US Dollar Rebound Dari Level Tertinggi 13 1/2 Tahun

US Dolar mengalami koreksi pada awal perdagangan hari Selasa setelah mengalami penguatan beruntun dalam 10 hari karena investor melakukan aksi profit taking ditengah tengah ekspektasi peningkatan belanja fiskal dan inflasi yang lebih tinggi di bawah pemerintahan Trump.

Gempa bumi berkekuatan 7,3 dan peringatan tsunami di Jepang utara juga mendorong penjualan spontan dalam dolar terhadap yen yang dinilai mencari aset yang safe-haven di awal perdagangan. Dolar merosot ke ¥ 110,48 dari level tinggi Senin diksisaran ¥ 111,36, level tertinggi sejak Mei 30.

Indeks dolar yang mengukur kinerja US dollar terhadap enam mata uang utama merosot ke 100,87, jatuh dari level tertingginya dalam 13 1/2-tahun tinggi yang disentuh pada hari Jumat. US dollar telah meningkat hampir 5 persen selama 10 hari terakhir, dengan investor berekspektasi meningkatnya pengeluaran fiskal oleh pemerintah Trump meningkatkan inflasi dan mendorong suku bunga yang lebih tinggi.

Trump juga mengatakan pada hari Senin bahwa ia akan menarik Amerika Serikat dari kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership pada hari pertama di kantor, meski banyak pihak yang berharap bahwa ia dapat melunakkan sikap proteksionis nya pada perdagangan internasional.

Euro diperdagangkan di kisaran $ 1,0635, memantul kembali dari level terendah satu tahun dikisaran $ 1,0569 yang tersentuh pada hari Jumat. Sementara Pound Inggris menguat setelah pasar merespon petunjuk terbaru Perdana Menteri Theresa May tentang bentuk kemungkinan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. May berjanji untuk mengatasi kekhawatiran bahwa Inggris bisa jatuh dari “tepi tebing” terhadap kondisi perdagangannya ketika meninggalkan Uni Eropa.