Berita Forex

Minyak Mentah Menguat di Sesi Asia

Harga minyak mentah menguat tajam di awal sesi Asia hari ini (19/9). Di New York Merchantile Exchange, harga minyak mentah untuk pengiriman Oktober menguat sejauh 1,44% ke kisaran $44.25 per barrel.

Pekan lalu, harga minyak mentah masih melemah di hari Jumat, ketika minyak mentah AS menyentuh level terendah dalam lebih dari lima pekan seiring membaiknya aktivitas pengeboran di AS serta meningkatnya ekspor dari OPEC sehingga menambah kekhawatiran akan kembali bertambahnya kelebihan suplai.

Membengkaknya angka ekspor Iran semakin memperbesar kekhawatiran kelebihan suplai minyak. Produsen OPEC terbesar ke-3 ini menaikkan angka ekspor minyak mentah mereka menjadi lebih dari dua juga barrel per haril di bulan Agustus, semakin mendekati angka yang pernah mereka capai sebelum mendapatkan sanksi ekonomi.

Perhatian pasar sekarang mulai bergeser ke pertemuan yang akan dilaksanakan di antara para produsen minyak di akhir September, yang direncanakan akan membahas masalah kemungkinan pembatasan produksi.

Para anggota OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan para eksporter besar asal Timur Tengah lainnya, akan mengadakan pertemuan dengan para produsen minyak non-anggota OPEC yang dimotori oleh Rusia dalam pembicaraan informal yang akan diselenggarakan di Aljazair antara tanggal 26 hingga 28 September. Menurut para ahli, kecil kemungkinannya pertemuan itu akan bermuara pada kesepakatan untuk melakukan sesuatu guna mengatasi masalah kelebihan suplai global. Malah sebagian besar meyakini bahwa para produsen akan terus memantau pasar dan akan menunda pembahasan tersebut hingga pertemuan resmi OPEC yang akan digelar di Wina tanggal 30 November mendatang.

Aussie Menguat Pasca Data China

Dolar Australia menguat di hari Senin pada sesi Asia setelah data perumahan China menambah deretan data ekonomi China yang positif. Pasar finansial di Jepang hari ini tutup dan para investor tengah menantikan hasil pertemuan bank sentral di Tokyo dan Washington pekan ini.

AUD/USD berhasil menguat sekitar 0,41% sementara USD/JPY turun sekitar 0.06% di awal sesi Asia.

Di China, data perumahan untuk bulan Agustus menguat 9,2%, melampaui kenaikan di bulan sebelumnya di angka 7,9%.

Indeks dollar, yang merupakan indeks pergerakan USD terhadap enam mata uang utama lainnya, mengalami pelemahan sekitar 0,17%.

USD sebelumnya berhasil menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan di hari Jumat lalu, karena para investor melihat data inflasi AS akan mempengaruhi keputusan Federal Reserve yang akan menentukan arah kebijakan moneternya di pekan ini.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga konsumen di bulan Agustus mengalami kenaikan 0,2%, di atas perkiraan di angka 0,1%. Untuk year-over-year, indeks harga konsumen mengalami kenaikan 1,1%.

Inflasi inti mengalami kenaikan 0,3%. Untuk year-over-year hingga Agustus, inflasi inti ini telah mengalami kenaikan hingga 2,3%.

Pertumbuhan inflasi AS yang lebih cepat daripada perkiraan inilah yang menyebabkan optimisme pasar akan kenaikan suku bunga oleh Fed di pekan ini kembali menguat.

Sebelumnya, investor berpendapat bahwa hanya ada peluang sekitar 12% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga di pekan ini. Data tersebut disajikan oleh Investing.com. Sementara itu pelemahan yen masih terbatas karena memudarnya perkiraan bahwa Bank of Japan akan melakukan pelonggaran kebijakan montere lebih jauh lagi. BOJ juga dijadwalkan akan mengadakan rapat dewan gubernur pada tanggal 20-21 September mendatang.

Market juga menantikan pengumuman suku bunga oleh Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) Rabu ini.

Bursa Saham Asia Mendekati Level Terendah Dalam 10 Minggu

Saham Asia mengalami pelemahan pada Selasa sementara US dolar kembali tertekan karena investor melakukan aksi ambil untung pasca data payroll meskipun semua pembicaraan tentang kenaikan suku bunga AS pada awal September.

Indeks Nikkei Jepang N225 melemah 0,7 persen dan bursa saham Australia yang hampir tidak berubah. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang adalah mengalami kenaikkan tipis setelah menyentuh 10 minggu rendah pada hari Senin.

Ada banyak perhatian dari China di mana saham SSEC telah meningkat lebih dari 2 persen pada hari Senin ke tertinggi baru tujuh tahun pada spekulasi MSCI mungkin memutuskan untuk menambah saham Cina untuk indeks global.

Pengumuman ini disebabkan Selasa apakah MSCI akan mencakup saham China dalam Surat Emerging Markets Index, keputusan penerbit indeks mengatakan bisa menarik sampai dengan $ 400 miliar dari saham Cina dari waktu ke waktu.

Euro Rally Seiring Naiknya Bunga Obligasi

Euro masih dikisaran menguatnya pada awal perdagangan Kamis pagi, setelah memperpanjang rally untuk hari kedua seiring dengan lonjakan yield Jerman setelah kepala Bank Sentral Eropa mengecilkan dampak dari harga pasar yang lebih tinggi.

Mata uang euro menguat hingga $ 1,1285 semalam, mencapai tertinggi dalam lebih dari dua minggu. Ini telah meningkat 3 1/2 % dalam dua hari atau kenaikan terbesar sejak Januari 2011.

Terhadap yen, euro didukung mendekati level tertinggi lima bulan dari 140,135, menarik jauh dari level terendah minggu lalu dikisaran 133,10.

Rally bertepatan dengan lonjakan tajam dalam hasil Bund Jerman. Bunga obligasi Jerman untuk tenor 10 tahun melonjak 34,7 basis poin dalam dua sesi terakhir yang tidak terlihat sejak Oktober 1998.

