Posts

Poundsterling Jatuh! Ini Teori-Teori Yang Berkembang

Jumat lalu (7/10/2016), poundsterling merosot dengan sangat tajam, melemah terhadap USD dari kisaran 1.2 ke kisaran 1.18 hanya dalam dua menit saja – sebuah pergerakan tajam yang sangat tidak biasa. Pasar biasa menyebut peristiwa ini sebagai “flash crash”.

Peristiwa tersebut terjadi pada sekitar pukul enam pagi waktu Indonesia Barat, tepatnya sekitar pukul 06.07 WIB. Dalam sekitar 60 detik, GBPUSD bergerak dari kisaran 1.26 ke kisaran 1.203-an. Berdasarkan data dari Reuters, pada puku 06.09 WIB GBPUSD berhasil menyentuh level 1.1819. Tiga puluh menit setelah itu barulah GBPUSD berhasil melakukan recovery ke kisaran 1.24-an dan bertahan di kisaran tersebut hingga tulisan ini dibuat.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Banyak teori yang berkembang namun hingga saat artikel ini ditulis belum ada kesimpulan yang bisa dibuat mengenai apa yang menyebabkan poundsterling terkapar seperti itu. Ada beberapa teori yang bisa jadi adalah kemungkinan penyebab kejadian tersebut, di antaranya adalah seperti yang dipaparkan di bawah ini.

Teori #1: Akibat sindrom “fat-finger”

“Fat-finger” adalah istilah yang dipergunakan ketika kesalahan terjadi akibat salah mengetik/meng-input angka atau besaran transaksi. Mungkin ini mirip dengan istilah anak muda sekarang: “typo”. Hampir mirip ketika Anda salah mengetikkan huruf ketika chat melalui WhatsApp atau sejenisnya. Hanya saja, typo semacam ini efeknya bisa sangat luar biasa. Sindrom fat-finger bisa juga terjadi karena error pada algoritma yang dipergunakan untuk transaksi otomatis di bursa saham.

Pada kesalahan fat-finger, yang terjadi adalah kesalahan dalam memasukkan order transaksi, entah itu buy atau sell namun ukuran transaksi terlalu besar, pada saham atau kontrak yang salah, pada harga yang salah, atau kesalahan input lainnya.

Fenomena fat-finger pernah terjadi sebelumnya, di antaranya:

  • Tahun 2006, seorang trader di Mizuho Securities di Jepang melakukan kesalahan fat-finger yang menyebabkan perusahaan itu melakukan short-sell sebuah saham hingga perusahaan tersebut merugi 40 milyar yen.
  • Tahun 2014, seorang broker saham di Jepang keliru menempatkan order senilai lebih dari 600 milyar USD pada saham-saham unggulan Jepang, termasuk Nomura, Toyota Motors dan Honda namun kemudian transaksi-transaksi tersebut dibatalkan. Seandainya tidak dibatalkan, maka nilai transaksi tersebut pada saat itu akan melebihi nilai ekonomi Swedia.
  • Tahun 2015, seorang pegawai junior di Deutsche Bank kebingungan ketika menghitung jumlah kotor dan bersih ketika memproses sebuah transaksi, yang menyebabkan bank tersebut harus membayar kepada sebuah hedge fund di Amerika Serikat sebesar 6 milyar USD, sangat jauh lebih besar daripada jumlah sesunguhnya.

Di tahun 2010 juga pernah terjadi flash-crash pada indeks Dow Jones. Semula hal ini disangka sebagai sindrom fat-finger namun setelah dilakukan investigasi ternyata melibatkan sebuah program trading otomatis yang dipergunakan seorang trader yang tinggal di Inggris bernama Navinder Singh Sarao. Ia dituding memanipulasi transaksi dengan programnya.

Nah, untuk kasus poundsterling tempo hari, sebagian ekonom menilai agak sulit untuk “menuduh” bahwa fat-finger-lah biang keladinya. Jika memang itu yang terjadi, maka konvensi pasar akan sepakat pihak-pihak yang terkait akan menghapus pergerakan harga tersebut dan menghilangkannya dari catatan grafik. Namun faktanya hal itu tida terjadi sehingga kemungkinan fat-finger adalah penyebabnya menjadi kecil.

