Posts

Tips Trading Forex Memanfaatkan Indeks Dolar

Di artikel sebelumnya, saya sudah membahas mengenai apa itu indeks dollar. Kalau Anda sudah baca artikelnya, mudah-mudahan Anda masih ingat simbolnya. Apa, hayo? Ya. Simbolnya biasanya USDX, DX, atau DXY.

Nah, setelah membaca artikel tersebut, mungkin Anda jadi bertanya-tanya, “OK, saya sudah tahu apa itu indeks dolar, lalu untuk apa?”

Kata orang, janji adalah hutang. Di artikel sebelumnya, saya berjanji akan membahas bagaimana cara memanfaatkan indeks dolar dalam trading forex. Maka di artikel ini saya akan melunasi hutang itu.

Anda pasti tahu kan, bahwa sangat banyak currency pair yang ditransaksikan dengan melibatkan USD. Yang terkenal di antaranya adalah EURUSD, GBPUSD, USDJPY, USDCHF, USDCAD, NZDUSD, AUDUSD.

Artinya jika kita mentransaksikan currency pairs tersebut, indeks dolar bisa kita manfaatkan untuk melengkapi analisa kita. Indeks dolar bisa memberikan perspektif lain tentang kondisi USD, apakah dia menguat atau cenderung melemah terhadap mata uang dunia. Dalam dunia forex, pergerakan indeks dolar bisa kita pergunakan sebagai “indikator kekuatan” USD.

EURUSD vs DXY

Ada yang menarik dan tidak banyak yang mengetahui hal ini: pergerakan EURUSD dan indeks dolar (selanjutnya kita sebut DXY) itu secara umum berlawanan arah.

Eh, kok bisa begitu?

Karena, seperti yang telah kita bahas di artikel sebelumnya, lebih dari 50% dari komposisi DXY itu adalah euro! Tepatnya 57,60%.

Coba lihat perbandingan grafik berikut ini:

indeks dolar, trading forex, forex trading

Grafik di sebelah atas adalah pergerakan DXY, sementara grafik yang ada di sebelah bawah adalah pergerakan EURUSD. Pergerakan yang terekam adalah sejak 26 Oktober 2018 hingga 5 November 2018, dalam timeframe H1.

Perhatikan garis merah yang saya gambar. Tiap kali DXY naik, EURUSD turun dan sebaliknya. Seakan-akan dua gambar itu seperti bayangan dalam cermin.

Fakta ini bisa kita manfaatkan ketika kita akan trading EURUSD. Bahkan ada trader yang memanfaatkan DXY sebagai indikator teknikal untuk EURUSD.

Jika DXY bergerak dengan signifikan, hampir bisa kita pastikan bahwa para pelaku pasar akan bereaksi pada pergerakan tersebut. Bahkan sebenarnya, baik DXY maupun para pelaku pasar saling bereaksi satu sama lain. Misalnya, jika terjadi penembusan (breakout) yang signifikan atas sebuah major currency pair (misalnya EURUSD dan/atau GBPUSD), maka biasanya DXY juga akan bergerak signifikan.

Intinya, para pelaku pasar menganggap DXY merupakan indikator kunci bagi arah USD terhadap mata uang utama dunia.

“OK, Pak Eko. Jadi cara tradingnya bagaimana?”

Sabar dong. Saya baru mau membahas hal itu.

Jadi, karena EURUSD dan DXY itu ibarat saudara kembar tetapi beda tabiat, maka ketika kita akan mentransaksikan EURUSD, ada baiknya pantau juga kondisi DXY.

Katakanlah kita melihat ada sinyal sell di EURUSD, maka coba intip juga DXY. Jika pada saat yang sama muncul sinyal bullish di DXY, maka kekuatan sinyal sell di EURUSD itu akan bertambah kuat. Dengan kata lain, sinyal sell tersebut; yang mungkin biasanya akurasinya hanya 70%; bisa meningkat menjadi 80%.

DXY vs Major Currency Pairs, Bagaimana?

Nah, sekarang bagaimana dengan mata uang lain?

Sama saja dengan trik pada EURUSD di atas, hanya saja mungkin tidak sesignifikan pada EURUSD.

Tetapi setidaknya bisa kita manfaatkan juga, mengingat DXY adalah indikator bagi kekuatan USD secara umum.

Yang perlu kita ingat adalah di mana posisi USD pada currency pair yang akan kita transaksikan? Apakah ia sebagai base currency, atau counter currency?

Eh, sebentar, Anda tahu kan apa itu base dan counter currency?

Dalam currency pair (pasangan mata uang), base currency itu adalah mata uang yang ditulis di sebelah kiri. Sebagian orang menyebutnya first currency.

Sebaliknya counter currency ditulis di sebelah kanan. Ada juga yang menyebutnya second currency atau quote currency.

Jadi, misalnya kita mentransaksikan USDCHF, maka USD bertindak sebagai base currency dan CHF adalah counter currency. Pada EURUSD, misalnya, adalah kebalikannya.

Jadi, jika kita mentransaksikan pair yang USD-nya sebagai base currency (seperti USDCHF, USDJPY, atau USDCAD), kenaikan DXY kemungkinan besar juga diikuti oleh kenaikan pair tersebut.

Gampangnya, begini:

  • Jika USD adalah base currency (USD/XXX), maka arah pair tersebut cenderung searah dengan DXY.
  • Jika USD adalah counter currency (XXX/USD), maka arah pair tersebut cenderung berlawanan arah dengan DXY.

Nah, dengan ini “hutang” saya dianggap lunas, ya?

Oh, menurut Anda belum? Kalau masih ada yang ingin Anda tanyakan, silakan hubungi saya melalui Live Chat yang tersedia di website kami ini.

Salam.

Mengenal Indeks Dollar Dalam Forex Trading

Selama ini Anda mungkin akrab dengan istilah indeks saham, atau yang sering disebut dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Di luar negeri, Anda mungkin juga sering mendengar indeks-indeks saham lain semisal HangSeng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Dow Jones Industrial Average (DJIA/Amerika Serikat) dan lain-lain. Semua itu terkait dengan perdagangan saham. Nah, bagaimana di trading forex, apakah ada indeks juga?

Ada. Indeks yang paling terkenal adalah indeks dolar (dollar index), yang mengukur pergerakan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap beberapa mata uang dunia. Simbolnya biasanya USDX, DX, atau DXY.

Indeks dolar ini muncul dari perhitungan tertentu terhadap beberapa mata uang dunia (basket of foreign currencies) terhadap USD.

