Posts

Identifikasi Arah Yang Dominan Pada Harga

Identifikasi Arah Yang Dominan Pada Harga

 

Salah satu istilah analisis teknikal yang paling umum digunakan di pasar forex adalah “trend harga.” Istilah ini, pada dasarnya mengacu pada arah yang dominan yang sedang terjadi dari pasangan mata uang selama jangka waktu tertentu (jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang).

Karena harga hanya dapat melakukan pergerakan dalam tiga arah (atas, bawah, atau ke samping), salah satu pada tiga arah ini akan digunakan untuk menggambarkan kecenderungan umum dari pasangan mata uang yang Anda analisa.

Jika anda mungkin sudah menganalisa, dengan memahami secara umum arah pergerakan dari mata uang, sehingga dengan mengetahui arah pergerakan pada harga akan menjadi analisa yang vital dalam membangun ide-ide perdagangan.

Setelah semua ini, kita perlu memiliki beberapa analisa tentang kemana harga diharapkan akan bergerak untuk melakukan pergerakan sebelum kita melakukan atau mengambil posisi (uptrends untuk posisi beli atau downtrend untuk posisi sell).

Tapi pada tahap ini, Anda mungkin akan melihat grafik harga di masa lampau. Kemungkinan, Anda telah melihat banyak grafik di mana tidak ada tren yang jelas dapat diuraikan. Jadi, apa yang trader yang begaya teknikal lakukan dalam kasus ini? Bagaimana tren biasanya ditentukan secara keseluruhan?

Menentukan Arah Trend

Bahkan, ada beberapa cara agar tren dapat diidentifikasi. “Dalam sebuah uptrend, kita dapat membuat definisi bahwa kita melihat serangkaian pergerakan higher highs atau higher lows.” “Sebaliknya, ketika harga cenderung menurun maka akan terlihat serangkaian pergerakan lower highs yang datang bersama dengan serangkaian pergerakan lower lows. ”

Jika pada kondisi ini, harga pada grafik bergerak “ke samping” atau tanpa arah, maka akan dianggap sebagai pergerakan tanpa arah yang jelas pada saat ini.

Selanjutnya, kita harus mengerti bagaimana menggunakan informasi ini untuk membangun dan membuat rencana transaksi. Salah satu ungkapan yang paling umum di pasar forex adalah bahwa “tren adalah teman Anda, dan tetapkan itu sampai akhir.”

Dan karena dalam tren maka sebagian besar momentum pergerakan pasar akan terlihat, ini biasanya dipandang sebagai saran yang baik untuk di ikuti. Karena pada pergerakan uptrends harga akan menunjukkan kepada kita bahwa sebagian besar pasar sedang mencari dan mendorong harga akan bergerak ke atas lebih tinggi pada mata uang tertentu, ada kemungkinan besar bahwa perdagangan kita akan berhasil jika kita masuk pada momentum itu dan masuk ke dalam posisi “beli”.

Pada saat yang sama, pergerakan downtrend akan memberitahu kita bahwa mayoritas pasar mengharapkan harga untuk mata uang bergerak turun. Dimana kita akan mendapatkan keuntungan pada momentum pada arah ini dengan masuk ke dalam posisi “jual” pada mata uang yang akan kita transaksi.

Dalam skenario ketiga, di mana tidak ada tren yang jelas untuk di identifikasi, biasanya hal yang terbaik yag harus dilakukan yaitu hanya berdiri di pinggir lapangan dan menunggu kesempatan yang lebih baik sebelum masuk ke dalam satu posisi baru. Dalam kasus ini, kita harus selalu diingatkan bahwa tidak ada yang salah dengan menjaga posisi netral, karena itu kita tidak perlu selalu masuk ke dalam perdagangan yang memberi kemungkinan yang hanya akan menyebabkan kerugian dengan rasio negatif yang akan mempengaruhi keuntungan jangka panjang Anda.

0 Comments

Siklus Pasar

Trader yang baik pasti tahu bahwa pasar keuangan secara alami akan saling berhubungan satu sama lain yang berarti bahwa ada hal yang akan mempengaruhi satu pasar dan hampir selalu memiliki efek pada pergerakan di pasar lain.

Dan salah satu penggerak utama di pasar adalah ketika harga bergerak di pasar saham, karena pasar ini bisa di katakan sebagai pasar yang paling jelas dipengaruhi oleh perubahan pada fundamental ekonomi. Karena itu, pasar saham sama pentingnya dengan pasar forex dan begitu sebaliknya. Oleh karena itu, trader Forex harus menyadari prospek pergerakan saham dan salah satu cara untuk mengetahuinya yaitu dengan memiliki pemahaman yang baik bahwa siklus pasar mempunyai ciri yang khas.

