forex trading, strategi forex, belajar forex

Rahasia Teknik Multiple Time-Frame Analysis (2)

Di tulisan sebelumnya, kita sudah membahas prinsip dasar metode Multiple Time-Frame Analysis dalam forex trading. Untuk mempermudah penulisan – dan tentunya: pembacaan – kita singkat saja dengan MTFA. Jika Anda belum membaca bagian pertama dari tulisan ini, saya sarankan untuk mampir sebentar ke link ini: rahasia MTFA bagian-1.

Di bagian ke-2 ini, kita akan membahas cara mempraktekkan MTFA. Ingat bahwa di tulisan bagian pertama sudah dijelaskan bahwa ada tiga time-frame (TF) yang dipergunakan untuk menentukan trend jangka panjang, menengah dan pendek. Kita mengistilahkannya dengan TF Long, TF Medium dan TF Short.

Nah, mari kita mulai menerapkannya dalam trading.

Menggabungkan Ketiga TF

Kombinasi tiga TF untuk menganalisa sebuah currency pair, diharapkan akan mempermudah Anda mencari petunjuk entry level yang “terbaik”. Perhatikan tanda kutip yang mengapit kata “terbaik”. Sebenarnya tidak ada level yang terbaik, karena sejatinya kita tidak akan pernah tahu kapan persisnya harga akan berhenti di suatu level. Namun kita bisa mengusahakan untuk mencari harga yang semurah mungkin jika ingin buy, atau yang semahal mungkin jika ingin sell. Jadi, istilah “terbaik” di sini hanya untuk mengupayakan agar kita tidak terlalu cepat atau justru terlambat mengambil keputusan.

Dengan MTFA, analisa yang dilakukan bersifat “top-down”. Artinya Anda harus melihat TF yang paling besar dulu, baru kemudian bertahap turun ke TF yang lebih kecil. Sebagai contoh, jika TF Long memperlihatkan uptrend namun TF Medium dan TF Short memperlihatkan downtrend, maka Anda perlu berhati-hati jika ingin membuka posisi sell.

Ingat-ingat terus bahwa “the trend is your friend”. Dalam hal ini, TF Long-lah yang jadi patokan. Maka, sebagai “siasat perang”-nya Anda sebaiknya menunggu hingga TF yang lebih kecil mengkonfirmasi trend di TF yang lebih besar.

Oke, Lalu Bagaimana Prakteknya?

Untuk memperjelas apa yang saya tuliskan di atas, yuk kita lihat contoh berikut.

forex trading, strategi forex, belajar forex

Chart di atas adalah EUR/USD di TF H4, sebagai TF Long-nya. Misalnya Anda ingin memanfaatkan pergerakan dari mid-term trend yang terlihat, yaitu uptrend (perhatikan trendline merah). Nah, sekarang Anda sudah mendapatkan trend yang Anda inginkan dan tentunya sudah menetapkan bahwa posisi yang Anda incar adalah buy.

Selanjutnya, bergeserlah ke TF Medium yaitu TF H1. Anda akan melihatnya seperti gambar di bawah ini:

forex trading, strategi forex, belajar forex

Di chart H1, Anda juga melihat bahwa harga masih bergerak dalam uptrend. Trendline tebal berwarna merah yang berada di bawah adalah trendline yang ditarik di chart H4 tadi. Anda boleh menarik trendline lagi di chart H1 ini, sebagai accelerating trendline. Pada gambar di atas, Anda bisa melihatnya sebagai garis putus-putus berwarna merah.

Perhatikan bahwa stochastic dan CCI masih berada dalam kondisi overbought di chart H1. Maka untuk membuka posisi buy, Anda perlu menunggu hingga keduanya setidaknya berada dalam kondisi oversold. Akan lebih baik jika entry level berada setidaknya di area trendline putus-putus atau di area trendline yang tebal (yang ditarik di chart H4).

Jika misalnya harga telah berada di area trendline, atau stochastic dan CCI telah memperlihatkan indikasi oversold, barulah kemudian Anda bisa bergeser ke TF yang paling kecil, yaitu TF M15 sebagai TF Short-nya.

forex trading, strategi forex, belajar forex

Gambar di atas merupakan tampilan TF M15 untuk EUR/USD dalam contoh kasus kita kali ini. Jika Anda perhatikan, di TF yang terkecil ini mungkin Anda tidak akan bisa melihat trend secara jelas. Tak mengapa, karena TF yang terkecil ini fungsinya bukan lagi untuk melihat trend melainkan mem-filter sinyal entry. Ketika di TF H1 sudah ada indikasi oversold, Anda tinggal mengkonfirmasinya dengan mencari sinyal buy di TF M15 ini.