OK, kita tidak akan berlama-lama berkutat di soal definisi ini. Kita bedah saja, apa sih sebenarnya indeks dolar ini?

Currency Basket

Indeks dolar terbentuk dari perhitungan yang melibatkan enam mata uang dunia, yaitu:

  • Euro (EUR)
  • Yen (JPY)
  • Poundsterling (GBP)
  • Canadian dollar (CAD)
  • Krona (SEK)
  • Swiss Franc (CHF)

Pertanyaannya, “Jika perhitungan indeks dolar hanya melibatkan enam mata uang, berapa banyak negara yang terlibat?”

Menurut Anda berapa? Enam? Salah.

Yang benar adalah: 24 (dua puluh empat).

Lho, kok 24?

Lha, iya, karena memang ada 24 negara yang terlibat. Sembilan belas di antaranya adalah negara yang merupakan anggota Uni Eropa yang mempergunakan euro sebagai mata uangnya. Ditambah dengan lima negara lain yaitu Jepang, Inggris, Kanada, Swedia dan Swiss. Jadi 19 + 5 = 24.

Memang 24 negara ini hanyalah sebagian kecil dari total negara yang ada di muka bumi ini, tetapi banyak mata uang lain yang juga mengikuti pergerakan indeks dolar ini. Itulah yang menyebabkan indeks dolar (selanjutnya kita sebut DXY saja ya) bisa menjadi indikator yang cukup baik untuk mengukur kekuatan USD secara umum.

Komposisi DXY

Nah, sekarang Anda sudah tahu bahwa indeks dolar terbentuk dari enam mata uang yang melibatkan 24 negara. Sekarang, yuk kita lihat komposisinya:

  • Euro (EUR): 57,60%
  • Yen (JPY): 13,60%
  • Poundsterling (GBP): 11,90%
  • Canadian dollar (CAD): 9,10%
  • Krona (SEK): 4,20%
  • Swiss Franc (CHF): 3,60%

Bisa kita lihat bahwa euro memiliki porsi paling besar dalam indeks dolar, yaitu 57,60%. Bisa dimengerti mengingat ada 19 negara yang mempergunakan euro.

Posisi ke-2 ditempati oleh yen Jepang. Masuk akal juga karena Jepang merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Pertanyaannya (lagi), “Ketika EURUSD turun, ke mana indeks dolar bergerak?”

Ingat bahwa euro memiliki porsi yang besar dalam indeks dolar, maka kemudian indeks dolar ini mendapatkan julukan “indeks anti Euro”.

Karena besarnya pengaruh euro dalam indeks dolar, maka para trader meyakini bahwa pergerakan keduanya biasanya hampir seimbang dan berlawanan. Kita akan membahas hal itu di tulisan yang lain, setelah artikel ini.

Memahami Pergerakan Indeks Dolar

Seperti halnya pasangan mata uang lain, pergerakan DXY juga bisa dilihat dalam chart.

trading forex, indeks dolar, forex trading

DXY dihitung selama 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Selain itu, penguatan atau pelemahan relatif DXY dihitung berdasarkan angka indeks 100.00.

Mengapa 100.00? Karena indeks dolar sendiri dimulai di bulan Maret tahun 1973, ketika negara-negara besar dunia melakukan pertemuan di Washington DC dan semua negara tersebut menyepakati untuk menerapkan kurs berubah (floating rate) untuk masing-masing nilai mata uang mereka. Permulaan indeks tersebut dikenal dengan sebutan “base period”.

Jadi, misalnya, DXY sekarang berada di angka 95.95. Itu artinya DXY telah melemah sebesar 4.05% dari angka permulaan indeks tersebut.

Perhitungannya: 

Seandainya DXY sekarang berada di angka 110.00, artinya nilai indeks dolar telah menguat sebesar 10% dari angka permulaannya.

Mau tahu bagaimana perhitungan DXY? Ini dia rumusnya: 

Sudah paham? Tidak? Ya tidak apa-apa. Cuma untuk diketahui saja, siapa tahu ada yang penasaran. 😊

Di tulisan berikutnya, kita akan membahas bagaimana mempergunakan indeks dolar sebagai strategi trading forex.

Tunggu saja.


Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami ini di kolom komentar.

Lowest Spread + Trading Service = Excellent!

Apa yang menjadi pertimbangan Anda ketika memilih broker forex? Lowest spread? Komisi per lot? Layanan?

Biasanya salah satu hal di atas adalah menjadi pertimbangan orang dalam memilih broker. Tetapi biasanya yang paling diperhatikan adalah spread dan komisi.

Spread Rendah

Kebanyakan trader menginginkan trading dengan spread yang serendah mungkin.

Spread yang ketat lebih diminati karena untuk “mengejar” BEP (break event point) untuk transaksi yang Anda buat relatif akan menjadi lebih kecil. Misalnya spread untuk EURUSD adalah 0.3 pip (0.00003 point).

Contohnya, Anda melakukan transaksi buy EUR/USD di harga 1.16100 (Bid)/1.16103 (Ask), maka transaksi tersebut akan dieksekusi di harga 1.16103 (harga Ask). Pada saat itu juga Anda akan mengalami floating loss sebesar spread yang berlaku saat itu, yaitu minus 0.3 pip (0.00003 point). Dalam pengalaman saya, 0.3 pip tidak butuh waktu yang lama. Di market Asia mungkin hanya secepat Anda berhitung 1 sampai 3 saja, apalagi jika market Eropa dan Amerika, akan lebih cepat lagi.

Akan berbeda ceritanya jika spread yang berlaku selebar – misalnya – 3.0 pips. Ketika Anda buy di harga 1.16100 (Bid)/1.16130 (Ask), maka Anda harus menunggu harga naik minimal sejauh 30 pips untuk bisa BEP.

Apakah Anda berpikiran seperti itu? Mari kita pikir lagi.

Tidak Sekedar Spread

Oke, Anda mungkin sudah menemukan broker dengan spread yang ketat. Tapi apakah itu satu-satunya hal yang perlu dilihat?

Anda tentu paham bahwa market forex itu bekerja dalam format “24 x 5”; 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Maka dari itu pastikan Anda juga memilih broker yang memliki layanan “24×5” juga bagi para nasabahnya, supaya Anda tidak perlu sampai kebingungan seandainya menghadapi kendala teknis dalam trading.

Seiring makin canggihnya teknologi, chatting sudah bukan menjadi barang asing lagi. Fasilitas “Live Chat” juga seharusnya dimiliki oleh broker. Pastikan Anda memilih broker yang memiliki layanan seperti itu.

