Official Blog FOREXimf.com

Posts

Voting Draft Brexit : Bencana Atau Berkah?

Minggu ini pelaku pasar akan fokus ke voting anggota parlemen Inggris terhadap draft Brexit yang disusun PM May, Voting dijadwalkan akan berlangsung hari selasa dimana pemerintah diperkirakan akan kehilangan suara dengan selisih yang sangat besar, kekacauan Brexit akan terus berlanjut. Kekalahan PM May akan membuka berbagai pilihan mulai dari mendesak pengunduran diri PM May hingga Pemilu, hal ini membuat Sterling akan cenderung tertekan.

Namun demikian spekulasi penundaan Brexit pecah pada hari Jumat minggu kemarin dengan Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz menunjukkan penundaan tanggal Brexit menjadi satu-satunya pilihan jika tidak ada kemajuan kesepakatan Brexit minggu depan di Inggris, selain itu menurut laporan The Guardian, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk juga sedang bersiap untuk menawarkan perpanjangan Brexit ke Inggris hingga setidaknya Juli, sambil menunggu permintaan resmi untuk penundaan. Jika hal ini terjadi sedikit banyak bisa membawa angin segar bagi Pound yang mendapatkan tekanan sebelumnya

Berikut Jadwal Brexit jangka pendek:

  • Senin : Hari keempat debat anggota parlemen soal draft brexit

  • Selasa 15 Januari : Hari kelima debat diikuti oleh “pemungutan suara” pada kesepakatan draft yang disusun PM May sebelumnya. Jika draft kesepakatan ditolak Theresa May akan mendapatkan tiga hari kerja untuk datang dengan “rencana B”.

  • Rabu 16 Januari : PM May kemungkinan akan menuju ke Brussels untuk mencoba mendapatkan konsesi lebih lanjut dari UE

  • Senin 21 Januari : Pemungutan Suara yang Diharapkan pada “Rencana B”.

  • Inggris akan meninggalkan UE pada hari Jumat 29 Maret kecuali anggota parlemen memilih untuk menunda atau membatalkan Brexit.

Beberapa kemungkinan yang terjadi terkait voting brexit :

  1. Jika Voting hasilnya mayoritas menyetujui draft brexit maka Inggris akan keluar dari Uni Eropa secara resmi tanggal 29 maret dengan mulus atau istilahnya “Soft Brexit” dan hal ini bisa mensupport poundsterling

  2. Jika Voting hasilnya mayoritas menolak draft brexit maka 3 hal yang bisa terjadi :

  • PM May diberi kesempatan untuk “Plan B” dan akan kembali bertemu dengan Uni Eropa untuk membahas plan B tersebut

  • Gerakan politik yang akan mendesak PM May untuk mengadakan Pemilu atau mengadakan referendum kedua

  • Exit without deal, atau Inggris tetap keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan, hal ini bisa menimbulkan masalah besar bagi Inggris

Secara Teknikal


Pergerakan GBP/USD secara garis besar masih berada dalam kondisi bearish seiring dengan harga masih berada di bawah trendline turun pada grafik harian. Secara teknikal jika harga masih terus berada di bawah area trendline dan di temukan adanya konfirmasi sinyal jual di area sekitar trendline, hal tersebut membuka kemungkinan pound kembali jatuh turun ke kisaran 1.27154 – 1.24323. Waspadai jika ternyata trendline pecah dengan menembus resistance 1.29986, karena hal tersebut dapat membuka kemungkinan harga bergerak naik ke kisaran 1.31735 – 1.33484.

Action About Brexit :

1. Jika trader yang tidak menyukai trading berita, dan menghindari berita – berita besar, Anda bisa Wait n See terlebih dahulu hingga kondisi pasar kembali stabil khususnya untuk trader yang trading pair GBP karena di perkirakan dalam beberapa hari ke depan volatilitas pasar akan meninggi.

2. Volatilitas harga menjelang voting Brexit yang dijadwalkan berlangsung pada 15 sd. 17 Januari 2019 diperkirakan meninggi. Untuk para trader yang masih memiliki posisi terbuka, disarankan memiliki ketahanan dana yang cukup seiring dengan adanya penyesuaian margin requirement untuk pair GBPAUD, GBPCHF,GBPJPY & GBPUSD menjadi US $ 1500 / Lot

3. Jika trader adalah seorang risk taking :

– Jika brexit di sepakati, kemungkinan besar mata uang pound ( GBPUSD ) akan menguat dengan target pertamanya adalah area trendline turun di kisaran 1500 pips dan jika trendline pecah harga bs terbang lebih jauh ke kisaran 1.31735 (3000 pips )

– Jika brexit gagal mencapai kesepakatan, kemungkinan besar mata uang pound akan melemah dengan target 1.27154 – 1.24323 (1000 – 4000 pips )

Profit Konsisten Dengan 5 Tips Sederhana

Saya yakin sebagai trader Anda pasti ingin bisa menghasilkan profit secara konsisten. Maka penting bagi Anda untuk mengevaluasi metode dan strategi trading forex secara rutin.

Percayalah, selalu ada metode atau strategi baru yang bisa Anda temukan dan bisa dipadukan dengan strategi trading yang sekarang Anda miliki. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi sebaiknya jika metode dan strategi yang Anda pergunakan saat ini sudah bisa menghasilkan keuntungan dengan baik, hal-hal baru yang Anda temukan cukup Anda tambahkan sebagai modifikasi tanpa mengubah “struktur asli” strategi Anda.

Misalnya, Anda sudah cukup nyaman mempergunakan metode Fibonacci dan stochastic, lalu suatu saat Anda menemukan metode baru yang bisa memperbesar potensi keuntungan jika dikombinasikan dengan metode Fibo dan stochastic Anda. Silakan padukan, tetapi tetaplah mempergunakan Fibo dan stochastic sebagai metode utama dalam pengambilan keputusan.

Juga penting untuk memiliki aturan/rule yang presisi dan tegas untuk mengantisipasi jika pasar tidak bergerak sesuai dengan perkiraan Anda.

Untuk itu, saya ingin berbagi lima tips sederhana. Sederhana saja, tidak perlu terlalu rumit.

  1. Belajarlah untuk membatasi kerugian

    Sebenarnya rahasia trading sukses itu tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan profit, tetapi juga kemampuan menghindari kerugian. Oke, mungkin kita tidak 100% bisa terhindar dari kerugian, tetapi setidaknya bisa kita batasi.

    Kemampuan membatasi kerugian itu dengan sendirinya akan membantu Anda untuk memperbesar keuntungan.

    Untuk membatasi kerugian, para trader pada umumnya akan mempergunakan strategi tertentu. Yang paling mudah di antaranya adalah stop loss.

    Trailing stop juga dapat dipergunakan untuk menjaga agar keuntungan yang sudah diperoleh dari sebuah posisi terbuka dapat dijaga agar tak berubah menjadi kerugian.

