Posts

Amankah Strategi Forex Anda?

Judul artikel ini sebenarnya sudah terjawab jika ternyata Anda sudah memiliki pengalaman dalam dunia trading forex, entah itu pengalaman baik maupun buruk. Sederhananya begini untuk menjawab pertanyaan Amankah Strategi Forex Anda? : jika Anda menderita banyak kerugian hingga modal Anda terkuras habis, berarti strategi trading Anda selama ini tidak aman. Tetapi jika ternyata modal Anda mengalami pertumbuhan yang konsisten, berarti strategi Anda (setidaknya sampai saat ini) bisa dikatakan relatif aman.

Tetapi jangan senang dulu. Meskipun modal Anda mengalami pertumbuhan, tetap saja harus dilihat sudah berapa lama Anda menjalankan strategi tersebut. Jika baru beberapa bulan saja maka belum bisa dinilai apakah memang strategi tersebut benar-benar aman atau tidak. Percaya atau tidak, ada semacam “kepercayaan” di kalangan trader bahwa ada yang namanya beginners luck, yaitu ketika seorang trader pemula bisa mengumpulkan profit-demi-profit dalam beberapa bulan pertama trading. Setelah itu? Tamat.

Begini saja, terlepas dari apakah Anda senantiasa loss atau masih berhasil mendulang profit, coba cek saja apakah dua poin kunci ini sudah ada dalam strategi trading Anda.

Poin Kunci #1: Strategi Sudah Teruji Oleh Waktu

Pastikan strategi yang Anda pergunakan adalah strategi trading yang memang sudah teruji oleh waktu. Maksudnya bagaimana?

Kita tidak bisa memberi penilaian atas sebuah strategi trading (atau sering juga disebut sistem trading) hanya dari beberapa kali transaksi atau dua-tiga bulan uji coba saja. Itu karena pasar sangatlah dinamis dan perilakunya bisa berubah-ubah ddengan cepat.

Ujilah terlebih dahulu strategi yang akan Anda pergunakan. Untuk keperluan itu, setidaknya ada dua tahap yang harus dilewati.

Tahap pertama adalah backtesting, yaitu melakukan simulasi trading dengan mempergunakan pergerakan harga di masa lampau (historical price). Dengan cara ini, Anda akan bisa menguji akurasi strategi trading tertentu seolah sedang berada di masa itu, karena Anda akan melihat grafik harga bergerak naik dan turun sesuai dengan kejadian saat itu.

Dalam melakukan backtesting, sebaiknya pergunakan data historical price sebanyak mungkin. Saya biasa mempergunakan data selama tiga tahun. Anda bisa mempelajari cara melakukan backtesting di sini.

Tahap ke-2 adalah forward testing, di mana Anda akan melakukan uji coba strategi tersebut di secara real time, alias di pasar sesungguhnya. Sebagai langkah awal forward testing, Anda bisa mempergunakan demo account, tetapi pastikan Anda melakukan simulasi trading ini sesuai dengan rule. Intinya lakukan simulasi ini seperti halnya Anda trading dengan real account. Tahap forward testing ini sebaiknya dilakukan jika hasil backtesting sudah memperlihatkan hasil yang bagus. Lakukan forward testing ini setidaknya selama tiga bulan berturut-turut.

Tahap ke-3 adalah melakukan forward testing dengan real account. Lakukan setidaknya selama dua bulan.

Jika Anda berhasil melalui seluruh rangkaian testing itu dengan hasil yang positif, maka strategi Anda memang sudah layak dijalankan.

Poin Kunci #2: Strategi Memiliki Trading Plan Yang Jelas dan Rinci

Trading plan mengatur dos & donts dalam trading Anda. Artinya mengatur apa yang harus Anda lakukan dan mengatur apa yang tidak boleh Anda lakukan.

Yang harus ada dalam trading plan di antaranya adalah money management, sementara money management erat kaitannya dengan risk management. Tentu harus ada pula strategi yang akan Anda terapkan. Contohnya seperti berikut ini:

Modal : $10,000
Resiko Maksimum : 50% dari modal ($5,000)
Resiko per transaksi : 5% dari resiko maksimum
Risk-to-reward ratio (RRR) : 1:1
Strategi : Swing trading
Sistem trading : Fibonacci Retracement + Stochastic + CCI, time-frame H1
Entry : Tunggu koreksi ke area 38.2-61.8, cari sinyal di stochastic + CCI
Exit : Stop Loss (SL) di area 61.8-76.4 Fibonacci Retracement (cut loss)Take Profit (TP) di area 23.6-0.0 Fibonacci Retracement(sesuaikan dengan resiko per transaksi 5% dan RRR)

Dengan trading plan yang rinci seperti contoh di atas, maka setiap keputusan yang Anda ambil akan memiliki dasar dan arah yang jelas. Anda akan tahu persis seberapa besar resiko yang akan Anda hadapi, juga tahu apa yang harus dilakukan jika ternyata resiko datang menghampiri.

Nah, itulah dua poin kunci yang harus ada dalam strategi trading Anda. Jika satu saja tidak Anda miliki, besar kemungkinan strategi yang Anda jalankan selama ini tidaklah seaman yang Anda kira.

Semoga sukses.

Stress Bisa Berguna Dalam Forex Trading?

Forex trading pada gilirannya akan “memaksa” Anda untuk berhadap-hadapan dengan potensi resiko setiap hari. Karena ketidakpastian yang ada, Anda sering kali harus mengantisipasi kejadian yang sangat bisa jadi akan membuat Anda merasa stress. Secara psikologis, terserang stress merupakan reaksi normal yang terjadi selama trading. Sama normalnya seperti seekor elang yang memangsa seekor kelinci.

Lho, tunggu dulu… bukankah stress itu selalu buruk? Hal baik apa yang bisa dimanfaatkan dari stress?

Stress, dalam kadar tertentu, bisa bermanfaat jika bisa memberikan jalan untuk mengambil keputusan apakah akan “bertahan” atau “menghindar” jika Anda telah menjadi semakin waspada dan siap secara mental untuk menghadapi setiap kemungkinan. Jika diibaratkan, kondisi seperti itu seperti ketika seorang pendekar yang mendapatkan lecutan adrenalin ke otaknya dan kemudian pikirannya akan memberi perintah kepada tubuhnya untuk bereaksi secara spontan atas serangan lawannya. Dalam hal ini, stress justru berfungsi untuk melindungi diri.

Namun jika seorang trader yang tidak memiliki kemampuan untuk bereaksi secara positif terhadap stress, justru hal tersebut akan memperburuk performanya. Alih-alih meningkatkan kewaspadaan dan bereaksi pada sebuah situasi, ia justru akan tenggelam dalam ketakutan dan menjadi gugup atau bahkan diam terpaku. Pada situasi seperti itu ia tidak akan mampu membuat keputusan yang baik karena ia kehilangan kemampuannya untuk tetap tenang dan fokus.

Bayangkan jika ketika Anda sedang menyeberang jalan kemudian tiba-tiba ada sebuah mobil – atau lebih besar lagi: truk – melaju ke arah Anda dengan kecepatan tinggi. Bagaimana kira-kira Anda akan bereaksi?