Hasil Jerman yang lebih tinggi dapat membuat euro kurang menarik sebagai mata uang pendanaan untuk carry trades, memaksa beberapa investor untuk melepas posisi bearish.
Investor tampaknya telah menaruh pehatian terhadap komentar Presiden ECB Mario Draghi pada Rabu, karena lampu hijau untuk terus menjual obligasi. Ketika ditanya tentang lonjakan imbal hasil, Draghi mengatakan: “Kita harus terbiasa dengan periode volatilitas yang lebih tinggi.” Dia juga menunjukkan bahwa ECB tidak akan menambah stimulus hanya karena hasil meningkat.

Perekonomian Australia Tumbuh Lebih Cepat Dari Perkiraan

Perekonomian Australia mencatat pertumbuhan kuartal-ke-kuartal terkuat dalam setahun sebagai akibat dari pengeluaran konsumen yang mengalami kenaikkan dan volume ekspor juga naik.

Produk domestik bruto naik 0,9% pada kuartal pertama, dan 2,3% dari tahun sebelumnya, seperti laporan pemerintah yang dirilis pada hari Rabu. Para ekonom mengharapkan pertumbuhan 0,7 % pada kuartal pertama dan peningkatan 2,1% untuk tahunan.

Dolar Aussie naik setelah data yang dirilis lebih baik dari perkiraan, adanya spekulasi bank sentral mungkin belum akan melakukan pemotongan lebih lanjut untuk suku bunga dari rekor terendah mereka saat ini.

Angka-angka PDB menawarkan beberapa bantuan kepada para pembuat kebijakan yang telah khawatir tentang dampak pada pertumbuhan harga komoditas yang turun tajam, perlambatan di China, lemahnya kepercayaan konsumen dan bisnis, dan mata uang yang tinggi.

Bursa Saham Asia Tertekan, Berharap Dari Yunani

Bursa saham di Asia tergelincir pada awal perdagangan hari Rabu terpengaruh oleh melonjaknya bunga hutang yang mengurangi daya tarik aset berisiko, sementara euro menguat setelah data inflasi zona euro optimis dan berharap bahwa Yunani akan mencapai kesepakatan dengan kreditur.

Indeks Jepang Nikkei turun 0,6 persen sementara saham Australia turun 0,5 persen dan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,1 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,1 persen.

Yield obligasi AS melonjak ke level tertinggi dalam dua minggu semalam setelah hasil obligasi Jerman melonjak karena faktor data inflasi zona euro yang lebih kuat dari perkiraan. Harga konsumen naik 0,3 persen tahun-ke-tahun pada Mei, mengalahkan perkiraan untuk peningkatan 0,2 persen.

Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik investasi saham terhadap obligasi seperti yang terlihat pada bulan lalu saat pasar global menghadapi masalah dalam hutang. Data inflasi dan kenaikan yang sesuai mampu mendorong euro. Mata uang euro memperoleh dukungan lebih lanjut ketika Bank Sentral Eropa, Komisi Eropa dan Dana Moneter Internasional menyetujui persyaratan dari “cash-for-reformation” sebagai kesepakatan Yunani dalam upaya untuk menyelesaikan masalah hutangnya.

Bursa Saham Jepang Naik Seiring Melemahnya Yen

Bursa saham Jepang terpantau mengalami penguatan tipis pada awal perdagangan di hari selasa ini, dimana Indeks Nikkei mengalami kenaikkan sebesar 0.2% dan mengarah ke penguatan dalam 13 hari secara berturut turut yang merupakan penguatan terpanjang sejak awal tahun 1988.

Sementara untuk Indeks Topix tercatat mengalami kenaikkan 0.1%, dimana penguatan yang terjadi di bursa saham ini banyak dipengaruhi atau di dorong oleh melemahnya mata uang Yen terhadap US dollar yang terakhir sempat melemah hingga kisaran level 124.85 atau melemah dari level sebelumnya dikisaran 124.26.

Saham saham yang mengalami kenaikkan dialami oleh saham sektor industri dan teknologi seperti saham Hitachi Ltd yang mengalami kenaikkan 1%, saham Nidec Corp terpantau menguat 1%, saham TDK Corp juga mengalami kenaikkan sebesar 1.7%, saham Trend micro Inc terpantau mengalami kenaikkan 1.5%.

US Dollar Cetak Level Tertinggi Baru Vs Yen

US Dolar menguat di level tertinggi dalam 12 1/2 tahun terhadap Yen pada perdagangan Selasa pagi ini, setelah setelah sempat rehat melalui perlawanan tangguh yang memicu momentum aksi beli. Penguatan US dolar juga didukung oleh data aktivitas manufaktur AS dan belanja konstruksi yang hasilnya cukup bagus.

US dollar diperdagangkan mendekati level ¥ 125,00, atau level tertinggi yang tidak terlihat sejak akhir 2002. terakhir diperdagangkan di kisaran level 124,90. Momentum bullishnya US dolar setelah pecahnya resisten kuat atas sekitar ¥ 122,00 pekan lalu.

Untuk Euro terpantau melemah menjadi $ 1,0928, setelah sempat jatuh hingga level $ 1,0887 semalam atau terus menjauh dari puncak yang dicapai minggu lalu dikisaran $ 1,1006. Para pedagang mengatakan fakta bahwa penurunan relatif dangkal karena optimisme bahwa Yunani akhirnya akan mengamankan kesepakatan dan menghindari default utang. Itu juga bisa menjelaskan mengapa mata uang secara umum sebenarnya menguat terhadap yen, mencapai tertinggi dalam lebih dari dua minggu di 136,62.

Para pemimpin Jerman, Perancis dan lembaga kreditur internasional Yunani setuju untuk bekerja dengan dengan lebih intens dalam beberapa hari mendatang ketika mereka mencoba untuk meraih kesepakatan dalam negosiasi utang dengan Athena. Athena membuat pembayaran sebesar 300 juta euro ($ 327.930.000) kepada IMF pada Jumat di tengah meningkatnya keraguan tentang kemampuannya untuk memenuhi semua kewajiban keuangan bulan ini.