  1. Ketahui batasan resiko sebelum membuka posisi

    Untuk bisa menempatkan stop loss dengan pas, Anda juga perlu mengetahui seberapa besar toleransi resiko Anda. Seberapa besar kerugian yang mampu Anda terima, secara finansial maupun secara psikis?

    Masing-masing trader memiliki besaran yang berbeda-beda. Itulah pertanyaan “berapa pips SL-nya?” sebaiknya diikuti dengan perrtanyaan “berapa dolar kerugian yang mampu saya terima?”

    Ini juga akan berpengaruh pada besaran lot yang boleh Anda pakai. Semakin besar SL-nya, seharusnya lot-nya akan semakin kecil, demikian sebaliknya. Hal tentang ini bisa Anda baca lebih detil dalam tulisan saya tentang position sizing.

    Toleransi resiko ini sebaiknya sudah Anda “pegang erat-erat” dalam trading plan yang sudah Anda susun sebelumnya.

    Penting juga menetapkan batasan kerugian maksimal setiap bulannya. Ketika kerugian sudah mencapai batasan itu, sebaiknya berhentilah dahulu. Lakukan evaluasi, perbaiki mana yang perlu diperbaiki, baru lanjutkan.

    Kalau kemudian Anda berhasil mengumpulkan keuntungan, silakan tarik keuntungan itu dan bersenang-senanglah. Tetapi ada baiknya sisihkan sebagian keuntungan itu dan masukkan ke dalam akun trading “cadangan”. Dengan demikian sedikit demi sedikit Anda akan memperbesar modal Anda.

  1. Kuasai metode dan strategi yang Anda pergunakan

    Tidak mungkin Anda bisa mengambil keputusan dengan baik jika bahkan Anda sendiri tak memahami metode dan strategi yang Anda pergunakan. Trader yang baik adalah trader yang sangat memahami metode dan strategi yang ia pergunakan: apa kelebihan dan kelemahannya.

    Hindari menggunakan metode dan strategi yang terlalu kompleks dan rumit. Ingat, Anda ini trader. Anda tak perlu terlihat seperti Albert Einstein, yang bahkan konon pernah berkata, “Everything should be made as simple as it can be.”

    Metode dan strategi yang Anda pergunakan juga sebaiknya cocok dengan gaya trading Anda dan, yang paling penting, cocok dengan kekuatan modal Anda. Jika sebuah strategi menuntut toleransi resiko yang lebih besar daripada toleransi resiko (modal) Anda, sebaiknya jangan dipergunakan.

  1. Bersabarlah

    Membuka dan menutup posisi dalam trading membutuhkan analisa terbaik dari Anda. Jangan terburu-buru membuka posisi hanya karena takut kehilangan peluang, atau terburu-buru menutup posisi hanya karena khawatir profit berubah menjadi loss.

    Timing adalah krusial dalam trading, maka pastikan Anda memilih waktu yang tepat untuk melakukan eksekusi. Untuk bisa menentukan timing yang tepat, tidak bisa tidak, Anda harus melakukan analisa seobyektif mungkin.

  1. Never give up and stick to the plan!

    Banyak trader yang menyerah karena mengalami kerugian beruntun. Banyak trader yang gagal karena kerugian beruntun itu jadi menggunung. Hampir semua trader yang mengalami hal itu tidak menyadari bahwa kerugian yang menggunung adalah buah dari mengabaikan poin 1 sampai 4 di atas.

    Jadi, sangat penting bagi Anda untuk menguasai poin 1 sampai 4 di atas. Jangan hanya poinnya, pahamilah penjelasannya juga. Jangan hanya dipahami, praktekkanlah.

5 tips di atas memang sangat sederhana, tetapi sekali Anda mampu konsekuen menjalankannya, hasilnya tidak sederhana. Pertanyaannya, siapkah Anda menjalankannya? Anda sendiri yang menentukan.


Jika Anda merasa artikel kami berguna, silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

 

Perlukah Kita Meramal Pergerakan Pasar Forex?

Saya cukup sering menemui trader yang (merasa) sudah cukup berpengalaman dalam trading forex dan (merasa) bisa meramal pergerakan harga pasar selanjutnya. 100% akurat. Setidaknya itu menurutnya.

Yah, memang jika Anda sudah memiliki “jam trading” yang sudah cukup panjang, katakanlah: 20.000 jam trading, ada kecenderungan Anda akan merasa sudah benar-benar memahami pasar hingga ke inti-intinya.

Izinkan saya menyampaikan bahwa perasaan seperti itu, setidaknya dari pengalaman saya, seringkali justru menimbulkan malapetaka. Hati-hati, jangan sampai Anda dihinggapi “sindrom dewa trading”.

OK, saya mengakui bahwa istilah barusan memang hanya rekaan saya. Bahkan baru terpikir ketika saya menulis artikel ini. Yang saya maksud dengan “sindrom dewa trading” adalah ketika seorang trader merasa, bahkan meyakini, bahwa ia tidak akan mungkin salah memprediksi pergerakan pasar. Ia yakin bahwa ia pasti akan selalu benar. Ia tidak akan mengakui bahwa ia salah melakukan prediksi. Ia akan sebisa mungkin menyalahkan semua hal, kecuali dirinya.

Sebenarnya ini adalah dampak dari terlalu tingginya tingkat kepercayaan diri si trader. Bahasa kerennya: overconfident. Percaya diri itu harus, tetapi terlalu percaya diri, wah, bahaya!

Pada kenyataannya, tidak ada – ulangi: tidak ada – satu pun orang di luar sana, bisa memprediksi pergerakan harga 100% akurat. Selalu ada waktu ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan keinginan Anda.

Tapi jangan salah sangka. “Sindrom dewa trader” ini tidak bisa disematkan kepada orang yang terus menerus memperbaiki kemampuan analisanya melalui latihan dan latihan dengan tujuan untuk semakin mengenali perilaku pasar. Itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Orang yang senantiasa memperbaiki kemampuannya harus senantiasa sadar poin penting dari analisa, yaitu analisa bisa saja meleset. Dengan demikian, meningkatkan kemampuan mengantisipasi resiko dan mengatur modal merupakan bagian penting dari proses belajar dan berlatih itu.  Tujuan yang ingin diraih dari proses peningkatan kemampuan ini adalah kemampuan menerima kerugian bila terjadi, mengakui kesalahan, mengevaluasi strategi trading dan membuat perbaikan yang dianggap perlu.

Ini benar-benar berbeda dengan sikap pengidap “sindrom dewa trader” yang saya sebutkan tadi. Sang “dewa trader” tidak akan pernah melakukan evaluasi karena ia selalu beranggapan, “Gue nggak salah!”

Bagaimana menghindarinya?

Daripada meramal pasar, mari mulai belajar untuk menentukan “bias”, yang bisa kita artikan sebagai “kecenderungan”. Di mana bedanya?