Normalnya, ketika itu terjadi Anda akan berada dalam tingkat stress yang cukup tinggi. Jika Anda memiliki kemampuan untuk “bereaksi positif” terhadap stress yang muncul saat itu, Anda akan berlari untuk menyelamatkan diri. Jika tidak, Anda hanya akan terpaku di tengah jalan dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada akhirnya, kemampuan dan kualitas reaksi Andalah yang akan membedakan hasil yang akan Anda terima. Dalam situasi kritis, kemampuan Anda mengatasi stress adalah hal yang menentukan apakah Anda akan selamat atau sekarat.

OK, lalu bagaimana agar hal tersebut bisa diaplikasikan dalam trading?

Langkah pertama adalah menyadari benar bahwa resiko adalah bagian yang tak terpisahkan dengan trading forex. Kerugian yang diderita dari sebuah transaksi, atau bahkan beberapa kali transaksi, bukanlah merupakan akhir dunia. Tentu saja jika Anda melakukan trading dengan manajemen resiko yang benar dan tepat. Sekali Anda menyadari fakta ini, Anda akan bisa fokus pada hal-hal yang mampu Anda lakukan.

Langkah ke dua adalah menyadari bahwa memang ada potensi Anda akan berada dalam tekanan. Anda harus bisa belajar bagaimana caranya bertindak dengan tenang, fokus dan rasional dalam situasi seperti itu. Anda harus berlatih untuk mengenali “potensi bahaya” kemudian menghindari situasi tersebut seperti halnya Anda menyelamatkan diri dari truk yang hampir menabrak Anda.

Menerima kekalahan juga adalah merupakan salah satu cara membangun respon positif. Anda akan bisa bersikap positif jika dan hanya jika anda berlatih sungguh-sungguh untuk itu. Dengan berlatih (Anda bisa mempergunakan akun demo lalu mengevaluasi respon Anda terhadap stress), reaksi negatif dengan sendirinya akan berkurang dan Anda bahkan bisa mempertajam intuisi Anda untuk menghindari “lubang-lubang jebakan” dalam trading, yang bisa muncul karena ketidakpastian pasar.

Cara termudah untuk bisa mencapai tahap “rileks” dalam trading forex tentu saja adalah dengan memiliki modal yang kuat, yang didukung oleh trading plan yang matang.

Jika Anda bisa berlatih dengan benar di akun demo, maka ketika dihadapkan pada situasi real Anda tidak lagi akan gugup, lalu terpaku, yang bisa menyebabkan kehancuran modal Anda.

Selamat berlatih mengendalikan stress. 

5 Trader Forex Top Dunia Versi FOREXimf.com

Mungkin selama ini Anda bertanya-tanya, jika memang forex trading benar-benar berpotensi menghasilkan keuntungan yang sangat besar, apakah memang ada trader forex yang pernah merasakan manisnya keuntungan dari forex?

Jawabannya adalah: ada. Saya adalah salah satunya. Tetapi jika Anda bertanya kembali, apakah saya sudah pernah merasakan keuntungan milyaran rupiah dari trading forex, demi kejujuran saya jawab: belum. Tetapi saya tahu setidaknya ada lima orang di dunia ini yang pernah merasakannya.

Inilah mereka.

    1. Bill Lipschutz

Bill LipschutzBill Lipschutz lahir dan dibesarkan di Farmingdale, New York. Ia lahir tahun 1956. Sejak muda ia terkenal sangat cerdas, khususnya di bidang matematika. Ia berhasil memperoleh gelar BA di Cornell College in Fine Arts dan kemudian mendapatkan gelar Master di bidang keuangan pada tahun 1982.

Bill muda sangat suka membaca dan mempelajari apa pun yang terkait dengan saham dan pasar uang. Saat ia tinggal di Cornell, ia melakukan investasi di saham sebanyak $12,000 (dua belas ribu USD), yang dalam beberapa bulan selanjutnya berhasil dilipatgandakannya menjadi sekitar $250,000 (dua ratus lima puluh ribu USD). Prestasi yang sangat jarang bisa terjadi dalam dunia trading. Namun tak lama kemudian ia segera mengalami kerugian yang luar biasa hingga menguras habis keuntungan yang didapatkannya sebelumnya. Suatu bukti bahwa trader paling hebat pun bisa salah dan rugi besar. Lalu ia berkenalan dengan forex trading.

Bill saat ini terkenal sebagai seorang trader forex. Ia dikenal mampu menghasilkan lebih dari 300 juta dollar dalam setahun hanya dari transaksi forex.

    1. George Soros

George SorosSiapa yang tak mengenal orang ini? Saya bahkan pernah membuat artikel mengenainya di sini.

Soros merupakan pria yang lahir di Budapest, Hungaria pada tanggal 12 Agustus 1930. Selain sebagai pelaku bisnis keuangan dan ekonomi, ia juga dikenal sebagai aktivis politik berkebangsaan Amerika Serikat.

Ia lulus dari London School of Economics dan berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu pencetak rekor dalam dunia keuangan. Ia pernah berhasil membukukan keuntungan sebesar 1 milyar dollar dalam satu hari perdagangan hanya dari satu transaks. Namanya pun tercatat sebagai pelaku peristiwa yang dikenal dengan Black Wednesday di mana poundsterling kocar-kacir dan Sors berhasil meraup keuntungan sebesar 1 milyar poundsterling, yang kemudian menyebabkan ia dijuluki “the man who broke Bank of England” (pria yang membuat Bank of England bangkrut). Bank of England adalah bank sentral Kerajaan Inggris Raya.

Namanya juga disebut-sebut saat krisis finansial mulai melanda Asia Tenggara di medio 1997. Perdana Menteri Malaysia waktu itu, Mahathir Mohamad, menuding Soros-lah penyebab krisis tersebut. Bahkan Mahathir sempat mengungkit-ungkit garis keturunan Soros sebagai seorang keturunan Yahudi dan membawa sentimen anti-semitisme.

Soros telah banyak menulis buku mengenai investasi. Ia juga dikenal sebagai dermawan dan diketahui telah mendonasikan hingga 7 milyar USD untuk kegiatan amal dan sosial.

    1. John R. Taylor, Jr.

John R. Taylor, Jr.Lulus dari Princeton University, John memulai karir di sektor keuangan sebagai analis politik untuk Chemical Bank. Hanya setahun menempati posisi tersebut, ia menjadi analis pasar uang untuk bank tersebut dan membuktikan bahwa ia memiliki kesempatan yang luar biasa untuk membangun jaringan di pasar keuangan dunia.

John R. Taylor, Jr. merupakan pemilik FX Concepts, sebuah perusahaan pengelolaan modal untuk diperdagangkan di pasar keuangan. Ia juga merupakan seorang perintis sistem trading yang berbasis komputer, mengembangkan berbagai macam model untuk transaksi forex online yang efektif.

    1. Stanley Druckenmiller

Stanley DruckenmillerStanley lahir di Pittsburgh, Pennsylvania pada tanggal 14 Juni 1953. Ia memulai karirnya sebagai analis minyak mentah untuk Pittsburgh National Bank. Sejak lulus dari Bowdoin College, ia telah berganti banyak pekerjaan. Awalnya, ia keluar dari PNB untuk mendirikan Duquesne Capital Management di tahun 1981, kemudian ia mulai bekerja untuk George Soros di Quantum Fund pada tahun 1988.