US Dolar juga menguat terhadap mata uang komoditas, dimana dolar Australia sempat diperdagangkan di bawah level 0.76 untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu. Terakhir Aussie diperdagangkan dikisaran $ 0,7612, menjelang keputusan suku bunga Australia.

Perekonomian AS Tidak Dalam Resesi

Produk domestik bruto AS untuk periode tahunan mengalami penurunan 0,7% dalam tiga bulan pertama tahun ini, menurut sebuah laporan pemerintah yang dirilis pada jumat kemarin, tapi jangan berpikir bahwa berarti ekonomi sebenarnya tertular.

Laporan ini tidak secara akurat mencerminkan apa yang terjadi dalam ekonomi riil, di mana lebih banyak pekerja yang disewa, pendapatan meningkat, kredit berkembang, bisnis optimis dan sektor perumahan mulai tumbuh.

Ini penting bahwa pendapatan domestik bruto tumbuh pada laju tahunan 1,4% pada kuartal pertama. Pada tahun lalu, GDI naik 3,6%, sementara PDB naik hanya 2,7%. Secara teori, dua langkah harus sama. Secara triwulanan, PDB adalah ukuran kasar dari kesehatan perekonomian.

Sebaliknya, kita harus lebih mengandalkan data ekonomi bulanan dan bahkan mingguan yang mengukur bagian-bagian tertentu dari ekonomi untuk menilai bagaimana kondisi terkini. Dan jika kita melakukan itu, kita menemukan bahwa ekonomi telah melambat, terutama sektor manufaktur. Tapi sebagian besar perekonomian masih bergerak maju: Pekerjaan tumbuh, pendapatan naik, pinjaman naik, dan sektor rumah yang juga naik. Jadi secara umum ekonomi tumbuh pada kecepatan yang lebih lambat, tetapi tidak dalam resesi.

Euro Tertekan Oleh Kekuatiran Situasi di Yunani

Euro berada dalam tekanan pada perdagangan awal minggu ini atau Senin pagi setelah Yunani melewatkan batas waktu hari Minggu untuk mencapai kesepakatan dengan pemberi pinjaman untuk membuka bantuan, dalam rangka menjaga kekhawatiran dari gagal utang.

Euro melemah 0,4 persen menjadi $ 1,0954, tertekan dari level tinggi Jumat kemarin dikisaran $ 1,1006. Terhadap yen, euro merosot ke level 136,21 dari 136,49. Tanpa kesepakatan, Yunani dalam risiko kebangkrutan dalam beberapa pekan. Sumber yang dekat dengan perundingan mengatakan Yunani dan kreditor Eropa sepakat pada kebutuhan untuk mencapai kesepakatan dalam waktu cepat.

Indeks US dolar merangkak naik ke level 97,008, mengangkat dari level rendahnya dkisaran 96,753 pada Jumat kemarin. Level tersebut mendekati level tertinggi dalam lima minggu dikisaran 97,775 yang dicapai Rabu lalu.

Investor telah mengabaikan data yang menunjukkan ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal pertama, data yang dirilis meski hasilnya mengecewakan namun tidak akan menggagalkan prospek kenaikan suku bunga tahun ini.

Posts

Saatnya Fed Menaikkan Suku Bunga?

Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney, mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin akan diperlukan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Inggris pasca keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau yang kita kenal dengan Brexit. Apakah benar demikian?

Menurut Mark Gilbert, kolumnis Bloomberg yang juga mantan kepala biro London untuk Bloomberg News, kebijakan seperti itu akan membuat “perusahaan-perusahaan zombie” tetap bertahan hidup, memerangkap modal dalam usaha yang tidak produktif yang hampir mati. Sementara suku bunga negatif belum pernah terjadi sebelumnya dan terlihat bagaikan membiarkan seorang dokter untuk bereksperimen dengan pasien-pasiennya. Mark Gilbert melihat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi bisa jadi merupakan pendekatan yang lebih baik berdasarkan demografi.

Dalam kolomnya, Gilbert menyajikan data tentang perubahan komposisi populasi dunia antara kaum muda (di bawah usia 15-an tahun) dan tua (di atas 65-an tahun).

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Demografi

Komposisi penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun hampir mencapai 9 (sembilan) persen dari populasi dunia dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak awal dekade lalu. Untuk kawasan euro, komposisinya malah mendekati 18 persen sementara di Amerika Serikat (AS) sendiri ada 15 persen penduduk yang telah melewati usia pensiun. Angka itu meningkat sebesar 12,5 persen jika dibandingkan dengan angka sepuluh tahun yang lalu.

Jumlah penduduk dunia yang memasuki usia pensiun ternyata bukan hanya bertambah, namun juga bertambah kaya dan mampu membeli rumah yang benar-benar layak serta mendapatkan manfaat dari dana pensiun. Mereka juga mampu untuk membelanjakan uang yang mereka dapatkan dari tabungan mereka.

Akan tetapi, dengan suku bunga yang nyaris nol, tidak ada pemasukan dari tabungan mereka. Mereka juga tidak mau menyentuh modal yang mereka simpan dalam deposito mereka. Maka dari itu, jika suku bunga menjadi semakin rendah, maka tingkat belanja para lansia juga akan semakin rendah. Alih-alih meningkatkan investasi dan permintaan, kebijakan moneter longgar justru mungkin akan “membunuh” daya beli para generasi baby boom.