Yang saya maksud dengan “meramal pasar” adalah ketika kita membuat prediksi yang hasilnya dianggap pasti akan terjadi. Contohnya, “Sell GBPUSD sekarang, TP di 1.xxxxx.” Selesai. Tidak ada antisipasi jika seandainya GBPUSD justru naik. Ya, karena si “dewa trader” merasa tidak mungkin prediksinya salah.

Sementara itu “bias” bersifat lebih fleksibel karena terbuka pada kemungkinan perubahan arah pasar.

Contohnya adalah seperti yang biasa Anda dapatkan dalam analisa harian kami, di mana kami selalu menyertakan antisipasi jika seandainya pasar bergerak berlawanan dengan bias yang kami lihat. Jika kami melihat bias untuk GBPUSD hari ini adalah bearish, misalnya, kami selalu menyertakan “exit strategy” jika seandainya GBPUSD justru bergerak naik. Dengan demikian, trader yang mempergunakan analisa berbasis bias akan selalu siap dengan teknik manajemen resiko seandainya pasar bergerak berlawanan dengan analisa yang dibuat.

Ingatlah selalu bahwa pasar memiliki kehendaknya sendiri dan kita tidak bisa mengaturnya. Kita harus mulai belajar untuk membuka dan menutup transaksi berdasarkan apa yang kita lihat, bukan berdasarkan apa yang kita pikir akan terjadi. Itulah yang membedakan analis dengan peramal.

Jadi, mulailah menganalisa. Hentikan kebiasaan “meramal”.

 


Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang analisa kami di kolom komentar.

Intermarket Analysis Untuk Trading Forex? Apa Itu?

Mungkin istilah “intermarket analysis” cukup asing di telinga Anda. Oke, maafkan saya. Untuk menebus kesalahan tersebut, saya berjanji setelah selesai membaca artikel ini Anda justru akan bahagia karena saya mengangkat topik ini untuk dimanfaatkan dalam trading forex.

Orang-orang yang sudah mengenal saya tentu paham bahwa saya tidak menyukai kerumitan. Maka kali ini pun saya akan mencoba membedah istilah “intermarket analysis yang terdengar sangat ilmiah itu dengan cara saya: cara yang sederhana.

Apa sih “intermarket analysis” itu?

Intinya, intermarket analysis adalah cara kita memahami pasar dengan memperhatikan dan membandingkan lebih dari satu komoditi perdagangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui penguatan atau pelemahan komoditi yang akan kita transaksikan. Karena kita trading forex, berarti nanti yang akan kita bandingkan adalah currency pairs. Agar mudah mengetiknya, selanjutnya kita sebut “pairsaja, ya?

Jika kebanyakan metode analisa hanya melihat satu pair saja, maka intermarket analysis melihat beberapa pair atau komoditi yang memiliki korelasi yang kuat.

Contoh paling mudah adalah seperti yang saya jelaskan di artikel Tips Trading Forex Memanfaatkan Indeks Dolar. Di artikel itu, saya membandingkan indeks dolar (DXY) dengan pair EURUSD. Perubahan yang terjadi pada indeks dolar atau yang memiliki korelasi yang kuat dengan EURUSD akan berdampak pada EURUSD, demikian juga sebaliknya.

Intermarket analysis sebenarnya juga bisa dikategorikan sebagai analisa fundamental. Metode ini bisa membantu kita untuk memperoleh gambaran perkiraan arah pergerakan harga. Begitupun, ada beberapa metode intermarket analysis, termasuk model yang mempergunakan metode mechanical trading system.

Ups, saya sudah berjanji tidak akan membuat rumit. Jadi, informasi yang Anda peroleh di paragraf di atas cukup Anda ketahui sebagai tambahan wawasan saja.

Korelasi intermarket analysis

Di atas disebut-sebut tentang “korelasi”. Apa sih itu?

Gampangnya, kita sebut saja “korelasi” itu adalah “hubungan”. Dalam analisa teknikal, “hubungan” itu diimplentasikan dengan “indeks korelasi” yang nilainya berkisar dari +1 hingga -1. Semakin positif indeks korelasi antara dua pair, maka keduanya cenderung akan bergerak ke arah yang sama. Artinya, jika harga sebuah pair atau komoditi bergerak naik, maka pair atau komoditi lain yang memiliki indeks korelasi positif dengannya cenderung akan bergerak naik juga.

Sebaliknya, semakin negatif indeks korelasi antara dua pair atau komoditi, maka keduanya cenderung akan bergerak ke arah yang berlawanan.

Bagaimana jika indeks korelasinya di kisaran nol? Itu artinya tidak ada korelasi yang signifikan antara kedua pair atau komoditi tersebut.

Sebenarnya, indeks korelasi yang sempurna antara dua pair atau komoditi tertentu jarang terjadi.

Sebentar, yang seperti apa itu “indeks korelasi sempurna”?

Indeks korelasi sempurna itu adalah jika indeks korelasinya adalah +1 atau -1. Ini jarang ada. Tetapi, kebanyakan analis sepakat bahwa indeks korelasi di atas +0.7 atau di bawah -0.7 dianggap signifikan.

Oh iya, hampir lupa. Jika indeks korelasinya berubah dari negatif menjadi positif atau sebaliknya, biasanya hubungan antara keduanya akan menjadi tidak stabil dan biasanya tidak terlalu berguna untuk dipakai sebagai referensi trading.

Cara praktisnya ada?

Tentu saja ada! Seperti yang saya janjikan, saya tidak suka yang rumit-rumit. Untuk itu, demi memenuhi janji, berikut ini ada contekan yang bisa Anda manfaatkan dengan berpatokan pada metode intermarket analysis. Enjoy!

JIKA: MAKA: KOK BISA?
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Jika perekonomian mengalami gejolak, para pelaku pasar cenderung akan menukar USD dengan emas. Tidak seperti aset lain, emas tetap bisa mempertahankan nilai intrinsiknya.
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Australia merupakan produsen emas terbesar ke tiga di dunia. Produksinya mencapai sekitar $5 milyar per tahun.
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading New Zealand juga merupakan produsen emas yang cukup besar di dunia (rangking 25 dunia).
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Lebih dari 25% cadangan devisa Swiss adalah emas. Jika harga emas naik, maka USD/CHF akan turun (CHF menguat).
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Kanada merupakan produsen emas terbesar ke-5 di dunia. Jika harga emas naik, USD/CAD cenderung turun (CAD menguat).
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Kanada merupakan produsen minyak top dunia. Ekspornya mencapai sekitar 2 juta barel per hari dan diekspor ke AS.
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Emas dan euro dianggap komoditi “anti-dollar”. Jika harga emas naik, EUR/USD cenderung akan ikut naik.
 Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading  Intermarket Analysis, Trading Forex, forex trading Para pelaku pasar menganggap yen sebagai aset safe-haven dan cenderung akan berburu yen jika terjadi gejolak ekonomi.