Jika sinyal bullish sudah confirmed, Anda bisa membuka posisi Buy.

Bottom Line

MTFA memang bisa membantu Anda untuk melakukan transaksi tanpa perlu khawatir terlalu dini atau terlambat masuk atau keluar pasar. Dengan sendirinya, MTFA berpotensi untuk memberikan entry level yang “terbaik” karena informasi yang Anda peroleh bisa lebih lengkap.

Namun jangan lupa bahwa tetap dibutuhkan kejelian dan kehati-hatian dalam melakukan metode analisa seperti apa pun. Selain itu, sadarilah bahwa tidak ada satu pun metode analisa yang “bebas cacat”. Sebagai metode trading, MTFA tentu juga memiliki kelemahan, salah satunya adalah waktu yang Anda perlukan untuk melakukan analisa tentu akan menjadi lebih panjang daripada jika Anda menggunakan metode single time-frame analysis.

Kelemahan lain adalah peringatan bagi para pemula, karena seringkali mereka yang mengalami floating loss mencoba untuk mencari “pembenaran” di TF yang lebih tinggi, bahkan sering sampai “kebablasan” misalnya sampai ke TF Daily, padahal ia day trader. Bahkan dalam kaidah MTFA pun, hal ini salah.

Contohnya: seorang trader membuka posisi Sell, namun ketika harga naik dan floating loss yang dialami membesar, ia bukannya melakukan cut-loss namun mencari pembenaran dengan mengatakan, “Ah… nggak apa-apa. Di TF MONTHLY masih mentok resistance….” Padahal ia day trader yang semestinya tak pernah membiarkan posisi terbuka lebih dari sehari. Ini jelas upaya pembenaran yang justru salah.

Intinya, metode apa pun yang Anda pergunakan, tetaplah miliki trading plan yang baku, termasuk di dalamnya adalah pembatasan resiko.

26 replies
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Terima kasih atas pujiannya, Bung Dava. Mudah-mudahan pujian ini tidak membuat saya besar kepala. 🙂

      Mengenai minimal berapa kali seorang day trader melakukan transaksi, sebenarnya tidak ada batas minimal. Lakukanlah transaksi hanya jika melihat sinyal trading yang jelas, mungkin bisa sekali dalam sehari atau bahkan sekali dalam dua hari. Intinya, trading hanya jika ada sinyal yang valid saja. Jika tidak ada sinyal yang valid, jangan memaksakan diri harus trading.

      Saya kira demikian.

      Oh ya, kalau menurut Bung Dava artikel di website ini keren-keren, jika tidak terlalu merepotkan boleh dong di-share ke rekan-rekan Bung Dava.
      Terima kasih. 🙂

      Reply
      • dava.satria says:

        untuk share siap mas. tapi di tempat saya pada menyerah karena di hajar MC bertubi2 habis sampai milyaran, saya saja pernah frustasi hehehe….coba dari dulu ada FOREXimf mungkin kejadianya lain. saya tahu FOREXimf ini aja tidak sengaja lagi buka youtube… bebrapa bulan lalu eh ternyata artikelnya keren2 apa lagi di tambah webinar + bisa konsultasi. oh ya mas tolong bahas cara riset dan analisis suatu strategi menggunakan tool, jangan dengan demo karena akan memakan waktu lama.. terima kasih

        Reply
        • Eko Trijuni
          Eko Trijuni says:

          Sayangnya, saya pribadi berpendapat untuk menguji suatu strategi memang membutuhkan waktu yang lama, Bung Dava.

          Saya sendiri memang melakukan dua step tiap kali akan menguji suatu strategi trading.
          Pertama memang bisa dilakukan secara “backtest” dengan mempergunakan hystorical price data yang bisa kita download ke MetaTrader, ini memang lebih cepat. Data yang dipergunakan biasanya 1 hingga 3 tahun ke belakang. Namun ada kemungkinan data tersebut tidak komplit.

          Maka dari itu saya juga melakukan “forward test” dengan mempergunakan pergerakan market secara real-time. Biasanya minimal dilakukan enam bulan dengan demo account, baru dilanjutkan ke real account. Mengapa harus forward test? Supaya kita “feel”-nya dapat, sesuai dengan situasi pasar sesungguhnya. Adrenalin juga “bermain” di situ, sehingga kita bisa melatih mental. Terakhir, “real deal”-nya di real account. Di tahap ini, berdasarkan test yang dilakukan sebelumnya harusnya sudah lebih siap lagi.

