Position Sizing: Rahasia Profit Trading Forex

(Update dari artikel sebelumnya)

Katakanlah Anda telah memilih salah satu broker forex (alias pialang berjangka) sebagai perantara melakukan transaksi di pasar uang internasional. Anda telah melakukan deposit dan bersiap untuk mencari peluang dari pergerakan harga. Anda telah mempersiapkan strategi yang telah diuji sebelumnya sehingga Anda yakin akan akurasinya. Namun sebelum Anda melangkah lebih jauh, ada baiknya Anda juga telah mempersiapkan metode pengelolaan modal yang baik, salah satunya adalah menguasai “position sizing”.

Alkisah ada seorang trader pemula (sebut saja namanya Melati) yang mengalami kerugian yang luar biasa karena ia membuka posisi dengan jumlah lot yang terlalu besar.  Kala itu Melati mengira bahwa semakin besar lot yang ia pakai maka akan semakin besar pula keuntungan yang ia peroleh. “Mengapa harus trading dengan 1 lot kalau modal saya cukup untuk membuka posisi sebesar 10 lot?” pikirnya.

Melati benar di satu sisi: bahwa semakin besar lot, faktor pengali keuntungannya juga akan semakin besar. Namun Melati lupa bahwa kerugian yang akan diderita juga tak kalah besarnya. Mindset seperti ini yang membuat banyak trader – terutama pemula – berakhir dengan kehancuran. Setidaknya itu yang saya perhatikan dalam karir saya sebagai analis dan edukator di beberapa broker forex.

Anda tentu tidak mau mengalami nasib seperti Melati. Maka dari itu Anda memutuskan untuk membaca artikel ini hingga selesai.

Apa Itu “Position Sizing”?

Sederhananya, “position sizing” pada dasarnya adalah cara mengatur modal dalam melakukan transaksi. Ketika trading, Anda benar-benar harus memperhitungkan berapa lot yang harus dibuka tiap kali melakukan transaksi. Jika terlalu besar, maka resiko yang Anda hadapi akan menjadi terlalu besar pula. Sebaliknya jika terlalu kecil maka itu bisa berarti “menyia-nyiakan” potensi yang Anda miliki. Intinya, Anda perlu tahu besaran lot yang tepat ketika akan membuka posisi.

Position sizing erat kaitannya dengan manajemen resiko. Dalam konteks yang sederhana, Anda mungkin telah mengetahui bahwa resiko dalam trading forex bisa dibatasi dengan menetapkan batasan kerugian. Misalnya, dengan modal awal $10,000 Anda membatasi resiko sebesar 50%-nya, atau sama dengan $5,000 (disebut risk capital). Berarti, kerugian yang akan Anda tanggung (jika terjadi) tak akan lebih dari $5,000.

Nah, position sizing ini akan membuat risk capital Anda menjadi lebih berdaya guna.

Mengapa Perlu Position Sizing?

Anda perlu memahami dulu, bahwa trader forex pada dasarnya adalah “risk manager”. Anda harus bisa “mengatur” potensi resiko yang ada. Position sizing adalah skill yang terpenting dalam manajemen modal dan bisa membantu Anda tetap berada di zona “aman dan nyaman” ketika trading.

Jadi, sebelum Anda benar-benar memulai trading dengan uang yang telah Anda kumpulkan dengan susah payah, sebaiknya pahami dulu teknik yang satu ini. Bahkan kalau bisa, Anda mampu melakukannya di luar kepala.

Bagaimana Cara Menggunakannya?

Position sizing sebenarnya relatif mudah untuk dipahami dan dijalankan. Ya, memang melibatkan sedikit matematika, tetapi masih berada di level dasar.

Ini ada contoh yang mudah-mudahan bisa mempermudah pemahaman. Saya akan memperlihatkan bagaimana cara menghitung besaran lot yang boleh dipergunakan berdasarkan modal dan batasan resiko yang telah ditetapkan.