Tips Trading Forex Memanfaatkan Indeks Dolar

Di artikel sebelumnya, saya sudah membahas mengenai apa itu indeks dollar. Kalau Anda sudah baca artikelnya, mudah-mudahan Anda masih ingat simbolnya. Apa, hayo? Ya. Simbolnya biasanya USDX, DX, atau DXY.

Nah, setelah membaca artikel tersebut, mungkin Anda jadi bertanya-tanya, “OK, saya sudah tahu apa itu indeks dolar, lalu untuk apa?”

Kata orang, janji adalah hutang. Di artikel sebelumnya, saya berjanji akan membahas bagaimana cara memanfaatkan indeks dolar dalam trading forex. Maka di artikel ini saya akan melunasi hutang itu.

Anda pasti tahu kan, bahwa sangat banyak currency pair yang ditransaksikan dengan melibatkan USD. Yang terkenal di antaranya adalah EURUSD, GBPUSD, USDJPY, USDCHF, USDCAD, NZDUSD, AUDUSD.

Artinya jika kita mentransaksikan currency pairs tersebut, indeks dolar bisa kita manfaatkan untuk melengkapi analisa kita. Indeks dolar bisa memberikan perspektif lain tentang kondisi USD, apakah dia menguat atau cenderung melemah terhadap mata uang dunia. Dalam dunia forex, pergerakan indeks dolar bisa kita pergunakan sebagai “indikator kekuatan” USD.

EURUSD vs DXY

Ada yang menarik dan tidak banyak yang mengetahui hal ini: pergerakan EURUSD dan indeks dolar (selanjutnya kita sebut DXY) itu secara umum berlawanan arah.

Eh, kok bisa begitu?

Karena, seperti yang telah kita bahas di artikel sebelumnya, lebih dari 50% dari komposisi DXY itu adalah euro! Tepatnya 57,60%.

Coba lihat perbandingan grafik berikut ini:

indeks dolar, trading forex, forex trading

Grafik di sebelah atas adalah pergerakan DXY, sementara grafik yang ada di sebelah bawah adalah pergerakan EURUSD. Pergerakan yang terekam adalah sejak 26 Oktober 2018 hingga 5 November 2018, dalam timeframe H1.

Perhatikan garis merah yang saya gambar. Tiap kali DXY naik, EURUSD turun dan sebaliknya. Seakan-akan dua gambar itu seperti bayangan dalam cermin.

Fakta ini bisa kita manfaatkan ketika kita akan trading EURUSD. Bahkan ada trader yang memanfaatkan DXY sebagai indikator teknikal untuk EURUSD.

Jika DXY bergerak dengan signifikan, hampir bisa kita pastikan bahwa para pelaku pasar akan bereaksi pada pergerakan tersebut. Bahkan sebenarnya, baik DXY maupun para pelaku pasar saling bereaksi satu sama lain. Misalnya, jika terjadi penembusan (breakout) yang signifikan atas sebuah major currency pair (misalnya EURUSD dan/atau GBPUSD), maka biasanya DXY juga akan bergerak signifikan.

Intinya, para pelaku pasar menganggap DXY merupakan indikator kunci bagi arah USD terhadap mata uang utama dunia.

“OK, Pak Eko. Jadi cara tradingnya bagaimana?”

Sabar dong. Saya baru mau membahas hal itu.

Jadi, karena EURUSD dan DXY itu ibarat saudara kembar tetapi beda tabiat, maka ketika kita akan mentransaksikan EURUSD, ada baiknya pantau juga kondisi DXY.

Katakanlah kita melihat ada sinyal sell di EURUSD, maka coba intip juga DXY. Jika pada saat yang sama muncul sinyal bullish di DXY, maka kekuatan sinyal sell di EURUSD itu akan bertambah kuat. Dengan kata lain, sinyal sell tersebut; yang mungkin biasanya akurasinya hanya 70%; bisa meningkat menjadi 80%.

DXY vs Major Currency Pairs, Bagaimana?

Nah, sekarang bagaimana dengan mata uang lain?

Sama saja dengan trik pada EURUSD di atas, hanya saja mungkin tidak sesignifikan pada EURUSD.

Tetapi setidaknya bisa kita manfaatkan juga, mengingat DXY adalah indikator bagi kekuatan USD secara umum.

Yang perlu kita ingat adalah di mana posisi USD pada currency pair yang akan kita transaksikan? Apakah ia sebagai base currency, atau counter currency?

Eh, sebentar, Anda tahu kan apa itu base dan counter currency?

Dalam currency pair (pasangan mata uang), base currency itu adalah mata uang yang ditulis di sebelah kiri. Sebagian orang menyebutnya first currency.

Sebaliknya counter currency ditulis di sebelah kanan. Ada juga yang menyebutnya second currency atau quote currency.

Jadi, misalnya kita mentransaksikan USDCHF, maka USD bertindak sebagai base currency dan CHF adalah counter currency. Pada EURUSD, misalnya, adalah kebalikannya.

Jadi, jika kita mentransaksikan pair yang USD-nya sebagai base currency (seperti USDCHF, USDJPY, atau USDCAD), kenaikan DXY kemungkinan besar juga diikuti oleh kenaikan pair tersebut.

Gampangnya, begini:

  • Jika USD adalah base currency (USD/XXX), maka arah pair tersebut cenderung searah dengan DXY.
  • Jika USD adalah counter currency (XXX/USD), maka arah pair tersebut cenderung berlawanan arah dengan DXY.

Nah, dengan ini “hutang” saya dianggap lunas, ya?

Oh, menurut Anda belum? Kalau masih ada yang ingin Anda tanyakan, silakan hubungi saya melalui Live Chat yang tersedia di website kami ini.

Salam.

Mengenal Indeks Dollar Dalam Forex Trading

Selama ini Anda mungkin akrab dengan istilah indeks saham, atau yang sering disebut dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Di luar negeri, Anda mungkin juga sering mendengar indeks-indeks saham lain semisal HangSeng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Dow Jones Industrial Average (DJIA/Amerika Serikat) dan lain-lain. Semua itu terkait dengan perdagangan saham. Nah, bagaimana di trading forex, apakah ada indeks juga?

Ada. Indeks yang paling terkenal adalah indeks dolar (dollar index), yang mengukur pergerakan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap beberapa mata uang dunia. Simbolnya biasanya USDX, DX, atau DXY.

Indeks dolar ini muncul dari perhitungan tertentu terhadap beberapa mata uang dunia (basket of foreign currencies) terhadap USD.

OK, kita tidak akan berlama-lama berkutat di soal definisi ini. Kita bedah saja, apa sih sebenarnya indeks dolar ini?

Currency Basket

Indeks dolar terbentuk dari perhitungan yang melibatkan enam mata uang dunia, yaitu:

  • Euro (EUR)
  • Yen (JPY)
  • Poundsterling (GBP)
  • Canadian dollar (CAD)
  • Krona (SEK)
  • Swiss Franc (CHF)

Pertanyaannya, “Jika perhitungan indeks dolar hanya melibatkan enam mata uang, berapa banyak negara yang terlibat?”

Menurut Anda berapa? Enam? Salah.

Yang benar adalah: 24 (dua puluh empat).

Lho, kok 24?

Lha, iya, karena memang ada 24 negara yang terlibat. Sembilan belas di antaranya adalah negara yang merupakan anggota Uni Eropa yang mempergunakan euro sebagai mata uangnya. Ditambah dengan lima negara lain yaitu Jepang, Inggris, Kanada, Swedia dan Swiss. Jadi 19 + 5 = 24.

Memang 24 negara ini hanyalah sebagian kecil dari total negara yang ada di muka bumi ini, tetapi banyak mata uang lain yang juga mengikuti pergerakan indeks dolar ini. Itulah yang menyebabkan indeks dolar (selanjutnya kita sebut DXY saja ya) bisa menjadi indikator yang cukup baik untuk mengukur kekuatan USD secara umum.

Komposisi DXY

Nah, sekarang Anda sudah tahu bahwa indeks dolar terbentuk dari enam mata uang yang melibatkan 24 negara. Sekarang, yuk kita lihat komposisinya:

  • Euro (EUR): 57,60%
  • Yen (JPY): 13,60%
  • Poundsterling (GBP): 11,90%
  • Canadian dollar (CAD): 9,10%
  • Krona (SEK): 4,20%
  • Swiss Franc (CHF): 3,60%

Bisa kita lihat bahwa euro memiliki porsi paling besar dalam indeks dolar, yaitu 57,60%. Bisa dimengerti mengingat ada 19 negara yang mempergunakan euro.

Posisi ke-2 ditempati oleh yen Jepang. Masuk akal juga karena Jepang merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Pertanyaannya (lagi), “Ketika EURUSD turun, ke mana indeks dolar bergerak?”

Ingat bahwa euro memiliki porsi yang besar dalam indeks dolar, maka kemudian indeks dolar ini mendapatkan julukan “indeks anti Euro”.

Karena besarnya pengaruh euro dalam indeks dolar, maka para trader meyakini bahwa pergerakan keduanya biasanya hampir seimbang dan berlawanan. Kita akan membahas hal itu di tulisan yang lain, setelah artikel ini.

Memahami Pergerakan Indeks Dolar

Seperti halnya pasangan mata uang lain, pergerakan DXY juga bisa dilihat dalam chart.

trading forex, indeks dolar, forex trading

DXY dihitung selama 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Selain itu, penguatan atau pelemahan relatif DXY dihitung berdasarkan angka indeks 100.00.

Mengapa 100.00? Karena indeks dolar sendiri dimulai di bulan Maret tahun 1973, ketika negara-negara besar dunia melakukan pertemuan di Washington DC dan semua negara tersebut menyepakati untuk menerapkan kurs berubah (floating rate) untuk masing-masing nilai mata uang mereka. Permulaan indeks tersebut dikenal dengan sebutan “base period”.

Jadi, misalnya, DXY sekarang berada di angka 95.95. Itu artinya DXY telah melemah sebesar 4.05% dari angka permulaan indeks tersebut.

Perhitungannya: 

Seandainya DXY sekarang berada di angka 110.00, artinya nilai indeks dolar telah menguat sebesar 10% dari angka permulaannya.

Mau tahu bagaimana perhitungan DXY? Ini dia rumusnya: 

Sudah paham? Tidak? Ya tidak apa-apa. Cuma untuk diketahui saja, siapa tahu ada yang penasaran. 😊

Di tulisan berikutnya, kita akan membahas bagaimana mempergunakan indeks dolar sebagai strategi trading forex.

Tunggu saja.


Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami ini di kolom komentar.

Lowest Spread + Trading Service = Excellent!

Apa yang menjadi pertimbangan Anda ketika memilih broker forex? Lowest spread? Komisi per lot? Layanan?

Biasanya salah satu hal di atas adalah menjadi pertimbangan orang dalam memilih broker. Tetapi biasanya yang paling diperhatikan adalah spread dan komisi.

Spread Rendah

Kebanyakan trader menginginkan trading dengan spread yang serendah mungkin.

Spread yang ketat lebih diminati karena untuk “mengejar” BEP (break event point) untuk transaksi yang Anda buat relatif akan menjadi lebih kecil. Misalnya spread untuk EURUSD adalah 0.3 pip (0.00003 point).

Contohnya, Anda melakukan transaksi buy EUR/USD di harga 1.16100 (Bid)/1.16103 (Ask), maka transaksi tersebut akan dieksekusi di harga 1.16103 (harga Ask). Pada saat itu juga Anda akan mengalami floating loss sebesar spread yang berlaku saat itu, yaitu minus 0.3 pip (0.00003 point). Dalam pengalaman saya, 0.3 pip tidak butuh waktu yang lama. Di market Asia mungkin hanya secepat Anda berhitung 1 sampai 3 saja, apalagi jika market Eropa dan Amerika, akan lebih cepat lagi.

Akan berbeda ceritanya jika spread yang berlaku selebar – misalnya – 3.0 pips. Ketika Anda buy di harga 1.16100 (Bid)/1.16130 (Ask), maka Anda harus menunggu harga naik minimal sejauh 30 pips untuk bisa BEP.

Apakah Anda berpikiran seperti itu? Mari kita pikir lagi.

Tidak Sekedar Spread

Oke, Anda mungkin sudah menemukan broker dengan spread yang ketat. Tapi apakah itu satu-satunya hal yang perlu dilihat?

Anda tentu paham bahwa market forex itu bekerja dalam format “24 x 5”; 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Maka dari itu pastikan Anda juga memilih broker yang memliki layanan “24×5” juga bagi para nasabahnya, supaya Anda tidak perlu sampai kebingungan seandainya menghadapi kendala teknis dalam trading.

Seiring makin canggihnya teknologi, chatting sudah bukan menjadi barang asing lagi. Fasilitas “Live Chat” juga seharusnya dimiliki oleh broker. Pastikan Anda memilih broker yang memiliki layanan seperti itu.

Chat room “Customer Service” FOREXimf.com menyediakan chat room “Customer Service” yang online 24 jam sehari, 5 hari kerja dalam seminggu. Ada juga chat room “Market Analyst” yang online mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB setiap hari kerja. Kedua chat room itu dipastikan TETAP ONLINE meskipun Anda sedang menikmati hari libur nasional. Pokoknya, selama masih ada pasar internasional yang aktif, kedua chat room itu tetap aktif. Itulah salah satu bentuk pelayanan prima yang disediakan untuk nasabah FOREXimf.com.

Tidak hanya itu, untuk nasabah FOREXimf.com bahkan ada nomor WhatsApp khusus yang disediakan jika Anda ingin berkomunikasi langsung dengan tim Market Analyst. Bahkan Anda bisa mendapatkan signal trading terkini yang di-broadcast melalui nomor tersebut langsung ke HP Anda.