          Demikian. 🙂

          Reply
      • SUKIRNO says:

        SALAM KENAL Pak Eko …saya lebih menyukai trading dengan OP di TF M15 dgn target 100 ( versi MT4 5 digit) ..dan OP 2-3 kali tergantung sinyal …apakah saya masuk kategori scalper apa daytrader sih…soalnya klu dibilang scalper saya merasa kurang cepat dlm Close ..kadang2 menunggu floating beberapa saat begitu profit dirasa cukup close …bagaimana cara menahan floating atau close profit yg hrs dilakukan seorang daytrader??

        Reply
        • Eko Trijuni
          Eko Trijuni says:

          Anda masih bisa dikatakan scalper.
          Jika Anda sudah merasa nyaman menjadi scalper dan bisa menghasilkan profit secara konsisten, sebaiknya tidak perlu memaksakan diri untuk mengubah gaya Anda.
          Rahasia menahan floating profit sebenarnya ada di kontrol psikologis seorang trader. Stick to the plan.

          Reply
  1. dava.satria says:

    jadi strategy yang digunakan untuk analisa di foreximf seperti MA 20 & 50 digabung stocastic, CCI serta fibbo sudah melalui tahapan itu y mas Tri. dan kira 2 berapa persen mendekati kebenaran hehehe… apakah saat trending pake ma dan fibbo untuk sideway pake stcostic dan CCI. maaf tanya terus mas tri.

    Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Benar. Tiap strategi yang kami sampaikan ke publik sudah melalui tahapan uji coba yang tidak instan. Akurasinya hingga 70%.
      Fibonacci dan MA sayangnya tidak terlalu efektif jika diterapkan di pasar sideway.

      Reply
  2. extiansyah says:

    bagus sekali pak artikelnya, apakah MTFA ini bisa di pakai di scalping, untuk TF long dan TFmediumnya sebaiknya menggunakan TF brapa ya klo TFshortnya di di M5

    terimakasih sebelumya

    Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Gunakan saja “aturan angka empat” yang sudah dibahas di tulisan bagian pertama topik ini sebagai acuan. Ini link-nya: Rahasia Teknik Multiple Time-Frame Analysis (1)

      Jadi kalau TF Short-nya di M5, artinya TF Medium harusnya 4×5 menit=20 menit. Nah, karena di MT4 tidak ada TF M20, boleh pakai yang M30. TF Long dengan demikian adalah 4×20 menit=80 menit. Karena juga tidak ada TF M80, maka boleh pakai TF H1.

      Meskipun demikian, saya jarang melihat ada scalper yang mempergunakan teknik MTFA.

      Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Ingat, tetap ada resiko dalam trading. Batasi resiko Anda dengan menerapkan manajemen modal dan manajemen resiko yang baik dan tepat.

      Reply
  3. binsy says:

    Kang Eko,
    Keren abis deh materinya, saya ketemu materi ini setelah dari youtobe. Saya byk menyimak video webinar yg suaranya Kang Eko. Sukses and many thanks!

    Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Itu akan tergantung pada time-frame yang Anda pergunakan.
      Kalau mempergunakan time-frame seperti yang ada di contoh dalam artikel ini, sepertinya lebih cenderung day-trade.
      Scalper mestinya mempergunakan time-frame yang lebih rendah.

      Reply
  4. faisalwibawa says:

    Bagaimana jikalau misalnya di TF H4 dan H1 trendnya searah, tetapi indikator tidak selaras (berlawanan arah, H4 overbought H1 oversold) apa yg harus dilakukan?

    Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Akan lebih baik jika selaras. Jika tidak, ada baiknya tunggu hingga selaras. Tetapi ini tidak mengikat. Jadi hukumnya tidak wajib, melainkan lebih utama. 🙂

      Reply
    • Eko Trijuni
      Eko Trijuni says:

      Ada beberapa cara menentukan SL dan TP. Salah satunya yang mudah untuk dilakukan adalah dengan mempergunakan support/resistance sebagai acuan. Mengenai berapa pips SL atau TP, tidak ada patokan angka berapa pips melainkan tergantung pada jarak open position terhadap support/resistance tersebut.

      Reply
  5. Tigan says:

    Mas Eko, terimakasih atas sharingnya. sangat bermanfaat.
    Saya ada pertanyaan, pada artikel diatas bagaimana cara mengkonfirmasi signal buy pada TF M15 ?

    Reply
  6. Nanda putra says:

    Salut sama semua admin foreximf. Terutama mas eko. Nyaman bener denger suara di webinar atau baca bahasa nya di artikel.sukses mas, terima kasih utk ilmu2 nya selama ini

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =