trading forex, forex trading

Hitung-Menghitung Modal Trading Forex

“Karena trading forex adalah ‘barang baru’ bagi saya, saya mau coba dulu $500. Nanti kalau hasilnya bagus, saya tambah.”

Kalimat seperti di atas merupakan kalimat yang sangat sering saya dengar. Mayoritas trader pemula memang berpikir seperti ini.

Perlu Anda ketahui bahwa trading forex itu tidak sama dengan mencicipi makanan. Ambil dulu sedikit, kalau enak baru tambah.

No. BIG NO. Forex doesnt work that way.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Trading forex lebih mirip dengan merencanakan sebuah ekspedisi penjelajahan daripada acara cicip-mencicip makanan. Saya masih ingat ketika pertama kali mengenal dunia trading forex di tahun 2005, kami mempelesetkan kata “forex” menjadi “forest” karena kami anggap sama dengan “kehidupan liar di rimba belantara yang penuh dengan marabahaya”.

Pelesetan itu tidak sepenuhnya keliru, mengingat forex merupakan bisnis berisiko tinggi (high-risk) di mana Anda bisa kehilangan sejumlah, sebagian, atau bahkan mungkin 80% modal Anda dalam waku yang singkat. Pada kenyataannya trader-trader pemula bergelimpangan di sana-sini.

Sebagian besar pemula pada akhirnya menyerah kalah karena memang modal mereka tidak cukup kuat menahan volatilitas pasar, ditambah kekurangtahuan mereka (dan saya dulu adalah salah satu di antara “mereka” itu) akan teknik trading yang benar yang harus memadukan antara teknik analisa, pengambilan keputusan, manajemen resiko, manajemen modal plus penguasaan emosi. Tanpa semua hal itu, hampir mustahil Anda bisa berhasil dalam forex.

Karena trading forex mirip dengan sebuah ekspedisi maka Anda perlu merencanakan ekspedisi tersebut dengan matang. Anda harus mempersiapkan diri dengan keahlian khusus dan tentu saja: perbekalan yang cukup. Bicara mengenai “keahlian”, Anda beruntung bisa menemukan FOREXimf.com yang sangat peduli pada edukasi trading yang komprehensif. Anda bisa membaca semua konten di area EduSpot kami dan mengikuti webinar-webinar yang kami adakan. Kalau masih belum cukup, Anda bisa mengikuti workshop atau seminar yang kami adakan secara offline. Anda tinggal jauh dari kota kami? Anda bisa menghubungi kami untuk mengatur seminar atau workshop khusus di kota Anda, tentu saja setelah melalui diskusi tentang teknis pelaksanaan dan lain-lain.

Nah, berbicara tentang “perbekalan” artinya kita membicarakan hal yang sangat penting dalam bisnis, yaitu MODAL. Sebuah ekspedisi hampir bisa dipastikan akan gagal jika perbekalan yang dibawa tidak memadai. Sebuah bisnis hampir bisa dipastikan akan gagal jika modalnya tidak cukup kuat. Logis, bukan?

Lalu sebenarnya berapa besar sih modal yang sebaiknya dimiliki sebelum mulai trading?

Yang jelas harus kuat.

OK, lalu seberapa kuat?

Sangat kuat.

Yaelah Bro, kalo itu semua orang juga tau.

Jangan ngambek dulu dong. Saya jelaskan ya.

“Kuat” tidak selalu identik dengan “banyak”. Trader yang memiliki modal (misalnya) hanya $1,000 belum bisa dikatakan “lemah”. Sebaliknya yang memiliki modal $10,000 pun belum tentu bisa dikategorikan “kuat”. Itu semua nanti akan tergantung pada bagaimana cara ia menjalankan strategi dan mengatur modalnya.

Si “Trader 1000” mungkin saja bisa mengalahkan pencapaian si “Trader 10000” asalkan ia memiliki trading plan yang benar-benar tepat. Itu kuncinya.

Tetapi coba kembangkan sedikit lagi imajinasi Anda. Jika seorang “Trader 1000” saja bisa memiliki pencapaian yang baik dengan kunci trading plan yang benar-benar tepat tadi, apalagi si “Trader 10000”?

Tulisan ini tidak sedang mencoba untuk menyepelekan apalagi memupus semangat trader dengan modal mepet. Tidak sama sekali. Yang ingin disampaikan di sini adalah ide bahwa semakin kuat modal seorang trader, mestinya semakin baik, asalkan ia memegang “kunci” yang disebutkan tadi: trading plan yang benar-benar tepat.

Sekarang mari kita lihat realitanya.

Betul bahwa trader dengan modal minimal ($500 misalnya) juga memiliki peluang untuk bisa berhasil. Saya tidak akan menutup-nutupi fakta itu. Bahkan saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Tetapi pada kenyataannya populasi trader seperti itu juga kecil dan hanya diisi oleh trader-trader dengan kualitas “super”. Jika Anda memang trader dengan kualitas super, silakan saja memasuki populasi tersebut.

Tetapi jelas keleluasaan berstrategi dengan modal minimal akan jauh di bawah modal yang lebih besar. Mari kita ambil contoh.

Anggaplah ada peluang yang sama bagusnya di beberapa currency pair sekaligus, pada saat yang sama. Ketika modal yang dimiliki sangat kecil, maka tidak cukup untuk membuka posisi di semua pair tersebut sekaligus karena trading plan yang telah dibuat sebelumnya menghalangi Anda. Karena modalnya “mepet”, akhirnya Anda terpaksa harus memilih salah satu pair yang Anda anggap memiliki potensi paling besar untuk menghasilkan profit.

Namun jika Anda ternyata “salah pilih”, karena justru Anda mengalami loss. Sementara jika Anda membuka posisi pada currency pair yang lain, harusnya mendapatkan keuntungan. Bahkan seringkali keuntungannya bisa menutupi loss posisi di pair yang lain.

Saat itu Anda akan menyadari bahwa seandainya modal yang dimiliki setidaknya dua kali lipatnya saja, maka setidaknya Anda sudah bisa membuka dua posisi di dua pair yang berbeda tanpa perlu khawatir overtrade karena semua sudah diperhitungkan di trading plan.

Kasus lain, akan cukup sering (jika Anda disiplin pada trading plan) menemui kondisi di mana Anda tidak bisa trading meskipun sinyal atau peluangnya cukup bagus karena stop loss melebihi toleransi resiko Anda. Ilustrasi di bawah ini mungkin bisa jadi referensi.

trading forex, forex trading
*Ilustrasi di atas mempergunakan contoh jika Anda melakukan transaksi di broker resmi (LEGAL) di Indonesia, di mana minimum lot yang diizinkan adalah 0.1 lot.

Jadi, masih mau trading forex dengan modal mepet? Think again.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × four =