Trading forex itu mudah. Dapatkan kemudahannya bersama broker forex terbaik dan terpercaya di Indonesia.

Mengenal Indeks Dollar Dalam Forex Trading

Selama ini Anda mungkin akrab dengan istilah indeks saham, atau yang sering disebut dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Di luar negeri, Anda mungkin juga sering mendengar indeks-indeks saham lain semisal HangSeng (Hongkong), Nikkei (Jepang), Dow Jones Industrial Average (DJIA/Amerika Serikat) dan lain-lain. Semua itu terkait dengan perdagangan saham. Nah, bagaimana di trading forex, apakah ada indeks juga?

Ada. Indeks yang paling terkenal adalah indeks dolar (dollar index), yang mengukur pergerakan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap beberapa mata uang dunia. Simbolnya biasanya USDX, DX, atau DXY.

Indeks dolar ini muncul dari perhitungan tertentu terhadap beberapa mata uang dunia (basket of foreign currencies) terhadap USD.

OK, kita tidak akan berlama-lama berkutat di soal definisi ini. Kita bedah saja, apa sih sebenarnya indeks dolar ini?

Currency Basket

Indeks dolar terbentuk dari perhitungan yang melibatkan enam mata uang dunia, yaitu:

  • Euro (EUR)
  • Yen (JPY)
  • Poundsterling (GBP)
  • Canadian dollar (CAD)
  • Krona (SEK)
  • Swiss Franc (CHF)

Pertanyaannya, “Jika perhitungan indeks dolar hanya melibatkan enam mata uang, berapa banyak negara yang terlibat?”

Menurut Anda berapa? Enam? Salah.

Yang benar adalah: 24 (dua puluh empat).

Lho, kok 24?

Lha, iya, karena memang ada 24 negara yang terlibat. Sembilan belas di antaranya adalah negara yang merupakan anggota Uni Eropa yang mempergunakan euro sebagai mata uangnya. Ditambah dengan lima negara lain yaitu Jepang, Inggris, Kanada, Swedia dan Swiss. Jadi 19 + 5 = 24.

Memang 24 negara ini hanyalah sebagian kecil dari total negara yang ada di muka bumi ini, tetapi banyak mata uang lain yang juga mengikuti pergerakan indeks dolar ini. Itulah yang menyebabkan indeks dolar (selanjutnya kita sebut DXY saja ya) bisa menjadi indikator yang cukup baik untuk mengukur kekuatan USD secara umum.

Komposisi DXY

Nah, sekarang Anda sudah tahu bahwa indeks dolar terbentuk dari enam mata uang yang melibatkan 24 negara. Sekarang, yuk kita lihat komposisinya:

  • Euro (EUR): 57,60%
  • Yen (JPY): 13,60%
  • Poundsterling (GBP): 11,90%
  • Canadian dollar (CAD): 9,10%
  • Krona (SEK): 4,20%
  • Swiss Franc (CHF): 3,60%

Bisa kita lihat bahwa euro memiliki porsi paling besar dalam indeks dolar, yaitu 57,60%. Bisa dimengerti mengingat ada 19 negara yang mempergunakan euro.

Posisi ke-2 ditempati oleh yen Jepang. Masuk akal juga karena Jepang merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Pertanyaannya (lagi), “Ketika EURUSD turun, ke mana indeks dolar bergerak?”

Ingat bahwa euro memiliki porsi yang besar dalam indeks dolar, maka kemudian indeks dolar ini mendapatkan julukan “indeks anti Euro”.

Karena besarnya pengaruh euro dalam indeks dolar, maka para trader meyakini bahwa pergerakan keduanya biasanya hampir seimbang dan berlawanan. Kita akan membahas hal itu di tulisan yang lain, setelah artikel ini.

Memahami Pergerakan Indeks Dolar

Seperti halnya pasangan mata uang lain, pergerakan DXY juga bisa dilihat dalam chart.

trading forex, indeks dolar, forex trading

DXY dihitung selama 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Selain itu, penguatan atau pelemahan relatif DXY dihitung berdasarkan angka indeks 100.00.

Mengapa 100.00? Karena indeks dolar sendiri dimulai di bulan Maret tahun 1973, ketika negara-negara besar dunia melakukan pertemuan di Washington DC dan semua negara tersebut menyepakati untuk menerapkan kurs berubah (floating rate) untuk masing-masing nilai mata uang mereka. Permulaan indeks tersebut dikenal dengan sebutan “base period”.

Jadi, misalnya, DXY sekarang berada di angka 95.95. Itu artinya DXY telah melemah sebesar 4.05% dari angka permulaan indeks tersebut.

Perhitungannya: 

Seandainya DXY sekarang berada di angka 110.00, artinya nilai indeks dolar telah menguat sebesar 10% dari angka permulaannya.

Mau tahu bagaimana perhitungan DXY? Ini dia rumusnya: 

Sudah paham? Tidak? Ya tidak apa-apa. Cuma untuk diketahui saja, siapa tahu ada yang penasaran. 😊

Di tulisan berikutnya, kita akan membahas bagaimana mempergunakan indeks dolar sebagai strategi trading forex.

Tunggu saja.


Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami ini di kolom komentar.

Lowest Spread + Trading Service = Excellent!

Apa yang menjadi pertimbangan Anda ketika memilih broker forex? Lowest spread? Komisi per lot? Layanan?

Biasanya salah satu hal di atas adalah menjadi pertimbangan orang dalam memilih broker. Tetapi biasanya yang paling diperhatikan adalah spread dan komisi.

Spread Rendah

Kebanyakan trader menginginkan trading dengan spread yang serendah mungkin.

Spread yang ketat lebih diminati karena untuk “mengejar” BEP (break event point) untuk transaksi yang Anda buat relatif akan menjadi lebih kecil. Misalnya spread untuk EURUSD adalah 0.3 pip (0.00003 point).

Contohnya, Anda melakukan transaksi buy EUR/USD di harga 1.16100 (Bid)/1.16103 (Ask), maka transaksi tersebut akan dieksekusi di harga 1.16103 (harga Ask). Pada saat itu juga Anda akan mengalami floating loss sebesar spread yang berlaku saat itu, yaitu minus 0.3 pip (0.00003 point). Dalam pengalaman saya, 0.3 pip tidak butuh waktu yang lama. Di market Asia mungkin hanya secepat Anda berhitung 1 sampai 3 saja, apalagi jika market Eropa dan Amerika, akan lebih cepat lagi.

Akan berbeda ceritanya jika spread yang berlaku selebar – misalnya – 3.0 pips. Ketika Anda buy di harga 1.16100 (Bid)/1.16130 (Ask), maka Anda harus menunggu harga naik minimal sejauh 30 pips untuk bisa BEP.

Apakah Anda berpikiran seperti itu? Mari kita pikir lagi.

Tidak Sekedar Spread

Oke, Anda mungkin sudah menemukan broker dengan spread yang ketat. Tapi apakah itu satu-satunya hal yang perlu dilihat?