Anda tertarik untuk melakukan forex trading dengan lowest spread plus layanan prima? Segera klik Open Real Account sekarang juga. Kami tidak sabar untuk segera bisa melayani Anda.


Jika Anda menginginkan analisa dan berita fundamental real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

 

Strategi Trading Forex Camarilla Pivot

Teknik pivot points merupakan salah satu strategi trading forex yang banyak dipergunakan trader untuk mengidentifikasi level-level yang potensial sebagai support dan resistance. Sederhananya, pivot point dan level-level support dan resistance yang dihasilkan melalui perhitungan tertentu dianggap merupakan area di mana harga berpotensi akan berubah arah.

Pivot point menjadi sangat menarik karena setidaknya salah satu penyebab: ia sangat obyektif. Tidak seperti indikator teknikal lain yang memerlukan interpretasi yang tentu sangat dipengaruhi oleh “jam terbang” yang dimiliki si trader. Bahkan tidak seperti Fibonacci retracements yang masih memerlukan preferensi si trader dalam menentukan swing high dan swing low.

Penerapan Strategi Pivot

Strategi trading yang berdasar pada pivot points biasanya dipergunakan sebagai strategi trading jangka pendek. Para trader yang mempergunakannya biasanya mencari pergerakan yang tidak terlalu besar, cocok dengan gaya trading intraday mereka.

Seperti halnya strategi trading yang memanfaatkan support dan resistance, para trader bisa memilih apakah mereka akan menerapkan strategi bounce/range-bound, breakout, atau bahkan keduanya.

Para trader yang menganut paham range-bound biasanya memanfaatkan pivot untuk mencari titik-titik reversal (balik arah). Mereka akan mencari peluang buy di area support dan mencari peluang sell di area resistane.

Sebaliknya, para trader yang bergaya breakout akan menunggu hingga support tembus untuk mencari peluang sell. Sebaliknya mereka akan menunggu tembusnya resistance untuk mencari peluang buy.

Mengenal Strategi Camarilla Pivot

Strategi Camarilla pivot (selanjutnya kita sebut Camarilla) merupakan salah satu turunan strategi pivot points.

Strategi ini mirip dengan nenek moyangnya, si pivot points itu sendiri, tetapi lebih komplit untuk dipergunakan sebagai sebuah strategi trading. Strategi ini diciptakan oleh Nick Stott sekitar tahun 1989 dan masih populer hingga saat ini.

Pada dasarnya ada tujuh garis yang menjadi bagian penting dari strategi ini, yaitu:

  • H5 = long breakout target
  • H4 = long breakout
  • H3 = short pivot
  • Pivot Point (PP)
  • L3 = long pivot
  • L4 = short breakout
  • L5 = short breakout target

Level-level tersebut di atas diperoleh melalui rumus berikut:

H5 = (H/L) × C
H4 = C+ RANGE × 1,1/2
H3 = C+ RANGE × 1,1/4

PP = (H + L + C) / 3

L3 = C– RANGE × 1,1/4
L4 = C– RANGE × 1,1/2
L5 = C– (H5 – C)

di mana:

C = Closing Price (harga penutupan hari sebelumnya)

H = High (harga tertinggi hari sebelumnya)

L = Low (harga terendah hari sebelumnya)

RANGE = harga tertinggi – harga terendah hari sebelumnya

 

Kalau digambarkan di chart, kira-kira bentuknya akan seperti ini:

strategi trading forex, strategi forex, strategi trading forex camarilla

 

Strategi Camarilla

Sebenarnya ada banyak teknik yang bisa dikembangkan, tetapi tetap dasarnya adalah bounce dan breakout trading.

Berikut ini adalah beberapa teknik yang bisa Anda coba:

Teknik bounce: jika harga dibuka di antara H3 dan L3

Anda bisa membuka posisi buy, jika:

Harga bergerak sedikit ke bawah L3 namun kemudian berhasil kembali bergerak naik ke atas garis L3. Beberapa trader memilih untuk mengombinasikan dengan konfirmasi dari sinyal trading semacam candlestick pattern. Ada juga yang mengombinasikan dengan indikator teknikal seperti stochastic oscillator.

Tempatkan target di garis H3. Target maksimal di H4 atau H5. Sementara untuk stop loss bisa ditempatkan di bawah garis L4.

Anda bisa membuka posisi sell, jika:

Harga bergerak sedikit ke atas H3 namun kemudian berhasil kembali bergerak turun ke bawah garis H3. Anda bisa mengombinasikannya dengan konfirmasi dari sinyal trading semacam candlestick pattern. Bisa juga dikombinasikan dengan indikator teknikal seperti stochastic oscillator.

Tempatkan target di garis L3. Target maksimal di L4 atau L5. Sementara untuk stop loss bisa ditempatkan di atas garis H4.

Teknik breakout:

Anda bisa membuka posisi buy, jika:

Harga bergerak naik dan tembus ke atas garis H4. Tempatkan target di garis H5 dan stop loss di bawah garis H3.

Anda bisa membuka posisi sell, jika:

Harga bergerak turun dan tembus ke bawah garis L4. Tempatkan target di garis L5 dan stop loss di atas garis L3.

Demikian strategi dasar teknik Camarilla. Jika ada pertanyaan, Anda bisa menghubungi tim Market Analyst & Education FOREXimf.com.

Selamat mencoba.


Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang analisa kami di kolom komentar.

 

Signal Follower vs Independent Trader: Lebih Baik Mana?

Suatu sore, ketika saya tengah tenggelam dalam keasyikan melakukan backtesting sebuah sistem trading yang katanya bisa menghasilkan trading signal akurat, seorang kenalan menghubungi saya melalui WhatsApp.

Dab, ada waktu nggak sore ini?” katanya.

Saya menjawab dengan pertanyaan, “Ada apa, Dab?” Kami memang sering saling menyapa dengan sebutan “dab”, sebuah kata dalam bahasa prokem Yogya yang artinya “Mas (kakak laki-laki). Saya cukup lama tinggal di Yogyakarta, sejak SMA hingga lulus kuliah. Di sanalah kami berkenalan dan kemudian menjadi cukup akrab.

Sebenarnya saya malas diganggu ketika sedang “on fire mengerjakan sesuatu. Distraksi sekecil apa pun bisa serta-merta memadamkan semangat saya. Sulit bagi saya untuk bisa kembali menemukan momentum. Itulah sebabnya saya senantiasa mengenakan headset dan menyalakan musik di kantor ketika sedang mengerjakan sesuatu, supaya saya tak perlu terdistraksi oleh bunyi apa pun. Biasanya saya pilih Mozart atau jazz. Lagipula bisa menenangkan saya, membuat saya bisa berpikir lebih lancar.

“Aku pengen sinau trading,” katanya.

“Sinauadalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya belajar. Saya paham dia hanya berbasa-basi untuk menghormati saya. Lha wong dia memang sudah bisa dan biasa trading, kok. Cukup berpengalaman, malah. Tetapi berbeda dengan saya, ia lebih banyak trading saham. Ia pernah trading forex tetapi tidak begitu berhasil. Saya mengerti ia hanya ingin berdiskusi dan saya suka berdiskusi tentang trading karena bisa memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasan saya.