Akhir dari pasar bullish

Kita bisa lihat bahwa dari setiap tahap akhir dari pasar bullish seperti yang dialami pada tahun 1999 atau 2007, biasanya akan ada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan tingkat optimisme yang cukup tinggi di kalangan pelaku pasar. Kepercayaan konsumen cenderung akan tinggi, suku bunga akan naik dan saham bergerak naik. Dalam forex, mata uang yang berisiko dan mata uang emerging market yang sering diperdagangkan akan menjadi anak tangga besar dalam pergerakan harga.

Ketika pasar bergerak naik, kenaikan suku bunga akan menjadi ancaman yang semakin kuat terhadap pertumbuhan ekonomi yang akhirnya membuat pasar mulai masuk ke dalam momentum perlambatan. Pinjaman uang akan menjadi lebih mahal dan risiko yang di ambil akan mulai turun yang juga akan menyebabkan investor mencari tempat yang lebih aman untuk berinvestasi seperti pada pergerakan saham.

Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan penurunan tajam dalam pergerakan saham yang sebelumnya bertugas dengan baik membawa harga untuk naik dan akhirnya mulai mengatur pergerakan pesimis sebagai penggerak utama pasar. Ketika pesimisme meningkat, pertumbuhan ekonomi akan mulai jatuh dan saham-saham berkapitalisasi kecil akan menanggung sebagian dari kejatuhan di pasar saham.

Dalam rangka untuk mengatasi penurunan pertumbuhanekonomi maka suku bunga akan mulai diturunkan dan pasar kemungkinan besar akan memasuki kondisi bearish yang berkepanjangan. Dalam mata uang, trader mulai menjual mata uang berimbal hasil lebih tinggi dan pindah ke safe havens.

Akhir dari pasar Bearish

Ketika suku bunga turun dan pesimisme terus mengambil peranan maka sering pasar akan terus bergerak menurun hingga mencapai aksi sell yang akan mencapai tingkat klimaks, dimana optimisme berada pada titik nadir paling rendah. Sehingga pada titik ini, kita akan mengetahu bahwa pasar sedang dicuci serta bergerak di level terendah dan siklus akan dimulai lagi. Prospek suku bunga yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang akan meningkat, dapat memicu momentum kecil dan pertumbuhan di pasaar saham yang akan kembali mengambil alih arah pergerakan.

Karena itu, pasar saham selalu tampak di depan, kenaikan ini akan sering terjadi ketika harga bergerak naik dari setiap uptick sesuai dengan data GDP atau pengangguran. Dengan cara ini, pasar saham akan menjadi indikator utama utama dalam pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Sebagai trader forex , penting untuk memahami siklus pasar. Meskipun tidak ada siklus yang pasti pernah sama, umumnya kasus pada mata uang berisiko dan mata uang emerging market akan berbuat lebih baik di pasar bullish. Sedangkan di pasar bearish, mata uang safe haven seperti dolar AS , franc Swiss dan yen Jepang akan menjadi pilihan yang terbaik.

Semoga bermanfaat untuk anda, Terima Kasih…

0 Comments

Jangan Asal Asalan Menempatkan Stop Loss

Saat kita bertransaksi mengambil posisi baik itu Buy atau Sell, langkah yang tidak boleh kita lupakan yaitu menentukan batasan resiko kita atau yang lebih kita kenal dengan menentukan Stop Loss serta Profit yang akan kita ambil. Nah pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan pentingnya stop loss dan apa yang harus kita perhatikan saat menentukan stop loss.

Bagi yang sudah terjun di dunia trading atau bagi mereka yang sudah bertransaksi pernahkah mengalami kejadian saat kita mengambil posisi dan sudah menentukan level stop loss kemudian harga bergerak mengenai stop loss masih bagus kalau harga terus bergerak berlawanan dengan posisi yang kita ambil tadi berarti kita tepat membatasi kerugian kita, yang menjadi masalah kejadian yang sering dialami yaitu setelah mengenai stop loss kita harga kembali berbalik arah bahkan searah dengan posisi yang kita ambil sebelumnya pasti menjadi sangat menyesakkan di dada karena posisi yang kita ambil tadi yang seharusnya sudah benar dan bisa mendapatkan profit lenyap gara gara harga bergerak menyentuh stop loss kita terlebih dahulu. Kejadian ini sering dialami oleh trader trader pemula karena kurang pahamnya mereka mengenai pemasangan level stop loss. Nah yang terjadi kemudian akan muncul pertanyaan “ahh seandainya tadi saya tidak pasang stop loss pasti sekarang saya profit” lalu trading selanjutnya mereka pasti tidak akan memasang stop loss karena keseringan kejadian harga kena stop loss lalu berbalik arah lagi.