Anda tentu paham bahwa market forex itu bekerja dalam format “24 x 5”; 24 jam dalam sehari, 5 hari dalam seminggu. Maka dari itu pastikan Anda juga memilih broker yang memliki layanan “24×5” juga bagi para nasabahnya, supaya Anda tidak perlu sampai kebingungan seandainya menghadapi kendala teknis dalam trading.

Seiring makin canggihnya teknologi, chatting sudah bukan menjadi barang asing lagi. Fasilitas “Live Chat” juga seharusnya dimiliki oleh broker. Pastikan Anda memilih broker yang memiliki layanan seperti itu.

Chat room “Customer Service” FOREXimf.com menyediakan chat room “Customer Service” yang online 24 jam sehari, 5 hari kerja dalam seminggu. Ada juga chat room “Market Analyst” yang online mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB setiap hari kerja. Kedua chat room itu dipastikan TETAP ONLINE meskipun Anda sedang menikmati hari libur nasional. Pokoknya, selama masih ada pasar internasional yang aktif, kedua chat room itu tetap aktif. Itulah salah satu bentuk pelayanan prima yang disediakan untuk nasabah FOREXimf.com.

Tidak hanya itu, untuk nasabah FOREXimf.com bahkan ada nomor WhatsApp khusus yang disediakan jika Anda ingin berkomunikasi langsung dengan tim Market Analyst. Bahkan Anda bisa mendapatkan signal trading terkini yang di-broadcast melalui nomor tersebut langsung ke HP Anda.

Anda tertarik untuk melakukan forex trading dengan lowest spread plus layanan prima? Segera klik Open Real Account sekarang juga. Kami tidak sabar untuk segera bisa melayani Anda.


Jika Anda menginginkan analisa dan berita fundamental real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

 

Strategi Trading Forex Camarilla Pivot

Teknik pivot points merupakan salah satu strategi trading forex yang banyak dipergunakan trader untuk mengidentifikasi level-level yang potensial sebagai support dan resistance. Sederhananya, pivot point dan level-level support dan resistance yang dihasilkan melalui perhitungan tertentu dianggap merupakan area di mana harga berpotensi akan berubah arah.

Pivot point menjadi sangat menarik karena setidaknya salah satu penyebab: ia sangat obyektif. Tidak seperti indikator teknikal lain yang memerlukan interpretasi yang tentu sangat dipengaruhi oleh “jam terbang” yang dimiliki si trader. Bahkan tidak seperti Fibonacci retracements yang masih memerlukan preferensi si trader dalam menentukan swing high dan swing low.

Penerapan Strategi Pivot

Strategi trading yang berdasar pada pivot points biasanya dipergunakan sebagai strategi trading jangka pendek. Para trader yang mempergunakannya biasanya mencari pergerakan yang tidak terlalu besar, cocok dengan gaya trading intraday mereka.

Seperti halnya strategi trading yang memanfaatkan support dan resistance, para trader bisa memilih apakah mereka akan menerapkan strategi bounce/range-bound, breakout, atau bahkan keduanya.

Para trader yang menganut paham range-bound biasanya memanfaatkan pivot untuk mencari titik-titik reversal (balik arah). Mereka akan mencari peluang buy di area support dan mencari peluang sell di area resistane.

Sebaliknya, para trader yang bergaya breakout akan menunggu hingga support tembus untuk mencari peluang sell. Sebaliknya mereka akan menunggu tembusnya resistance untuk mencari peluang buy.

Mengenal Strategi Camarilla Pivot

Strategi Camarilla pivot (selanjutnya kita sebut Camarilla) merupakan salah satu turunan strategi pivot points.

Strategi ini mirip dengan nenek moyangnya, si pivot points itu sendiri, tetapi lebih komplit untuk dipergunakan sebagai sebuah strategi trading. Strategi ini diciptakan oleh Nick Stott sekitar tahun 1989 dan masih populer hingga saat ini.

Pada dasarnya ada tujuh garis yang menjadi bagian penting dari strategi ini, yaitu:

  • H5 = long breakout target
  • H4 = long breakout
  • H3 = short pivot
  • Pivot Point (PP)
  • L3 = long pivot
  • L4 = short breakout
  • L5 = short breakout target

Level-level tersebut di atas diperoleh melalui rumus berikut:

H5 = (H/L) × C
H4 = C+ RANGE × 1,1/2
H3 = C+ RANGE × 1,1/4

PP = (H + L + C) / 3

L3 = C– RANGE × 1,1/4
L4 = C– RANGE × 1,1/2
L5 = C– (H5 – C)

di mana:

C = Closing Price (harga penutupan hari sebelumnya)

H = High (harga tertinggi hari sebelumnya)

L = Low (harga terendah hari sebelumnya)

RANGE = harga tertinggi – harga terendah hari sebelumnya

 

Kalau digambarkan di chart, kira-kira bentuknya akan seperti ini:

strategi trading forex, strategi forex, strategi trading forex camarilla

 

Strategi Camarilla

Sebenarnya ada banyak teknik yang bisa dikembangkan, tetapi tetap dasarnya adalah bounce dan breakout trading.

Berikut ini adalah beberapa teknik yang bisa Anda coba:

Teknik bounce: jika harga dibuka di antara H3 dan L3

Anda bisa membuka posisi buy, jika:

Harga bergerak sedikit ke bawah L3 namun kemudian berhasil kembali bergerak naik ke atas garis L3. Beberapa trader memilih untuk mengombinasikan dengan konfirmasi dari sinyal trading semacam candlestick pattern. Ada juga yang mengombinasikan dengan indikator teknikal seperti stochastic oscillator.

Tempatkan target di garis H3. Target maksimal di H4 atau H5. Sementara untuk stop loss bisa ditempatkan di bawah garis L4.

Anda bisa membuka posisi sell, jika:

Harga bergerak sedikit ke atas H3 namun kemudian berhasil kembali bergerak turun ke bawah garis H3. Anda bisa mengombinasikannya dengan konfirmasi dari sinyal trading semacam candlestick pattern. Bisa juga dikombinasikan dengan indikator teknikal seperti stochastic oscillator.

Tempatkan target di garis L3. Target maksimal di L4 atau L5. Sementara untuk stop loss bisa ditempatkan di atas garis H4.

Teknik breakout:

Anda bisa membuka posisi buy, jika:

Harga bergerak naik dan tembus ke atas garis H4. Tempatkan target di garis H5 dan stop loss di bawah garis H3.

Anda bisa membuka posisi sell, jika:

Harga bergerak turun dan tembus ke bawah garis L4. Tempatkan target di garis L5 dan stop loss di atas garis L3.

Demikian strategi dasar teknik Camarilla. Jika ada pertanyaan, Anda bisa menghubungi tim Market Analyst & Education FOREXimf.com.

Selamat mencoba.


Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang analisa kami di kolom komentar.

 

Signal Follower vs Independent Trader: Lebih Baik Mana?