Pengalaman bekerja dengan George Soros terbukti baik untuk Stanley Druckenmiller, karena tidak hanya berhasil mendapatkan keuntungan lebih dari 30% di Quantum Fund, ia juga berjasa membantu Soros dalam meraih keuntungan legendaris saat Black Wednesday, peristiwa yang sangat dikenang dalam sejarah forex trading.

Ia kembali ke Duquesne di tahun 2000 dan bekerja penuh waktu di sana sekarang. Ia juga telah mendirikan sebuah organisasi nirlaba di bidang edukasi.

    1. Andrew Krieger

Andrew KriegerAndrew Krieger lahir tahun 1955 dan lulus dari Wharton Business School di University of Pennsylvania yang bergengsi. Ia menjadi terkenal ketika ia menjual dollar New Zealand atau yang dikenal dengan sebutan “Kiwi” senilai sekitar 600 juta hingga 1 milyar USD yang melebihi sirkulasi suplai uang sesungguhnya di New Zealand saat itu. Andrew kemudian berhasil membukukan keuntungan sebesar 300 juta USD dari transaksi tersebut di tahun 1987, ketika ia bekerja di Bankers Trust.

Andrew pindah ke Soros Management Fund di tahun 1988, kemudian pindah ke Northbridge Capital Management. Ia juga dikenal sebagai dermawan. Saat terjadi bencana tsunami pada tahun 2004, ia menyumbangkan sebesar 350 ribu USD untuk korban tsunami.

Trader Forex Atau Gambler Forex?

Pengalaman 10 tahun di broker forex memberikan saya semacam kemampuan “menerawang” karakter seorang trader; apakah ia benar-benar trader ataukah gambler.

Yuk, kita coba untuk melakukan analisa kecil-kecilan. Mari kita tengok definisi berjudi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia: “Mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar daripada jumlah uang atau harta semula”.

Nah, topik kali ini diharapkan bisa membuka wawasan Anda mengenai perbedaan yang tegas antara seorang trader dengan gambler. Mungkin meskipun misalnya Anda beranggapan bahwa Anda bukanlah tipe gambler, Anda sebaiknya tetap membaca artikel ini sampai tuntas, sebab justru banyak trader yang tidak sadar bahwa dirinya sedang menjalani perilaku gambler.

Yang namanya gambler, jika mereka punya $500 di akun mereka dan habis, maka mereka akan tambah lagi $500 dan selalu begitu berulang-ulang. Mereka tidak pernah mengganti strategi atau cara mereka melakukan transaksi namun tetap berharap akan untung. Itu kebodohan yang keterlaluan.

Perbedaan trader dengan gambler

Dalam trading, Andalah yang menentukan apakah akan keluar sebagai pemenang atau pecundang. Masalahnya, setiap orang berpotensi untuk menjadi penjudi, makanya Anda harus memiliki rencana yang matang untuk melawan godaan tersebut.

Untuk itu, Anda harus tahu ciri-ciri yang membedakan seorang trader dengan gambler.

Ciri-ciri seorang “gambler forex” adalah:

  • Tidak punya strategi trading yang efektif
  • Tidak punya atau tidak menggunakan trading plan
  • Tidak memedulikan manajemen resiko
  • Hanya fokus pada peluang keuntungan, tidak mau fokus pada proses
  • Selalu emosional ketika trading
  • Panjang angan-angan, sehingga berharap keuntungan yang terlalu tinggi
  • Overtrade, yaitu membuka posisi terlalu sering dan/atau terlalu banyak
  • Tidak mau melakukan evaluasi
  • Ingin cepat untung

Sementara itu, ciri-ciri seorang trader forex sejati adalah:

  • Menguasai strategi trading yang efektif
  • Memiliki trading plan dan menerapkannya dengan baik (disiplin)
  • Sangat fokus pada manajemen resiko dan mengatur batasan resiko tiap kali trading
  • Berfokus pada proses. Baginya jika prosesnya benar maka ia tak perlu mengkhawatirkan keuntungan
  • Menghindari emosi ketika trading entah ketika sedang untung ataupun rugi
  • Hanya melakukan transaksi pada saat dan jumlah yang tepat, sesuai dengan strategi dan trading plan
  • Menetapkan target sesuai dengan analisa dan trading plan
  • Selalu melakukan evaluasi berkala atas hasil tradingnya
  • Memperlakukan trading seperti bisnis lainnya; ia sadar bahwa untuk mendapatkan keuntungan membutuhkan proses

Nah, sekarang Anda sudah bisa melihat perbedaan antara trader dengan gambler. Jika Anda perhatikan, mayoritas pembedanya adalah faktor-faktor psikologis. Tentu saja itu datang dari diri sendiri ketika seorang trader berinteraksi dengan pasar yang memang tidak “jinak”.

Jika Anda menemukan ciri-ciri gambler pada diri Anda, sebaiknya segera eliminasi unsur-unsur tersebut dan menggantikannya dengan sifat-sifat trader sejati seperti yang ada dalam daftar di atas.

Untungnya, tidak seperti tabiat pejudi asli, seorang trader forex harusnya lebih mudah untuk lepas dari kebiasaan-kebiasaan gambler. Batasan-batasannya sudah jelas, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah mengubahnya dengan kebiasaan-kebiasaan trader forex sejati. Jika Anda bisa, maka Anda sudah selangkah lebih dekat untuk menjadi trader forex profesional.

Bukan Film Kungfu, Trading Forex Tanpa Dendam

Anda pernah menonton film kungfu zaman baheula? Biasanya kisahnya diawali dengan kematian seseorang; guru, kakak, adik, atau mungkin istri si tokoh utama. Kematian itu disebabkan oleh pembunuhan yang dilakukan tokoh lain yang tentu saja adalah tokoh antagonis, biasanya berkumis tebal dan wajahnya garang. Kadang-kadang berjenggot. Latar belakang kisahnya biasanya di masa dinasti Yuan, Ching atau Ming. (Entah mana zaman yang benar, yang jelas waktu itu orang belum mengenal trading forex. 🙂 )

Singkat cerita, kematian yang disebabkan oleh pembunuhan itu menumbuhkan dendam kesumat di hati sang pendekar yang menjadi tokoh utama kisah itu. Didahului dengan teriakan: “Aku akan membalaskan dendammu, Guru/Kakak/Adik/Istriku!” sang pendekar pun berkelana dengan dendam membara di hati. Selanjutnya bisa ditebak: biasanya sang pendekar berhasil menemukan si pembunuh dan berhasil memenangkan sebuah pertarungan sengit yang berujung pada kematian si pembunuh. Sang pendekar pun puas bisa membunuh si tokoh jahat. Biasanya begitu.

“Tradisi” balas dendam ini – sayangnya – ada juga dalam dunia trading forex. Seorang trader cederung akan merasa “dendam” tiap kali strategi forex yang ia miliki tak bisa berjalan dengan baik, dengan kata lain: rugi. Dalam trading forex, tradisi seperti ini kerap disebut dengan “revenge trading” alias “trading balas dendam”.

Namun, berbeda dengan kisah-kisah film kungfu, kisah balas dendam dalam trading forex justru seringkali berakhir dengan – agar terdengar menyeramkan – “kematian sang tokoh utama”. Seperti pada kebanyakan film laga yang dibintangi Andy Lau, di mana tokoh protagonisnya justru sering ikut mati.

trading forex, strategi forex

Apa sih sebenarnya “trading balas dendam” itu?

