Dapatkan Signal Trading Gratis-
Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya,Trading Forex Indonesia Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker Forex Terpercaya,Trading Forex Indonesia

BEGINI CARA TRADING DENGAN PIVOT POINT YANG TEPAT

11 July 2023 in Blog - Trading - by Admin FOREXimf

Sudah paham cara trading dengan Pivot Point (PP)? Umumnya, PP ini dipakai oleh para trader untuk futures maupun saham. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu mulai banyak yang mengaplikasikannya pada perdagangan valas. Apalagi bagi short term trader, mereka mengaplikasikan yaitu Pivot Point Harian.

Itu tandanya PP tersebut dikalkulasi dengan melihat closing price pada hari sebelumnya. Umumnya trader akan memanfaatkan closing price untuk market New York dan menjadikannya sebagai patokan di pukul 4:00 PM EST alias 4:00 pagi WIB. 

Sekarang bagaimana caramu melakukan perdagangan FX ini dengan Pivot Point? Berikut pembahasannya.

Bagaimana Cara Trading dengan Pivot Point (PP)?

Melakukan trading dengan PP memang banyak yang belum memahaminya. Akan tetapi, bukan berarti kamu juga mengabaikannya begitu saja. Mengetahui cara melakukan perdagangan FX dengan strategi tersebut meningkatkan peluangmu sehingga nanti cuan.

  • Trading Bouncing dengan Pivot Point

Cara perdagangan FX sederhana lewat PP yaitu memperlakukan tingkatan-tingkatan Pivot seperti level resistensi - dukungan. Umumnya, price FX mulai mengetes tingkatan tersebut yang disusul pembalikan arah movement price alias bouncing, bahkan harga terus bergerak atau break.

Pengujian pun juga dapat berlangsung beberapa kali. Dikarenakan fungsinya yakni resistensi - dukungan, disini berlaku ketentuan. Adapun ketentuannya, semakin sering price FX tak bisa lewat level tersebut, semakin powerful level resistensi atau supportnya.

Lewat Pivot Point, chance trader saat entry akan mereka dapatkan di waktu harga sudah masuk ke tingkatan PP. Tidak perlu mengecek apakah prediksi price forex nanti akan break atau bouncing. Di waktu harga tak dapat menembus support, berlaku bouncing.

Sebaliknya, saat harga tidak dapat menembus resistensi, berlaku break. Adapun tingkatan untuk TP (target profit) bisa kamu cek via Pivot Point maupun resistensi pertama (R1). Bisa juga di antara level tersebut, menyesuaikan risk/reward ratio yang telah direncanakan.

Saat kamu termasuk trader agresif, kemungkinan tingkatan stop loss dapat ditempatkan terhadap beberapa pip di bawah dukungan pertama (S1). Dengan begitu, rasio untung-rugi pun akan cukup tinggi.

Tapi, waktu kamu termasuk conservative trader lalu menentukan tingkatan SL (stop loss) dengan position bawah dukungan kedua (S2) lalu berasumsi price FX mampu lewat S1 namun nyatanya tak dapat lewat S2, bukan tak mungkin bouncing pun masih terbuka lebar.

Lalu yang terjadi selanjutnya yaitu movement price menunjukkan bouncing di level S1 serta PP. Untuk membuatmu semakin percaya diri di waktu entry, dianjurkan memakai indikator teknikal. Nanti indikator ini menjadi konfirmator agar kamu bisa tahu kekuatan dari level SR.

Hal tersebut karena sebenarnya Pivot merupakan level resistance – support itu sendiri. Kemudian, kamu juga perlu mengecek setup price action serta formasi candlestick yang terbentuk.

  • Cara Trading dengan Pivot Point Secara Breakout

Memang melakukan perdagangan FX dengan bouncing tak selamanya berjalan sesuai rencana. Bahkan di waktu level SR bisa dikatakan kuat. Khususnya di waktu open sesi untuk New York dan Eropa di mana movement price cenderung kerap break atau menembus level Pivot tersebut.