Chat room “Customer Service” FOREXimf.com menyediakan chat room “Customer Service” yang online 24 jam sehari, 5 hari kerja dalam seminggu. Ada juga chat room “Market Analyst” yang online mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB setiap hari kerja. Kedua chat room itu dipastikan TETAP ONLINE meskipun Anda sedang menikmati hari libur nasional. Pokoknya, selama masih ada pasar internasional yang aktif, kedua chat room itu tetap aktif. Itulah salah satu bentuk pelayanan prima yang disediakan untuk nasabah FOREXimf.com.

Tidak hanya itu, untuk nasabah FOREXimf.com bahkan ada nomor WhatsApp khusus yang disediakan jika Anda ingin berkomunikasi langsung dengan tim Market Analyst. Bahkan Anda bisa mendapatkan signal trading terkini yang di-broadcast melalui nomor tersebut langsung ke HP Anda.

Anda tertarik untuk melakukan forex trading dengan lowest spread plus layanan prima? Segera klik Open Real Account sekarang juga. Kami tidak sabar untuk segera bisa melayani Anda.


Jika Anda menginginkan analisa dan berita fundamental real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

 

3 Penyebab Kegagalan Mencapai Target Trading Forex

Mungkin sudah cukup sering saya mengungkapkan melalui tulisan atau seminar, webinar, atau workshop yang saya bawakan bahwa yang terpenting bagi seorang trader bukanlah hasil, melainkan proses.

OK, mungkin terdengar terlalu idealis, tetapi disukai atau tidak memang itulah intinya. Karena dalam prosesnya, seorang trader setidaknya harus memiliki cukup pengetahuan dan disiplin. Seorang trader yang disiplin dan berpengalaman bisa dengan mudah mengantisipasi setiap pergerakan pasar yang tidak sesuai dengan harapannya. Tanpa hal-hal dasar ini, tidak mungkin seseorang bisa tiba-tiba menjelma menjadi trader yang kompeten. Pengetahuan, pengalaman dan kedisiplinan membutuhkan proses.

Lebih penting lagi adalah proses dalam mengambil keputusan trading. Seorang trader tidak mengambil keputusan dengan cara menghitung jumlah kancing bajunya. Tidak berdasarkan ramalah zodiaknya. Tidak pula berdasarkan perasaan. Trader kok baper….

Berdasarkan pengalaman pula saya bisa menemukan bahwa ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang trader gagal dalam mencapai target-targetnya dalam trading forex. Tiga di antaranya adalah berikut ini:

  1. Tidak memiliki trading plan yang jelas

Silakan menetapkan target setinggi mungkin yang Anda inginkan, tetapi ingatlah bahwa target tanpa perencanaan yang jelas sama dengan mimpi.

Buatlah target-target berdasarkan trading plan yang terencana dengan baik. Semakin detil trading plan Anda, semakin baik. Masukkan detil-detil seperti pembatasan resiko per transaksi, strategi/sistem trading yang dipergunakan, hingga strategi berupa risk management tool yang akan Anda pergunakan (cut loss, switching, averaging dan sebagainya).

  1. Tidak menjalankan trading plan dengan baik

Banyak trader yang begitu bersemangat ketika menyusun trading plan namun kendur ketika melaksanakannya. Akhirnya trading plan yang ia buat hanya menjadi “monument” belaka yang nasibnya mirip dengan resolusi tahun barunya yang ia buat dengan penuh semangat menjelang akhir tahun, namun akhirnya terlupakan begitu saja.

Jadi, setelah Anda menyusun trading plan, laksanakanlah dengan disiplin bahkan sampai ke hal-hal “kecil”. Jangan melakukan pelanggaran sekecil apa pun terhadap trading plan Anda karena itu akan menjadi kebiasaan dan pada gilirannya Anda akan menjadi semakin permisif dalam mengingkari trading plan tersebut, sehingga Anda akan terbiasa melakukan pelanggaran yang berakibat fatal.

Contohnya, seorang trader tadinya telah menetapkan bahwa resiko per transaksi tidak boleh lebih dari 10% dari modalnya. Misalkan ia memiliki modal sebesar $1,000 maka resiko untuk setiap transaksi yang ia lakukan tidak boleh lebih dari $100.

Suatu ketika ia melihat sinyal trading berdasarkan sistem yang ia miliki. Dengan perhitungan position size, katakanlah semestinya ia hanya membuka 0.1 lot. Tetapi kala itu ia merasa yakin bahwa sinyal trading yang ia lihat sangat akurat, sehingga ia tergoda untuk membuka transaksi lebih besar lagi, misalnya 0.5 lot, dengan cita-cita ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Salah satu alasan mengapa resiko perlu dibatasi adalah untuk menghindari resiko yang terlalu besar. Ketika si Trader memutuskan untuk membuka transaksi sebesar 0.5 lot dengan batasan SL yang tidak berubah, itu artinya ia membiarkan modalnya untuk menghadapi resiko yang lebih besar daripada seharusnya.

Perilaku seperti ini cenderung berulang dan ketika si Trader menyadari kesalahannya, biasanya sudah terlambat. The end has come.

  1. Tidak terbiasa membuat jurnal trading

Ini yang paling sering diabaikan trader. Anda sebaiknya mencatat setiap hal yang terkait dengan transaksi yang Anda lakukan. Anda sebaiknya melakukan pencatatan tersebut setiap kali Anda melakukan transaksi.

Anda bisa mengisi jurnal Anda misalnya seperti ini:

forex trading, trading forex

Ketika transaksi tersebut ditutup, catat juga hasilnya (profit atau loss, tidak perlu detil hingga besaran profit/loss karena sudah ada di Account History). Catat juga apa kira-kira yang menyebabkan transaksi Anda berakhir untung atau rugi.

Jurnal seperti ini akan sangat membantu Anda dalam mengevaluasi hasil trading Anda. Jika total transaksi Anda menghasilkan keuntungan, Anda tinggal mengulang apa yang Anda lakukan. Sebaliknya jika hasilnya merugi, Anda bisa tahu apa yang menyebabkan kerugian itu agar bisa Anda hindari di kemudian hari.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex 100% Berhasil, Mungkinkah?

Sebentar. Sebelum Anda melanjutkan membaca artikel ini, saya mau bertanya. Siapa di antara Anda yang menafsirkan bahwa strategi yang akan saya paparkan kali ini adalah strategi trading forex tanpa loss? Jika Anda menafsirkan demikian, bersiaplah untuk kecewa.