Adalah manusiawi ketika seorang trader merasa sedih atau setidaknya kecewa ketika pasar dengan tanpa perasaan merampas uang Anda. Pada situasi seperti itu, besar sekali kemungkinan seorang trader akan “terbakar” emosi dan segera ingin membalas kekalahan.

Trading balas dendam sebenarnya bukanlah strategi trading forex. Trading balas dendam adalah ketika Anda menjadi sangat emosional ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan keinginan Anda dan Anda menjadi sangat agresif dalam melakukan transaksi. Keputusan yang Anda ambil tidak lagi berdasarkan pertimbangan yang matang melainkan. Anda cenderung akan melupakan atau bahkan mengabaikan aturan-aturan yang berlaku dalam trading.

Bisa Sangat Menyakitkan

Emosi adalah musuh utama trader. Para trader pendendam akan melipatgandakan volume transaksi mereka hingga dua atau bahkan tiga kali lipat dari volume seharusnya (yang telah ditetapkan dalam trading plan).

Dasar pemikiran mereka sederhana: “Saya akan bisa dengan cepat menutup kerugian sebelumnya, bahkan ditambah dengan keuntungan.” Namun sayangnya pemikiran seperti ini keliru!

Mengapa? Karena jika ternyata harga tak bergerak sesuai dengan keinginan, mereka akan dengan mudah melakukan hal yang sama!

Coba pikirkan: misalnya Anda membuka transaksi Buy sebanyak 1 lot, kemudian harga turun sejauh 300 pips. Dengan dasar pemikiran seperti di atas, Anda akan dengan mudah membuka lagi 2 lot posisi Buy. Jika kemudian harga turun lagi 300 pips, dengan pemikiran yang keliru itu Anda akan dengan emosional membuka 4 (empat) posisi buy lagi!

Betul, jika harga memantul lagi (rebound) sejauh 300 pips maka Anda akan mendapatkan keuntungan. Masalahnya, siapkah Anda jika harga ternyata turun lagi sejauh… tak terhingga? Kalaupun suatu ketika Anda akan “menang”, itu murni karena Anda melakukan “gambling”. Anda hanya melemparkan diri Anda ke dalam resiko yang tak terukur.

Stick to the plan!

Mungkin beberapa transaksi pertama yang Anda lakukan membuahkan keuntungan yang cukup untuk membuat Anda tersenyum lebar, namun Anda tidak menyadari bahwa bisa saja suatu saat nanti senyum Anda akan dihapus oleh beberapa kali kerugian. Akhirnya beberapa kali kesuksesan itu membuat Anda jumawa dan beranggapan, “Aku tak mungkin akan dikalahkan oleh pasar.” Di tengah ketakutan akan mengalami kerugian, Anda justru menjadi sombong dan melipatgandakan volume transaksi Anda.

Atau, bisa jadi Anda memang sengaja menempatkan lot terlalu besar lantaran Anda tak memiliki trading plan sebelumnya. Untuk itu, buatlah trading plan, yang di dalamnya juga mengatur berapa besar resiko yang siap Anda hadapi. Jika sudah, jangan lupa untuk selalu menjalankan trading plan-nya, ya?

Siap kalah = siap menang

Seperti slogan dalam masa kampanye, ya? 🙂

Dalam trading, slogan itu bukan sekedar hiasan bibir semata. Anda harus benar-benar siap menerapkannya.

Sebelum melakukan transaksi, cobalah untuk berasumsi bahwa setiap transaksi pada dasarnya adalah siap rugi. Dengan demikian Anda akan mempersiapkan sebesar apa kerugian yang siap Anda tanggung. Jika Anda benar-benar rugi, Anda sudah siap menerimanya kerugian yang Anda alami hanya sebagian kecil dari modal Anda (biasanya tak lebih dari kisaran 2-5%).

Anda hanya akan siap menerima kerugian jika Anda sudah benar-benar menetapkan berapa besar kerugian yang akan Anda derita. Itu artinya, Anda masih akan bisa melanjutkan strategi forex Anda dengan leluasa seandainya kerugian terjadi.

Lebih penting lagi, kehidupan pribadi Anda tak akan terganggu meskipun Anda baru saja loss. Anda masih tetap bisa membayar tagihan, makan enak, masih bisa membeli tiket untuk liburan. Pokoknya kerugian dalam trading tak mengubah pola hidup Anda sedikitpun. Maka dari itu Anda harus – wajib! – membatasi kerugian Anda.

Move on!

Anda harus bisa melupakan kekalahan yang telah lalu. Yang perlu Anda ingat hanyalah kesalahan apa yang telah dilakukan sehingga berujung pada kerugian. Jangan biarkan kerugian yang baru Anda alami mempengaruhi keputusan trading Anda.

Inilah yang membedakan trader juara dengan pecundang. Bukan strategi trading forex semata, melainkan kemampuan untuk tetap berpikir tenang dan obyektif tanpa dibebani oleh kejadian yang telah berlalu.

Jika Anda telanjur merasa kesal setelah mengalami loss, cobalah untuk mengambil waktu untuk menjauh dari pasar, setidaknya 24 jam, hingga kekesalan Anda benar-benar hilang. Dengan demikian, Anda akan kembali fresh dan keputusan yang Anda ambil berdasarkan strategi forex yang Anda miliki akan lebih obyektif.

Balas dendam melahirkan dendam baru

Kalimat di atas juga sebenarnya cukup sering muncul dalam dialog film kungfu “jadul”. Kalimat itu biasanya diucapkan oleh pendekar yang sudah tua, cenderung berlaku seperti petapa.

Dalam trading pun demikian. Bayangkan jika setelah melakukan aksi dengan niat “balas dendam”, kerugian yang Anda derita justru semakin besar. Tentu ini akan melahirkan dendam kesumat baru.

Ada cara lain yang lebih elegan dalam membalas kekalahan Anda: tradinglah seperti biasa. Jalankan strategi forex Anda dengan baik dan benar. Tanpa emosi, tanpa dendam. Jangan ambil keputusan trading saat keadaan hati Anda sedang emosional. Tunggu sampai reda, baru melangkah lagi.

Selamat berjuang, Pendekar!

5 Ciri Utama Anda Sudah Siap Trading Forex

Anda mungkin pernah (atau masih) mengalami keadaan seperti ini: Anda telah mempelajari berbagai macam trik dan strategi forex, telah mempraktekkannya selama berbulan-bulan dalam demo account Anda dan bisa melihat bahwa simulasi yang Anda lakukan berjalan dengan baik. Dari modal virtual awal hanya sebesar $10,000 Anda bisa mengembangkannya menjadi – katakanlah – $11,000 dalam waktu sebulan.

Tidak puas dengan itu, Anda mencoba untuk mengulangi simulasi itu (karena demo account hanya aktif selama 30 hari). Anda kembali membuat demo account dan menjalankan strategi trading forex yang sama. Hasilnya tetap bagus, dalam arti Anda kembali bisa membukukan keuntungan. Masih belum puas, Anda kembali mengulang dan mengulang hingga beberapa bulan.

Meskipun hasilnya tetap baik, namun Anda tak kunjung merealisasikan strategi forex tersebut ke dalam real account. Masih ada tanda tanya dalam pikiran Anda, “Apakah saya sudah BENAR-BENAR siap untuk terjun ke trading forex yang sesungguhnya?”