Suatu sore, ketika saya tengah tenggelam dalam keasyikan melakukan backtesting sebuah sistem trading yang katanya bisa menghasilkan trading signal akurat, seorang kenalan menghubungi saya melalui WhatsApp.

Dab, ada waktu nggak sore ini?” katanya.

Saya menjawab dengan pertanyaan, “Ada apa, Dab?” Kami memang sering saling menyapa dengan sebutan “dab”, sebuah kata dalam bahasa prokem Yogya yang artinya “Mas (kakak laki-laki). Saya cukup lama tinggal di Yogyakarta, sejak SMA hingga lulus kuliah. Di sanalah kami berkenalan dan kemudian menjadi cukup akrab.

Sebenarnya saya malas diganggu ketika sedang “on fire mengerjakan sesuatu. Distraksi sekecil apa pun bisa serta-merta memadamkan semangat saya. Sulit bagi saya untuk bisa kembali menemukan momentum. Itulah sebabnya saya senantiasa mengenakan headset dan menyalakan musik di kantor ketika sedang mengerjakan sesuatu, supaya saya tak perlu terdistraksi oleh bunyi apa pun. Biasanya saya pilih Mozart atau jazz. Lagipula bisa menenangkan saya, membuat saya bisa berpikir lebih lancar.

“Aku pengen sinau trading,” katanya.

“Sinauadalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya belajar. Saya paham dia hanya berbasa-basi untuk menghormati saya. Lha wong dia memang sudah bisa dan biasa trading, kok. Cukup berpengalaman, malah. Tetapi berbeda dengan saya, ia lebih banyak trading saham. Ia pernah trading forex tetapi tidak begitu berhasil. Saya mengerti ia hanya ingin berdiskusi dan saya suka berdiskusi tentang trading karena bisa memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasan saya.

“OK. Jam piro? Di mana?”

“Habis maghrib, di tempat kita biasa ngopi dulu.” Ia menyebutkan sebuah coffee shop yang cukup terkenal di Bandung. “Gimana?” lanjutnya.

“OK. Sip,” balasku menutup percakapan.

Petang itu kami pun bertemu. Setelah sejenak berbasa-basi dan tertawa tentang kisah-kisah jenaka masa lalu, kami memulai percakapan sesungguhnya. Tentang trading, seperti yang sebelumnya telah kami bicarakan melalui WhasApp. Ia memulai dengan memperlihatkan demo account di laptop yang ia bawa.

Dab, aku pengen trading forex lagi, tapi pengalaman loss yang terakhir cukup membuatku harus lebih berhati-hati,” katanya membuka percakapan.

Loss dalam trading itu biasa, Dab,” kata saya. “Dirimu sebagai trader berpengalaman pasti pahamlah.”

Iyo, bener. Tapi karater forex ini beda dengan saham, Dab. Aku kan masih baru di forex. Jadi sepertinya harus sinau lagi pada dirimu,” katanya.

Halah, gombalmu!” kataku. Kami tertawa bersama.

“Jadi, kemarin aku googling strategi forex, lalu aku menemukan ini,” katanya sambil memutar laptopnya hingga layarnya menghadap kepadaku. Layar itu memperlihatkan situs sebuah trading signal provider berbayar. “Bagaimana menurutmu? Aku tertarik berlangganan,” katanya meminta pendapat saya.

“Tidak ada masalah. Tapi kalau bisa, coba lihat track record mereka dulu. Ada program trial-nya tidak?” kata saya.

“Hm… tidak ada.”

“Kalau begitu, jangan pilih yang itu. Cari yang ada program trial-nya.”

“Memangnya ada yang seperti itu?” tanyanya.

“Ada,” jawab saya. “Bahkan trading signal-nya gratis.”

“Ah, mosok?” Ketidakpercayaan jelas terlihat di wajahnya.

“Kamu coba program trading signal trial dari FOREXimf.com deh. Ada waktu seminggu untuk trial. Gratis. Setelah itu, kalau kamu cocok dan puas, bisa lanjut seumur hidupmu dan tetap gratis,” kata saya.

“Yang bener, Dab?” katanya, masih kurang yakin.

“Iya, bener. Kamu cukup buka live account saja di situ dan trading signal akan kamu dapatkan cuma-cuma selama kamu jadi nasabah aktif di sana. Tidak hanya itu, kamu juga bisa berdiskusi dengan tim Market Analyst seperti kita diskusi saat ini,” jawabku.

“Wah, menarik, Dab!” katanya antusias sambil menjentikkan jarinya. Saya tahu dia antusias, karena kebiasannya menjentikkan jari itu ketika mendengar atau melihat sesuatu yang menurutnya bagus.

“Iyalah. Sana, cepet daftar!”

“Sip, sip. Tapi nanti dulu. Sebenarnya aku mau tanya padamu, menurutmu lebih baik mana: signal follower atau independent trader?” tanyanya.

Saya balik bertanya, “Yang kamu maksud dengan independent trader itu yang seperti apa?”

“Ya… trader yang mandiri. Yang tidak bergantung pada orang lain kalau mau trading. Yang bisa menganalisa sendiri, mengambil keputusan sendiri,” jawabnya.

Independent trader itu baik, signal follower pun tak buruk,” jawab saya.

Saya melanjutkan, “Keuntungan menjadi independent trader adalah kita tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk bisa mendapatkan trading signal. Tetapi untuk menjadi seorang trader yang mandiri tentu tidak instan. Ada waktu dan mungkin bahkan biaya yang harus kita sediakan. Kita juga harus betul-betul berkomitmen untuk itu. Kamu tahu sendiri bagaimana upayaku selama bertahun-tahun, bahkan hingga satu dekade lebih, mendedikasikan diriku mempelajari forex trading.”

Ia manggut-manggut tanda setuju.

Saya melanjutkan, “Di sisi lain, menjadi signal follower juga tidak salah. Asalkan, tidak mengikuti secara buta. Artinya, kalau kita mau jadi signal follower, setidaknya kita harus tahu dasar-dasar analisa dan trading dulu. Di antaranya dan yang paling penting adalah money management dan risk management. Jadi, di saat kita mau mengikuti trading signal yang diberikan oleh signal provider, kita tahu di mana batasan resikonya hingga berapa lot maksimal yang boleh kita pergunakan.

“Nah, di FOREXimf.com, kamu bisa mendapatkan semua itu. Trading signal diberikan tiap kali tim Market Analyst berhasil mendapatkan sinyal yang confirmed, dan kamu bisa berdiskusi dengan mereka tentang posisi yang akan kamu ambil. Jadi itu semacam one stop trading service, kamu dapat trading signal, edukasi sekaligus konsultasi. Enak, kan?

“Jadi, sekali lagi, menjadi signal follower tidak ada salahnya, bahan sama baiknya dengan trader mandiri, asalkan, ya itu tadi: kita sebaiknya punya dasar pengetahuannya dulu. Dengan konsep di FOREXimf.com, kamu secara tidak langsung ‘dilatih’ untuk bisa mengenali peluang secara mandiri juga. Jadi dua-duanya bisa dapat: pertama mungkin jadi signal follower dulu, kemudian menjadi independent trader karena setiap trading signal yang dikirim selalu disertai penjelasan secara teknikal, apa yang menjadi alasan teknikalnya. Misalnya, ada pola candlestick tertentu, atau sinya indikator tertentu.

