Psikologi dalam trading adalah salah satu faktor penting untuk sukses menjadi trader dengan profit konsisten. Oleh karena itu, kami sediakan informasi yang dapat membantu Anda mencapai keuntungan dengan informasi yang tepat. Silahkan jelajahi artikel kami di bawah ini.

Stress Bisa Berguna Dalam Forex Trading?

Forex trading pada gilirannya akan “memaksa” Anda untuk berhadap-hadapan dengan potensi resiko setiap hari. Karena ketidakpastian yang ada, Anda sering kali harus mengantisipasi kejadian yang sangat bisa jadi akan membuat Anda merasa stress. Secara psikologis, terserang stress merupakan reaksi normal yang terjadi selama trading. Sama normalnya seperti seekor elang yang memangsa seekor kelinci.

Lho, tunggu dulu… bukankah stress itu selalu buruk? Hal baik apa yang bisa dimanfaatkan dari stress?

Stress, dalam kadar tertentu, bisa bermanfaat jika bisa memberikan jalan untuk mengambil keputusan apakah akan “bertahan” atau “menghindar” jika Anda telah menjadi semakin waspada dan siap secara mental untuk menghadapi setiap kemungkinan. Jika diibaratkan, kondisi seperti itu seperti ketika seorang pendekar yang mendapatkan lecutan adrenalin ke otaknya dan kemudian pikirannya akan memberi perintah kepada tubuhnya untuk bereaksi secara spontan atas serangan lawannya. Dalam hal ini, stress justru berfungsi untuk melindungi diri.

Namun jika seorang trader yang tidak memiliki kemampuan untuk bereaksi secara positif terhadap stress, justru hal tersebut akan memperburuk performanya. Alih-alih meningkatkan kewaspadaan dan bereaksi pada sebuah situasi, ia justru akan tenggelam dalam ketakutan dan menjadi gugup atau bahkan diam terpaku. Pada situasi seperti itu ia tidak akan mampu membuat keputusan yang baik karena ia kehilangan kemampuannya untuk tetap tenang dan fokus.

Bayangkan jika ketika Anda sedang menyeberang jalan kemudian tiba-tiba ada sebuah mobil – atau lebih besar lagi: truk – melaju ke arah Anda dengan kecepatan tinggi. Bagaimana kira-kira Anda akan bereaksi?

Normalnya, ketika itu terjadi Anda akan berada dalam tingkat stress yang cukup tinggi. Jika Anda memiliki kemampuan untuk “bereaksi positif” terhadap stress yang muncul saat itu, Anda akan berlari untuk menyelamatkan diri. Jika tidak, Anda hanya akan terpaku di tengah jalan dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada akhirnya, kemampuan dan kualitas reaksi Andalah yang akan membedakan hasil yang akan Anda terima. Dalam situasi kritis, kemampuan Anda mengatasi stress adalah hal yang menentukan apakah Anda akan selamat atau sekarat.

OK, lalu bagaimana agar hal tersebut bisa diaplikasikan dalam trading?

Langkah pertama adalah menyadari benar bahwa resiko adalah bagian yang tak terpisahkan dengan trading forex. Kerugian yang diderita dari sebuah transaksi, atau bahkan beberapa kali transaksi, bukanlah merupakan akhir dunia. Tentu saja jika Anda melakukan trading dengan manajemen resiko yang benar dan tepat. Sekali Anda menyadari fakta ini, Anda akan bisa fokus pada hal-hal yang mampu Anda lakukan.

Langkah ke dua adalah menyadari bahwa memang ada potensi Anda akan berada dalam tekanan. Anda harus bisa belajar bagaimana caranya bertindak dengan tenang, fokus dan rasional dalam situasi seperti itu. Anda harus berlatih untuk mengenali “potensi bahaya” kemudian menghindari situasi tersebut seperti halnya Anda menyelamatkan diri dari truk yang hampir menabrak Anda.