“OK. Jam piro? Di mana?”

“Habis maghrib, di tempat kita biasa ngopi dulu.” Ia menyebutkan sebuah coffee shop yang cukup terkenal di Bandung. “Gimana?” lanjutnya.

“OK. Sip,” balasku menutup percakapan.

Petang itu kami pun bertemu. Setelah sejenak berbasa-basi dan tertawa tentang kisah-kisah jenaka masa lalu, kami memulai percakapan sesungguhnya. Tentang trading, seperti yang sebelumnya telah kami bicarakan melalui WhasApp. Ia memulai dengan memperlihatkan demo account di laptop yang ia bawa.

Dab, aku pengen trading forex lagi, tapi pengalaman loss yang terakhir cukup membuatku harus lebih berhati-hati,” katanya membuka percakapan.

Loss dalam trading itu biasa, Dab,” kata saya. “Dirimu sebagai trader berpengalaman pasti pahamlah.”

Iyo, bener. Tapi karater forex ini beda dengan saham, Dab. Aku kan masih baru di forex. Jadi sepertinya harus sinau lagi pada dirimu,” katanya.

Halah, gombalmu!” kataku. Kami tertawa bersama.

“Jadi, kemarin aku googling strategi forex, lalu aku menemukan ini,” katanya sambil memutar laptopnya hingga layarnya menghadap kepadaku. Layar itu memperlihatkan situs sebuah trading signal provider berbayar. “Bagaimana menurutmu? Aku tertarik berlangganan,” katanya meminta pendapat saya.

“Tidak ada masalah. Tapi kalau bisa, coba lihat track record mereka dulu. Ada program trial-nya tidak?” kata saya.

“Hm… tidak ada.”

“Kalau begitu, jangan pilih yang itu. Cari yang ada program trial-nya.”

“Memangnya ada yang seperti itu?” tanyanya.

“Ada,” jawab saya. “Bahkan trading signal-nya gratis.”

“Ah, mosok?” Ketidakpercayaan jelas terlihat di wajahnya.

“Kamu coba program trading signal trial dari FOREXimf.com deh. Ada waktu seminggu untuk trial. Gratis. Setelah itu, kalau kamu cocok dan puas, bisa lanjut seumur hidupmu dan tetap gratis,” kata saya.

“Yang bener, Dab?” katanya, masih kurang yakin.

“Iya, bener. Kamu cukup buka live account saja di situ dan trading signal akan kamu dapatkan cuma-cuma selama kamu jadi nasabah aktif di sana. Tidak hanya itu, kamu juga bisa berdiskusi dengan tim Market Analyst seperti kita diskusi saat ini,” jawabku.

“Wah, menarik, Dab!” katanya antusias sambil menjentikkan jarinya. Saya tahu dia antusias, karena kebiasannya menjentikkan jari itu ketika mendengar atau melihat sesuatu yang menurutnya bagus.

“Iyalah. Sana, cepet daftar!”

“Sip, sip. Tapi nanti dulu. Sebenarnya aku mau tanya padamu, menurutmu lebih baik mana: signal follower atau independent trader?” tanyanya.

Saya balik bertanya, “Yang kamu maksud dengan independent trader itu yang seperti apa?”

“Ya… trader yang mandiri. Yang tidak bergantung pada orang lain kalau mau trading. Yang bisa menganalisa sendiri, mengambil keputusan sendiri,” jawabnya.

Independent trader itu baik, signal follower pun tak buruk,” jawab saya.

Saya melanjutkan, “Keuntungan menjadi independent trader adalah kita tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk bisa mendapatkan trading signal. Tetapi untuk menjadi seorang trader yang mandiri tentu tidak instan. Ada waktu dan mungkin bahkan biaya yang harus kita sediakan. Kita juga harus betul-betul berkomitmen untuk itu. Kamu tahu sendiri bagaimana upayaku selama bertahun-tahun, bahkan hingga satu dekade lebih, mendedikasikan diriku mempelajari forex trading.”

Ia manggut-manggut tanda setuju.

Saya melanjutkan, “Di sisi lain, menjadi signal follower juga tidak salah. Asalkan, tidak mengikuti secara buta. Artinya, kalau kita mau jadi signal follower, setidaknya kita harus tahu dasar-dasar analisa dan trading dulu. Di antaranya dan yang paling penting adalah money management dan risk management. Jadi, di saat kita mau mengikuti trading signal yang diberikan oleh signal provider, kita tahu di mana batasan resikonya hingga berapa lot maksimal yang boleh kita pergunakan.

“Nah, di FOREXimf.com, kamu bisa mendapatkan semua itu. Trading signal diberikan tiap kali tim Market Analyst berhasil mendapatkan sinyal yang confirmed, dan kamu bisa berdiskusi dengan mereka tentang posisi yang akan kamu ambil. Jadi itu semacam one stop trading service, kamu dapat trading signal, edukasi sekaligus konsultasi. Enak, kan?

“Jadi, sekali lagi, menjadi signal follower tidak ada salahnya, bahan sama baiknya dengan trader mandiri, asalkan, ya itu tadi: kita sebaiknya punya dasar pengetahuannya dulu. Dengan konsep di FOREXimf.com, kamu secara tidak langsung ‘dilatih’ untuk bisa mengenali peluang secara mandiri juga. Jadi dua-duanya bisa dapat: pertama mungkin jadi signal follower dulu, kemudian menjadi independent trader karena setiap trading signal yang dikirim selalu disertai penjelasan secara teknikal, apa yang menjadi alasan teknikalnya. Misalnya, ada pola candlestick tertentu, atau sinya indikator tertentu.

“Pada gilirannya, karena terbiasa ‘dididik’ melalui trading signal, akhirnya kamu akan jadi trader mandiri juga, Dab. Nantinya, kalau kamu melihat ada peluang, kamu bisa konsultasikan juga dengan tim Market Analyst FOREXimf.com. Biar kamu lebih yakin.

Nah, kalau kamu sudah benar-benar mandiri, trading signal dari FOREXimf.com sudah menjadi semacam ‘asisten pribadi’-mu yang tugasnya memberikan informasi setiap peluang yang muncul seandainya kamu sedang tidak ada waktu mantengin chart. Tinggal tunggu kabar dari tim Market Analyst FOREXimf.com, kamu tingga cek, menurutmu valid atau tidak. Enak, to?” saya menjelaskan panjang lebar.

Matanya berbinar. “Berapa biayanya?” tanyanya.

“Kamu ini lho…. Kan tadi sudah kukatakan: GRATIS. Kamu bisa trial seminggu, lalu setelah kamu buka live account, kamu bisa dapat semua layanan itu GRATIS,” jawab saya.

“Wah, kenapa aku nggak tahu dari dulu?” katanya.

