Posts

Brexit: 5 Hal Yang Harus Dibahas Dalam Negosiasi

Inggris dan Uni Eropa resmi memulai perundingan perceraian di hari Senin, 19 Juni 2017. Negosiasi perdana tentang Brexit dilakukan di tanggal tersebut. Ada banyak hal yang harus dibicarakan oleh kedua pihak – Inggris dan Uni Eropa – dalam waktu kurang dari dua tahun, tetapi lima hal terpenting di antaranya adalah berikut ini:

  1. Perdagangan

Inggris akan menjadi negara pertama yang keluar dari Uni Eropa. Ketika masih menjadi anggota Uni Eropa, Inggris bisa menikmati perdagangan bebas dengan semua negara anggota Uni Eropa yang merupakan 44% pasar ekspornya. Pasar bebas Uni Eropa juga merupakan tempat di mana Inggris membeli 53% kebutuhan impornya.

Perceraian dengan Uni Eropa berarti Inggris tak akan lagi bisa menikmati akses bebas ke pasar tunggal tersebut.

Ada kemungkinan Inggris akan tetap bisa memperoleh akses ke pasar Uni Eropa namun dengan persyaratan tertentu: mereka harus membayar untuk itu. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan kesepakatan di area lain. Bisa jadi juga adalah menegosiasikan kesepakatan dagang baru.

Perdana Menteri Theresa May menginginkan untuk memulai perundingan dari masalah hubungan dagang ini, namun struktur negosiasi yang dilakukan di hari Senin ternyata membutuhkan pembahasan di masalah lain dulu.

Jika tidak tercapai kesepakatan hingga Maret 2019, tak pelak Inggris akan berurusan dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk perdagangan.

  1. Imigrasi

Theresa May berkomitmen untuk mengurangi jumlah imigran Eropa yang datang ke Inggris. Tetapi hal tersebut tampaknya bisa membatasi keleluasaannya dalam melakukan perundingan. Uni Eropa membutuhkan akses dari negara-negara anggotanya untuk menjalankan perdagangan bebas dan itu berarti juga adalah kebebasan dalam hal lalu lintas manusia.

Ada masalah lain yang berpotensi muncul dari komitmen May tersebut, mengingat ada beberapa sektor kunci perekonomian Inggris bergantung pada pekerja migran.

Sementara itu, tingkat pengangguran Inggris saat ini menyentuh level terendah dalam 40 tahun. Padahal banyak perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, teknologi dan konstruksi saat ini sedang kekurangan pekerja. Salah satu cara memenuhi kebutuhan itu adalah membuka kran bagi pekerja migran.

  1. Biaya Perceraian

Uni Eropa berharap Inggris akan menghormati komitmen sebagai anggota dengan membayar “tagihan terakhir”.

Negara-negara anggota Uni Eropa membayar iuran yang akan dipergunakan untuk proyek infrastruktur, kegiatan sosial, penelitian ilmiah, subsidi pertanian dan dana pensiun bagi para mantan birokrat Uni Eropa. Dana untuk hal-hal tersebut dirundingkan untuk menutup kebutuhan dalam satu periode, sementara kesepakatan yang sedang berjalan akan berlaku hingga tahun 2020.

Uni Eropa belum menetapkan angka resmi, namun ada perkiraan bisa mencapai 100 milyar euro atau sekitar 112 milyar dolar.

  1. Hak-Hak Warga Negara

Kedua belah pihak – Inggris dan Uni Eropa – menginginkan agar tetap bisa melindungi hak-hak jutaan warga yang tinggal di Inggris atau Eropa.

Angkanya ternyata cukup besar. Tidak kurang dari 3 juta warga negara yang berasal dari negara anggota Uni Eropa tinggal di Inggris, sementara ada 1,2 juta warga negara Inggris tinggal di berbagai negara Uni Eropa.

Uni Eropa juga menginginkan agar ada jaminan akses seumur hidup untuk pensiun dan jaminan kesehatan.

  1. Perbatasan Dengan Irlandia

Perbatasan Irlandia akan menjadi poin yang dibahas di awal-awal perundingan.

Kedua pihak menginginkan agar tidak ada “batas keras” di antara Republik Irlandia (yang masih akan tetap menjadi anggota Uni Eropa pasca Brexit), dan Irlandia Utara (yang merupakan wilayah Inggris).

Warga Irlandia saat ini masih menikmati keleluasaan untuk melintasi perbatasan antara kedua wilayah (Republik Irlandia dan Irlandia Utara). Mereka juga masih bebas melakukan bisnis dan memanfaatkan fasilitas yang ada di kedua wilayah.

Keleluasaan untuk melintasi perbatasan ini merupakan poin kunci dari Good Friday Agreement di tahun 1998 yang berhasil membawa perdamaian ke Irlandia Utara setelah terjadinya konflik selama satu dasawarsa.

Brexit Atau Bremain: Bagaimana Strategi Tradingnya?