Menurut Gilbert, kebijakan suku bunga rendah yang berlarut-larut tidak hanya akan menghapus suku bunga simpanan. Para pensiunan akan terkecoh jika mereka mengikuti saran standar dari penasehat kesehatan dengan memindahkan dana pensiun mereka ke sektor lain, misalnya ke semacam reksadana fix income atau obligasi. Sebagai bukti, yield US Treasury hanya 1,4 persen, turun 1 persen dibandingkan tahun lalu dan bahkan telah turun rata-rata 4,3 persen dalam dekade terakhir. Padahal di tahun 1990-an, sekuritas ini mampu menghasilkan imbal hasil 8,5 persen. Pendek kata, semakin rendah yield obligasi maka itu berarti semakin rendah pula tingkat belanja dan ini buruk bagi perekonomian.

Mereka yang mendekati usia pensiun juga kemungkinan akan terpengaruh oleh rendahnya tingkat suku bunga. Mereka kemungkinan akan merasa butuh untuk menabung lebih banyak karena untuk mendapatkan imbal hasil yang besar dibutuhkan modal yang besar pula dengan rendahnya suku bunga. Pada gilirannya hal ini lagi-lagi akan menekan tingkat belanja.

Faktanya, bahkan meskipun tingkat suku bunga berada di level terendah sepanjang masa, tingkat tabungan masyarakat AS berdasarkan persentase dari penghasilan mereka mengalami kenaikan dan telah mencapai enam persen di akhir kuartal pertama 2016. Artinya, kuantitas uang yang mereka tabung dari penghasilan mereka semakin besar. Ini merupakan level tertinggi sejak akhir tahun 2012.

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Tabungan

Deputi kepala ekonom AS di UBS di New York, Drew Matus, pada bulan April 2015 pernah berargumen sebagai berikut:

“Suku bunga yang terlalu rendah bisa sama mengganggunya dengan suku bunga yang terlalu tinggi. Teorinya suku bunga yang rendah akan memacu perekonomian, mendorong konsumsi dan investasi menjadi semakin tinggi. Itu belum terjadi pada situasi pasca-krisis. Tingkat simpanan telah naik dan investasi telah melemah. Suku bunga nol justru menjadi bagian dari masalah ketimbang solusi: suku bunga rendah justru memicu bertambahnya simpanan dan keputusan perusahaan untuk menahan diri melakukan investasi, mengurangi belanja modal.”

Ide menaikkan suku bunga bisa jadi pada gilirannya akan memicu konsumsi dan mengarah pada percepatan kenaikan inflasi. Para ekonom menyebut teori ini Neo-Fisherism. Memang hal ini terlihat bertolak belakang. Dalam teori bank sentral modern, hal ini ada di dalam bab “kebijakan tak lazim”.

Sudah ada yang menerapkan suku bunga negative. Sudah ada pula petisi anggota Parlemen Eropa yang meminta European Central Bank mempertimbangkan menjalankan strategi “helicopter money”. Dengan demikian opsi kenaikan suku bunga mungkin masuk akal untuk menyelamatkan perekonomian.

Dan Federal Reserve saat ini sangat mungkin sedang mempertimbangkan hal itu.

0 Comments

Memanfaatkan Analisa Fundamental Dalam Forex Trading (Bagian-1)

Dalam forex trading, kita mengenal dua jenis analisa, yaitu analisa teknikal dan analisa fundamental. Dalam analisa teknikal dipercaya bahwa semua berita dan sentimen pasar tercermin pada pergerakan harga, sehingga obyek analisa teknikal adalah pergerakan harga itu sendiri, alias chart/grafik. Analisa teknikal pada dasarnya mencoba untuk mencari tahu potensi arah pergerakan harga berdasarkan data historis pergerakan harga, karena dipercaya bahwa pola-pola tertentu cenderung berulang dari masa ke masa (history repeats itself).

Sementara itu, fokus analisa fundamental lebih kepada mempelajari penyebab pergerakan harga. Analisa fundamental sebenarnya tidak dimaksudkan untuk memperkirakan arah pasar selanjutnya; setidaknya tidak secara langsung. Namun peristiwa ekonomi tertentu biasanya berdampak pada perkembangan pasar untuk jangka panjang, sehingga analisa yang dibangun berdasarkan analisa fundamental biasanya lebih valid untuk jangka waktu yang panjang.

Apa sih sebenarnya analisa fundamental itu?

Analisa fundamental memiliki unsur ekonomi dan politik. Analisa fundamental mempelajari keadaan ekonomi dan politik suatu negara untuk memperkirakan dampaknya terhadap nilai mata uang negara tersebut. Seorang trader forex yang trading dengan mempergunakan analisa fundamental harus selalu mengikuti perkembangan data ekonomi seperti tingkat pengangguran, inflasi, suku bunga, juga berita-berita hangat lain yang menjadi fokus pasar. Dengan mengetahui hubungan antara ekonomi suatu negara terhadap mata uangnya, maka pada tahap tertentu seorang trader bisa memperkirakan apakah permintaan (demand) dan/atau penawaran (supply) atas mata uang tersebut akan naik atau turun.

Hal tersebut akan memberikan keuntungan tersendiri bagi si trader. Dalam teori ekonomi, naiknya supply yang tak diimbangi oleh naiknya demand akan diikuti oleh penurunan harga, dan sebaliknya. Dengan mengetahui potensi supply & demand, seorang trader akan mendapatkan “peringatan dini” apakah nilai mata uang negara tersebut akan menguat atau melemah.

Penggunaan data ekonomi

Data ekonomi biasanya diumumkan oleh pemerintah dan institusi independen yang mengumpulkan serta menganalisanya. Ada beberapa data ekonomi yang bisa dimanfaatkan oleh trader untuk mengetahui apakah perekonomian suatu negara membaik atau sebaliknya: memburuk.

Jika laporan data ekonomi suatu negara membaik, maka besar kemungkinan para investor (lokal maupun asing, baik itu korporat maupun perorangan) akan tertarik untuk berinvestasi di negara tersebut. Nah, untuk bisa berinvestasi di negara tersebut, mereka tentu membutuhkan mata uang lokal. Maka, jika kondisi ekonomi diyakini akan memberikan return on investment (ROI) yang bagus, permintaan akan mata uang domestik akan naik yang pada gilirannya akan mengapresiasi mata uang tersebut.