“Pada gilirannya, karena terbiasa ‘dididik’ melalui trading signal, akhirnya kamu akan jadi trader mandiri juga, Dab. Nantinya, kalau kamu melihat ada peluang, kamu bisa konsultasikan juga dengan tim Market Analyst FOREXimf.com. Biar kamu lebih yakin.

Nah, kalau kamu sudah benar-benar mandiri, trading signal dari FOREXimf.com sudah menjadi semacam ‘asisten pribadi’-mu yang tugasnya memberikan informasi setiap peluang yang muncul seandainya kamu sedang tidak ada waktu mantengin chart. Tinggal tunggu kabar dari tim Market Analyst FOREXimf.com, kamu tingga cek, menurutmu valid atau tidak. Enak, to?” saya menjelaskan panjang lebar.

Matanya berbinar. “Berapa biayanya?” tanyanya.

“Kamu ini lho…. Kan tadi sudah kukatakan: GRATIS. Kamu bisa trial seminggu, lalu setelah kamu buka live account, kamu bisa dapat semua layanan itu GRATIS,” jawab saya.

“Wah, kenapa aku nggak tahu dari dulu?” katanya.

Lha, kamu selama ini ke mana saja?”

Lalu kami kembali tertawa bersama-sama.

Seminggu kemudian, ada pesan di WhatsApp saya, “Dab, aku sudah coba trial untuk signal trading dari FOREXimf.com. Hari ini aku mau buka live account. Thanks, Dab!”

Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang artikel kami di kolom komentar.

Tips Menghindari “False Signal” Dalam Trading Forex

Salah satu metode analisa dalam trading forex adalah analisa teknikal dan charting alias analisa teknikal yang memanfaatkan grafik pergerakan harga (price chart/chart) merupakan salah satu metode analisa teknikal yang paling populer. Para chartist mempergunakan chart untuk kemudian memanfaatkannya untuk memproduksi trading signal yang akurat. Atau, setidaknya diharapkan untuk menjadi akurat, atau mendekati akurat.

Permasalahan yang sering dijumpai kemudian biasanya adalah kemunculan “false signal”, atau sinyal salah. Ada juga yang menamakan “fake signalalias sinyal “palsu”. Sinyal “palsu” semacam ini biasa muncul dari indikator teknikal, baik itu yang standar maupun yang costum.

Jika false signal terlalu sering muncul, cukup sering seorang trader merasa “tertipu” oleh indikator teknikal yang ia pergunakan, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi mempergunakan indikator teknikal tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang indikator teknikal tidak mungkin bisa “sempurna”, dalam arti “selalu benar”. Lebih jauh lagi, trader yang mempergunakan indikator tersebut pun adalah manusia biasa yang bisa jadi salah menginterpretasikan kondisi indikator teknikal saat ia akan membuka posisi.

Jadi, memang bisa jadi indikator teknikalnya yang kurang berkualitas, bisa pula ada faktor “human error, di mana interpretasi seorang trader berbeda dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

Dalam tulisan ini, kita akan membatasi pembahasan pada menghindari false signal pada indikator teknikal standar yang ada di MetaTrader. Kalau kita mau membahas semua indikator custom yang beredar di dunia forex, saya khawatir itu membutuhkan waktu setidaknya dua periode jabatan presiden RI.

Indikator Teknikal

Mari kita pahami dulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan indikator teknikal. Berdasarkan definisi MetaTrader, indikator teknikal adalah “manipulasi matematis” atas harga dan/atau volume yang bertujuan untuk memperkirakan pergerakan harga di masa datang. Keputusan trading mengenai bagaimana dan kapan waktunya untuk membuka atau menutup posisi bisa dibuat berdasarkan sinyal-sinyal dari indikator teknikal.

Menurut fungsinya, indikator teknikal bisa dibagi ke dalam dua kelompok:

  • Indikator trend
  • Indikator osilator

Indikator trend membantu kita untuk mengamati arah harga dan mendeteksi perubahan arah secara langsung ataupun dengan jeda waktu tertentu. Osilator memungkinkan kita mencari “momentum pembalikan” arah.

Perhatikan kata “manipulasi matematis” dalam definisi indikator teknikal di atas. Ini berarti adalah bahwa indikator teknikal sebenarnya adalah “produk” dari pergerakan harga yang telah terjadi, karena ia mengolah data yang ada dan melalui algoritma tertentu memberikan “signal” yang kemudian diinterpretasi sebagai sinyal jual atau beli.

Dengan demikian, permasalahannya kemudian adalah interpretasi dari penggunan indikator tersebut, yaitu trader.

Salah Interpretasi

Indikator teknikal tidak hanya memanfaatkan data pergerakan harga yang telah terjadi tetapi juga pergerakan harga yang SEDANG terjadi. Itulah mengapa – kalau Anda perhatikan – indikator teknikal senantiasa bergerak atau berubah (naik-turun, muncul-hilang, atau berubah warna) mengikuti pergerakan harga terkini.

Ambil contoh, Parabolic SAR. Anda akan sering menemukan titik SAR muncul di bawah bar/candlestick, tetapi kemudian titik tersebut hilang dan berpindah tempat ke atas bar/candlestick yang Anda amati. Itu karena sebelumnya (berdasarkan algoritma pemrogramannya) titik SAR memang semestinya berada di bawah bar/candlestick, tetapi karena harga terus berubah dan membuat perhitungan SAR-nya pun berubah, maka titik SAR kemudian “berpindah tempat”.

Intinya, indikator teknikal bisa berubah sesuai dengan kondisi market.

Contoh kasus Parabolic SAR di atas hanya salah satu contoh saja. Mungkin Anda sering mendengar ada rekan trader Anda yang berceloteh, “Wah, stochastic-nya nipu! Tadi udah crossing naik, eh dia turun lagi!”

Sebenarnya, Saudara-Saudara, stochastic tidak menipu. Kitalah yang sering salah menginterpretasi kondisi stochastic. Bahwa sinyal dari stochastic bisa gagal, ya. Tetapi dia tidak menipu.

Tunggu Konfirmasi Closing Bar/Candlestick

Untuk menghindari “salah paham” atau salah interpretasi yang melahirkan false signal, Anda perlu menunggu sampai sinyal yang muncul dari indikator teknikal itu betul-betul terkonfirmasi.

Di atas sudah saya jelaskan bahwa indikator teknikal bisa berubah mengikuti perkembangan harga terkini, maka kuncinya adalah Anda harus menunggu hingga bar/candlestick yang Anda pergunakan betul-betul sudah “komplit”. Maksudnya bagaimana?

“Komplit” di sini maksudnya adalah sudah “closed”.