Menerima kekalahan juga adalah merupakan salah satu cara membangun respon positif. Anda akan bisa bersikap positif jika dan hanya jika anda berlatih sungguh-sungguh untuk itu. Dengan berlatih (Anda bisa mempergunakan akun demo lalu mengevaluasi respon Anda terhadap stress), reaksi negatif dengan sendirinya akan berkurang dan Anda bahkan bisa mempertajam intuisi Anda untuk menghindari “lubang-lubang jebakan” dalam trading, yang bisa muncul karena ketidakpastian pasar.

Cara termudah untuk bisa mencapai tahap “rileks” dalam trading forex tentu saja adalah dengan memiliki modal yang kuat, yang didukung oleh trading plan yang matang.

Jika Anda bisa berlatih dengan benar di akun demo, maka ketika dihadapkan pada situasi real Anda tidak lagi akan gugup, lalu terpaku, yang bisa menyebabkan kehancuran modal Anda.

Selamat berlatih mengendalikan stress. 

Trader Forex Atau Gambler Forex?

Pengalaman 10 tahun di broker forex memberikan saya semacam kemampuan “menerawang” karakter seorang trader; apakah ia benar-benar trader ataukah gambler.

Yuk, kita coba untuk melakukan analisa kecil-kecilan. Mari kita tengok definisi berjudi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia: “Mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar daripada jumlah uang atau harta semula”.

Nah, topik kali ini diharapkan bisa membuka wawasan Anda mengenai perbedaan yang tegas antara seorang trader dengan gambler. Mungkin meskipun misalnya Anda beranggapan bahwa Anda bukanlah tipe gambler, Anda sebaiknya tetap membaca artikel ini sampai tuntas, sebab justru banyak trader yang tidak sadar bahwa dirinya sedang menjalani perilaku gambler.

Yang namanya gambler, jika mereka punya $500 di akun mereka dan habis, maka mereka akan tambah lagi $500 dan selalu begitu berulang-ulang. Mereka tidak pernah mengganti strategi atau cara mereka melakukan transaksi namun tetap berharap akan untung. Itu kebodohan yang keterlaluan.

Perbedaan trader dengan gambler

Dalam trading, Andalah yang menentukan apakah akan keluar sebagai pemenang atau pecundang. Masalahnya, setiap orang berpotensi untuk menjadi penjudi, makanya Anda harus memiliki rencana yang matang untuk melawan godaan tersebut.

Untuk itu, Anda harus tahu ciri-ciri yang membedakan seorang trader dengan gambler.

Ciri-ciri seorang “gambler forex” adalah:

  • Tidak punya strategi trading yang efektif
  • Tidak punya atau tidak menggunakan trading plan
  • Tidak memedulikan manajemen resiko
  • Hanya fokus pada peluang keuntungan, tidak mau fokus pada proses
  • Selalu emosional ketika trading
  • Panjang angan-angan, sehingga berharap keuntungan yang terlalu tinggi
  • Overtrade, yaitu membuka posisi terlalu sering dan/atau terlalu banyak
  • Tidak mau melakukan evaluasi
  • Ingin cepat untung

Sementara itu, ciri-ciri seorang trader forex sejati adalah:

  • Menguasai strategi trading yang efektif
  • Memiliki trading plan dan menerapkannya dengan baik (disiplin)
  • Sangat fokus pada manajemen resiko dan mengatur batasan resiko tiap kali trading
  • Berfokus pada proses. Baginya jika prosesnya benar maka ia tak perlu mengkhawatirkan keuntungan
  • Menghindari emosi ketika trading entah ketika sedang untung ataupun rugi
  • Hanya melakukan transaksi pada saat dan jumlah yang tepat, sesuai dengan strategi dan trading plan
  • Menetapkan target sesuai dengan analisa dan trading plan
  • Selalu melakukan evaluasi berkala atas hasil tradingnya
  • Memperlakukan trading seperti bisnis lainnya; ia sadar bahwa untuk mendapatkan keuntungan membutuhkan proses

Nah, sekarang Anda sudah bisa melihat perbedaan antara trader dengan gambler. Jika Anda perhatikan, mayoritas pembedanya adalah faktor-faktor psikologis. Tentu saja itu datang dari diri sendiri ketika seorang trader berinteraksi dengan pasar yang memang tidak “jinak”.

Jika Anda menemukan ciri-ciri gambler pada diri Anda, sebaiknya segera eliminasi unsur-unsur tersebut dan menggantikannya dengan sifat-sifat trader sejati seperti yang ada dalam daftar di atas.

Untungnya, tidak seperti tabiat pejudi asli, seorang trader forex harusnya lebih mudah untuk lepas dari kebiasaan-kebiasaan gambler. Batasan-batasannya sudah jelas, sehingga yang perlu dilakukan hanyalah mengubahnya dengan kebiasaan-kebiasaan trader forex sejati. Jika Anda bisa, maka Anda sudah selangkah lebih dekat untuk menjadi trader forex profesional.

Seberapa Penting Psikologi Dalam Suksesnya Strategi Forex?

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang trader yang berkata dengan pedas seperti ini pada saya: “Psikologi trading itu b*llsh*t! Sedikit-sedikit nyalahin psikologi. Giliran loss yang disalahin psikologi, giliran profit, strategi lu puji-puji setinggi langit. Berarti kalau lu loss melulu, artinya lu gila. Kalau gitu, pergi aja lu ke psikiater, siapa tau lu jadi waras dan bisa profit terus. Gitu kan? Kalau lu mau profit, lu cari strategi forex yang jagoan. Lu pelajari sampai jago, baru lu masuk forex trading. Bukan ke dokter jiwa!”

Terus terang saya agak sulit mengikuti logika berpikir orang tersebut. Saya sendiri tidak tahu apakah ia merupakan seorang trader sukses, atau justru trader gagal yang berada dalam fase denial dan menolak untuk mengoreksi kesalahan dirinya, namun lebih suka menyalahkan strategi forex trading yang dipergunakannya.

Tetapi itu tidak penting. Yang saya tangkap adalah bahwa intinya ia menganggap bahwa psikologi trading terlalu dibesar-besarkan. Benarkah pendapat tersebut?

Mengambil keputusan di saat genting

Meskipun sekelompok orang memang menganggap bahwa psikologi trading terlalu dibesar-besarkan, namun dalam pandangan sederhana saya tidaklah demikian. Saya sendiri meyakini bahwa seorang trader harus bisa berpikir jernih dalam segala situasi sesulit dan segenting apa pun. Ia harus bisa mengambil keputusan tanpa ragu dalam kondisi berada di bawah tekanan ketika harga bergejolak dan membuat posisinya mengalami floating loss. Ia harus bisa menahan diri untuk tidak membuka terlalu banyak posisi hanya untuk mempercepat perolehan profit, apalagi untuk mempercepat mengurangi loss dengan cara – misalnya – martingale. Ia harus bisa menahan diri untuk tidak terlalu cepat menutup posisi yang untung, juga bisa dengan jantan menutup transaksi yang merugi manakala sistem tradingnya memang sudah mensyaratkan demikian.

JIka seorang trader tidak mampu menangani stress yang muncul saat trading, bagaimanapun canggihnya strategi forex trading yang ia miliki tak akan banyak membantu karena ia tak akan bisa mengeksekusi strategi tersebut dengan tepat. Penyebabnya antara lain adalah karena takut atau serakah, atau bahkan keduanya sekaligus.

Tak semua Turtle Traders menjadi juara

Masih ingat kisah sukses Turtle Traders yang diasuh oleh Richard Dennis dan Bill Eckhardt? Mereka adalah sekelompok trader yang memulai belajar forex trading dari NOL. Semua anggota kelompok diajarkan metode dan teknik trading berikut prinsip-prinsip manajemen resiko yang sama. Perlu Anda ketahui bahwa tidak semua anggota Turtle Traders meraih prestasi yang sama persis. Ada beberapa orang di antara mereka yang sangat menonjol, ada juga yang kurang berhasil. Kita sebut saja mereka sebagai para “Kura-Kura Biasa” dan “Kura-Kura Juara”.