Mari kembali ke Melati, yang sekarang telah memahami position sizing.

Melati memiliki uang sejumlah $10,000 di akun trading ia dan telah menetapkan risk capital sebesar $5,000. Karena ia tidak mau pengalaman sebelumnya terulang, Melati telah menetapkan resiko sebesar 10% per transaksi dari risk capital. Itu artinya adalah sebesar $500/transaksi.

Setelah mengamati pasar, Melati memutuskan untuk trading di pair EUR/USD. Berdasarkan analisa teknikal yang dilakukannya, ia melihat bahwa batasan resikonya adalah sebesar 200 pips (1 pip = $1). Itu artinya secara teknikal batasan stop loss Melati adalah $200.

Pertanyaannya: berapa lot yang boleh dipergunakan oleh Melati untuk membuka posisi?

Mudah saja. Melati tinggal membagi resiko per transaksi dengan besaran stop loss yang telah diperoleh berdasarkan analisa tadi. Dalam contoh ini, resiko per transaksi adalah $500 dan batasan stop loss adalah $200. Dengan demikian, besaran lot maksimum yang boleh dibuka oleh Melati adalah:

forex trading, strategi forex, broker forex

Mudah kan? Dengan jumlah lot tersebut, Melati tidak akan mengalami kerugian yang melebihi “comfort level”-nya. Ia pun bisa mengoptimalkan modal yang ia miliki, namun tetap berada di zona aman.

Bagaimana Jika Trading di Indirect Currency Pair?

Oke, memang ini sedikit lebih rumit daripada contoh di atas. Tapi hanya sedikit kok.

Bagi Anda yang belum tahu, yang dimaksud dengan indirect currency pair  adalah pasangan mata uang yang counter currency­-nya adalah selain USD. Contohnya adalah USD/JPY, USD/CHF dan USD/CAD.

Nilai per pip untuk pasangan mata uang tersebut pun bukanlah $1. Misalnya untuk USD/JPY: nilai per pip-nya adalah 100 JPY (untuk quote dengan 3 desimal). Nah, untuk bisa memasukkan nilai ini ke perhitungan seperti di atas, Anda perlu melakukan konversi ke dalam USD.

Kembali ke Melati. Misalnya dengan skema yang sama persis seperti contoh kasus di atas, ia melakukan transaksi Sell USD/JPY di harga 120.000. Ia menemukan bahwa secara teknikal stop loss ada di level 120.500, yaitu 500 pips.

Kita sudah tahu bahwa untuk USD/JPY, 1 pip = 100 JPY. Ini artinya besaran stop loss Melati kali ini adalah 50,000 JPY. Berapa USD-kah itu?

Ketika harga menyentuh level stop loss (120.500), maka 50,000 JPY akan senilai dengan kira-kira $414.94. Cara menghitungnya begini:

forex trading, strategi forex, broker forex

Dengan demikian, jumlah lot yang boleh dibuka oleh Melati untuk transaksi di USD/JPY adalah:

forex trading, strategi forex, broker forex

Perlu dicatat bahwa semua contoh perhitungan di atas belum mengakomodir biaya transaksi seperti komisi atau swap (jika ada).

The Bottom Line

Pertanyaan seperti “Berapa lot saya bisa trading?” merupakan pertanyaan yang sering saya terima selama karir sebagai analis dan edukator di beberapa broker forex, bahkan hingga saat ini di FOREXimf.com.

Banyak sekali yang mengira bahwa mereka boleh “membombardir pasar” dengan lot-lot “raksasa”, tanpa menyadari bahwa yang mereka lalukan hanyalah pemborosan modal yang justru memperbesar resiko yang mereka hadapi.

Dengan pengetahuan tentang position sizing, diharapkan Anda akan bisa menempatkan modal dengan tepat dan efisien.

Selamat berhitung.

