- Dolar AS (USD) menyentuh level tertinggi dua tahun kemarin (Selasa, 26/4/2022) akibat kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina.
- Kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina telah meningkat sejak Shanghai menerapkan lockdown untuk mengatasi CoViD

Dolar AS (USD) menyentuh level tertinggi dua tahun kemarin (Selasa, 26/4/2022) akibat kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina dan prospek kenaikan suku bunga agresif oleh Federal Reserve (Fed).
Yen Jepang juga menguat karena para pelaku pasar berspekulasi bahwa bank sentral atau pemerintah Jepang akan bertindak untuk menstabilkan mata uang tersebut, yang pekan lalu sempat menyentuh titik terlemah dalam 20 tahun terakhir terhadap USD.
Kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina telah meningkat sejak Shanghai menerapkan lockdown untuk mengatasi CoViD selama sekitar sebulan. Beijing juga merencanakan tes CoViD untuk 20 juta orang, yang juga meningkatkan kekhawatiran akan kembali dilakukan lockdown.
Harian Wall Street Journal kemarin juga melaporkan bahwa presiden Cina, Xi Jinping, telah memerintahkan pejabat berwenang untuk memacu pertumbuhan ekonomi Cina agar bisa melampaui Amerika Serikat di tahun ini. Saat ini pertumbuhan ekonomi Cina terlihat lebih lambat daripada harapan. Bulan lalu, Cina menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,5% di tahun ini.
Indeks dolar sendiri kemarin menguat 0,25% ke kisaran 101.94, setelah sempat mencapai area 102 yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2020.
Dari benua Eropa, euro melemah sekitar 0,35% ke kisaran 1.0663 yang merupakan level terendah sejak Maret 2020. Mata uang tunggal tersebut menerima dampak dari perang yang terjadi di Ukraina, ditambah adanya ekspektasi bahwa European Central Bank (ECB) tidak akan mengikut jejak Fed dalam menaikkan suku bunga secara agresif. Kenaikan suku bunga oleh ECB diperkirakan akan berjalan lebih lamban daripada Fed, sementara Fed sendiri diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis point pada pertemuan pekan depan dan kemungkinan akan diulangi lagi di bulan Juni dan Juli.
Poundsterling (GBP) juga melemah sejauh 0,44% ke area 1.267, yang merupakan level terendahnya sejak Juli 2020.
Ingin berita dan insight yang lebih powerful?
Miliki berita dan data fundamental yang lebih tajam, insight yang lebih powerful dan trading toolbox yang lengkap dengan berbagai fasilitas ekslusif khusus untuk membantu memaksimalkan hasil trading Anda