Para “Kura-Kura Biasa” tak mampu bertahan di bawah tekanan mental ketika pasar mengguncang modal mereka. Mereka cenderung menutup posisi mereka terlalu cepat, atau bahkan membiarkan posisi mereka merugi terlalu lama. Mereka tidak mampu mengoptimalkan sistem trading yang telah diberikan kepada mereka.

Sementara itu, para “Kura-Kura Juara” justru melakukan sebaliknya. Mereka bisa menjalankan prinsip yang sangat terkenal dalam trading: “Cut your losses short, let your profits run.” Kunci untuk menjalankan prinsip ini adalah kemampuan untuk tidak menjadi panik manakala volatilitas pasar bertambah besar, namun justru mampu mempertahankan keyakinan atas argumen yang mendasari pengambilan keputusan atas suatu transaksi. Itu termasuk juga dalam melakukan cut-loss.

Apa perbedaan antara para “Kura-Kura Juara” itu “Kura-Kura Biasa”? Jawabannya adalah psikologi mereka.

Pengemudi biasa vs pembalap

Saya selalu suka mempergunakan analogi ini.

Seorang pengemudi biasa – seperti saya – tidak akan bisa mengendarai mobil Formula-1 dengan optimal. Jika saya diberi kesempatan mengemudikan mobil canggih itu dan Lewis Hamilton (juara dunia Formula-1) mengemudikan sedan biasa yang hanya memiliki mesin bersilinder 2000cc, lalu kami diminta untuk berlomba, sepertinya Lewis Hamilton yang akan menang. Mengapa? Karena saya tidak punya mental pembalap seperti Lewis Hamilton. Kecepatan maksimum yang pernah saya alami selama mengemudi, mentok di 110 km/jam. Saya tidak berani melaju lebih cepat lagi.

Sebuah program televisi BBC Knowledge bernama “Top Gear” pernah menayangkan liputan ketika salah seorang host acara itu, Richard Hammond, mencoba untuk mengendarai Formula-1. Hasilnya? Ia lebih banyak berteriak – meskipun bercampur antara ketakutan dan histeria kegembiraan – ketika ia memacu mobil itu dalam kecepatan yang tinggi.

Padahal, Hammond adalah pengemudi yang berpengalaman. Ia sangat mengenal mobil dan seluk beluknya. Ia pernah beberapa kali memacu super car dalam kecepatan tinggi. Namun Formula-1 adalah hal yang sama sekali berbeda.

Seorang pembalap Formula-1 biasa memacu mobilnya dalam kondisi full throttle selama berjam-jam. Setiap tikungan dilibas tanpa banyak menginjak pedal rem. Berbeda dengan Hammond, yang lebih banyak menginjak pedal rem daripada pedal gas.

Yang membedakan Hammond dengan pembalap Formula-1 sungguhan – selain pengalaman – adalah mental.

Strategi juga penting, tapi….

Kita tidak sedang menafikan pentingnya peranan strategi forex trading yang bagus. Mungkin saja Anda adalah seorang trader yang super disiplin dan “dingin”, dalam arti sama sekali tak melibatkan emosi dalam trading, namun itu pun tak berarti tanpa strategi yang profitable.

Psikologi trading tidak lantas serta-merta bisa mengubah strategi yang buruk menjadi cemerlang, namun bisa membantu Anda untuk melengkapi kemampuan Anda untuk membangun sistem trading yang baik.

Di sisi lain, penguasaan psikologi dalam trading akan bisa membuat Anda berpegang teguh pada trading plan atau sistem trading yang sudah Anda uji keampuhannya. Sederhana saja: tanpa kedisiplinan, mustahil kan Anda bisa stick to the plan? Nah, kedisiplinan ini salah satu bagian psikologi trading.

Kunci dari kebehasilan seorang trader – kembali lagi – adalah 3M: Mind, Method, Money. Ketiganya harus seimbang dan proporsional. Tiga serangkai itu tak boleh dipisah-pisahkan. Ketiadaan salah satu elemen dari 3M akan menutup kemungkinan kesuksesan Anda dalam trading.