2 replies
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Dalam bahasa matematika, “lima angka desimal” itu artinya “lima angka di belakang koma”. Nah, dalam quote harga yang biasa kita lihat, “koma” tersebut digantikan oleh “titik”.

      Sejujurnya saya belum pernah melihat quote USD/JPY dengan lima angka desimal. Setahu saya quote untuk USD/JPY umumnya menggunakan dua hingga tiga angka desimal. Bahkan, untuk currency pair yang counter currency-nya adalah JPY, setahu saya maksimal tiga desimal.

      Contoh:
      120.500 adalah quote dengan TIGA DESIMAL.
      120.50 adalah quote dengan DUA DESIMAL.

      Mohon cek lagi quote di platform trading Anda. Jangan-jangan bukan LIMA DESIMAL melainkan DUA DESIMAL.

      Tetapi, sebenarnya mau berapa desimal-pun caranya sama saja.

      100 pips di USD/JPY belum bisa diketahui berapa USD persisnya, sebelum kita mengetahui di level harga berapa stop loss itu ditempatkan. Yang kita tahu, 1 pip di USD/JPY (quote TIGA desimal) identik dengan 100 JPY. Dari mana nilai tersebut kita peroleh?

      Ini rumusnya:
      Pip Value = Minimum Price Fluctuation x Contract Size

      Dalam hal quote USD/JPY menggunakan tiga desimal, maka Minimum Price Fluctuation-nya adalah 0.001. Jika dimasukkan ke rumus di atas, maka hasilnya adalah:

      Pip Value = 0.001 (JPY/USD) x 100,000 USD = 100 JPY

      Maka, 100 pips di sini sama dengan 10,000 JPY (sepuluh ribu yen).

      Nah, kalau misalnya ternyata quote USD/JPY adalah DUA DESIMAL, berarti Minimum Price Fluctuation-nya adalah 0.01. Dengan demikian, berasumsi bahwa besarnya Contract Size adalah 100,000 (seratus ribu) base currency, maka perhitungan nilai per pip (pip value)-nya adalah sebagai berikut:

      Pip Value = 0.01 (JPY/USD) x 100,000 USD = 1,000 JPY

      Anda telah menetapkan batasan resiko 5% dari $1,000 berarti besarnya stop loss Anda hanyalah $50 sekali “tembak”. Jika stop loss sejauh 100 pips, itu berarti senilai 100,000 JPY (seratus ribu yen). Pertanyaannya kemudian, 100,000 JPY itu senilai berapa USD? Pertanyaan ini BELUM BISA DIJAWAB sebelum kita mengetahui DI LEVEL BERAPA stop loss itu ditempatkan. Begitu kita mengetahui di level berapa stop loss ditempatkan, maka Anda tinggal memasukkan angka tersebut ke rumus yang telah saya contohkan dalam artikel di atas.

      Misal: Anda melakukan buy di 120.00. Lalu secara teknikal Anda melihat bahwa level stop loss adalah di harga 119.00 (sejauh 100 pips). Itu artinya, ketika harga menyentuh 119.00; stop loss Anda itu senilai dengan kira-kira 840.34 USD. Karena batasan resiko Anda hanya 50 USD – dengan mengadaptasi contoh perhitungan dalam artikel di atas – Anda hanya boleh masuk posisi sebesar 0.05 lot.

      Sayangnya, di FOREXimf.com atau di pialang legal Indonesia lainnya, minimum lot adalah 0.1 lot. Dengan demikian, dengan kondisi trading plan seperti yang Anda sampaikan, Anda tidak bisa masuk posisi. Solusinya adalah memperbesar batasan resiko atau memperkecil jarak stop loss.

      Kalau seandainya memang quote yang Anda lihat untuk USD/JPY adalah LIMA DESIMAL, Anda pun sebenarnya tinggal memasukkan angka-angka tersebut seperti dalam contoh ini.

      Selamat berhitung.

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 7 =