Eits, tunggu dulu. Anda perlu tahu bahwa meskipun ada transaksi yang mengalami loss, strategi yang akan saya paparkan kali ini tetap sering dipergunakan untuk meraih potensi keuntungan. Apa nama strategi itu? Namanya adalah: MARTINGALE.

Apa Itu Martingale?

Sebenarnya strategi ini sangat sering dipraktekkan di meja judi semacam kasino (tempat judi) di Las Vegas. Konon, strategi inilah yang menyebabkan kasino-kasino jaman now menerapkan aturan berupa pembatasan jumlah taruhan maksimun dan minimum. Masalah utama dalam menerapkan strategi ini adalah bahwa Anda mutlak memerlukan dana yang sangat – sangatBESAR. Bahkan saya sendiri sering mengatakan bahwa untuk menerapkan strategi ini agar bisa bekerja 100%, Anda membutuhkan sumber dana yang “tidak terhingga”.

google-review-foreximf

Strategi martingale dibangun di atas teori (setidaknya hipotesa) bahwa harga akan senantiasa mengalami koreksi. Saya ingatkan sekali lagi: tanpa sokongan modal yang cukup besar, penerapan strategi ini hanya akan membawa Anda menuju kegagalan.

Strategi ini sendiri mulai dipopulerkan di abad ke-18. Pertama kali diperkenalkan oleh ahli matematika Perancis bernama Paul Pierre Levy. Aslinya, strategi ini berasal dari teknik bertaruh “doubling down”.

Di meja judi, dengan sistem doubling down, jumlah “taruhan” justru akan digandakan tiap kali mengalami kekalahan. Dengan demikian pada suatu saat semua kekalahan akan tertutup oleh satu kali kemenangan.

Mari kita ambil contoh. Anggaplah Anda sedang “bertaruh” dengan saya. Kita bertaruh lempar koin, yang memiliki dua sisi yaitu sisi “gambar” dan sisi “angka”. Anggaplah besar taruhan kita adalah $1 untuk tiap kali tos (lempar koin). Ingat, tiap kali kalah, Anda akan menggandakan taruhan Anda.

Ingat juga bahwa Anda akan konsisten bertaruh hanya untuk kemunculan sisi “angka”. Meskipun Anda bisa jadi akan beberapa kali kalah, tetapi pada suatu waktu semua kekalahan Anda itu akan terbayar.

Hasil dari “permainan” kita akan saya ilustrasikan dalam tabel berikut:

Dari tabel di atas bisa Anda lihat bahwa dari tos ke-2 hingga ke-6 Anda selalu kalah. Tetapi pada tos ke-7, pilihan Anda muncul dan Anda memenangkan $32. Ketika ditotal, semua kekalahan Anda langsung terbayar dan hasilnya Anda untung sebesar $2.

Tetapi itu asumsinya adalah pada tos ke-10 Anda menang. Jika ternyata sisi “angka” tak kunjung muncul, maka pertanyaannya adalah, “Masih cukupkah uang Anda untuk melanjutkan permainan?”

Aplikasi Martingale Sebagai Strategi Trading

Contoh di atas adalah ilustrasi hasil yang mungkin muncul jika Anda berjudi. Kemunculan sisi “angka” atau “gambar” murni karena keberuntungan (atau kesialan) semata. Tetapi ketika trading, Anda akan melihat bahwa pergerakan harga mata uang cenderung bergerak dalam trend tertentu (price moves in trend) dan trend tersebut bisa berlangsung cukup panjang. Kunci pertama Anda adalah menentukan posisi pertama yang benar (buy atau sell).

Selain itu, trend juga memiliki “koreksi”. Jadi meskipun posisi pertama Anda salah, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar kesalahan tersebut ketika terjadi koreksi.

Trend dan koreksi sendiri merupakan sebuah keniscayaan dalam pergerakan harga. Dengan demikian, unsur “spekulatif” dalam penerapan martingale dalam trading bisa dihilangkan, atau setidaknya diminimalisir. Apalagi jika dikombinasikan dengan analisa teknikal dalam menentukan pembukaan posisi.

Coba Anda simak ilustrasi berikut ini:

strategi trading forex, martingale

Anda bisa melihat bahwa ketika harga naik ke 1.50500 maka si Trader sudah mengalami kerugian sebesar 500 pips (-$500). Dengan sistem martingale, di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar dua lot, digandakan dari  posisi sebelumnya yang hanya 1 lot. Ketika harga naik lagi ke 1.51000, si Trader sudah mengalami kerugian sebesar -$2,000 dan di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar 4 lot.

Ketika harga kembali ke 1.50500, barulah kerugiannya berubah menjadi keuntungan sebesar 1500 pips atau $1,500.

Pertanyaan yang sama kembali muncul, “Sampai sejauh mana modal Anda kuat menahan pergerakan harga?”

Saya lantas membuat hitung-hitungan sederhana. Jika Anda ingin menerapkan martingale dengan memulai transaksi dengan besaran 0.1 lot dengan multiplier (pengali) dua, kira-kira modal yang Anda butuhkan akan seperti ilustrasi di bawah ini:

Interval (jarak) antar posisi : 500 pips
Lot awal : 0.1
Multiplier (pengali) : 2
Deposit awal : USD 50,000
Posisi : Sell

 

Output:

Dari ilustrasi di atas, terlihat bahwa dengan modal $50,000 Anda bisa menahan pergerakan harga hingga 3500 pips. Jika harga tak mengalami koreksi dan terus naik, maka modal sebesar itu bisa habis.

Maka jika Anda ingin menjalankan strategi trading forex ini, modal yang Anda butuhkan sangatlah besar. Bahkan mungkin Anda harus menyiapkan sumber dana yang tak terbatas, seperti yang saya sampaikan di awal. Artinya, resikonya pun mungkin unlimited.

So, the choice is yours. Choose wisely.

Strategi Trading Forex ”London Breakout”

Strategi trading forex “London breakout” merupakan salah satu strategi yang cukup populer dalam forex. Dalam perkembangannya, masing-masing trader/analis yang mengembangkan strategi ini memberikan nama yang berbeda-beda, tetapi konsepnya sama yaitu memanfaatkan pergerakan menjelang pembukaan market London.