Jadi, masih mau mengabaikan pentingnya psikologi dalam trading?

Bukan Film Kungfu, Trading Forex Tanpa Dendam

Anda pernah menonton film kungfu zaman baheula? Biasanya kisahnya diawali dengan kematian seseorang; guru, kakak, adik, atau mungkin istri si tokoh utama. Kematian itu disebabkan oleh pembunuhan yang dilakukan tokoh lain yang tentu saja adalah tokoh antagonis, biasanya berkumis tebal dan wajahnya garang. Kadang-kadang berjenggot. Latar belakang kisahnya biasanya di masa dinasti Yuan, Ching atau Ming. (Entah mana zaman yang benar, yang jelas waktu itu orang belum mengenal trading forex. 🙂 )

Singkat cerita, kematian yang disebabkan oleh pembunuhan itu menumbuhkan dendam kesumat di hati sang pendekar yang menjadi tokoh utama kisah itu. Didahului dengan teriakan: “Aku akan membalaskan dendammu, Guru/Kakak/Adik/Istriku!” sang pendekar pun berkelana dengan dendam membara di hati. Selanjutnya bisa ditebak: biasanya sang pendekar berhasil menemukan si pembunuh dan berhasil memenangkan sebuah pertarungan sengit yang berujung pada kematian si pembunuh. Sang pendekar pun puas bisa membunuh si tokoh jahat. Biasanya begitu.

“Tradisi” balas dendam ini – sayangnya – ada juga dalam dunia trading forex. Seorang trader cederung akan merasa “dendam” tiap kali strategi forex yang ia miliki tak bisa berjalan dengan baik, dengan kata lain: rugi. Dalam trading forex, tradisi seperti ini kerap disebut dengan “revenge trading” alias “trading balas dendam”.

Namun, berbeda dengan kisah-kisah film kungfu, kisah balas dendam dalam trading forex justru seringkali berakhir dengan – agar terdengar menyeramkan – “kematian sang tokoh utama”. Seperti pada kebanyakan film laga yang dibintangi Andy Lau, di mana tokoh protagonisnya justru sering ikut mati.

trading forex, strategi forex

Apa sih sebenarnya “trading balas dendam” itu?

Adalah manusiawi ketika seorang trader merasa sedih atau setidaknya kecewa ketika pasar dengan tanpa perasaan merampas uang Anda. Pada situasi seperti itu, besar sekali kemungkinan seorang trader akan “terbakar” emosi dan segera ingin membalas kekalahan.

Trading balas dendam sebenarnya bukanlah strategi trading forex. Trading balas dendam adalah ketika Anda menjadi sangat emosional ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan keinginan Anda dan Anda menjadi sangat agresif dalam melakukan transaksi. Keputusan yang Anda ambil tidak lagi berdasarkan pertimbangan yang matang melainkan. Anda cenderung akan melupakan atau bahkan mengabaikan aturan-aturan yang berlaku dalam trading.

Bisa Sangat Menyakitkan

Emosi adalah musuh utama trader. Para trader pendendam akan melipatgandakan volume transaksi mereka hingga dua atau bahkan tiga kali lipat dari volume seharusnya (yang telah ditetapkan dalam trading plan).

Dasar pemikiran mereka sederhana: “Saya akan bisa dengan cepat menutup kerugian sebelumnya, bahkan ditambah dengan keuntungan.” Namun sayangnya pemikiran seperti ini keliru!

Mengapa? Karena jika ternyata harga tak bergerak sesuai dengan keinginan, mereka akan dengan mudah melakukan hal yang sama!

Coba pikirkan: misalnya Anda membuka transaksi Buy sebanyak 1 lot, kemudian harga turun sejauh 300 pips. Dengan dasar pemikiran seperti di atas, Anda akan dengan mudah membuka lagi 2 lot posisi Buy. Jika kemudian harga turun lagi 300 pips, dengan pemikiran yang keliru itu Anda akan dengan emosional membuka 4 (empat) posisi buy lagi!