Mari kembali ke tuduhan “stochastic menipu” tadi. Contohnya, jika Anda mempergunakan candlestick time frame H1, maka untuk mengonfirmasi sinyal dari stochastic pastikan “umur” candlestick-nya sudah satu jam. Tunggu hingga candlestick tersebut closed, persis satu jam. Sinyal yang diberikan oleh stochastic (buy atau sell) akan lebih confirmed jika candlestick-nya sudah betul-betul closed.

Pergunakan Beberapa Indikator

Cara lain untuk meminimalisir “false signal adalah dengan mengombinasikan beberapa indikator teknikal. Cara ini cukup banyak dipergunakan oleh trader-trader berpengalaman. Kombinasi beberapa indikator inilah yang kemudian biasa disebut sebagai strategi trading.

Dengan mempergunakan beberapa indikator teknikal, Anda akan bisa melihat “sudut pandang” lain. Misalnya Anda memadukan Moving Average (MA) dengan stochastic. Ketika stochastic memperlihatkan sinyal buy tetapi  MA justru mengarah ke bawah, Anda bisa berhati-hati karena sinyal buy yang muncul mungkin tidak terlalu kuat, atau mungkin false, karena melawan trend yang sedang terjadi.

Tetapi ingat, sebaiknya tidak mempergunakan terlalu banyak indikator untuk menghindari kebingungan. Disarankan untuk mempergunakan maksimal tiga indikator berbeda dalam satu chart.

Selamat mencoba.

Jika Anda menginginkan analisa real time dan lebih tajam, silakan coba layanan Signal Trading Trial kami melalui aplikasi Whatsapp.

Silakan kemukakan pendapat Anda tentang tips menghindari false signal di kolom komentar.

3 Penyebab Kegagalan Mencapai Target Trading Forex

Mungkin sudah cukup sering saya mengungkapkan melalui tulisan atau seminar, webinar, atau workshop yang saya bawakan bahwa yang terpenting bagi seorang trader bukanlah hasil, melainkan proses.

OK, mungkin terdengar terlalu idealis, tetapi disukai atau tidak memang itulah intinya. Karena dalam prosesnya, seorang trader setidaknya harus memiliki cukup pengetahuan dan disiplin. Seorang trader yang disiplin dan berpengalaman bisa dengan mudah mengantisipasi setiap pergerakan pasar yang tidak sesuai dengan harapannya. Tanpa hal-hal dasar ini, tidak mungkin seseorang bisa tiba-tiba menjelma menjadi trader yang kompeten. Pengetahuan, pengalaman dan kedisiplinan membutuhkan proses.

Lebih penting lagi adalah proses dalam mengambil keputusan trading. Seorang trader tidak mengambil keputusan dengan cara menghitung jumlah kancing bajunya. Tidak berdasarkan ramalah zodiaknya. Tidak pula berdasarkan perasaan. Trader kok baper….

Berdasarkan pengalaman pula saya bisa menemukan bahwa ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang trader gagal dalam mencapai target-targetnya dalam trading forex. Tiga di antaranya adalah berikut ini:

  1. Tidak memiliki trading plan yang jelas

Silakan menetapkan target setinggi mungkin yang Anda inginkan, tetapi ingatlah bahwa target tanpa perencanaan yang jelas sama dengan mimpi.

Buatlah target-target berdasarkan trading plan yang terencana dengan baik. Semakin detil trading plan Anda, semakin baik. Masukkan detil-detil seperti pembatasan resiko per transaksi, strategi/sistem trading yang dipergunakan, hingga strategi berupa risk management tool yang akan Anda pergunakan (cut loss, switching, averaging dan sebagainya).

  1. Tidak menjalankan trading plan dengan baik

Banyak trader yang begitu bersemangat ketika menyusun trading plan namun kendur ketika melaksanakannya. Akhirnya trading plan yang ia buat hanya menjadi “monument” belaka yang nasibnya mirip dengan resolusi tahun barunya yang ia buat dengan penuh semangat menjelang akhir tahun, namun akhirnya terlupakan begitu saja.

Jadi, setelah Anda menyusun trading plan, laksanakanlah dengan disiplin bahkan sampai ke hal-hal “kecil”. Jangan melakukan pelanggaran sekecil apa pun terhadap trading plan Anda karena itu akan menjadi kebiasaan dan pada gilirannya Anda akan menjadi semakin permisif dalam mengingkari trading plan tersebut, sehingga Anda akan terbiasa melakukan pelanggaran yang berakibat fatal.

Contohnya, seorang trader tadinya telah menetapkan bahwa resiko per transaksi tidak boleh lebih dari 10% dari modalnya. Misalkan ia memiliki modal sebesar $1,000 maka resiko untuk setiap transaksi yang ia lakukan tidak boleh lebih dari $100.

Suatu ketika ia melihat sinyal trading berdasarkan sistem yang ia miliki. Dengan perhitungan position size, katakanlah semestinya ia hanya membuka 0.1 lot. Tetapi kala itu ia merasa yakin bahwa sinyal trading yang ia lihat sangat akurat, sehingga ia tergoda untuk membuka transaksi lebih besar lagi, misalnya 0.5 lot, dengan cita-cita ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Salah satu alasan mengapa resiko perlu dibatasi adalah untuk menghindari resiko yang terlalu besar. Ketika si Trader memutuskan untuk membuka transaksi sebesar 0.5 lot dengan batasan SL yang tidak berubah, itu artinya ia membiarkan modalnya untuk menghadapi resiko yang lebih besar daripada seharusnya.

Perilaku seperti ini cenderung berulang dan ketika si Trader menyadari kesalahannya, biasanya sudah terlambat. The end has come.

  1. Tidak terbiasa membuat jurnal trading

Ini yang paling sering diabaikan trader. Anda sebaiknya mencatat setiap hal yang terkait dengan transaksi yang Anda lakukan. Anda sebaiknya melakukan pencatatan tersebut setiap kali Anda melakukan transaksi.

Anda bisa mengisi jurnal Anda misalnya seperti ini:

forex trading, trading forex

Ketika transaksi tersebut ditutup, catat juga hasilnya (profit atau loss, tidak perlu detil hingga besaran profit/loss karena sudah ada di Account History). Catat juga apa kira-kira yang menyebabkan transaksi Anda berakhir untung atau rugi.

Jurnal seperti ini akan sangat membantu Anda dalam mengevaluasi hasil trading Anda. Jika total transaksi Anda menghasilkan keuntungan, Anda tinggal mengulang apa yang Anda lakukan. Sebaliknya jika hasilnya merugi, Anda bisa tahu apa yang menyebabkan kerugian itu agar bisa Anda hindari di kemudian hari.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex 100% Berhasil, Mungkinkah?

Sebentar. Sebelum Anda melanjutkan membaca artikel ini, saya mau bertanya. Siapa di antara Anda yang menafsirkan bahwa strategi yang akan saya paparkan kali ini adalah strategi trading forex tanpa loss? Jika Anda menafsirkan demikian, bersiaplah untuk kecewa.

Eits, tunggu dulu. Anda perlu tahu bahwa meskipun ada transaksi yang mengalami loss, strategi yang akan saya paparkan kali ini tetap sering dipergunakan untuk meraih potensi keuntungan. Apa nama strategi itu? Namanya adalah: MARTINGALE.

Apa Itu Martingale?

Sebenarnya strategi ini sangat sering dipraktekkan di meja judi semacam kasino (tempat judi) di Las Vegas. Konon, strategi inilah yang menyebabkan kasino-kasino jaman now menerapkan aturan berupa pembatasan jumlah taruhan maksimun dan minimum. Masalah utama dalam menerapkan strategi ini adalah bahwa Anda mutlak memerlukan dana yang sangat – sangatBESAR. Bahkan saya sendiri sering mengatakan bahwa untuk menerapkan strategi ini agar bisa bekerja 100%, Anda membutuhkan sumber dana yang “tidak terhingga”.

google-review-foreximf

Strategi martingale dibangun di atas teori (setidaknya hipotesa) bahwa harga akan senantiasa mengalami koreksi. Saya ingatkan sekali lagi: tanpa sokongan modal yang cukup besar, penerapan strategi ini hanya akan membawa Anda menuju kegagalan.

Strategi ini sendiri mulai dipopulerkan di abad ke-18. Pertama kali diperkenalkan oleh ahli matematika Perancis bernama Paul Pierre Levy. Aslinya, strategi ini berasal dari teknik bertaruh “doubling down”.

Di meja judi, dengan sistem doubling down, jumlah “taruhan” justru akan digandakan tiap kali mengalami kekalahan. Dengan demikian pada suatu saat semua kekalahan akan tertutup oleh satu kali kemenangan.

Mari kita ambil contoh. Anggaplah Anda sedang “bertaruh” dengan saya. Kita bertaruh lempar koin, yang memiliki dua sisi yaitu sisi “gambar” dan sisi “angka”. Anggaplah besar taruhan kita adalah $1 untuk tiap kali tos (lempar koin). Ingat, tiap kali kalah, Anda akan menggandakan taruhan Anda.

Ingat juga bahwa Anda akan konsisten bertaruh hanya untuk kemunculan sisi “angka”. Meskipun Anda bisa jadi akan beberapa kali kalah, tetapi pada suatu waktu semua kekalahan Anda itu akan terbayar.

Hasil dari “permainan” kita akan saya ilustrasikan dalam tabel berikut:

Dari tabel di atas bisa Anda lihat bahwa dari tos ke-2 hingga ke-6 Anda selalu kalah. Tetapi pada tos ke-7, pilihan Anda muncul dan Anda memenangkan $32. Ketika ditotal, semua kekalahan Anda langsung terbayar dan hasilnya Anda untung sebesar $2.

Tetapi itu asumsinya adalah pada tos ke-10 Anda menang. Jika ternyata sisi “angka” tak kunjung muncul, maka pertanyaannya adalah, “Masih cukupkah uang Anda untuk melanjutkan permainan?”

Aplikasi Martingale Sebagai Strategi Trading

Contoh di atas adalah ilustrasi hasil yang mungkin muncul jika Anda berjudi. Kemunculan sisi “angka” atau “gambar” murni karena keberuntungan (atau kesialan) semata. Tetapi ketika trading, Anda akan melihat bahwa pergerakan harga mata uang cenderung bergerak dalam trend tertentu (price moves in trend) dan trend tersebut bisa berlangsung cukup panjang. Kunci pertama Anda adalah menentukan posisi pertama yang benar (buy atau sell).

Selain itu, trend juga memiliki “koreksi”. Jadi meskipun posisi pertama Anda salah, Anda masih memiliki kesempatan untuk membayar kesalahan tersebut ketika terjadi koreksi.

Trend dan koreksi sendiri merupakan sebuah keniscayaan dalam pergerakan harga. Dengan demikian, unsur “spekulatif” dalam penerapan martingale dalam trading bisa dihilangkan, atau setidaknya diminimalisir. Apalagi jika dikombinasikan dengan analisa teknikal dalam menentukan pembukaan posisi.

Coba Anda simak ilustrasi berikut ini:

strategi trading forex, martingale

Anda bisa melihat bahwa ketika harga naik ke 1.50500 maka si Trader sudah mengalami kerugian sebesar 500 pips (-$500). Dengan sistem martingale, di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar dua lot, digandakan dari  posisi sebelumnya yang hanya 1 lot. Ketika harga naik lagi ke 1.51000, si Trader sudah mengalami kerugian sebesar -$2,000 dan di level tersebut si Trader kembali membuka posisi sell sebesar 4 lot.

Ketika harga kembali ke 1.50500, barulah kerugiannya berubah menjadi keuntungan sebesar 1500 pips atau $1,500.

Pertanyaan yang sama kembali muncul, “Sampai sejauh mana modal Anda kuat menahan pergerakan harga?”

Saya lantas membuat hitung-hitungan sederhana. Jika Anda ingin menerapkan martingale dengan memulai transaksi dengan besaran 0.1 lot dengan multiplier (pengali) dua, kira-kira modal yang Anda butuhkan akan seperti ilustrasi di bawah ini:

Interval (jarak) antar posisi : 500 pips
Lot awal : 0.1
Multiplier (pengali) : 2
Deposit awal : USD 50,000
Posisi : Sell

 

Output:

Dari ilustrasi di atas, terlihat bahwa dengan modal $50,000 Anda bisa menahan pergerakan harga hingga 3500 pips. Jika harga tak mengalami koreksi dan terus naik, maka modal sebesar itu bisa habis.

Maka jika Anda ingin menjalankan strategi trading forex ini, modal yang Anda butuhkan sangatlah besar. Bahkan mungkin Anda harus menyiapkan sumber dana yang tak terbatas, seperti yang saya sampaikan di awal. Artinya, resikonya pun mungkin unlimited.

So, the choice is yours. Choose wisely.

Strategi Trading Forex ”London Breakout”

Strategi trading forex “London breakout” merupakan salah satu strategi yang cukup populer dalam forex. Dalam perkembangannya, masing-masing trader/analis yang mengembangkan strategi ini memberikan nama yang berbeda-beda, tetapi konsepnya sama yaitu memanfaatkan pergerakan menjelang pembukaan market London.

Strategi yang termasuk dalam kategori mechanical trading system ini didesain untuk “menangkap” pergerakan cepat yang terjadi menjelang pembukaan pasar London. Untuk bisa mempergunakan strategi ini Anda membutuhkan kemampuan dasar mempergunakan MetaTrader, minimal menggambar kotak dan garis horizontal di chart, plus beberapa jam memantau sesi London.

google-review-foreximf

Saya kira tidak perlu saya beritahu lagi bahwa sebelum pasar London buka sudah ada pasar di sesi Asia yang telah berjalan. Biasanya memang aktivitas pasar yang paling tinggi terlihat pada sesi Eropa, maka dengan strategi ini kita akan mencoba untuk mencari peluang dengan berpatokan pada range harga yang tercipta pada saat sesi Asia.