Big figures

Meskipun di atas telah disampaikan bahwa analisa fundamental lebih valid untuk jangka panjang, ada juga beberapa data ekonomi yang tergolong “big figures” yang bisa memberikan dampak signifikan pada pergerakan harga bahkan dalam waktu singkat. Rilis data tersebut dimanfaatkan oleh para trader forex untuk mencoba mengambil peluang untuk trading jangka pendek (day trading).

Berikut ini dibahas beberapa data ekonomi yang tergolong big figures.

US Non-farm Payrolls (NFP)

Data ini dirilis oleh US Bureau of Labor Statistics. Mengukur perubahan jumlah pekerja di bulan sebelumnya, namun tidak termasuk industri pertanian. Dirilis sebulan sekali, biasanya di hari Jumat pertama setelah bulan tersebut berakhir. Misalnya, data yang diumumkan di Jumat pertama Februari merupakan data yang dikumpulkan di bulan Januari.

Terciptanya lapangan pekerjaan merupakan indikator penting untuk proyeksi tingkat belanja masyarakat, yang merupakan indikator bagi hampir semua aktivitas ekonomi.

Jika angka dirilis lebih baik daripada perkiraan biasanya akan memberikan sentimen positif bagi USD, apalagi jika dirilis lebih baik daripada data sebelumnya.

Unemployment rate

Data ini merupakan persentase dari total tenaga kerja yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan. Seperti NFP, data ini dirilis sebulan sekali bersamaan dengan pengumuman data NFP. Angka yang dirilis juga merupakan data yang dikumpulkan di bulan sebelumnya. Biasa juga disebut “jobless rate”.

Tingkat pengangguran merupakan indikator yang penting untuk mengukur tingkat “kesehatan” perekonomian suatu negara karena tingkat belanja masyarakat erat kaitannya dengan kondisi sektor tenaga kerja. Data ini juga merupakan salah satu data yang dicermati oleh dewan gubernur bank sentral sebagai pertimbangan untuk menetapkan arah kebijakan moneter.

Berkebalikan dengan NFP, justru jika angka data ini dirilis lebih besar daripada perkiraan maka biasanya akan memberikan sentimen negatif bagi mata uang negara yang bersangkutan.

Interest rate decision

Merupakan pengumuman keputusan suku bunga acuan oleh bank sentral. Suku bunga jangka pendek merupakan faktor yang paling penting yang mempengaruhi nilai mata uang.

Suku bunga merupakan kebijakan moneter yang diputuskan melalui rapat dewan gubernur. Berikut ini daftar bank sentral utama dunia dan ketua/presiden/gubernurnya:

  1. The Federal Reserve (Amerika Serikat; biasa disingkat The Fed) diketuai Janet Yellen.
  2. Bank of England (Inggris; disingkat BoE) diketuai Mark Carney.
  3. European Central Bank (untuk kawasan Euro; disingkat ECB). Presiden ECB sekarang adalah Mario Draghi.
  4. Bank of Japan (Jepang; disingkat BOJ). Gubernur BOJ sekarang adalah Haruhiko Kuroda.
  5. Swiss National Bank (Swiss; disingkat SNB), diketuai oleh Thomas Jordan.
  6. Reserve Bank of Australia (Australia; disingkat RBA), gubernur sekarang adalah Glenn Stevens.
  7. Reserve Bank of New Zealand (Selandia Baru; disingkat RBNZ), gubernur sekarang adalah Alan Bollard.
  8. Bank of Canada (Kanada; disingkat BoC), gubernur sekarang adalah Stephen Poloz.

Jika suku bunga dinaikkan, maka dalam waktu singkat pasar biasanya akan merespon dengan mengapresiasi mata uang yang bersangkutan (mata uang menguat). Sebaliknya jika suku bunga diturunkan, biasanya mata uang yang bersangkutan akan terdepresiasi (melemah).

Di tulisan berikutnya, Anda akan mempelajari lebih banyak lagi data ekonomi yang termasuk big figure serta dampaknya terhadap pergerakan harga.

Tetap pantau blog ini.

0 Comments

Biarkan Swiss Franc Menguat: SNB Beri Kejutan!

Kamis lalu (15 Januari 2015), bank sentral Swiss – yaitu Swiss National Bank (SNB) – berhasil membuat kejutan yang “mengguncang” pasar. SNB mengumumkan bahwa mereka akan mencabut batasan kurs Swiss franc terhadap euro yang tadinya ditetapkan untuk mencegah Swiss franc menjadi terlalu kuat terhadap euro. Swiss franc menguat tajam pasca pengumuman tersebut hingga 41% terhadap euro, yang merupakan penguatan terbesar dalam sejarah.

Apa cerita di balik semua itu?

Kita telah lama mengetahui bahwa Swiss merupakan negara yang memiliki track record akan stabilitas finansial yang luar biasa stabil. Siapa sih yang tidak mengenal reputasi bank-bank di Swiss?

Nah, pada tahun 2011 lalu, di kala kawasan euro dicekam oleh krisis ekonomi, banyak sekali aliran dana yang masuk ke Swiss, terutama dari euro. Para pelaku pasar kala itu menganggap Swiss franc sebagai “tempat pelarian” yang cukup baik untuk melindungi aset mereka. Walhasil, Swiss franc pun menguat hampir tak terkendali. Sebelum krisis terjadi, mata uang Swiss franc hanya seharga 0,7 euro di sekitar awal tahun 2010. Masuknya dana secara masif membuat Swiss franc berhasil mencapai kesetaraan (parity) terhadap euro di pertengahan tahun 2011.

Pada umumnya, tidak ada negara yang merasa nyaman apabila mata uang mereka menjadi terlalu kuat. Lho, kok begitu? Alasan utamanya biasanya adalah bahwa hal itu akan memberikan dampak yang buruk bagi para eksportir; harga barang-barang mereka menjadi kurang kompetitif.