Berlaku juga di waktu sentimen pasar cenderung menguat. Misalnya di waktu perilisan data fundamental krusial. Namun ada hal penting sekaligus menjadi kunci untuk diperhatikan para trader FX.

Sebelum mampu menembus tingkatan resistance, harga forex akan restest dulu di level tersebut. Tugasmu yaitu mengamati retest yang muncul di grafik FX. Sekali lagi, dianjurkan memanfaatkan candlestick formation ataupun setup PA. Lalu aplikasikan indikator teknikal untuk konfirmator agar kamu bisa lebih percaya diri.

  • PP untuk Target dan Stop Loss

Bagi trader yang kerap melakukan aktivitas trading secara agresif maupun kamu yang kerap mengaplikasikan breakout, kemungkinan kamu mengalami kesulitan di waktu menentukan tingkatan risiko alias tingkatan loss. Untuk para trader konservatif yang mengaplikasikan bouncing, biasanya risiko muncul pada beberapa pip baik di bawah maupun atas tingkatan Pivot sebelumnya.

Akan tetapi, saat kamu mengaplikasikan breakout ini, penentuan tingkatan SL cenderung boros pip. Itu artinya, risiko yang harus ditanggung olehmu nanti cenderung terlalu besar.

Saat kamu sudah terbiasa melakukan setup price action maupun observasi candlestick formation, kemungkinan kamu dapat menentukan SL yakni mengacu pada formasi bar. Para trader agresif cenderung menentukan risiko serendah mungkin.

Tujuannya agar rasio untung – rugi  mereka juga memadai. Di waktu kamu ingin penentuan target level FX, kamu dapat mengaplikasikan cara yang serupa melalui bouncing, yaitu di level Pivot selanjutnya. Kamu dapat menentukan target untuk 2 maupun 3 level Pivot yang posisinya di atas tingkatan entry sehingga kamu mendapatkan risk/reward ratio lebih besar.

Akan tetapi, pada kenyataannya probabilitasnya kecil muncul movement market yang mampu melewati sampai 3 tingkatan Pivot sekaligus. Biasanya hanya muncul saat kondisi market forex yang ekstrem. Umumnya, movement price berhenti di satu tingkatan Pivot sebelum lanjut pada tingkatan berikutnya. Di waktu sentimen pasar FX berubah, movement price pun berbalik arah secepatnya.

  • Cara Trading dengan Pivot Point untuk Market FX Sentiment

Untuk kasus semacam ini, market sentiment merupakan kecenderungan movement harga FX untuk bearish maupun bullish. Umumnya yang dipakai sebagai acuan yaitu opening price di sesi trading hari itu. Bisa juga Pivot Point yang dikalkulasi dengan melihat batasan price forex di hari sebelumnya.

Contohnya, di waktu sesi Asia biasanya harga mulai dibuka pada atas PP. Sesi sentimen pasar besar kemungkinan bullish. Namun, kondisi berubah di sesi selanjutnya yaitu sesi Eropa. Ini menyesuaikan movement price waktu itu pada Pivot Point. 

Berlaku juga untuk sesi New York yang berlangsung sesudahnya. Saat mengidentifikasinya di chart forex, kamu akan menemukan gap atau lompatan harga. Gap tersebut mengindikasikan bullish cukup kuat.

Lalu movement price juga mampu mencapai tingkatan R1, R2, serta R3. Akan tetapi, bisa juga yang muncul di chart FX adalah kondisi sebaliknya. Di waktu kamu menguji tingkatan Pivot, ternyata price FX merosot tajam yang ditandai formasi candlestick bearish untuk full body dan lebih panjang. Bahkan harga mencapai level S1 serta S2.

Meskipun karakteristik movement price pada Pivot Point tak selalu begitu, akan tetapi sentimen pasar cenderung dapat bereaksi pada sekitar tingkatan Pivot.

Akhir Kata

Seperti itulah cara trading dengan Pivot Point. Berusaha memahaminya merupakan cara yang akan mengantarkanmu menjadi seorang trader handal serta profesional. Untuk itu pelajari semua yang dibutuhkan sekaligus untuk meningkatkan peluangmu dapat cuan di pasar FX. Semoga bermanfaat.