Strategi yang termasuk dalam kategori mechanical trading system ini didesain untuk “menangkap” pergerakan cepat yang terjadi menjelang pembukaan pasar London. Untuk bisa mempergunakan strategi ini Anda membutuhkan kemampuan dasar mempergunakan MetaTrader, minimal menggambar kotak dan garis horizontal di chart, plus beberapa jam memantau sesi London.

google-review-foreximf

Saya kira tidak perlu saya beritahu lagi bahwa sebelum pasar London buka sudah ada pasar di sesi Asia yang telah berjalan. Biasanya memang aktivitas pasar yang paling tinggi terlihat pada sesi Eropa, maka dengan strategi ini kita akan mencoba untuk mencari peluang dengan berpatokan pada range harga yang tercipta pada saat sesi Asia.

Sebenarnya Anda tidak perlu mempergunakan indikator apa pun untuk menjalankan strategi trading forex “London Breakout” ini. Meskipun demikian, kalau Anda bisa menemukan indikator “market hour” di internet atau marketplace MetaTrader, itu akan cukup membantu. Tetapi, indikator itu sifatnya opsional, tak ada pun tidak masalah. Yang penting Anda tahu bagaimana cara membuat kotak dan garis horizontal di MetaTrader.

Strategi

Jadi, menjelang memasuki sesi London, Anda telah memiliki range harga sebagai acuan yang terbentuk dari pergerakan di sesi Asia. Adapun range yang dimaksud sebenarnya bukanlah range sesi Asia secara keseluruhan, melainkan tiga jam terakhir saja. Currency pair yang paling cocok untuk strategi ini adalah GBPUSD, EURUSD dan NZDUSD.

Agar penjelasannya lebih mudah, strateginya akan saya rangkum sebagai berikut:

  1. Pergunakan time frame
  2. Buat kotak di chart dengan tiga candlestick terakhir yang muncul sebelum sesi London dimulai. Jika Anda mempergunakan FOREXimf Trader berplatform MetaTrader, maka candlestick yang menjadi acuan adalah candlestick dari pukul 07:00 sampai 09:00 waktu MetaTrader.
  3. Berdasarkan “kotak” tersebut di atas, gambarlah dua garis horizontal yang masing-masing berfungsi sebagai support dan resistance. Artinya Anda harus menggambar satu garis horizontal di sisi atas “kotak” tersebut dan satu garis horizontal lainnya di sisi bawah “kotak”.
  4. Tempatkan Stop Order:
    1. Buy Stop kira-kira 5 pips di atas resistance, tempatkan SL di level Sell Stop
    2. Sell Stop kira-kira 5 pips di bawah support, tempatkan SL di level Buy Stop
  5. Jika salah satu Stop Order tereksekusi (done), Anda harus segera menghapus (cancel) Stop Order yang menjadi lawannya. Artinya jika Buy Stop yang tereksekusi maka segeralah batalkan oder Sell Stop dan sebaliknya.

Gambar di bawah ini bisa memperjelas strategi yang saya paparkan di atas:

strategi trading forex, strategi london breakout

 

 

 

Kelebihan dan Kekurangan

Sebagaimana mechanical trading system lain, strategi trading forex “London Breakout” ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya adalah:

  • Tidak memerlukan indikator teknikal yang rumit
  • Relatif mudah untuk dimengerti dan diterapkan
  • Murni mempergunakan price action, sehingga mengurangi resiko terlambat masuk posisi

Kelemahannya adalah:

  • Ada potensi “terjebak” oleh bull trap atau bear trap
  • Pada hari Senin atau Jumat sering muncul pergerakan yang “tidak biasa”, sehingga peluang yang muncul di hari tersebut cenderung kurang akurat.

Seperti biasa, saya menyarankan Anda untuk mempelajari dan melatih strategi ini terlebih dahulu di demo account sebelum menjalankannya di real account Anda, sebab belum tentu strategi ini cocok untuk Anda.

Jangan lupa, meskipun mempergunakan demo account Anda tetap harus memperlakukannya seperti real account, terutama dalam hal penempatan SL. Pembiasaan melalui demo account akan membentuk habit yang baik sebagai seorang trader.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex Short-Term: Reversal Bollinger

Anda mungkin sudah sangat mengenal Bollinger Band. Mungkin juga sudah mempergunakannya dalam melakukan forex trading. Kali ini saya akan membahas salah satu strategi trading forex yang mempergunakan Bollinger Band dalam sebuah mechanical trading system yang sederhana untuk transaksi jangka pendek.

Dalam strategi sederhana ini, Bollinger Band bekerja untuk mencari titik balik (reversal) dalam sebuah trend. Anda mungkin telah mengetahui bahwa garis-garis pada Bollinger Band bisa dimanfaatkan sebagai area support dan resistance dinamis.

google-review-foreximf

Tidak seperti indikator berbasis trend lainnya, keberadaan upper dan lower band pada Bollinger Band membuat indikator ini bisa dimanfaatkan saat market sideway, tentunya dengan teknitk tertentu. Nah, kali ini saya akan membahas teknik tersebut.

Menariknya, teknik yang akan saya paparkan kali ini cukup efektif dipergunakan saat sideway, atau kondisi trending yang tidak terlalu curam. Tetapi waspadalah karena kondisi sideway biasanya diikuti oleh penyempitan Bollinger Band (Bollinger squeeze). Squeeze cuku sering diikuti oleh rally pasca penembusan upper atau lower band. Untuk memperkecil resiko maka teknik ini juga mengikutsertakan salah satu indikator osilator, yaitu RSI yang bisa memberikan informasi dini mengenai kondisi jenuh beli atau jenuh jual. Penggunaan RSI diharapkan akan bisa memberikan filter yang lebih baik

Sebagai sinyal untuk melakukan transaksi, strategi ini memanfaatkan kemunculan pola candlestick yang memperlihatkan terjadinya false-break ke atas upper band atau ke bawah lower band. Tentu saja teknik ini hanya bisa menjanjikan potensi rebound jangka pendek saja. Dengan demikian, penempatan target profit (TP) tidak bisa terlalu jauh.

OK, tanpa perlu panjang-lebar, pemaparan berikut ini adalah aturan penggunaan strategi ini.

Pair: currency pair yang tidak terlau fluktuatif, disarankan di USDCAD.