Swiss sendiri dikenal sebagai pengekspor barang-barang yang memiliki nilai yang tinggi. Kita tentu tahu kualitas jam produksi Swiss yang dikenal memiliki kualitas yang tinggi. Belum lagi sektor farmasinya. Maka dari itu, penguatan Swiss franc yang tak terkendali justru berpotensi akan membahayakan para eksportir dari barang-barang yang bernilai tinggi itu.

Selain itu, ada juga alasan lain mengapa Swiss merasa tak nyaman dengan penguatan Swiss franc yang terlalu hebat. Kaitannya adalah justru dengan sisi finansial; masuknya dana asing yang terlampau besar justru berpotensi akan memberikan efek buruk bagi sistem finansial Swiss.

Dengan alasan-alasan tersebut di atas, SNB lantas mengumumkan bahwa mereka menetapkan batasan bagi penguatan Swiss franc terhadap euro. SNB menyatakan tidak akan membiarkan Swiss franc menguat terlalu jauh, melampaui level 1.2 terhadap euro. Untuk tujuan tersebut, intervensi yang dilakukan SNB adalah dengan mencetak uang (dalam hal ini Swiss franc) dalam jumlah tertentu yang dipergunakan untuk membeli euro. Skenario ini berjalan selama lebih dari tiga tahun.

swissfranc-menguat

Apa yang terjadi kemudian?

Jreng! SNB – dengan tiba-tiba tanpa ada peringatan atau gelagat sebelumnya – kemarin memutuskan untuk menghentikan kebijakan mereka untuk membatasi penguatan Swiss franc terhadap euro. Kebijakan ini diikuti oleh penguatan yang luar biasa oleh Swiss franc terhadap mata uang lainnya. Mengapa bisa demikian?

Efek tersebut bisa dipahami. Selama tiga tahun, SNB “menahan diri” untuk membiarkan Swiss franc menguat terhadap euro. Ketika “rem” tersebut dilepas, para pelaku pasar – terutama yang banyak memiliki aset di euro – merasa melihat peluang untuk lepas dari prospek suram euro. Swiss kembali dianggap menjadi “tempat berlindung” yang paling tepat, mengingat euro diperkirakan akan terus melemah. Seperti yang diketahui, European Central Bank (ECB) – yang merupakan bank sentral untuk kawasan euro – telah mengumumkan akan kembali menjalankan quantitative easing alias meluncurkan stimulus.

Para pelaku pasar tentu tak ingin berlama-lama dibayangi kekhawatiran pelemahan euro. Maka segera setelah SNB mengumumkan untuk membuka “kran” penguatan Swiss franc, mereka berbondong-bondong memborong Swiss franc. Yang terkena dampak paling parah tentu saja adalah euro, karena kebijakan tersebut jelas-jelas telah membuka “portal” bagi penguatan Swiss franc terhadap euro.

Alasan SNB

Dalam pernyataan resminya, SNB memberikan penjelasan mengenai langkah yang diambilnya. Krisis yang terjadi sejak 2011 pada dasarnya memang telah berlalu, namun euro masih tetap dihantui oleh pelemahan lebih lanjut.

SNB menjelaskan bahwa batasan yang ditetapkan tersebut adalah untuk mencegah penguatan Swiss franc yang terlalu jauh dan keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian pasar finansial. Langkah tesebut melindungi perekonomian Swiss dari bahaya. Dengan langkah tersebut, penguatan Swiss franc yang berlebihan bisa dicegah.

Namun perbedaan di antara kebijakan moneter di area mata uang utama dunia telah semakin menajam. Euro telah terdepresiasi terhadap USD dan hal ini pada gilirannya telah membuat Swiss franc melemah terhadap USD. Dalam situasi ini, SNB menyimpulkan bahwa penetapan batas minimum untuk Swiss franc terhadap euro tak lagi bisa dipertahankan.

Dalam pandangan kami, SNB merasa bahwa sudah tidak masuk akal untuk terus mencetak uang guna membeli euro terus menerus, karena hal itu justru memperlemah Swiss franc terhadap USD.

Bagaimana selanjutnya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada negara yang mau mata uangnya menjadi terlalu kuat, apalagi dalam waktu yang sangat singkat. Hal tersebut justru akan membahayakan sektor ekspor. Namun SNB semestinya tidak akan tinggal diam. Kemungkinan besar SNB akan kembali melakukan intervensi, namun tidak terhadap euro melainkan terhadap USD. Lagipula, pasar terbesar ekspor barang mewah produksi Swiss saat ini tidak lagi Frankfurt atau Paris, melainkan Beijing atau Shanghai, sehingga mungkin tidak lagi ada alasan untuk “memelihara perdamaian” dengan euro.

SNB kemungkinan besar berharap pada efek suku bunga yang baru. Suku bunga negatif diperkirakan akan berdampak pada selera para pelaku pasar untuk tetap menyimpan dana mereka dalam bentuk Swiss franc. Ditambah adanya kemungkinan Federal Reserve – bank sentral Amerika Serikat – akan menaikkan suku bunga, maka kemungkinan Swiss franc akan kembali melemah akan terbuka.

SNB telah benar-benar sukses mengejutkan pasar, namun juga “bermain cantik” jika skenario yang kami paparkan ini memang telah diantisipasi. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

0 Comments

Analisis Teknikal dan Analisis Fundamental, atau 2-2nya?

Menjalani profesi sebagai seorang trader sangatlah diperlukan kemampuan menganalisis pergerakan atau mengenal karakter mata uang tertentu sehingga ia bisa trading pada saat yang tepat dan menghasilkan keuntungan. Dibutuhkan pertimbangan yang matang dalam setiap pengambilan keputusan. Untuk pengambilan keputusan tersebut, ada dua pendekatan analisis yaitu analisa fundamental dan analisa teknikal.

teknikal vs fundamental

Analisis teknikal lebih berfokus atas apa yang ada di dalam grafik yang tertera dalam trading platform, sedangkan analisis fundamental lebih berdasarkan atas faktor – faktor ekonomi yang mempengaruhi pergerakan harga di pasar. Ada trader yang hanya mengacu pada analisis teknikal untuk perdagangan jangka pendek dan ada juga yang hanya mengacu pada analisis fundamental untuk perdagangan jangka panjang. Akan tetapi ada juga yang menggunakan perpaduan keduanya untuk membantu dalam pengambilan keputusan untuk masuk ke pasar dan keluar dari trading.