Pertanyaan itu cukup wajar bagi seseorang yang baru akan memulai trading forex yang sesungguhnya di real account. Nah, inilah parameter-parameter yang bisa Anda jadikan patokan untuk menilai apakah Anda memang benar-benar sudah siap untuk trading forex yang sesungguhnya.

Parameter 1: Anda telah bisa membuat profit yang konsisten.

Ingat: membuat profit yang konsisten BERBEDA dengan selalu profit setiap saat. Dalam dunia trading forex, tidak ada satu pun strategi forex yang tidak pernah menghasilkan transaksi loss. Dengan demikian, tidak ada seorang pun trader profesional yang tidak pernah merasakan loss selama karir tradingnya. Karena pasar memang sangat dinamis, resiko loss merupakan bagian dari pertarungan Anda.

Jadi, jika kemarin Anda sempat merasakan pahitnya sekali, atau dua kali loss, jangan berkecil hati. Itu merupakan hal yang sangat normal. Yang lebih penting daripada itu adalah apakah equity atau modal Anda bertambah selama Anda melakukan simulasi di demo account atau tidak? Jika jawabannya adalah YA, maka itu adalah salah satu parameter bahwa Anda sebenarnya sudah siap menjadi trader sungguhan.

Tak kalah pentingnya adalah Anda tahu persis apa yang Anda lakukan sehingga bisa menghasilkan profit yang konsisten. Ini erat kaitannya dengan parameter ke-2 berikut.

Parameter ke-2: Anda telah memiliki dan menjalankan trading plan dengan konsisten

Ada yang mengatakan bahwa setengah dari keberhasilan Anda dalam trading ditentukan oleh kemampuan Anda melakukan analisa, sementara setengah lagi ditentukan oleh kemampuan Anda mengatur modal dan membatasi resiko (risk management dan money management). Setidaknya dua hal tersebut harus ada dalam trading plan Anda.

Mengapa? Karena pasar sangat dinamis dan Anda tak mungkin bisa memprediksi pergerakan pasar secara 100% akurat. Di saat-saat posisi Anda berlawanan dengan arah pasar dan kerugian menghampiri Anda, Anda harus benar-benar sudah tahu apa yang harus Anda lakukan, bukannya bingung apalagi panik.

Jika Anda sudah memiliki trading plan dan bisa menjalankannya dengan baik, itu adalah parameter ke-2 bahwa Anda siap untuk bertarung di arena sesungguhnya.

Parameter ke-3: Anda tetap tenang meskipun baru saja loss

Saya akui, memang tidak mudah untuk tetap tenang (apalagi tersenyum!) jika baru saja kehilangan sejumlah uang akibat merugi dalam transaksi. Namun tahukah Anda bahwa pada kenyataannya para trader kawakan mampu menganggap cut loss sebagai hal yang biasa-biasa saja?

Itu karena ia sadar bahwa suatu saat ia pasti akan mengalami kerugian. Oleh karena itu ia sudah mempersiapkan dirinya dengan membatasi resiko yang ia hadapi. Semua itu ia tetapkan dalam trading plan-nya.

Ketika kerugian benar-benar terjadi, ia sudah siap dengan segala antisipasinya. Ia akan tetap mampu berpikir secara jernih dan melakukan evaluasi. Dengan sistem trading yang sudah ia uji dan buktikan kemampuannya, ia siap untuk melakukan aksi berikutnya.

Parameter ke-4: Anda tidak mencoba untuk “balas dendam” ketika baru loss

Seringkali ketika seorang trader mengalami kerugian, muncul keinginan untuk segera membalas “kekalahan” tersebut secepat mungkin. Ini sebenarnya salah, karena perasaan yang emosional seperti itu kerapkali justru memicu seorang trader untuk membuka posisi lebih besar daripada yang seharusnya. Tindakan ini bukan saja berarti tidak disiplin dalam menjalankan trading plan, tetapi juga membuka peluang bagi kerugian yang justru lebih besar.

Sebaiknya yang dilakukan adalah seperti yang Anda lakukan di parameter ke-3, yaitu tetap tenang ditambah mengendalikan keinginan untuk segera menutup kerugian yang baru saja terjadi. Tetaplah menjalankan trading plan dengan baik dengan keyakinan bahwa kerugian itu akan tertutup dengan sendirinya jika Anda tetap berada di koridor aturan trading yang benar. Tidak perlu terburu-buru karena pasar akan senantiasa menyediakan peluang bagi Anda. Jika Anda sudah bisa menghilangkan keinginan untuk “balas dendam”, bersiaplah untuk segera memasuki dunia trading yang sesungguhnya.

Parameter ke-5: Anda merasa nyaman dengan layanan pialang

Sebelum memutuskan untuk membuka real account, Anda tentu harus mengetahui apa yang akan Anda dapatkan sebagai nasabah pialang tersebut. Apakah ada layanan analisa untuk menambah referensi trading Anda? Apakah ada layanan edukasi yang Anda butuhkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan trading Anda? Apakah pialang tersebut teregulasi oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) sehingga keamanan dana Anda bisa dipastikan?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah YA, maka tak perlu lagi ragu. Sangat beruntung, FOREXimf.com merupakan pialang berjangka yang sudah memiliki izin resmi dari pemerintah Indonesia melalui Bappebti dan menyimpan dana nasabah di rekening terpisah yang juga diawasi oleh badan tersebut. FOREXimf.com juga menyediakan analisa harian, mingguan, bahkan menerbitkan majalah elektronik (e-magazine) tiap bulan sebagai tambahan referensi Anda. Belum lagi layanan “Live Chat” yang bisa Anda manfaatkan untuk berdiskusi dengan tim analisnya, serta webinar (seminar online) yang bisa Anda ikuti secara cuma-cuma.

The bottomline

Jadi, itulah lima parameter yang bisa Anda jadikan acuan apakah Anda sudah siap untuk menjadi trader sesungguhnya atau belum. Jika semua parameter itu sudah terpenuhi, tak perlu menunggu lama. Segeralah manfaatkan pasar forex yang sangat memikat itu.

Selamat bergabung. 🙂

Solusi Mengatasi 6 Penyebab Kegagalan Trading

Fail trader 1Dunia trading Indonesia sedang berada dalam “masa suram”!

Mengapa? Karena mayoritas “karir” trader Indonesia (terutama pemula) berhenti secara prematur sebelum mereka mampu menghasilkan apa pun. Padahal banyak sekali yang telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk meraih peluang yang ada di pasar, namun tak mampu memperoleh hasil yang berarti.

Ada banyak hal yang menyebabkan perjalanan trading para trader forex di Indonesia berhenti  dengan cepat ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Kali ini, kita akan mencoba untuk membahas setidaknya 6 penyebab kegagalan dalam trading berikut cara mengatasinya.

Penyebab #1: Belum menjadikan trading sebagai kebiasaan

Pernahkah Anda melihat pekerja di pabrik rokok kretek yang bisa melinting 350 batang rokok per jam dengan sangat rapi? Atau juru ketik yang bisa mengetik 80 kata per menit tanpa kesalahan, bahkan tanpa perlu melihat papan ketik?