Time frame: H1 ke atas

Indikator Teknikal:

  • Bollinger Band:
    • Period: 50
    • Deviations: 2
    • Apply to: close
  • RSI:
    • Period: 5
    • Apply to: close

Sinyal Trading:

  • Sinyal sell:
    • Jika harga high dari candlestick yang dijadikan acuan lebih tinggi daripada upper band dan harga close-nya berada di bawah upper band.
    • RSI sudah crossing dari atas 75 (ke bawah).
strategi trading forex, bolinger band

Entry sell setelah candlestick acuan close di bawah upper band

  • Sinyal buy:
    • Jika harga low dari candlestick yang dijadikan acuan lebih rendah daripada lower band dan harga close-nya berada di atas lower band.
    • RSI sudah crossing dari bawah 25 (ke atas).
strategi trading forex, bolinger band

Entry buy setelah candlestick acuan close di atas lower band

Strategi exit:

  • Tempatkan SL sejauh 50 pips di atas high candlestick acuan
  • Penempatan TP:
    • Target I: middle band
    • Target II: lower band (untuk posisi sell)/upper band (untuk posisi buy)
    • Tips: jika harga sudah menyentuh target pertama, disarankan untuk mengaktifkan trailing stop atau menutup sebagian posisi (partial close).
strategi trading forex, bolinger band

Close sebagian posisi atau aktifkan trailing stop ketika harga mencapai target I (middle band)

strategi trading forex, bolinger band

Close semua posisi ketika harga mencapai target II (lower band)

 

Peringatan!

Sebagaimana mechanical trading system sederhana lainnya, tidak ada jaminan bahwa strategi ini akan selalu menghasilkan keuntungan. Dalam trading, Anda harus memadukan sistem trading forex Anda dengan risk management dan money management yang baik dan sesuai dengan kekuatan modal Anda.

Selamat mencoba.

Belajar Trading Forex Dengan Benar

Halo, para Trader. Kali ini saya akan berceritera tentang perilaku trading saya di masa lampau. Masa ketika saya masih berstatus newbie (meskipun saat ini belum bisa dikatakan expert) di dunia trading forex yang penuh dengan gelora ini.

Saya mengenal forex di tahun 2005. Saya menghabiskan waktu mempelajari berbagai macam teknik analisa dan trading dalam waktu lebih kurang setahun. Saya tidak peduli meskipun saat itu saya masih berstatus sebagai tenaga pemasar di sebuah pialang berjangka. Bagi saya, yang penting belajar dulu. Cari nasabah belakangan saja. Toh waktu itu saya tidak digaji, hanya mendapatkan komisi dari transaksi nasabah saya, itu pun jika saya berhasil memperoleh nasabah.

google-review-foreximf

Bisa ditebak, perilaku itu berbuah ceramah dan nasihat panjang lebar dari supervisor saya dulu. Beliau pun semakin yakin kalau ia salah merekrut orang. Tetapi beliau rupanya melihat potensi lain pada diri saya, sehingga akhirnya pada tahun 2008 beliau merekomendasikan saya untuk menjadi staf market analyst di pialang tersebut. But thats another story.

Tahun 2006, saya memberanikan diri untuk trading dengan modal patungan bersama tiga orang teman. Di beberapa bulan pertama saya trading real account, saya menganggap performa trading saya “luar biasa”. Mengapa? Di tiga bulan pertama, saya berhasil membukukan keuntungan berturut-turut sekitar 30% dari modal awal. Meskipun sudah dibagi empat, sebagai fresh graduate kala itu perolehan sebesar itu cukup besar bagi saya.

Kepercayaan diri saya bertambah, bahkan cenderung jumawa. Saya merasa sudah berada di puncak dunia. Bayangkan, dalam tiga bulan trading itu saya tidak pernah sekalipun melakukan cut-loss. Catat ya: TIDAK PERNAH. Itu artinya 100% dari transaksi yang saya lakukan dalam tiga bulan tersebut membuahkan profit.

Nahas, di bulan ke-4 saya tak mampu mempertahankan prestasi. Floating loss berlarut-larut hingga akhirnya saya menyatakan diri tidak mampu lagi mengelola modal kami. Untungnya sempat profit, sehingga jika ditotal kerugian kami “hanya” sekitar 50% dari modal awal (bandingkan dengan kebanyakan trader yang harus sampai terkena margin call).

Waktu itu saya menarik kesimpulan ilmu yang saya peroleh kurang lengkap. Tetapi ternyata kesalahan saya lebih dari itu. Kesalahan utama saya adalah mindset yang salah dan cara belajar yang tidak tepat.

Seperti kebanyakan trader pemula, waktu itu saya terlalu fokus untuk mendapatkan hasil yang cepat dan – tentu saja – banyak. Waktu itu forex digambarkan sebagai salah satu bentuk bisnis yang menawarkan hasil yang cepat. Bahkan mungkin hingga saat ini pun mindset masyarakat masih sama tentang forex.

Betul bahwa pergerakan harga mata uang jauh lebih volatile dibandingkan dengan saham, misalnya, sehingga peluang yang tercipta memang jauh lebih besar. Di sinilah “racun”-nya. Ambisi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat seringkali membuat seorang trader membuka transaksi yang terlalu besar. Padahal di balik potensi keuntungan yang besar itu tersimpan pula resiko yang tak kalah besarnya. Itulah sebabnya mengapa sangat dianjurkan untuk membatasi resiko melalui pengaturan penggunaan modal yang tepat (mengatur jumlah lot) serta pembatasan resiko yang sesuai (manajemen resiko). Sayangnya, keinginan untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat membuat banyak trader melupakan hal yang sangat mendasar dalam trading ini.

Itu juga “dosa” yang saya lakukan dulu. Dalam pikiran saya hanya ada “untung, untung dan untung”. Seperti yang saya sampaikan di atas, dalam tiga bulan pertama pengalaman trading saya tidak pernah melakukan cut-loss sekalipun. Tidak pernah membatasi resiko dengan stop loss. Padahal tidak ada seorang pun yang bisa tahu persis ke mana harga akan bergerak. Artinya, kita bisa mengalami kerugian kapan saja. Antisipasi akan hal tersebut adalah manajemen resiko, yang banyak dilupakan trader.

Selain mindset, banyak juga trader yang melewati proses pembelajaran trading forex yang benar. Kebanyakan ingin langsung bisa melakukan trading dengan strategi atau sistem yang siap pakai. Itu pun dulu merupakan dosa saya.

Saya dulu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari berbagai strategi atau sistem trading tanpa meluangkan cukup waktu untuk mempelajari dasar-dasar trading. Saya bahkan baru memahami konsep dasar trend setelah dua tahun terjun ke dunia trading, yang sialnya baru saya pelajari setelah sempat “terjungkal”. Bayangkan, ada trader yang berani trading bahkan sebelum ia paham apa itu trend yang merupakan “nyawa” dari pergerakan harga.