Lalu perlu diingat juga bahwa bukan grafik yang mengerakan pasar akan tetapi faktor fundamental yang menyebabkan pasar bergejolak dan ditampilkan dalam bentuk grafik. Seperti diketahui, bahwa pergerakan mata uang suatu negara akan dipengaruhi oleh kondisi negara yang bersangkutan terutama dari sudut ekonomi, social dan politik. Secara garis besar, ada beberapa hal yang mempengaruhi pergerakan mata uang suatu negara, yakni perekonomian negara, tingkat pertumbahan, kebijakan pemerintah, anggaran perdagangan, dan tingkat suku bunga. Sebagai contoh, di pasar keuangan pada umumnya akan bereaksi terhadap tingkat suku bunga dan tingkat inflasi suatu negara. Biasanya bila tingkat inflasi meninggi maka bank sentral akan berupaya menaikkan tingkat suku bunga untuk menekan laju konsumsi. Dengan semakin berkurangnya mata uang yang beredar di pasar karena banyaknya orang yang menginvestasikan uang di bank dapat menyebabkan mata uang negara tersebut naik.

Lalu mana yang dipilih? Analisis teknikal atau analisis fundamental?

Biasanya banyak orang lebih menyukai analisis teknikal karena terkesan lebih sederhana dan instan. Selain itu, analisis teknikal hanya berfokus dengan apa yang bisa dilihat di grafik. Manfaat utama dari analisis fundamental adalah untuk membantu trader memahami trend secara global terhadap satu atau beberapa mata uang dan kaitan – kaitannya dengan dinamika ekonomi satu atau beberapa negara. Walau ada perubahan fundamental yang pengaruhnya hanya secara bertahap, tetapi ada juga dinamika yang bisa membuat gejolak besar sesaat yang bisa mempengaruhi posisi trading trader, bila ia tidak paham atas apa yang sedang terjadi. Analisa fundamental lebih menekankan terhadap siklus ekonomi yang mempengaruhi pergerakan harga dalam waktu menengah atau jangka panjang. Jadi, mana yang harus dipilih? Pemilihan analisis teknikal atau fundamental atau kedua – duanya, dikembalikan kembali kepada kebutuhan dan kesukaan dari masing – masing trader karena analisa teknikal dan fundamental memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Happy trading J

0 Comments

Analisa Fundamental Vs Analisa Teknikal

Suatu bagian penting yang harus diketahui dari setiap pemula adalah mengetahui perbedaan antara analisa fundamental dan analisa teknikal. Banyak investor / trader menggunakan analisa fundamental atau teknikal ketika mereka masuk ke dalam pasar uang. Seperti namanya, analisa fundamental digunakan untuk mengetahui tentang dasar-dasar ekonomi, neraca, laporan laba rugi, dll. Di sisi lain analisa teknikal, berkaitan dengan mempelajari kinerja sejarah pergerakan harga dengan mengukurnya kepada pergerakan harga di masa depan.

Analisa Fundamental Vs Analisa Teknikal

Teknikal Vs. Fundamental

Nah dalam penjelasan selanjutnya, kita akan melihat perbedaan antara kedua metode analisa.

Analisa Fundamental

Beberapa investor atau trader legendaris mengatakan bahwa analisa fundamental adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui tentang segala sesuatu mengenai pergerakan harga.

Tujuan dasar dari seorang analis fundamental adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang parameter penting dari kinerja uang dari laporan arus kas, neraca, laporan laba rugi, dll. Dan seorang analis Fundamental menghabiskan waktu mereka untuk mengetahui tentang keadaan ekonomi suatu negara. Mereka melakukan analisa suku bunga yang berlaku dan indeks harga konsumen. Hal ini tidak biasa bagi seorang analis teknikal dimana faktor dalam pengaruh iklim ekonomi global terhadap prospek pergerakan harga dapat mempengaruhi harga.

Keuntungan dari analisa fundamental adalah jika ekonomi telah dilakukan secara konsisten dan menghasilkan keuntungan yang cukup besar, dan membuat prospek ekonomi jangka panjang yang cerah. Di lain pihak, analis fundamental percaya bahwa pasar saham tidak benar-benar mewakili nilai sebenarnya dari valuasi perusahaan karena sifat spekulatif dari pedagang. Analis fundamental percaya pada konsep investasi dengan berpegangan pada saham yang bagus untuk jangka waktu yang panjang dan dapat memperoleh dividen dengan melihat investasi yan gdilakukan pada perusahaan tersebut. Analisis fundamental mungkin telah ada sejak zaman pasar saham pertama kali dibuka. Analisis fundamental terlihat lebih luas, dan mayoritas investor di seluruh dunia mendukung bentuk analisis model ini.

Analisa Teknikal

Analis teknikal cukup dengan melihat historis harga dalam rangka untuk memprediksi tren pergerakan harga masa depan. Analis teknikal percaya bahwa tidak ada kebutuhan untuk melakukan analisa fundamental. Bertentangan dengan pemikiran analis fundamental, analis teknikal percaya bahwa harga masa lalu memiliki kemampuan untuk ” memperbaiki ” pergerakan harga saat ini, dan saat ini harga yang bergerak merupakan sikap investor ke arah itu. Analis teknikal jarang melihat atau memperhatkian pada kinerja ekonomi, mereka lebih tertarik untuk mengetahui tentang kinerja pergerakan harga. Semua perhatian seorang analis teknikal difokuskan pada grafik harga historis. Mereka juga memprediksi dalam volume harga yang diperdagangkan. Jadi pada dasarnya,seorang analis teknikal lebih tertarik untuk mengetahui bagaimana harga di jam berikutnya, hari, atau minggu. Mereka tidak memiliki rencana jangka panjang untuk tetap berinvestasi, dan banyak kali transaksi dilakukan dalam sepersekian detik. Walaupun investasi memiliki waktu yang dapat dipelajari oleh analisa teknikal, yang telah mendapatkan beberapa momen di masa lalu.