Besok, 23 Juni 2016, rakyat Inggris akan memberikan suara mereka untuk menentukan nasib keanggotaan Inggris dalam Uni Eropa. Hingga saat ini, hasil polling memperlihatkan persaingan yang ketat di antara pemilih yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) dan kubu yang menginginkan Inggris tetap berada dalam keanggotaan Uni Eropa. Pilihan yang ke-2 ini belakangan disebut “Bremain”, akronim dari “British Remains”.

Sebenarnya bagi trader forex, yang lebih penting adalah strategi trading apa yang bisa dipergunakan pasca referendum ini. Untuk itu, kali ini kami akan mengulas beberapa strategi yang bisa Anda pertimbangkan.

SKENARIO 1: JIKA TERJADI BREXIT

Apakah GBP akan terpukul jika Inggris keluar dari Uni Eropa?

Ada beberapa poin penting mengenai hal ini:

  • Bank of England (BoE) mungkin akan bersikap dovish, dan ini akan memberikan tekanan atas GBP
  • Kemungkinan akan ada langkah untuk melemahkan GBP dengan tujuan meningkatkan ekspor untuk melindungi perekonomian Inggris
  • GBP/USD dan GBP/JPY kemungkinan akan menjadi pair yang paling atraktif

Jika terjadi Brexit, Anda harus berhati-hati memilih currency pair yang akan Anda transaksikan. Bahkan untuk mentransaksikan pair yang melibatkan GBP pun Anda harus melakukan evaluasi tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing mata uang.

Berikut ini ada beberapa skenario pair yang mungkin bisa memberikan peluang yang cukup bagus jika terjadi Brexit.

GBP/JPY: Berpotensi Bearish

Untuk kebanyakan trader, GBP dianggap mata uang beresiko sementara JPY adalah safe-haven. Maka kemungkinan reaksi yang akan dialami GBP jika terjadi Brexit cukup jelas: sentiment risk-off diperkirakan akan naik sehingga JPY cenderung akan menguat terhadap GBP.

Yen mungkin juga akan menambah tekanan terhadap GBP/JPY karena mata uang tersebut selama ini bertindak sebagai safe-haven. Ketidakpastian pasar kemungkinan besar akan membuat pelaku pasar “lari” ke yen.

Dengan demikian, jika terjadi Brexit, GBP/JPY kemungkinan besar akan bergerak turun.

GBP/USD: Berpotensi Bearish

Poundsterling akan terkena dampak karena alasan yang sama seperti di atas. Sementara, USD telah mengalami rally karena ada potensi Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali di tahun ini, dengan kemungkinan kenaikan pertama akan dilakukan di bulan Juli.

Jika Brexit terjadi, GBP/USD kemungkinan akan bergerak turun.

SKENARIO 2: JIKA INGGRIS TETAP DI UNI EROPA

Ada beberapa poin penting juga terkait hal ini:

  • Jika kubu “Bremain” yang menang, maka otomatis ketidakpastian “Brexit” akan hilang.
  • Dalam beberapa bulan sebelum Brexit, poundsterling tertekan, kendati menguat di saat-saat akhir pasca terbunuhnya Jo Cox, anggota parlemen Inggris yang pro-Uni Eropa.
  • Ada peluang pulihnya poundsterling. Hasil yang mirip terlihat pasca referendum Skotlandia.
  • Selain GBP/USD, GBP/AUD juga diperkirakan akan cukup atraktif.

Untuk GBP/USD, potensi pergerakan yang akan terjadi kemungkinan besar adalah bullish/naik, yang merupakan kebalikan dari skenario Brexit. Akan tetapi, ingat bahwa Federal Reserve berpeluang untuk menaikkan suku bunga di bulan Juli mendatang, sehingga ada kemungkinan pergerakan bullish GBP/USD ini tidak akan terlalu panjang.

Sementara untuk GBP/AUD, diperkirakan berpotensi bullish/naik. Pair ini merupakan yang paling banyak ditransaksikan di pasar ketika isu Brexit merebak. Hilangnya ketidakpastian akan Brexit berpotensi menguntungkan poundsterling, apalagi AUD selama ini terbukti merupakan mata uang yang terbaik untuk dijual dengan GBP. Dengan dipangkasnya suku bunga Australia oleh Reserve Bank of Australia baru-baru ini, AUD terbukti bearish dalam setidaknya enam pekan terakhir ini.

Terlebih, Australia merupakan mitra dagang China yang sedang mengalami pelambatan ekonomi. Hal tersebut, untuk jangka waktu menengah, kemungkinan akan membebani Aussie.

Meskipun demikian, pasar tetaplah yang menjadi penentu bagaimana efek referendum tersebut terhadap pergerakan harga. Pasar bisa jadi tidak setuju dengan analisa kita. Dengan kata lain, tetaplah bersiap akan segala kemungkinan. Pergunakan manajemen modal dan manajemen resiko dengan baik dan sesuaikan dengan kekuatan modal Anda.