Saya sering menganalogikan belajar trading forex seperti mempelajari beladiri. Tidak mungkin ada seorang karateka yang langsung menyandang sabuk hitam tanpa melalui proses berlatih yang panjang mulai dari sabuk putih, kuning dan seterusnya, kecuali jika ia adalah orang penting yang diangkat sebagai anggota kehormatan perguruan tertentu.

Belajar trading pun demikian. Seseorang sebaiknya mempelajari ilmu tentang trading dari sumber yang kompeten dan dengan cara yang benar juga. Pelajarilah dasar-dasar trading terlebih dahulu, yaitu trend, support dan resistance. Setelah Anda menguasai ketiga elemen tersebut, barulah Anda bisa melanjutkan ke materi lain seperti indikator teknikal, pola harga (price pattern) dan lain-lain.

Kebanyakan kesalahan yang dilakukan trader adalah langsung “loncat” ke sistem atau strategi trading. Padahal untuk bisa mengetahui pada kondisi seperti apa sebuah sistem trading bisa dipergunakan atau tidak, kita harus mengetahui apa yang menjadi dasar sistem trading tersebut. Nah, untuk mengetahui dasar sistem trading tersebut, mau tidak mau kita harus memahami dulu dasar-dasar trading.

Jadi, sekali lagi: belajarlah dari sumber yang reliable dan dengan cara yang benar pula. FOREXimf.com bisa menjadi salah satu rujukan Anda.

Selamat belajar.

5 Alasan Ini Menandakan Trader “Newbie “

Tujuan akhir seseorang melakukan trading forex tentu adalah mencari keuntungan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan mencapai tujuan tersebut cukup lumrah jika seorang trader mengalami beberapa kali kegagalan alias loss.

Jika Anda adalah trader yang sudah cukup “dewasa”, Anda akan dengan mudah melewati hambatan demi hambatan, kerugian demi kerugian. Itu karena Anda sudah kenyang akan pengalaman trading dan bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian untuk dijadikan bekal berharga di kemudian hari.

Lain halnya dengan trader-trader newbie, atau pemula. Tiap kali mengalami kerugian, mereka bisa melontarkan berbagai macam alasan, namun tidak satu pun dari berbagai alasan itu mencerminkan sikap mengevaluasi diri sendiri.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Kali ini saya akan menceritakan beberapa alasan yang cukup sering saya dengar dari para trader newbie. Apakah alasan-alasan ini masih cukup sering Anda lontarkan? Jika ya, mungkin Anda masih tergolong newbie.

Alasan #1: Pasar kacau, tidak masuk akal

Rugi memang tidak enak. Bayangkan, Anda sudah melakukan analisa yang menurut Anda benar, sudah mencari level buy atau sell yang menurut Anda level terbaik, lalu Anda membuka posisi dengan penuh percaya diri. Sudah begitu, masih loss juga.  

Maka alasan yang paling “aman” agar tidak mencederai rasa percaya diri, biasanya adalah menyalahkan pasar. Sesungguhnya ini perilaku aneh. Bagaimana mungkin seseorang bisa menyalahkan pasar, padahal pasar memang bergerak sesuai dengan kehendaknya. Kita yang harus menyesuaikan diri dengan perilaku pasar, bukan pasar yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak kita.

Pasar memiliki jutaan alasan yang menyebabkan harga bergerak. Artinya ada banyak kemungkinan bahwa arah pasar tidak akan sesuai dengan keinginan kita. Maka dari itu yang penting adalah mempersiapkan diri (dan tentu saja modal) kita untuk menghadapi berbagai skenario. Pastikan Anda melakukan transaksi sesuai dengan kemampuan.

Alasan #2: Broker curang!

Ini alasan yang termasuk paling populer.

Mungkin saja alasan seperti ini muncul karena (terutama di masa lalu) banyak pialang (broker) yang memang melakukan kecurangan. Tetapi perlu Anda ketahui bahwa dewasa ini pengawasan terhadap pialang, khususnya di Indonesia yang dilakukan oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) semakin ketat. Bahkan audit berkala senantiasa dilakukan oleh Bappebti.

Lalu bagaimana dengan broker yang tidak teregulasi Bappebti tetapi beroperasi di Indonesia? Ehem… mohon maaf, saya tidak bisa berkomentar. 😉

Jadi pastikanlah bahwa Anda sudah melakukan transaksi bersama pialang yang legal dan bereputasi baik. Jika Anda sudah trading dengan trader legal dan bereputasi baik tetapi masih menggunakan alasan “broker curang” untuk menutupi ego Anda, mungkin Anda memang masih berada di level newbie.

Alasan #3: Trading memang tidak mungkin bisa profit

Ayolah. Ketika seseorang memulai trading, tidak mungkin tujuannya bukan untuk mencari keuntungan dan ia tentu mengambil keputusan tersebut setelah melihat ada orang lain yang berhasil mendapatkan profit.

Masalahnya adalah ketika seorang pemula memutuskan untuk trading (real), ia datang dengan harapan yang terlalu tinggi. Ia memulai trading dengan konsep yang keliru, dengan mindset bahwa forex trading bisa menghasilkan uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dalam kurang dari sebulan. Betul bahwa memang itu bisa terjadi, tetapi yang perlu juga disadari bahwa untuk mencapai hal tersebut seseorang membutuhkan waktu yang panjang, ilmu yang mumpuni, disiplin yang tinggi dan – tentu saja – modal yang memadai.

Seorang trader minimal harus mempelajari analisa fundamental, analisa teknikal, atau bahkan keduanya. Ia harus mempelajari beberapa sistem trading dan melakukan transaksi tanpa ragu dan konsisten, barulah kemudian ia bisa mengembangkan modal dan menerapkan manajemen resiko yang sebanding dengan modalnya.

Saya sendiri tentu sudah berhenti trading sepuluh tahun yang lalu jika saya tidak yakin bisa mendapatkan keuntungan dari trading. Demikian pula tim saya: tim Market Analyst FOREXimf.com yang hingga sejauh ini masih berhasil mengakumulasikan hasil transaksi yang cukup baik berdasarkan analisa yang kami buat. Hasil analisa itu selalu kami informasikan kepada semua nasabah FOREXimf.com secepat mungkin melalui ponsel mereka masing-masing.

Alasan #4: Tidak ada strategi trading yang bagus

Benarkah?