Sebenarnya Anda tidak perlu mempergunakan indikator apa pun untuk menjalankan strategi trading forex “London Breakout” ini. Meskipun demikian, kalau Anda bisa menemukan indikator “market hour” di internet atau marketplace MetaTrader, itu akan cukup membantu. Tetapi, indikator itu sifatnya opsional, tak ada pun tidak masalah. Yang penting Anda tahu bagaimana cara membuat kotak dan garis horizontal di MetaTrader.

Strategi

Jadi, menjelang memasuki sesi London, Anda telah memiliki range harga sebagai acuan yang terbentuk dari pergerakan di sesi Asia. Adapun range yang dimaksud sebenarnya bukanlah range sesi Asia secara keseluruhan, melainkan tiga jam terakhir saja. Currency pair yang paling cocok untuk strategi ini adalah GBPUSD, EURUSD dan NZDUSD.

Agar penjelasannya lebih mudah, strateginya akan saya rangkum sebagai berikut:

  1. Pergunakan time frame
  2. Buat kotak di chart dengan tiga candlestick terakhir yang muncul sebelum sesi London dimulai. Jika Anda mempergunakan FOREXimf Trader berplatform MetaTrader, maka candlestick yang menjadi acuan adalah candlestick dari pukul 07:00 sampai 09:00 waktu MetaTrader.
  3. Berdasarkan “kotak” tersebut di atas, gambarlah dua garis horizontal yang masing-masing berfungsi sebagai support dan resistance. Artinya Anda harus menggambar satu garis horizontal di sisi atas “kotak” tersebut dan satu garis horizontal lainnya di sisi bawah “kotak”.
  4. Tempatkan Stop Order:
    1. Buy Stop kira-kira 5 pips di atas resistance, tempatkan SL di level Sell Stop
    2. Sell Stop kira-kira 5 pips di bawah support, tempatkan SL di level Buy Stop
  5. Jika salah satu Stop Order tereksekusi (done), Anda harus segera menghapus (cancel) Stop Order yang menjadi lawannya. Artinya jika Buy Stop yang tereksekusi maka segeralah batalkan oder Sell Stop dan sebaliknya.

Gambar di bawah ini bisa memperjelas strategi yang saya paparkan di atas:

strategi trading forex, strategi london breakout

 

 

 

Kelebihan dan Kekurangan

Sebagaimana mechanical trading system lain, strategi trading forex “London Breakout” ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya adalah:

  • Tidak memerlukan indikator teknikal yang rumit
  • Relatif mudah untuk dimengerti dan diterapkan
  • Murni mempergunakan price action, sehingga mengurangi resiko terlambat masuk posisi

Kelemahannya adalah:

  • Ada potensi “terjebak” oleh bull trap atau bear trap
  • Pada hari Senin atau Jumat sering muncul pergerakan yang “tidak biasa”, sehingga peluang yang muncul di hari tersebut cenderung kurang akurat.

Seperti biasa, saya menyarankan Anda untuk mempelajari dan melatih strategi ini terlebih dahulu di demo account sebelum menjalankannya di real account Anda, sebab belum tentu strategi ini cocok untuk Anda.

Jangan lupa, meskipun mempergunakan demo account Anda tetap harus memperlakukannya seperti real account, terutama dalam hal penempatan SL. Pembiasaan melalui demo account akan membentuk habit yang baik sebagai seorang trader.

Selamat mencoba.

Strategi Trading Forex Short-Term: Reversal Bollinger

Anda mungkin sudah sangat mengenal Bollinger Band. Mungkin juga sudah mempergunakannya dalam melakukan forex trading. Kali ini saya akan membahas salah satu strategi trading forex yang mempergunakan Bollinger Band dalam sebuah mechanical trading system yang sederhana untuk transaksi jangka pendek.

Dalam strategi sederhana ini, Bollinger Band bekerja untuk mencari titik balik (reversal) dalam sebuah trend. Anda mungkin telah mengetahui bahwa garis-garis pada Bollinger Band bisa dimanfaatkan sebagai area support dan resistance dinamis.

google-review-foreximf

Tidak seperti indikator berbasis trend lainnya, keberadaan upper dan lower band pada Bollinger Band membuat indikator ini bisa dimanfaatkan saat market sideway, tentunya dengan teknitk tertentu. Nah, kali ini saya akan membahas teknik tersebut.

Menariknya, teknik yang akan saya paparkan kali ini cukup efektif dipergunakan saat sideway, atau kondisi trending yang tidak terlalu curam. Tetapi waspadalah karena kondisi sideway biasanya diikuti oleh penyempitan Bollinger Band (Bollinger squeeze). Squeeze cuku sering diikuti oleh rally pasca penembusan upper atau lower band. Untuk memperkecil resiko maka teknik ini juga mengikutsertakan salah satu indikator osilator, yaitu RSI yang bisa memberikan informasi dini mengenai kondisi jenuh beli atau jenuh jual. Penggunaan RSI diharapkan akan bisa memberikan filter yang lebih baik

Sebagai sinyal untuk melakukan transaksi, strategi ini memanfaatkan kemunculan pola candlestick yang memperlihatkan terjadinya false-break ke atas upper band atau ke bawah lower band. Tentu saja teknik ini hanya bisa menjanjikan potensi rebound jangka pendek saja. Dengan demikian, penempatan target profit (TP) tidak bisa terlalu jauh.

OK, tanpa perlu panjang-lebar, pemaparan berikut ini adalah aturan penggunaan strategi ini.

Pair: currency pair yang tidak terlau fluktuatif, disarankan di USDCAD.

Time frame: H1 ke atas

Indikator Teknikal:

  • Bollinger Band:
    • Period: 50
    • Deviations: 2
    • Apply to: close
  • RSI:
    • Period: 5
    • Apply to: close

Sinyal Trading:

  • Sinyal sell:
    • Jika harga high dari candlestick yang dijadikan acuan lebih tinggi daripada upper band dan harga close-nya berada di bawah upper band.
    • RSI sudah crossing dari atas 75 (ke bawah).
strategi trading forex, bolinger band

Entry sell setelah candlestick acuan close di bawah upper band

  • Sinyal buy:
    • Jika harga low dari candlestick yang dijadikan acuan lebih rendah daripada lower band dan harga close-nya berada di atas lower band.
    • RSI sudah crossing dari bawah 25 (ke atas).
strategi trading forex, bolinger band

Entry buy setelah candlestick acuan close di atas lower band

Strategi exit:

  • Tempatkan SL sejauh 50 pips di atas high candlestick acuan
  • Penempatan TP:
    • Target I: middle band
    • Target II: lower band (untuk posisi sell)/upper band (untuk posisi buy)
    • Tips: jika harga sudah menyentuh target pertama, disarankan untuk mengaktifkan trailing stop atau menutup sebagian posisi (partial close).
strategi trading forex, bolinger band

Close sebagian posisi atau aktifkan trailing stop ketika harga mencapai target I (middle band)

strategi trading forex, bolinger band

Close semua posisi ketika harga mencapai target II (lower band)

 

Peringatan!