Satu hal yang harus diperhatikan trading itu murni bisnis yang beresiko tinggi bahkan paling tinggi, jadi jangan sekali kali saat kita trading tidak menentukan batasan resikonya karena yang ada bukan untung yang akan kita dapatkan tapi hilang dalam sekejap modal kita kena istilahnya margin call. Menentukan stop loss itu penting bahkan lebih penting dari menentukan target profit kita yang menjadi pertanyaan atau masalah yaitu bagaimana cara kita menentukan stop loss yang baik dan aman.

Untuk menentukan stop loss atau batasan kerugian tergantung dari sistim trading yang kita gunakan. Biasanya stop loss ada yang disebut “Close Point” dan “Far Point”. Lalu bagaimana cara menempatkannya.

Lalu apa yang dimaksud dengan “Close Point” dan “Far Point” itu sendiri, ada banyak definisi tentang kedua hal tersebut, tapi yang cukup mudah dipahami yaitu :

  • Close Point yaitu ketika harga bergerak menembus level resistance, kita dapat menempatkan stop loss beberapa point/pip dibawah garis resistance tadi, dan sebaliknya
  • Far Point yaitu jika harga bergerak menembus resistance maka kita menempatkanstop loss dibawah support level, dan sebaliknya

Contoh jika kita mengambil posisi sell saat break support maka tempatkan stop loss secara “close point” beberapa point diatas garis support sementara untuk “far point” yaitu menempatkan stop loss beberapa point diatas level resistance.

Selain itu saat menentukan level stop loss kita juga harus mengetahui faktor  faktor apa saja yang penting yang harus kita perhatikan untuk menentukan stop loss, ada beberapa faktor penting yaitu :

  1. Time frame yang lebih besar, perbesar time frame dari grafik, lalu kita lihat kemanakah trend harga saat itu, jika kita trading mengikuti trend akan jauh lebih aman menggunakan “Far Point”, namun apabila kita ingin melawan trend menempatkan stop loss secara “Close Point” akan jauh lebih aman.
  2. Break Pertama, kita mungkin sering mengalami kejadian false break resistance atau support lebih dari sekali. Sering kali terjadi bahwa harga membuat false break sebelum terjadi break yang sebenarnya. Jika kejadian break tersebut terjadi untuk pertama kali maka penentuan stop loss akan lebih bijak menggunakan yang “Close Point”.  Akan tetapi jika break yang kedua kalinya ada kemungkinan besar bahwa harga akan terus bergerak melewati resistance atau support, meskipun akan mengalami koreksi sementara waktu, untuk kejadian seperti ini menentukan stop loss dengan cara “Far Point” akan lebih bijak diterapkan.
  3. Take Profit Point, cara menentukan stop loss ini tergantung dari sistim trading yang kita pakai, jika kita percaya diri menempatkan level take profit, kita bisa menghitung level stop loss dengan menggunakan risk reward rasio. Untuk risk reward rasio yang bagus yaitu 1 : 2 bisa digunakan sebagai acuan artinya jika kita ingin profit 50 pip maka batasan resiko kita 25 pip. Dengan risk and reward seperti itu kita tidak perlu mencari sistim trading yang 90 % cukup akurat atau profitable tapi mungkin dengan tingkat keberhasilan 60% saja secara total kita masih bisa profit.

Itulah beberapa hal yang harus kita perhatikan saat menentukan stop loss, dan untuk meminimalkan kerugian ambillah posisi saat harga mendekati area support resistance jangan saat harga masih ditengah tengah antara area support resistance meski terlihat secara visual pergerakan harga cukup cepat. Sabarlah menunggu saat yang tepat untuk menembak sasaran yang akan kita bidik.

Cheerss….

2 Comments

Strategi Sederhana Menghadapi Market Sideway

Banyak yang mengatakan bahwa satu aturan yang harus diikuti oleh setiap trader yaitu mempunyai dan menentukan suatu trading plan atau rencana trading dan harus disiplin dengan rencana trading yang sudah disusun, meski bagaimanapun juga kita tidak bisa menutup mata bahwa kita harus selalu fleksible dengan rencana trading yang sudah kita susun bukan dalam artian menggantinya akan tetapi lebih tepat memodifikasinya karena keadaan pasar itu sendiri yang selalu berubah tidak selalu bergerak hanya dalam satu arah trend.