Teori #2: Ada yang mengambil kesempatan saat likuiditas rendah

Tidak ada bukti yang dimunculkan oleh pengusung teori ini, tetapi jika ada seseorang yang memang ingin menggerakkan pasar dengan tajam, maka waktu yang tepat untuk itu adalah beberapa saat setelah New York tutup sementara para pemain Hong Kong dan Singapura baru akan menyeruput kopi pagi mereka. Memang saat itu Sydney dan Tokyo sudah berjalan, namun Singapura merupakan pusat valuta asing terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Teori #3: Ada kaitannya dengan kedaluarsa kontrak option

Hari Jumat merupakan hari di mana banyak kontrak option forex kedaluarsa dna hal ini bisa menyebabkan pergerakan ekstrim jika para penjual option – dalam hal ini bank – tiba-tiba merasa butuh melakukan hedging untuk berlindung dari penurunan yang besar atas nilai sebuah mata uang. Berdasarkan data dari DTCC (sebuah lembaga kliring dan settlement), kelompok terbesar yang memiliki option GBPUSD yang kedaluarsa berada di level 1.25-an, dengan nilai nosional sebesar 1,23 milyar USD.

Dengan kata lain, penurunan harga yang tiba-tiba ke bawah level 1.25 bisa memicu para penjual option untuk berebut menjual poundsterling demi melindungi diri dari kerugian yang besar.

Teori #4: Ini gara-gara François Hollande

François Hollande yang dimaksud adalah Presiden Perancis saat ini, yang mendesak Uni Eropa untuk melakukan “tough negotiation” dengan Inggris yang bersiap secara formal untuk meninggalkan Uni Eropa. Hal ini dilaporkan oleh Financial Times pada pukul 07.07 waktu Hong Kong (06.07 WIB).

Akan tetapi, para trader yang dihubungi oleh Financial Times melakukan transaksi persis pada pukul tujuh lebih tujuh menit dan TIGA DETIK waktu Hong Kong, dan artikel tentang pernyataan Hollande itu baru dipublikasikan pada pukul tujuh lebih tujuh menit dan TIGA BELAS DETIK waktu Hong Kong.

Mengapa sulit untuk mengetahui penyebabnya?

Pasar mata uang (forex market) bukanlah sebuah pasar tunggal melainkan kumpulan dari banyak sistem perdagangan di seluruh dunia yang memiliki zona waktu berbeda-beda, tidak seperti bursa saham di mana apa yang terjadi bisa diamati di satu tempat, seperti yang terjadi pada kasus-kasus fat-finger di atas. Penyedia data harga seperti Reuters atau Bloomberg mengambil harga yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda-beda pula.

Memang bisa saja order yang disebabkan oleh fat-finger menjadi “viral” dan membesar terutama jika dilakukan oleh bank yang cukup besar, namun tidak ada – misalnya –  hedge fund yang berbasis pada algoritma untuk dimintai pertanggung jawaban seperti Sarao.

Apa yang mungkin akan terjadi?

Para trader beranggapan bahwa ini isyarat bahwa pondsterling masih akan terus melemah. Sterling sendiri telah berada di bawah tekanan sejak Theresa May – Perdana Menteri Inggris – memimpin Partai Konservatif. Bahkan sebelum terjadinya flash crash di poundsterling, Goldman Sachs telah memperkirakan bahwa poundsterling akan melemah lebih lanjut hingga 5 persen dalam tiga bulan ke depan. Dengan kata lain, Goldman Sachs telah memperkirakan bahwa GBPUSD akan bergerak turun menuju 1.20.

Memang GBPUSD telah mengalami recovery ke kisaran 1.24, tetapi masih di bawah 1.26 yang merupakan level sebelum flash crash.

Poundsterling, GBPUSD, Trading forex, forex indonesia

Secara teknikal, grafik harian (Daily) GBPUSD masih memperlihatkan bahwa poundsterling berada di bawah tekanan bearish yang kuat. MA 20 telah memotong ke bawah MA 50 di grafik tersebut, yang dalam analisa teknikal disebut sebagai “death cross” yang merupakan indikasi bearish. Ini memperkuat dugaan bahwa pelemahan poundsterling kemungkinan belum akan berakhir.

Meskipun demikian, kondisi jenuh jual (oversold) telah terlihat pada indicator teknikal stochastics oscillator dan CCI yang diplot di grafik yang sama – bahkan indikasi bullish terlihat pada stochastics. Walaupun belum bisa menjadi sinyal reversal (pembalikan trend) namun hal ini membuka peluang bagi pergerakan pull-back.

Untuk itu, skenario jangka panjang untuk GBPUSD masih bearish apalagi jika muncul sinyal bearish di area resistance Fibonacci 1.24769-1.28423, dengan potensi target di kisaran 1.22508-1.18853. GBPUSD baru akan membuka peluang bullish jika berhasil naik ke atas 1.28423 dengan sasaran masih terbatas di kisaran 1.30684-1.34339.