Posts

Saatnya Fed Menaikkan Suku Bunga?

Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney, mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin akan diperlukan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Inggris pasca keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau yang kita kenal dengan Brexit. Apakah benar demikian?

Menurut Mark Gilbert, kolumnis Bloomberg yang juga mantan kepala biro London untuk Bloomberg News, kebijakan seperti itu akan membuat “perusahaan-perusahaan zombie” tetap bertahan hidup, memerangkap modal dalam usaha yang tidak produktif yang hampir mati. Sementara suku bunga negatif belum pernah terjadi sebelumnya dan terlihat bagaikan membiarkan seorang dokter untuk bereksperimen dengan pasien-pasiennya. Mark Gilbert melihat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi bisa jadi merupakan pendekatan yang lebih baik berdasarkan demografi.

Dalam kolomnya, Gilbert menyajikan data tentang perubahan komposisi populasi dunia antara kaum muda (di bawah usia 15-an tahun) dan tua (di atas 65-an tahun).

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Demografi

Komposisi penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun hampir mencapai 9 (sembilan) persen dari populasi dunia dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak awal dekade lalu. Untuk kawasan euro, komposisinya malah mendekati 18 persen sementara di Amerika Serikat (AS) sendiri ada 15 persen penduduk yang telah melewati usia pensiun. Angka itu meningkat sebesar 12,5 persen jika dibandingkan dengan angka sepuluh tahun yang lalu.

Jumlah penduduk dunia yang memasuki usia pensiun ternyata bukan hanya bertambah, namun juga bertambah kaya dan mampu membeli rumah yang benar-benar layak serta mendapatkan manfaat dari dana pensiun. Mereka juga mampu untuk membelanjakan uang yang mereka dapatkan dari tabungan mereka.

Akan tetapi, dengan suku bunga yang nyaris nol, tidak ada pemasukan dari tabungan mereka. Mereka juga tidak mau menyentuh modal yang mereka simpan dalam deposito mereka. Maka dari itu, jika suku bunga menjadi semakin rendah, maka tingkat belanja para lansia juga akan semakin rendah. Alih-alih meningkatkan investasi dan permintaan, kebijakan moneter longgar justru mungkin akan “membunuh” daya beli para generasi baby boom.

Menurut Gilbert, kebijakan suku bunga rendah yang berlarut-larut tidak hanya akan menghapus suku bunga simpanan. Para pensiunan akan terkecoh jika mereka mengikuti saran standar dari penasehat kesehatan dengan memindahkan dana pensiun mereka ke sektor lain, misalnya ke semacam reksadana fix income atau obligasi. Sebagai bukti, yield US Treasury hanya 1,4 persen, turun 1 persen dibandingkan tahun lalu dan bahkan telah turun rata-rata 4,3 persen dalam dekade terakhir. Padahal di tahun 1990-an, sekuritas ini mampu menghasilkan imbal hasil 8,5 persen. Pendek kata, semakin rendah yield obligasi maka itu berarti semakin rendah pula tingkat belanja dan ini buruk bagi perekonomian.

Mereka yang mendekati usia pensiun juga kemungkinan akan terpengaruh oleh rendahnya tingkat suku bunga. Mereka kemungkinan akan merasa butuh untuk menabung lebih banyak karena untuk mendapatkan imbal hasil yang besar dibutuhkan modal yang besar pula dengan rendahnya suku bunga. Pada gilirannya hal ini lagi-lagi akan menekan tingkat belanja.

Faktanya, bahkan meskipun tingkat suku bunga berada di level terendah sepanjang masa, tingkat tabungan masyarakat AS berdasarkan persentase dari penghasilan mereka mengalami kenaikan dan telah mencapai enam persen di akhir kuartal pertama 2016. Artinya, kuantitas uang yang mereka tabung dari penghasilan mereka semakin besar. Ini merupakan level tertinggi sejak akhir tahun 2012.

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Tabungan

Deputi kepala ekonom AS di UBS di New York, Drew Matus, pada bulan April 2015 pernah berargumen sebagai berikut:

“Suku bunga yang terlalu rendah bisa sama mengganggunya dengan suku bunga yang terlalu tinggi. Teorinya suku bunga yang rendah akan memacu perekonomian, mendorong konsumsi dan investasi menjadi semakin tinggi. Itu belum terjadi pada situasi pasca-krisis. Tingkat simpanan telah naik dan investasi telah melemah. Suku bunga nol justru menjadi bagian dari masalah ketimbang solusi: suku bunga rendah justru memicu bertambahnya simpanan dan keputusan perusahaan untuk menahan diri melakukan investasi, mengurangi belanja modal.”

Ide menaikkan suku bunga bisa jadi pada gilirannya akan memicu konsumsi dan mengarah pada percepatan kenaikan inflasi. Para ekonom menyebut teori ini Neo-Fisherism. Memang hal ini terlihat bertolak belakang. Dalam teori bank sentral modern, hal ini ada di dalam bab “kebijakan tak lazim”.

Sudah ada yang menerapkan suku bunga negative. Sudah ada pula petisi anggota Parlemen Eropa yang meminta European Central Bank mempertimbangkan menjalankan strategi “helicopter money”. Dengan demikian opsi kenaikan suku bunga mungkin masuk akal untuk menyelamatkan perekonomian.

Dan Federal Reserve saat ini sangat mungkin sedang mempertimbangkan hal itu.

0 Comments