Jadi apabila kita ibaratkan perang, medan perang yang kita hadapi tidak akan selalu sama dan diperlukan strategi yang berbeda pula. Kalau dalam dunia trading kondisi pasar yang trending dan sideway tentu saja diperlukan strategi atau rencana trading yang berbeda pula.

Nah, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi salah satu strategi untuk menghadapi pasar yang sideways atau ranging seperti kata bijak “when the market gives you range, trade range”. Saat pasar bergerak sideways banyak indikator yang bisa kita manfaatkan untuk menganalisanya, banyak para trader yang menggunakan indikator CCI, RSI, Stochastic Oscilator, MACD yang digabungkan dengan garis support resistance untuk bertransaksi di pasar yang ranging

Perhatikan grafik di bawah ini :

sideways

Dari grafik GBPUSD diatas bisa kita lihat dari awal bulan mei Poundsterling berada dalam kondisi downtrend dan dari awal bulan Juni sampai Juli Poundsterling berada dalam ranging market atau sideways lalu bulan agustus mulai mengalami kondisi uptrend.

Ciri ciri pergerakan harga yang normal yaitu apabila harga bergerak dalam suatu trend yang kuat seperti contoh diatas Poundsterling yang berada dalam kondisi downtrend, tidak akan selamanya harga turun biasanya ada waktunya harga mengalami koreksi dalam beberapa waktu atau yang biasa di kenal dengan istilah konsolidasi, nah dari konsolidasi inilah market biasanya akan bergerak dalam rentang waktu tertentu atau sideways yang ditandai dengan membentuk harga high dan harga low yang cenderung berada dalam level yang sama. Apabila harga high ini kita hubungkan akan membentuk garis lurus yang kemudian kita kenal dengan area resistance lalu harga low kalau kita hubungkan akan membentuk garis lurus yang kemudian kita kenal dengan area support.

Kemudian pada saat konsolidasi inilah kita akan lihat harga akan bergerak kemana apabila harga tembus resistance maka harga akan mengalami reversal atau pembalikan trend namun apabila harga tembus support maka harga akan meneruskan downtrendnya.

Pada kesempatan kali ini kita akan mencoba mengambil keuntungan saat pasar berada dalam kondisi sideways atau biasa disebut pelaku pasar berada dalam kebingungan karena tidak ada fundamental yang mampu menggerakkan pasar, jadi strategi yang bisa kita manfaatkan yaitu saat harga berada di area resistance kita bisa mengambil posisi Sell atau jika harga berada di area support kita bisa mengambil posisi Buy, begitu seterusnya sampai harga bergerak menembus resistance atau support karena jika itu terjadi maka pasar sudah tidak lagi berada dalam situasi ranging atau sideways.

Dari chart diatas yang digabungkan dengan indikator CCI, saat pasar berada dalam range trading, kita bisa menggunakan CCI untuk mengetahui level level dimana harga berada dalam area overbought atau oversold untuk menentukan masuk posisi. Tidak seperti trader yang memanfaatkan trend, trader yang memanfaatkan range trading bisa mempunyai kesempatan bertransaksi di dua arah, ini artinya bisa mendapatkan peluang untuk mengambil posisi Buy atau Sell.

Untuk mengambil posisi sell kita bisa melihat saat harga bergerak di area resistance dan CCI berada diarea overbought atau berbalik arah menembus level 100 dari atas dan untuk targetnya jika harga mendekati area support. Dan saat harga berada di area support dan CCI berada di area oversold atau berbalik arah menembus level -100 dari bawah itu menunjukkan sinyal Buy dan untuk targetnya saat harga berada di area resistance, demikian bolak balik seterusnya.

Manajemen resiko

Setiap strategy memerlukan manajemen resiko sebagai satu kesatuan dari sebuh trading plan, sama halnya seperti trend, kondisi sideways bisa juga berakhir yaitu harga akan reversal atau harga akan meneruskan trendnya dan kita harus menyiapkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Jika kita mengambil posisi Sell dan ternyata harga tembus resistance itu saatnya kita harus keluar dari market dan membatasi kerugian kita karena analisa kita salah demikian juga saat kita mengambil posisi Buy dan harga tembus area support itu artinya saatnya kita membatasi resiko kita dan mengakui bahwa analisa kita salah.

Happy Trading….

 

0 Comments