Rahasianya adalah latihan yang kemudian menjadi kebiasaan. Itulah mengapa mereka terlihat sangat lihai melakukan hal-hal tersebut.

typist

Dalam trading pun demikian. Selama Anda masih belum terbiasa melakukan analisa dan mengambil keputusan, maka Anda akan tetap “gagap”. “Langkah” Anda akan tersendat-sendat dan Anda akan bosan karena menganggap trading forex bukanlah pilihan yang tepat. Padahal masalahnya bukan pada forex-nya, melainkan pada ketidakbiasaan Anda.

Solusinya: jadikan aktivitas trading sebagai kebiasaan. Luangkan waktu setiap hari untuk memantau, menganalisa dan melakukan transaksi. Nah, dalam proses “pembiasaan” ini, Anda bisa menggunakan demo account terlebih dahulu.

Penyebab #2: Masalah  kepercayaan diri

Ada dua masalah tentang kepercayaan diri:

–          Kurang percaya diri

–          Terlalu percaya diri (Oh, ya! Ini juga masalah!)

Kurang percaya diri diakibatkan kurangnya pengetahuan. Terlalu banyak hal-hal negatif yang memenuhi pikiran. Takut salah perkiraan, takut rugi, dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan itu mencegah Anda untuk melakukan transaksi dan akhirnya justru banyak kesempatan emas terlewatkan.

confident 1

Solusinya: perbanyaklah belajar. Lengkapi  pengetahuan dengan teknik trading serta manajemen modal dan manajemen resiko, sehingga beberapa kali loss tidak akan mempengaruhi hasil trading Anda, karena secara keseluruhan Anda masih tetap bisa menikmati profit yang manis.

Sebaliknya, percaya diri yang terlalu tinggi pun bisa menjadi masalah. Terlalu percaya diri akan menyebabkan Anda tidak disiplin pada trading plan. Alih-alih mendapat keuntungan, justru kerugian yang besar akan senantiasa menghantui Anda hingga suat saat akan “membunuh” akun Anda.

Solusinya:Ingat bahwa Anda tidak mungkin bisa mengendalikan pasar. Pasarlah yang selalu benar. Maka patuhi sistem trading, manajemen modal dan manajemen resiko Anda. Ketika semua parameter itu mengatakan Anda harus keluar dari pasar, maka keluarlah. Dengan kata lain, patuhi trading plan Anda!

Penyebab #3: Terlalu banyak mempelajari teori trading

Banyak sekali trader pemula “kalap” dalam melahap berbagai macam teori, trik dan strategi sehingga mereka lupa bahwa semua itu tak akan membuahkan apa-apa tanpa praktek di pasar yang sesungguhnya. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak membutuhkan teori yang terlalu rumit atau canggih untuk bisa menangkap peluang yang ada di pasar. Akhirnya mereka menjadi bingung, teori mana yang harus mereka pakai.

overlearning

Solusinya: Pelajari satu atau paling banyak dua sistem trading saja. Kuncinya adalah: pilih sistem trading yang paling sesuai dengan karakter/style trading Anda. Kenyataannya, para trader profesional hanya menggunakan satu atau dua strategi sederhana dengan konsisten.

Belajar memang perlu, namun terlalu banyak mempelajari teori trading hanya akan membuat Anda bingung.  Semua yang serba “terlalu” memang tak baik. 🙂

Penyebab #4: Terlalu mudah menyerah

Seringkali para trader pemula menyerah kalah setelah didera beberapa kali kerugian. “Ini bukan dunia saya,” kata mereka. Padahal beberapa kali kerugian adalah hal yang wajar dalam bisnis.

Yang membuat mereka “angkat tangan” biasanya adalah besarnya kerugian yang diderita. Ini karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen modal dan manajemen resiko.

give up

Solusinya: sadari bahwa kerugian hanyalah resiko yang memang merupakan bagian dari bisnis mana pun, termasuk trading. Agar bisa meminimalkan resiko, pelajari dan terapkan manajemen resiko yang baik dan benar, sehingga Anda akan memiliki lebih banyak peluang untuk memanfaatkan pergerakan pasar.

Penyebab #5: Tidak memiliki plan

If you failed to plan, you planned to fail.” Apa pun yang dilakukan tanpa perencanaan – terutama bisnis – hampir pasti tidak akan berjalan dengan baik, bahkan berakhir dengan kegagalan.

plan

Trader yang melakukan transaksi hanya secara sporadis, tanpa perencanaan yang matang, tak pernah bisa bertahan lama di kancah per-trading-an. Mungkin pada beberapa kasus ada pemula yang bisa memperoleh keuntungan di awal-awal perjalanan trading mereka, namun tidak pernah ada yang bisa mempertahankan prestasi itu. Justru mereka biasanya “selesai” hanya dalam hitungan minggu.

Solusinya: milikilah trading plan, yang di dalamnya ada aturan-aturan yang harus Anda ikuti termasuk batasan resiko, sistem yang harus diikuti, hingga aturan menggunakan modal. Jangan lupa: disiplanlah menjalankan trading plan tersebut. Dalam trading, ada pemeo yang berbunyi, “Plan your trade, trade your plan.”

Penyebab #6: Tidak fokus

Kebanyakan trader pemula – terutama part-timer – tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan analisa dan transaksi karena kesibukan mereka. Akhirnya mereka hanya melakukan transaksi di waktu-waktu senggang saja. Sayangnya kebanyakan waktu senggang yang mereka miliki justru adalah waktu-waktu yang “sepi”, ketika tidak banyak pergerakan yang signifikan di pasar.

focus

Kalaupun ternyata waktu senggang tersebut bertepatan dengan “jam sibuk” pasar (ketika banyak peluang yang tercipta), namun tidak diimbangi dengan konsentrasi yang cukup baik. Terkadang perhatian mereka teralihkan oleh tayangan di televisi, topik obrolan yang menarik, atau mungkin rengekan sang anak yang mengajak bermain. Akibatnya, banyak sekali peluang yang terlewatkan. Trading pun menjadi tidak maksimal, tidak bisa memberikan hasil yang diharapkan, dan pada gilirannya hanya akan membuat Anda meninggalkan peluang yang sangat luar biasa.

Solusinya: sediakan waktu khusus untuk trading. Pasar biasanya akan ramai pada pukul 14.00-21.00 WIB. Pilihlah waktu di antara jam-jam tersebut. Tidak perlu terlalu lama, cukup satu atau dua jam saja sehari, seandainya aktivitas Anda sudah cukup padat. Jika waktu Anda bisa lebih panjang, tetaplah selingi dengan istirahat sekitar setengah hingga satu jam tiap dua jam sekali. Ini penting untuk menjaga kebugaran Anda.

Seandainya memungkinkan, sediakan juga tempat khusus untuk melakukan aktivitas trading, di mana gangguan bisa Anda minimalkan. Jika tidak memungkinkan, buat kesepakatan dengan teman atau anggota keluarga yang lain bahwa Anda tidak ingin diganggu pada jam-jam trading Anda tersebut.

Mudah-mudahan pemaparan ini bisa mencegah Anda menjadi trader yang “layu sebelum berkembang”, dan dunia trading Indonesia akan segera keluar dari “masa suram” ini.

Apakah Artikel ini bermanfaat? Yuk Sampaikan komentar Anda

 

 

 

Kendalikan Trading Anda Agar Fokus Tak Terpecah

fokus+berita+forex

 

Tidak semua peluang yang Anda lihat harus Anda ambil. Pilihan yang bijak justru adalah membatasi jumlah transaksi Anda pada satu waktu.