Alasan ini biasanya muncul dari orang yang sudah merasa mencoba sekian banyak strategi namun tetap gagal. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa semua strategi trading itu omong kosong.

Kalimat yang lebih tepat adalah “tidak ada strategi trading yang paling bagus”. Semua strategi bisa jadi bagus, bisa jadi buruk juga. Itu akan sangat tergantung pada banyak hal, di antaranya adalah kemampuan dan pengtahuan si trader itu sendiri. Belum lagi kesesuaian strategi tersebut dengan style si trader.

Saya ceritakan pengalaman saya ketika berlatih menembakkan senjata api untuk pertama kalinya. Pelatih meminjamkan pistol SIG Sauer P226 yang biasa ia pergunakan kepada saya, dan ia betul-betul menjelaskan bagaimana cara menembak yang baik dan benar. Ia mempraktekkan lebih dulu, lalu saya mengikuti.

Kami menggunakan pistol yang sama, berada di lokasi yang sama dan jarak sasaran yang sama pula. Hasil perkenaan tembakannya? Jauh berbeda. Jadi? Bukan pistolnya yang salah, sayalah yang tidak bisa memaksimalkan potensi pistol tersebut. It’s about the man behind the gun.

Dalam trading, Anda harus benar-benar menguasai strategi yang Anda pergunakan. Strategi itu juga harus cocok dengan gaya trading Anda. Kalau tidak, ya meleset.

Alasan #5: Forex trading itu terlalu rumit

Solusinya sederhana: pelajarilah dengan cara yang benar dan dari sumber yang kompeten. Jangan malu untuk bertanya. Contohnya, pelajari saja semua materi trading di laman EduSpot yang ada di situs kami ini. Anda bingung? Bertanyalah kepada kami. Kami tunggu.

Dua Fakta Tak Terelakkan Dalam Forex Trading

Ada dua fakta yang tak terelakkan dalam forex trading, namun sayangnya tidak banyak yang menyadari dua fakta ini. Padahal jika Anda benar-benar mengingat dua hal ini maka Anda akan memiliki kemampuan psikologis untuk menanggulangi kegalauan pasca loss.

Apa saja dua hal itu? Ini dia:

  1. Hal Tak Terduga Bisa Terjadi Kapan Saja

Ini fakta. Hadapi saja. Sebesar apa pun usaha Anda dalam melakukan analisa, secanggih apa pun teknik analisa yang Anda pergunakan, Anda tidak akan bisa benar-benar yakin serratus persen bahwa pasar akan bergerak persis seperti yang Anda inginkan. Akuilah.

Pasar selalu menemukan cara untuk mengejutkan Anda, dalam arti positif maupun negatif. OK, kita tidak akan membahas kejutan positifnya karena semua orang pasti akan bahagia jika mendapatkan kejutan yang positif dari pasar. Yang kita bicarakan adalah kejutan dalam bentuk pergerakan yang berlawanan dengan kehendak Anda, mungkin dilatarbelakangi oleh intervensi bank sentral, atau mungkin salah seorang gubernur bank sentral utama entah karena angin apa mengeluarkan pernyataan yang dovish. Siapa tahu?

Sebagai contoh, masih ingatkah Anda dengan kejadian di bulan Januari 2015, ketika Swiss National Bank memberi “kejutan” pada pasar dengan menghapus patokan kurs Swiss franc  terhadap euro? Belum lagi kalau kita membicarakan bencana alam, atau jika seandainya Korea Utara tiba-tiba meluncurkan rudal nuklir ke arah Amerika Serikat. Kim Jong Un tidak mungkin akan menggelar konferensi pers dulu sebelum menyerang musuhnya kan?

Hal-hal tak terduga seperti ini bisa menimbulkan gejolak pasar dan sangat-sangat kecil kemungkinannya Anda akan mengetahui hal itu akan terjadi meskipun Anda sangat detil dalam memperhatikan grafik, kalender ekonomi dan memantau berita setiap saat.

  1. Trading Adalah Bentuk Nyata Teori Peluang

Ada dua hal penting dalam “memainkan” teori peluang dalam forex trading :

Pertama, Anda harus “memastikan” bahwa posisi yang akan Anda ambil searah dengan trend yang sedang berlangsung.

Kedua, Anda harus menyadari bahwa tetap ada kemungkinan harga akan bergerak berlawanan dengan posisi yang Anda ambil, meskipun berdasarkan riset peluang bahwa posisi yang Anda ambil akan membuahkan profit – katakanlah – sebesar 70%. Artinya, ada 30% peluang bahwa posisi Anda akan berakhir dengan kerugian. Untuk itulah pembatasan resiko diperlukan.

Contoh kasusnya, katakanlah Anda melihat bahwa GBPUSD saat ini  bergerak di kisaran 1.00000. Anggaplah level tersebut – berdasarkan analisa – merupakan level support yang kuat sekaligus level support psikologis.

Anda sudah menyadari bahwa tidak mungkin Anda bisa 100% yakin GBPUSD akan mengalami rebound, tetapi pada saat yang sama Anda bisa memperkirakan bahwa peluang untuk rebound (bullish) saat itu lebih besar daripada peluang bearish karena level 1.00000 itu adalah strong support.

Dalam situasi seperti ini, tidak terlalu penting apakah Anda akan untung atau rugi, karena Anda sangat paham bahwa keputusan yang Anda ambil betul-betul berdasarkan kemungkinan.

Anda mungkin akan mengalami kerugian dan itu tidak akan menjadi masalah berarti bagi Anda, karena toh Anda sudah menyadari kemungkinan tersebut. Mungkin juga Anda akan mendapatkan keuntungan, yang tentu memang Anda harapkan.

Jadi, apa pun kondisi yang akan Anda dapati, tidak akan menjadi masalah yang terlalu berarti. Kalau untung, ya syukur. Kalau rugi, Anda akan move on dengan mudah.

Mengapa bisa move on dengan mudah?

Karena sejak awal Anda sudah membatasi resiko. Anda menempatkan stop loss dengan baik serta membatasi volume transaksi dengan menyesuaikan jumlah lot berdasarkan perhitungan position sizing. Anda sudah punya trading plan yang matang. Anda sudah siap untuk segala kemungkinan.

Jika Anda sudah siap untuk menerima segala kemungkinan, tidak akan ada hal yang bisa membuat Anda terlalu kecewa.

Jadi, jangan pernah lupakan tips yang kami bagikan ini agar Anda senantiasa bisa trading forex tanpa dihantui rasa kecewa yang terlalu dalam.