Euro Melemah Ketika Minyak Terjatuh

EURO MELEMAH KETIKA MINYAK TERJATUH

Euro Melemah Ketika Minyak Terjatuh
05 January 2015 in Berita Forex Terkini - Kabar Pasar Hari Ini - by Eko Trijuni

Euro jatuh ke harga terendah sembilan tahun di tengah prospek ancaman deflasi yang akan memaksa para pembuat kebijakan Eropa untuk memulai pelonggaran kuantitatif skala penuh di tengah gejolak politik di Yunani. Saham Asia dan minyak mentah jatuh.

Mata uang Eropa turun 0,3 persen menjadi $ 1,1966 di Tokyo, setelah sebelumnya menyentuh level terlemah sejak Maret 2006. Greenback menguat terhadap mata uang dari Australia hingga ke Korea Selatan menguat. Index MSCI Asia Pacific jatuh 0,7 persen karena indeks Topix Jepang turun 1,2 persen setelah libur tiga hari. Kontrak indeks Standard & Poor 500 tergelincir 0,3 persen. Harga minyak mentah turun pada hari ketiga berturut-turut ketika harga emas ikut turun sebanyak 0,3 persen.

Spekulasi Bank Sentral Eropa harus melakukan program pembelian obligasi pemerintah terus berkembang selama beberapa hari terakhir. Presiden ECB, Mario Draghi mengatakan dalam sebuah wawancara yang diterbitkan 2 Januari bahwa ia tidak bisa mengecualikan risiko deflasi, sementara majalah Der Spiegel melaporkan Jerman memandang potensi keluarnya Yunani dari zona Eropa, ketika partai anti-penghematan pada jajak pendapat mendapat suara terbanyak sebelum pemilihan sela di negara Eropa selatan pada 25 Januari. Jerman melaporkan bahwa harga mata uang sideways karena banyak pasar akan melanjutkan perdagangan setelah liburan Tahun Baru.

Euro melemah sebanyak 12 persen pada tahun 2014, kinerja terburuk terhadap dolar sejak tahun 2005 di tengah perbedaan di kawasan Eropa dan kebijakan moneter AS. Sementara Federal Reserve sedikit tertekan ketika program pembelian obligasi dan prospek menaikkan suku bunga menjauhi angka nol, ECB menurunkan suku bunga dan memulai pembelian aset dalam upaya untuk memicu pertumbuhan ekonomi. Mata uang turun 0,5 persen terhadap yen pada hari ini.

Pasar di Jepang, Selandia Baru, Cina daratan, Filipina, Taiwan, dan Thailand melakukan perdagangan untuk pertama kalinya pada tahun 2015.

Mario Draghi memberikan sinyal terkuat bahwa Bank Sentral Eropa kemungkinan akan memulai pembelian obligasi pemerintah skala besar dengan mengatakan dia tidak bisa mengesampingkan deflasi di kawasan Eropa.

Presiden ECB jarang memberikan wawancara dan memberikan komentar kepada surat kabar Jerman Handelsblatt yang mencerminkan memberikan dorongan untuk melakukan kebijakan. Para pembuat kebijakan telah menyebabkan kritik pada pelonggaran kuantitatif dan mengatakan akan mengancam stabilitas keuangan, mengurangi insentif bagi pemerintah untuk merestrukturisasi ekonomi mereka, ketika dari sudut pandang hukum sulit untuk dipertanggung-jawabkan.

"Risiko tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, tetapi terbatas," ujar Draghi mengatakan ketika ditanya apakah wilayah Eropa bisa memasukkan spiral penurunan harga, penurunan upah dan belanja ditunda. "Kita harus bertindak terhadap risiko tersebut."

Sementara Presiden Bundesbank, Jens Weidmann berpendapat bahwa tindakan yang lebih tidak beralasan karena merosot harga minyak untuk memberikan stimulus ekonomi, yang telah memperingatkan bahwa penurunan harga minyak mentah akan membuat kondisi deflasi penuh.

[av_magazine link='post_tag,121,278,276' items='3' offset='0' thumbnails='aviaTBthumbnails' heading_active='aviaTBheading_active' heading='Berita Lainnya' heading_link='manually,https://www.foreximf.com/berita/' heading_color='theme-color' heading_custom_color='#ffffff' first_big_pos='top']

Share :

FOREXimf Footer Background