Jika seandainya Anda sudah memiliki satu posisi terbuka di currency pair EUR/USD dan satu posisi terbuka di GBP/USD, maka fokus Anda akan sangat mudah terpecah jika Anda menambah lagi posisi terbuka di currency pair yang lain. Kecuali jika Anda adalah seorang trader yang sudah memiliki puluhan ribu jam trading dan Anda memiliki kemampuan konsentrasi tingkat tinggi, jangan lakukan hal tersebut.

Anda sebaiknya memusatkan perhatian dan konsentrasi Anda ke peluang yang memang memiliki kemungkinan berhasil yang paling tinggi. Lakukanlah transaksi pada peluang yang paling besar tersebut, lalu berkonsentrasilah pada transaksi tersebut saja agar perhatian Anda tak mudah terpecah. Analoginya, jika Anda hendak membeli buah-buahan di sebuah kios buah, Anda tentu hanya akan mencari buah yang kondisinya paling baik, bukan?

Banyak trader yang mengira bahwa jika semakin banyak jumlah posisi (transaksi) yang mereka lakukan dalam satu waktu maka peluang untuk mendapatkan keuntungan akan semakin besar. Sebenarnya pendapat ini kurang tepat. Semakin banyak posisi terbuka justru semakin menyibukkan otak Anda. Jika otak Anda menjadi semakin “sibuk”, maka Anda akan semakin sulit untuk fokus pada trading plan Anda.

Sayangnya, itulah kesalahan yang umum dilakukan oleh para trader, terutama pemula. Mereka membuka beberapa transaksi sekaligus dalam satu waktu secara simultan. Latar belakangnya lagi-lagi adalah ketidaksabaran dan keserakahan. Padahal hal ini berbahaya, karena sekejap saja konsentrasi Anda buyar, maka ucapkanlah selamat tinggal pada uang Anda!

Sungguh disayangkan. Itulah yang terjadi.

Anda harus memahami bahwa Anda hanyalah seorang manusia biasa yang umumnya hanya bisa memusatkan perhatian Anda hanya pada satu atau dua hal pada saat yang bersamaan. Maka dari itu bersabarlah. Janganlah terlalu bernafsu untuk melakukan beberapa transaksi sekaligus. Lakukanlah satu per satu. Maksimal dua posisi terbuka dalam waktu yang bersamaan.

Memang, jika pun Anda melakukan saran di atas tidak akan menjamin bahwa Anda akan memperoleh keuntungan secara konsisten. Hal tersebut membutuhkan proses dan jalan yang tidak pendek. Namun yakinlah, saran ini menjamin bahwa Anda tidak akan mengalami kerugian terlalu banyak dan akan memperpanjang karir trading Anda. Cukup panjang hingga Anda mampu menghasilkan profit secara konsisten. Pada saat itulah Anda akan merasakan manfaatnya.

Note:

Saat Anda membaca, sudah lebih dari 12.000 orang sedang Belajar dan mempersiapkan diri untuk terjun di dunia Trading Forex.  Kapan Anda ?

Menjadi Trader Sempurna ? Lupakan !

Menjadi Trader Sempurna. Lupakan

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda harus bisa menemukan rahasia trading yang belum pernah diketahui orang lain sebelumnya? Atau pernahkah Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan selama ini – sebagai trader – belum cukup jika belum bisa menemukan rahasia tersebut?

Ada segolongan trader yang sangat – ya, sangat – terobsesi untuk bisa menjadi trader yang “sempurna”. Golongan ini tidak pernah berhenti untuk selalu mencari hal-hal yang baru, selalu mencari pengalaman baru dan mengembangkan teori serta cara trading mereka. Sayangnya tidak pernah ada hal yang bisa membuat mereka puas. Sialnya, golongan ini selalu mencatatkan prestasi trading yang menurun dari waktu ke waktu. Sia-sia, bukan?

Coba Anda renungkan: untuk apa bersusah payah menghabiskan waktu untuk mencari “rahasia” yang sebenarnya tidak perlu? Untuk apa jika menguras pikiran untuk merancang sistem trading yang “sempurna”? Untuk apa mencari sesuatu yang tak pernah ada?

Ya, tidak pernah ada sistem trading yang sempurna, dengan ataupun tanpa tanda petik. Sistem trading yang sempurna hanyalah mitos. Bahkan sistem yang menggunakan banyak aturan maupun indikator pun bukanlah sebuah sistem trading yang sempurna. Di saat pasar tidak bersetuju dengan logika yang dibangun oleh sistem trading Anda, maka saat itulah Anda harus mau menerima kenyataan dan berkata, “Oke, saatnya cut loss.”

Benar bahwa tidak ada seorang pun yang ingin menjadi trader yang sembrono atau asal-asalan, namun di sisi lain Anda tidak harus menjadi trader yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga konsekuensinya adalah tidak ada satu sistem trading pun yang sempurna.

Coba simak kisah berikut ini:

Ada seseorang – sebut saja namanya Badu – yang sejak dulu adalah seorang siswa yang pintar di sekolah. Nilai rapornya tidak pernah di bawah sembilan. Ia selalu berada di rangking pertama di kelas. Lulus kuliah pun dengan predikat cum laude dengan IPK nyaris empat. Ia adalah siswa dengan nilai “sempurna”.

Kemudin ada Iwan. Iwan adalah siswa “rata-rata”. Di kelas pun tak pernah tembus rangking sepuluh besar, paling hebat hanya urutan ke 11 atau 12. Prestasi kuliahnya pun biasa saja. Nilai akademisnya lebih didominasi B dan C.

Beberapa tahun kemudia, Badu bertemu Iwan. Tahukah Anda di mana Badu bertemu dengan Iwan? Mereka bertemu di sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Iwan, di mana Badu bekerja sebagai General Manager.

Kisah ini bukan fiktif, meskipun menggunakan nama samaran. Namun bukan pula dimaksudkan untuk menyepelekan nilai-nilai akademis. Tidak sama sekali. Anda tentu sudah cukup dewasa dalam menilai maksud sebenarnya dari tulisan ini. Nilai akademis itu penting dan menjadi pintar tentu adalah hal yang perlu, namun bukan itu inti tulisan ini.

Inti tulisan ini adalah: sebagai trader, daripada berusaha untuk menjadi “sempurna”, sebaiknya Anda lebih fokus pada menemukan kemungkinan yang lebih baik untuk menjadi sukses. Bisa jadi profit yang Anda hasilkan tiap kali melakukan transaksi jumlahnya tidak sefantastis yang diimpikan oleh sang “trader sempurna”, namun Anda justru akan punya lebih bayak waktu untuk mengembangkan kemampuan Anda. Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan – tentunya – menghasilkan profit. Anda akan lebih santai karena Anda tidak terlampau gelisah untuk bisa mencetak transaksi-transaksi yang sempurna. Anda tidak akan stres, yang justru sering dirasakan oleh para perfeksionis.

Trading itu adalah tentang kemungkinan-kemungkinan. Mengenai peluang. Untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan, Anda harus melakukan transaksi sesering mungkin agar teori peluang  bekerja dengan baik. Semakin sering Anda mencoba, maka semakin tinggi peluang Anda untuk memperoleh keuntungan. Tentu ada resiko yang menyertai, tapi – hey – bukankah resiko berbanding lurus dengan peluang? Semakin tinggi resikonya, semakin besar pula peluangnya.