Lha, kamu selama ini ke mana saja?”

Lalu kami kembali tertawa bersama-sama.

Seminggu kemudian, ada pesan di WhatsApp saya, “Dab, aku sudah coba trial untuk signal trading dari FOREXimf.com. Hari ini aku mau buka live account. Thanks, Dab!”

Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

Tips Menghindari “False Signal” Dalam Trading Forex

Salah satu metode analisa dalam trading forex adalah analisa teknikal dan charting alias analisa teknikal yang memanfaatkan grafik pergerakan harga (price chart/chart) merupakan salah satu metode analisa teknikal yang paling populer. Para chartist mempergunakan chart untuk kemudian memanfaatkannya untuk memproduksi trading signal yang akurat. Atau, setidaknya diharapkan untuk menjadi akurat, atau mendekati akurat.

Permasalahan yang sering dijumpai kemudian biasanya adalah kemunculan “false signal”, atau sinyal salah. Ada juga yang menamakan “fake signalalias sinyal “palsu”. Sinyal “palsu” semacam ini biasa muncul dari indikator teknikal, baik itu yang standar maupun yang costum.

Jika false signal terlalu sering muncul, cukup sering seorang trader merasa “tertipu” oleh indikator teknikal yang ia pergunakan, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi mempergunakan indikator teknikal tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang indikator teknikal tidak mungkin bisa “sempurna”, dalam arti “selalu benar”. Lebih jauh lagi, trader yang mempergunakan indikator tersebut pun adalah manusia biasa yang bisa jadi salah menginterpretasikan kondisi indikator teknikal saat ia akan membuka posisi.

Jadi, memang bisa jadi indikator teknikalnya yang kurang berkualitas, bisa pula ada faktor “human error, di mana interpretasi seorang trader berbeda dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

Dalam tulisan ini, kita akan membatasi pembahasan pada menghindari false signal pada indikator teknikal standar yang ada di MetaTrader. Kalau kita mau membahas semua indikator custom yang beredar di dunia forex, saya khawatir itu membutuhkan waktu setidaknya dua periode jabatan presiden RI.

Indikator Teknikal

Mari kita pahami dulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan indikator teknikal. Berdasarkan definisi MetaTrader, indikator teknikal adalah “manipulasi matematis” atas harga dan/atau volume yang bertujuan untuk memperkirakan pergerakan harga di masa datang. Keputusan trading mengenai bagaimana dan kapan waktunya untuk membuka atau menutup posisi bisa dibuat berdasarkan sinyal-sinyal dari indikator teknikal.

Menurut fungsinya, indikator teknikal bisa dibagi ke dalam dua kelompok:

  • Indikator trend
  • Indikator osilator

Indikator trend membantu kita untuk mengamati arah harga dan mendeteksi perubahan arah secara langsung ataupun dengan jeda waktu tertentu. Osilator memungkinkan kita mencari “momentum pembalikan” arah.

Perhatikan kata “manipulasi matematis” dalam definisi indikator teknikal di atas. Ini berarti adalah bahwa indikator teknikal sebenarnya adalah “produk” dari pergerakan harga yang telah terjadi, karena ia mengolah data yang ada dan melalui algoritma tertentu memberikan “signal” yang kemudian diinterpretasi sebagai sinyal jual atau beli.

Dengan demikian, permasalahannya kemudian adalah interpretasi dari penggunan indikator tersebut, yaitu trader.

Salah Interpretasi

Indikator teknikal tidak hanya memanfaatkan data pergerakan harga yang telah terjadi tetapi juga pergerakan harga yang SEDANG terjadi. Itulah mengapa – kalau Anda perhatikan – indikator teknikal senantiasa bergerak atau berubah (naik-turun, muncul-hilang, atau berubah warna) mengikuti pergerakan harga terkini.

Ambil contoh, Parabolic SAR. Anda akan sering menemukan titik SAR muncul di bawah bar/candlestick, tetapi kemudian titik tersebut hilang dan berpindah tempat ke atas bar/candlestick yang Anda amati. Itu karena sebelumnya (berdasarkan algoritma pemrogramannya) titik SAR memang semestinya berada di bawah bar/candlestick, tetapi karena harga terus berubah dan membuat perhitungan SAR-nya pun berubah, maka titik SAR kemudian “berpindah tempat”.

Intinya, indikator teknikal bisa berubah sesuai dengan kondisi market.

Contoh kasus Parabolic SAR di atas hanya salah satu contoh saja. Mungkin Anda sering mendengar ada rekan trader Anda yang berceloteh, “Wah, stochastic-nya nipu! Tadi udah crossing naik, eh dia turun lagi!”

Sebenarnya, Saudara-Saudara, stochastic tidak menipu. Kitalah yang sering salah menginterpretasi kondisi stochastic. Bahwa sinyal dari stochastic bisa gagal, ya. Tetapi dia tidak menipu.

Tunggu Konfirmasi Closing Bar/Candlestick

Untuk menghindari “salah paham” atau salah interpretasi yang melahirkan false signal, Anda perlu menunggu sampai sinyal yang muncul dari indikator teknikal itu betul-betul terkonfirmasi.

Di atas sudah saya jelaskan bahwa indikator teknikal bisa berubah mengikuti perkembangan harga terkini, maka kuncinya adalah Anda harus menunggu hingga bar/candlestick yang Anda pergunakan betul-betul sudah “komplit”. Maksudnya bagaimana?

“Komplit” di sini maksudnya adalah sudah “closed”.

Mari kembali ke tuduhan “stochastic menipu” tadi. Contohnya, jika Anda mempergunakan candlestick time frame H1, maka untuk mengonfirmasi sinyal dari stochastic pastikan “umur” candlestick-nya sudah satu jam. Tunggu hingga candlestick tersebut closed, persis satu jam. Sinyal yang diberikan oleh stochastic (buy atau sell) akan lebih confirmed jika candlestick-nya sudah betul-betul closed.

Pergunakan Beberapa Indikator

Cara lain untuk meminimalisir “false signal adalah dengan mengombinasikan beberapa indikator teknikal. Cara ini cukup banyak dipergunakan oleh trader-trader berpengalaman. Kombinasi beberapa indikator inilah yang kemudian biasa disebut sebagai strategi trading.

Dengan mempergunakan beberapa indikator teknikal, Anda akan bisa melihat “sudut pandang” lain. Misalnya Anda memadukan Moving Average (MA) dengan stochastic. Ketika stochastic memperlihatkan sinyal buy tetapi  MA justru mengarah ke bawah, Anda bisa berhati-hati karena sinyal buy yang muncul mungkin tidak terlalu kuat, atau mungkin false, karena melawan trend yang sedang terjadi.

Tetapi ingat, sebaiknya tidak mempergunakan terlalu banyak indikator untuk menghindari kebingungan. Disarankan untuk mempergunakan maksimal tiga indikator berbeda dalam satu chart.

Selamat mencoba.

Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang tips menghindari false signal di kolom komentar.