Betul, jika harga memantul lagi (rebound) sejauh 300 pips maka Anda akan mendapatkan keuntungan. Masalahnya, siapkah Anda jika harga ternyata turun lagi sejauh… tak terhingga? Kalaupun suatu ketika Anda akan “menang”, itu murni karena Anda melakukan “gambling”. Anda hanya melemparkan diri Anda ke dalam resiko yang tak terukur.

Stick to the plan!

Mungkin beberapa transaksi pertama yang Anda lakukan membuahkan keuntungan yang cukup untuk membuat Anda tersenyum lebar, namun Anda tidak menyadari bahwa bisa saja suatu saat nanti senyum Anda akan dihapus oleh beberapa kali kerugian. Akhirnya beberapa kali kesuksesan itu membuat Anda jumawa dan beranggapan, “Aku tak mungkin akan dikalahkan oleh pasar.” Di tengah ketakutan akan mengalami kerugian, Anda justru menjadi sombong dan melipatgandakan volume transaksi Anda.

Atau, bisa jadi Anda memang sengaja menempatkan lot terlalu besar lantaran Anda tak memiliki trading plan sebelumnya. Untuk itu, buatlah trading plan, yang di dalamnya juga mengatur berapa besar resiko yang siap Anda hadapi. Jika sudah, jangan lupa untuk selalu menjalankan trading plan-nya, ya?

Siap kalah = siap menang

Seperti slogan dalam masa kampanye, ya? 🙂

Dalam trading, slogan itu bukan sekedar hiasan bibir semata. Anda harus benar-benar siap menerapkannya.

Sebelum melakukan transaksi, cobalah untuk berasumsi bahwa setiap transaksi pada dasarnya adalah siap rugi. Dengan demikian Anda akan mempersiapkan sebesar apa kerugian yang siap Anda tanggung. Jika Anda benar-benar rugi, Anda sudah siap menerimanya kerugian yang Anda alami hanya sebagian kecil dari modal Anda (biasanya tak lebih dari kisaran 2-5%).

Anda hanya akan siap menerima kerugian jika Anda sudah benar-benar menetapkan berapa besar kerugian yang akan Anda derita. Itu artinya, Anda masih akan bisa melanjutkan strategi forex Anda dengan leluasa seandainya kerugian terjadi.

Lebih penting lagi, kehidupan pribadi Anda tak akan terganggu meskipun Anda baru saja loss. Anda masih tetap bisa membayar tagihan, makan enak, masih bisa membeli tiket untuk liburan. Pokoknya kerugian dalam trading tak mengubah pola hidup Anda sedikitpun. Maka dari itu Anda harus – wajib! – membatasi kerugian Anda.

Move on!

Anda harus bisa melupakan kekalahan yang telah lalu. Yang perlu Anda ingat hanyalah kesalahan apa yang telah dilakukan sehingga berujung pada kerugian. Jangan biarkan kerugian yang baru Anda alami mempengaruhi keputusan trading Anda.

Inilah yang membedakan trader juara dengan pecundang. Bukan strategi trading forex semata, melainkan kemampuan untuk tetap berpikir tenang dan obyektif tanpa dibebani oleh kejadian yang telah berlalu.

Jika Anda telanjur merasa kesal setelah mengalami loss, cobalah untuk mengambil waktu untuk menjauh dari pasar, setidaknya 24 jam, hingga kekesalan Anda benar-benar hilang. Dengan demikian, Anda akan kembali fresh dan keputusan yang Anda ambil berdasarkan strategi forex yang Anda miliki akan lebih obyektif.

Balas dendam melahirkan dendam baru

Kalimat di atas juga sebenarnya cukup sering muncul dalam dialog film kungfu “jadul”. Kalimat itu biasanya diucapkan oleh pendekar yang sudah tua, cenderung berlaku seperti petapa.

Dalam trading pun demikian. Bayangkan jika setelah melakukan aksi dengan niat “balas dendam”, kerugian yang Anda derita justru semakin besar. Tentu ini akan melahirkan dendam kesumat baru.

