Ketika harga mengalami pullback ke area SMA, pastikan bahwa kemiringannya SMA tetap ke bawah (turun).

Dalam gambar diatas, kita melihat bahwa harga persis menyentuh garis SMA. Memang ada false break, namun segera harga bergerak turun dan bergerak di bawah SMA.

Keadaan ini menggambarkan bahwa tekanan bearish lebih besar daripada bullish. Pada saat ini Anda boleh langsung mengambil posisi sell dengan target di support terdekat dan stop loss di resistance terdekat.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Ya… ya… memang sederhana. Tapi ingat, tidak selamanya skenario yang terjadi bisa seperti ini. Terkadang bounce yang terjadi gagal dan harga malah berbalik dan menembus MA dengan sadisnya.

Itulah sebabnya Anda perlu menempatkan stop loss. Nantinya, dengan strategi ditambah manajemen resiko yang baik (yang akan Anda pelajari nanti pada level yang lebih tinggi), strategi yang sederhana pun bisa menghasilkan profit yang konsisten.

Nah, ada pengembangan dari penggunaan MA sebagai entry point. Salah satu pengembangan yang populer adalah mengkombinasikan dua buah MA di dalam satu grafik. Kombinasi yang cukup populer adalah kombinasi SMA 20 dan SMA 50. Strategi ini kita sebut sebagai Double MA.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Idenya adalah memanfaatkan celah yang merupakan area di antara dua MA. Apakah nanti Anda akan menggunakan SMA ataupun SMA?

Sama saja. Hanya saja dalam contoh ini kami menggunakan SMA.

Dari gambar diatas Anda bisa melihat bahwa sell dilakukan ketika harga masuk ke dalam area yang dimaksud. Kalau Anda akan melakukan transaksi dengan strategi double MA maka minimal dua kondisi berikut harus terpenuhi:

  1. Kedua MA harus memiliki arah kemiringan yang sama. Jika akan buy, maka kemiringan kedua MA harus ke atas (naik). Sebaliknya, jika akan sell, maka kemiringan kedua MA harus ke bawah (turun).
  2. Harga sudah berada di dalam celah yang merupakan area di antara dua MA.

Contoh di bawah ini adalah menggunakan strategi double MA untuk melakukan Buy.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya, Broker Forex Terbaik

Oke, Anda sudah tahu bahwa celah MA tersebut bisa Anda manfaatkan untuk entry. Pertanyaannya kemudian adalah, “Kapan persisnya kita bisa buy atau sell?”

Untuk sementara, Anda gunakan saja dulu area tersebut. Jadi ketika harga masuk dan candlestick ditutup di area tersebut, maka pada saat itulah Anda melakukan transaksi.

Nantinya, akan ada alat bantu tambahan yang bisa membantu Anda untuk menentukan timing kapan harus melakukan aksi, di mana hal ini akan Anda pelajari di tingkat yang lebih lanjut lagi.

FOREXimf Footer Background