Sebagaimana mechanical trading system sederhana lainnya, tidak ada jaminan bahwa strategi ini akan selalu menghasilkan keuntungan. Dalam trading, Anda harus memadukan sistem trading forex Anda dengan risk management dan money management yang baik dan sesuai dengan kekuatan modal Anda.

Selamat mencoba.

Belajar Trading Forex Dengan Benar

Halo, para Trader. Kali ini saya akan berceritera tentang perilaku trading saya di masa lampau. Masa ketika saya masih berstatus newbie (meskipun saat ini belum bisa dikatakan expert) di dunia trading forex yang penuh dengan gelora ini.

Saya mengenal forex di tahun 2005. Saya menghabiskan waktu mempelajari berbagai macam teknik analisa dan trading dalam waktu lebih kurang setahun. Saya tidak peduli meskipun saat itu saya masih berstatus sebagai tenaga pemasar di sebuah pialang berjangka. Bagi saya, yang penting belajar dulu. Cari nasabah belakangan saja. Toh waktu itu saya tidak digaji, hanya mendapatkan komisi dari transaksi nasabah saya, itu pun jika saya berhasil memperoleh nasabah.

google-review-foreximf

Bisa ditebak, perilaku itu berbuah ceramah dan nasihat panjang lebar dari supervisor saya dulu. Beliau pun semakin yakin kalau ia salah merekrut orang. Tetapi beliau rupanya melihat potensi lain pada diri saya, sehingga akhirnya pada tahun 2008 beliau merekomendasikan saya untuk menjadi staf market analyst di pialang tersebut. But thats another story.

Tahun 2006, saya memberanikan diri untuk trading dengan modal patungan bersama tiga orang teman. Di beberapa bulan pertama saya trading real account, saya menganggap performa trading saya “luar biasa”. Mengapa? Di tiga bulan pertama, saya berhasil membukukan keuntungan berturut-turut sekitar 30% dari modal awal. Meskipun sudah dibagi empat, sebagai fresh graduate kala itu perolehan sebesar itu cukup besar bagi saya.

Kepercayaan diri saya bertambah, bahkan cenderung jumawa. Saya merasa sudah berada di puncak dunia. Bayangkan, dalam tiga bulan trading itu saya tidak pernah sekalipun melakukan cut-loss. Catat ya: TIDAK PERNAH. Itu artinya 100% dari transaksi yang saya lakukan dalam tiga bulan tersebut membuahkan profit.

Nahas, di bulan ke-4 saya tak mampu mempertahankan prestasi. Floating loss berlarut-larut hingga akhirnya saya menyatakan diri tidak mampu lagi mengelola modal kami. Untungnya sempat profit, sehingga jika ditotal kerugian kami “hanya” sekitar 50% dari modal awal (bandingkan dengan kebanyakan trader yang harus sampai terkena margin call).

Waktu itu saya menarik kesimpulan ilmu yang saya peroleh kurang lengkap. Tetapi ternyata kesalahan saya lebih dari itu. Kesalahan utama saya adalah mindset yang salah dan cara belajar yang tidak tepat.

Seperti kebanyakan trader pemula, waktu itu saya terlalu fokus untuk mendapatkan hasil yang cepat dan – tentu saja – banyak. Waktu itu forex digambarkan sebagai salah satu bentuk bisnis yang menawarkan hasil yang cepat. Bahkan mungkin hingga saat ini pun mindset masyarakat masih sama tentang forex.

Betul bahwa pergerakan harga mata uang jauh lebih volatile dibandingkan dengan saham, misalnya, sehingga peluang yang tercipta memang jauh lebih besar. Di sinilah “racun”-nya. Ambisi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat seringkali membuat seorang trader membuka transaksi yang terlalu besar. Padahal di balik potensi keuntungan yang besar itu tersimpan pula resiko yang tak kalah besarnya. Itulah sebabnya mengapa sangat dianjurkan untuk membatasi resiko melalui pengaturan penggunaan modal yang tepat (mengatur jumlah lot) serta pembatasan resiko yang sesuai (manajemen resiko). Sayangnya, keinginan untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat membuat banyak trader melupakan hal yang sangat mendasar dalam trading ini.

Itu juga “dosa” yang saya lakukan dulu. Dalam pikiran saya hanya ada “untung, untung dan untung”. Seperti yang saya sampaikan di atas, dalam tiga bulan pertama pengalaman trading saya tidak pernah melakukan cut-loss sekalipun. Tidak pernah membatasi resiko dengan stop loss. Padahal tidak ada seorang pun yang bisa tahu persis ke mana harga akan bergerak. Artinya, kita bisa mengalami kerugian kapan saja. Antisipasi akan hal tersebut adalah manajemen resiko, yang banyak dilupakan trader.

Selain mindset, banyak juga trader yang melewati proses pembelajaran trading forex yang benar. Kebanyakan ingin langsung bisa melakukan trading dengan strategi atau sistem yang siap pakai. Itu pun dulu merupakan dosa saya.

Saya dulu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari berbagai strategi atau sistem trading tanpa meluangkan cukup waktu untuk mempelajari dasar-dasar trading. Saya bahkan baru memahami konsep dasar trend setelah dua tahun terjun ke dunia trading, yang sialnya baru saya pelajari setelah sempat “terjungkal”. Bayangkan, ada trader yang berani trading bahkan sebelum ia paham apa itu trend yang merupakan “nyawa” dari pergerakan harga.

Saya sering menganalogikan belajar trading forex seperti mempelajari beladiri. Tidak mungkin ada seorang karateka yang langsung menyandang sabuk hitam tanpa melalui proses berlatih yang panjang mulai dari sabuk putih, kuning dan seterusnya, kecuali jika ia adalah orang penting yang diangkat sebagai anggota kehormatan perguruan tertentu.

Belajar trading pun demikian. Seseorang sebaiknya mempelajari ilmu tentang trading dari sumber yang kompeten dan dengan cara yang benar juga. Pelajarilah dasar-dasar trading terlebih dahulu, yaitu trend, support dan resistance. Setelah Anda menguasai ketiga elemen tersebut, barulah Anda bisa melanjutkan ke materi lain seperti indikator teknikal, pola harga (price pattern) dan lain-lain.

Kebanyakan kesalahan yang dilakukan trader adalah langsung “loncat” ke sistem atau strategi trading. Padahal untuk bisa mengetahui pada kondisi seperti apa sebuah sistem trading bisa dipergunakan atau tidak, kita harus mengetahui apa yang menjadi dasar sistem trading tersebut. Nah, untuk mengetahui dasar sistem trading tersebut, mau tidak mau kita harus memahami dulu dasar-dasar trading.

Jadi, sekali lagi: belajarlah dari sumber yang reliable dan dengan cara yang benar pula. FOREXimf.com bisa menjadi salah satu rujukan Anda.

Selamat belajar.