Ada cara lain yang lebih elegan dalam membalas kekalahan Anda: tradinglah seperti biasa. Jalankan strategi forex Anda dengan baik dan benar. Tanpa emosi, tanpa dendam. Jangan ambil keputusan trading saat keadaan hati Anda sedang emosional. Tunggu sampai reda, baru melangkah lagi.

Selamat berjuang, Pendekar!

5 Ciri Utama Anda Sudah Siap Trading Forex

Anda mungkin pernah (atau masih) mengalami keadaan seperti ini: Anda telah mempelajari berbagai macam trik dan strategi forex, telah mempraktekkannya selama berbulan-bulan dalam demo account Anda dan bisa melihat bahwa simulasi yang Anda lakukan berjalan dengan baik. Dari modal virtual awal hanya sebesar $10,000 Anda bisa mengembangkannya menjadi – katakanlah – $11,000 dalam waktu sebulan.

Tidak puas dengan itu, Anda mencoba untuk mengulangi simulasi itu (karena demo account hanya aktif selama 30 hari). Anda kembali membuat demo account dan menjalankan strategi trading forex yang sama. Hasilnya tetap bagus, dalam arti Anda kembali bisa membukukan keuntungan. Masih belum puas, Anda kembali mengulang dan mengulang hingga beberapa bulan.

Meskipun hasilnya tetap baik, namun Anda tak kunjung merealisasikan strategi forex tersebut ke dalam real account. Masih ada tanda tanya dalam pikiran Anda, “Apakah saya sudah BENAR-BENAR siap untuk terjun ke trading forex yang sesungguhnya?”

Pertanyaan itu cukup wajar bagi seseorang yang baru akan memulai trading forex yang sesungguhnya di real account. Nah, inilah parameter-parameter yang bisa Anda jadikan patokan untuk menilai apakah Anda memang benar-benar sudah siap untuk trading forex yang sesungguhnya.

Parameter 1: Anda telah bisa membuat profit yang konsisten.

Ingat: membuat profit yang konsisten BERBEDA dengan selalu profit setiap saat. Dalam dunia trading forex, tidak ada satu pun strategi forex yang tidak pernah menghasilkan transaksi loss. Dengan demikian, tidak ada seorang pun trader profesional yang tidak pernah merasakan loss selama karir tradingnya. Karena pasar memang sangat dinamis, resiko loss merupakan bagian dari pertarungan Anda.

Jadi, jika kemarin Anda sempat merasakan pahitnya sekali, atau dua kali loss, jangan berkecil hati. Itu merupakan hal yang sangat normal. Yang lebih penting daripada itu adalah apakah equity atau modal Anda bertambah selama Anda melakukan simulasi di demo account atau tidak? Jika jawabannya adalah YA, maka itu adalah salah satu parameter bahwa Anda sebenarnya sudah siap menjadi trader sungguhan.

Tak kalah pentingnya adalah Anda tahu persis apa yang Anda lakukan sehingga bisa menghasilkan profit yang konsisten. Ini erat kaitannya dengan parameter ke-2 berikut.

Parameter ke-2: Anda telah memiliki dan menjalankan trading plan dengan konsisten

Ada yang mengatakan bahwa setengah dari keberhasilan Anda dalam trading ditentukan oleh kemampuan Anda melakukan analisa, sementara setengah lagi ditentukan oleh kemampuan Anda mengatur modal dan membatasi resiko (risk management dan money management). Setidaknya dua hal tersebut harus ada dalam trading plan Anda.

Mengapa? Karena pasar sangat dinamis dan Anda tak mungkin bisa memprediksi pergerakan pasar secara 100% akurat. Di saat-saat posisi Anda berlawanan dengan arah pasar dan kerugian menghampiri Anda, Anda harus benar-benar sudah tahu apa yang harus Anda lakukan, bukannya bingung apalagi panik.

Jika Anda sudah memiliki trading plan dan bisa menjalankannya dengan baik, itu adalah parameter ke-2 bahwa Anda siap untuk bertarung di arena sesungguhnya.