Selama sistem trading Anda cukup bisa membuktikan bahwa ada peluang yang bisa Anda raih – katakanlah kemungkinannya 70% Anda akan untung – dan Anda menerapkan money management serta risk management yang baik, tak perlu khawatir. Anda akan mampu untuk “membayar” kerugian dari 30% kemungkinan transaksi yang berakhir dengan loss. Jadi tak perlu memiliki sistem trading yang 90% atau bahkan 100% akurat.

Jika Anda adalah seorang perfeksionis, selalu mendambakan sistem trading yang sempurna, maka Anda akan selalu menghadapi hambatan ketika akan memulai trading. Anda tidak akan pernah mau melakukan transaksi jika Anda tidak yakin 100% bahwa transaksi itu akan berbuah untung. Anda ingin setiap transaksi Anda memiliki nilai A, bukannya B apalagi C.

Cobalah beranikan diri Anda untuk hanya mendapatkan nilai C. Trader dengan nilai A mungkin memang lebih pintar, namun trader dengan nilai C mungkin justru akan lebih kaya, seperti Iwan dalam kisah di atas.

 

 

note:

Saat Anda membaca, sudah lebih dari 12.000 orang sedang Belajar dan mempersiapkan diri untuk terjun di dunia Trading Forex.  Kapan Anda ?

Rahasia Dahsyat Sukses Demo dan Real

Demo = Real Akun

Sebagai trader forex pemula, broker Anda biasanya menyarankan untuk terlebih dahulu melakukan simulasi menggunakan demo account sebelum melakukan trading di real account. Melalui simulasi, Anda akan bisa lebih menguasai keahlian dasar yang harus dimiliki seorang trader. Anda juga akan bisa membangun trading plan, menguasai manajemen resiko dan lebih mengerti psikologi trading tanpa harus mempertaruhkan uang Anda.

Ketika Anda bisa mempraktekkan teori yang sudah Anda pelajari dan bisa menghasilkan profit yang konsisten, maka kepercayaan diri Anda akan meningkat. Biasanya Anda akan beranggapan bahwa simulasi di demo account hanya membuang waktu saja, lalu Anda pun segera membuka real account. Anda berpikir bahwa tiga, empat, atau lima kali transaksi profit berturut-turut di demo account akan bisa Anda ulangi di real account. Benarkah?

SALAH!     

Pada kenyataannya, justru kebanyakan trader forex pemula menjadi frustrasi ketika mendapati bahwa ternyata tidak semudah itu. Mengapa bisa demikian?

Penyebabnya setidaknya adalah tiga hal berikut ini.

1. Emosi di Real Account Lebih Menggigit

Seorang trader sebisa mungkin berusaha untuk mengesampingkan emosi ketika membuat keputusan dalam trading. Meskipun demikian, tidaklah mungkin untuk benar-benar bisa menghilangkan emosi dari seorang manusia, terlebih jika uangnya yang menjadi “taruhan”.

Sebagai gambaran, coba bandingkan perasaan Anda ketika pertama kali melakukan transaksi di demo account dengan ketika Anda melakukan transaksi sesungguhnya dengan uang Anda. Apakah detak jantung Anda meningkat? Apakah Anda merasa darah Anda mengalir lebih deras? Apakah jemari Anda sedikit bergetar? Jika ya, mungkin itu entah karena Anda terlalu bersemangat atau justru luar biasa gugup menghadapi pengalaman pertama itu.

2. Simulasi Tidak Melibatkan Uang Sungguhan

Meskipun jika Anda mencoba untuk memperlakukan demo account Anda seperti real account, pada kenyataannya Anda sama sekali tidak menghadapi resiko. Anda bisa saja berkali-kali melakukan transaksi dan merugi, namun Anda sepenuhnya sangat sadar bahwa secara finansial Anda akan tetap aman. Bahkan jika Anda melakukan ratusan kali kesalahan dalam simulasi pun, Anda masih akan bisa merasa aman, karena faktanya Anda bisa sewaktu-waktu membuat demo account yang baru.

Ceritanya akan berbeda jika Anda mengalami hal tersebut dalam situasi trading yang sesungguhnya. Kegagalan demi kegagalan dalam trading berpotensi mencederai kepercayaan diri Anda. Pada gilirannya, hal tersebut akan mengaburkan obyektivitas Anda dalam mengambil keputusan selanjutnya.

3. Godaan untuk melanggar trading plan lebih kuat ketika trading di real account

Anda akan merasa lebih emosional karena berhadap-hadapan dengan resiko yang nyata. Akibatnya, godaan untuk melakukan kebiasaan buruk pun akan lebih kuat. Kebiasaan buruk tersebut adalah melanggar trading plan.

Ketika Anda mengira telah bisa menjalankan trading plan dengan disiplin, pada kenyataannya Anda mungkin justru akan melakukan kesalahan-kesalahan umum dalam trading. Misalnya adalah memperjauh level stop loss, menutup transaksi meskipun profit baru sedikit, atau melakukan aksi “trading balas dendam”; yaitu trading yang emosional demi membalas kerugian terdahulu.

Bagi sebagian trader, keinginan untuk membuktikan bahwa mereka bisa berhasil di real account sama seperti yang pernah mereka lakukan di demo account bahkan bisa memicu masalah baru. Misalnya overtrading dan melanggar trading plan mereka.

Nah, jadi apa yang seharusnya Anda lakukan agar bisa berhasil di real account sebagaimana di demo account, bahkan LEBIH SUKSES?

Cara yang baik untuk menjembatani jurang antara demo dan real account adalah MENDUPLIKASI sikap TRADING TANPA EMOSI seperti yang Anda lakukan di demo account.

Bagaimana cara melakukannya?

Fokuslah pada proses yang Anda lakukan, bukan pada profit yang dihasilkan. Lakukanlah transaksi satu per satu dan fokus pada penerapan trading plan serta manajemen resiko yang tepat. Pastikan alokasi resiko memang sejumlah uang yang sudah siap untuk Anda “korbankan”.

Jangan pedulikan apakah hasil transaksi tersebut akan untung atau rugi. Tidak perlu memikirkan hal tersebut. Jika prosesnya benar, maka hasilnya akan mengikuti. Hal ini akan membantu meringankan tekanan dan membantu Anda untuk lebih berkonsentrasi pada transaksi Anda. Mungkin ini terdengar terlalu utopis bagi Anda, namun percayalah bahwa itulah yang memang harus Anda lakukan.

Kemudian, biasakan untuk menulis jurnal trading Anda setiap kali Anda selesai melakukan transaksi, Ini adalah kebiasaan yang sangat baik.

Tuliskan semua yang terjadi. Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: mengapa hasilnya berbeda dengan ketika simulasi? Apakah reaksi serta keputusan Anda berbeda ketika trading sungguhan dibandingkan dengan saat simulasi? Hal apa yang semestinya Anda lakukan?

Dengan mencatat semua kesalahan di real account yang tidak pernah Anda lakukan di demo, Anda akan tahu permasalahan apa yang sesungguhnya harus Anda perbaiki.

Proses “naik kelas” dari demo ke real memang sangat menantang, namun itu tidak akan menghentikan Anda untuk bergerak naik. Anda hanya harus lebih santai dan memastikan bahwa Anda sepenuhnya sadar dan siap secara mental, yang diperlukan untuk trading sesungguhnya.

Selamat “naik kelas”.