Tetapi saat ini, banyak perusahaan pialang atau trader professional sekarang menggunakan kombinasi analisa fundamental dan teknikal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik pada prospek investasi mereka. Jika Anda pelajari sebelum membuka posisi atau masuk ke pasar dengan maksud ingin mencapai keuntungan dalam jangka waktu panjang, Anda harus melihat dan melakukan analisa secara fundamental. Di sisi lain, jika Anda mencari di manfaat dari volatilitas harga di pasar dengan jangka waktu pendek, maka analisa teknikal akan mudah untuk dilakukan.

Kami berharap bahwa penjelasan ini dapat membantu Anda dalam mengetahui perbedaan antara kedua bentuk analisa.

0 Comments

Analisa Forex

Harga Minyak Menyentuh Level Terendah Dalam 6 Tahun

Di antara gejolak pasar dan pergerakan harga yang sengit, minyak telah jatuh ke bawah dan melewati batas bawah level psikologis di $ 40 bbl.

Berita besar di Asia telah melihat indeks Shanghai Composite di China dibuka turun sebanyak 5,2 persen menjadi 3,321.4 dan terus ke level di bawah 7,5% pada saat berita ini ditulis, meskipun pihak berwenang China telah memungkinkan dana pensiun yang dikelola oleh pemerintah daerah untuk berinvestasi di pasar saham. Ini adalah keputusan penting untuk menarik arus modal yang signifikan untuk mendukung pasar ekuitas yang sedang berjuang.

Minyak Brent dan minyak mentah AS berjangka mencetak level 6-1/2 tahun terendah yaitu diperdagangkan dikisaran 39,49 dengan surplus pasokan global dan turunnya permintaan dari China. USD / CAD telah mencetak level tertinggi dalam 9 tahun dikisaran 1,3246. Untuk memperbaiki situasi, Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan selama akhir pekan bahwa pertemuan darurat OPEC akan diadakan dan mungkin “efektif” dalam menstabilkan harga minyak.

0 Comments

Bursa Asia Turun, Cina Membuat Pasar Bingung

Saham Asia dan minyak jatuh pada hari Senin setelah Wall Street mengalami pukulan karena kekhawatiran mendalam atas ekonomi China yang melambat dan membuat bingung pasar ekuitas global.

Mata uang safe haven yen menguat dan obligasi pemerintah kembali dibeli dari kekacauan yang meluas di pasar keuangan, yang digerakkan hampir dua minggu yang lalu ketika Cina mendevaluasi mata uangnya dan adanya kekhawatiran tentang keadaan ekonomi.

Kekhawatiran perlambatan ekonomi global China membuat Wall Street mengalami penurunan tertajam satu hari dalam hampir empat tahun pada hari Jumat dan meninggalkan Dow lebih dari 10 persen di bawah rekor Mei. Penurunan 0,6 persen juga dialami oleh S & P 500.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang kehilangan 0,8 persen. Indeks Tokyo Nikkei N225 turun 1,8 persen dan Korea Selatan Kospi .KS11 turun 0,5 persen pada awal perdagangan.

0 Comments

Bursa Saham Jepang Naik di Awal Sesi

Bursa saham Jepang terpantau mengalami kenaikkan pada awal perdagangan di hari selasa dengan melemahnya Yen membantu kenaikkan beberapa saham sektor teknologi namun saham Sharp tercatat mengalami penurunan oleh adanya laporan yang menyatakan bahwa perusahaan sedang mencari bantuan dana dari dua kreditor utama.

Indeks Nikkei terpantau mengalami kenaikkan 0.2% pada pembukaan hari ini dan masih ada cukup ruang untuk naik dua kali lipat dari kenaikkan hari senin kemarin. Indeks Topix juga tercatat mengalami kenaikkan 0.2% seiring dengan kembali menguatnya US dollar terhadap Yen yang sempat diperdagangkan diatas level 120.

Beberapa saham sektor teknlogi yang mengalami kenaikkan antara lain dialami saham Olympus Corp yang naik 1.3%, saham Fuji electric Co yang naik 1%, sahan Japan display Inc yang menguat 1.9%, meski kenaikkan indeks saham tersebut terhambat oleh turunnnya saham Sharp sebesar 8.3% setelah harian Nikkei memberitakan bahwa perusahaan tersebut mencari pinjaman sebesar $1.24 miliar untuk restrukturisasi.

0 Comments

Bursa Saham Asia Menguat Seiring Melemahnya Yen

Berita Forex - Bursa saham di kawasan asia mengalami kenaikkan mengikuti penguatan di bursa saham AS dan Yen yang diperdagangkan mendekati level terlemahnya dalam satu minggu setelah data manufaktur dari AS yang dirilis memberikan optimisme terhadap perekonomian negara adidaya tersebut.

Indeks futures dari Jepang hingga Australia dan Hongkong menguat dimana indeks S&P 500 mengalami kenaikkan dalam dua hari terakhir di AS, sementara mata uang Yen diperdagangkan dikisaran 101.77 setelah melemah 0.4% pada sesi sebelumnya.

AS mengikuti China dalam merilis data sektor manufaktur yang hasilnya lebih bagus dari perkiraan analis, sementara data New Home Sales AS akan dirilis pada hari ini. Ukraina masih menunjukkan ketegangan dengan akan diadakannya pemilihan presiden minggu ini. Sementara militer Thailand mengadakan kudeta yang ke 12 sejak tahun 1932 oleh kevakuman politik di negara tersebut.

Sumber : bloomberg

0 Comments