Parameter ke-3: Anda tetap tenang meskipun baru saja loss

Saya akui, memang tidak mudah untuk tetap tenang (apalagi tersenyum!) jika baru saja kehilangan sejumlah uang akibat merugi dalam transaksi. Namun tahukah Anda bahwa pada kenyataannya para trader kawakan mampu menganggap cut loss sebagai hal yang biasa-biasa saja?

Itu karena ia sadar bahwa suatu saat ia pasti akan mengalami kerugian. Oleh karena itu ia sudah mempersiapkan dirinya dengan membatasi resiko yang ia hadapi. Semua itu ia tetapkan dalam trading plan-nya.

Ketika kerugian benar-benar terjadi, ia sudah siap dengan segala antisipasinya. Ia akan tetap mampu berpikir secara jernih dan melakukan evaluasi. Dengan sistem trading yang sudah ia uji dan buktikan kemampuannya, ia siap untuk melakukan aksi berikutnya.

Parameter ke-4: Anda tidak mencoba untuk “balas dendam” ketika baru loss

Seringkali ketika seorang trader mengalami kerugian, muncul keinginan untuk segera membalas “kekalahan” tersebut secepat mungkin. Ini sebenarnya salah, karena perasaan yang emosional seperti itu kerapkali justru memicu seorang trader untuk membuka posisi lebih besar daripada yang seharusnya. Tindakan ini bukan saja berarti tidak disiplin dalam menjalankan trading plan, tetapi juga membuka peluang bagi kerugian yang justru lebih besar.

Sebaiknya yang dilakukan adalah seperti yang Anda lakukan di parameter ke-3, yaitu tetap tenang ditambah mengendalikan keinginan untuk segera menutup kerugian yang baru saja terjadi. Tetaplah menjalankan trading plan dengan baik dengan keyakinan bahwa kerugian itu akan tertutup dengan sendirinya jika Anda tetap berada di koridor aturan trading yang benar. Tidak perlu terburu-buru karena pasar akan senantiasa menyediakan peluang bagi Anda. Jika Anda sudah bisa menghilangkan keinginan untuk “balas dendam”, bersiaplah untuk segera memasuki dunia trading yang sesungguhnya.

Parameter ke-5: Anda merasa nyaman dengan layanan pialang

Sebelum memutuskan untuk membuka real account, Anda tentu harus mengetahui apa yang akan Anda dapatkan sebagai nasabah pialang tersebut. Apakah ada layanan analisa untuk menambah referensi trading Anda? Apakah ada layanan edukasi yang Anda butuhkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan trading Anda? Apakah pialang tersebut teregulasi oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) sehingga keamanan dana Anda bisa dipastikan?

Jika jawaban untuk semua pertanyaan di atas adalah YA, maka tak perlu lagi ragu. Sangat beruntung, FOREXimf.com merupakan pialang berjangka yang sudah memiliki izin resmi dari pemerintah Indonesia melalui Bappebti dan menyimpan dana nasabah di rekening terpisah yang juga diawasi oleh badan tersebut. FOREXimf.com juga menyediakan analisa harian, mingguan, bahkan menerbitkan majalah elektronik (e-magazine) tiap bulan sebagai tambahan referensi Anda. Belum lagi layanan “Live Chat” yang bisa Anda manfaatkan untuk berdiskusi dengan tim analisnya, serta webinar (seminar online) yang bisa Anda ikuti secara cuma-cuma.

The bottomline

Jadi, itulah lima parameter yang bisa Anda jadikan acuan apakah Anda sudah siap untuk menjadi trader sesungguhnya atau belum. Jika semua parameter itu sudah terpenuhi, tak perlu menunggu lama. Segeralah manfaatkan pasar forex yang sangat memikat itu.

Selamat bergabung. 🙂

Rahasia Mengamankan Keuntungan Dalam Trading Forex

Rahasia Mengamankan Posisi Terbuka Dalam Trading Forex

Dalam trading forex, Anda harus mempersiapkan semua hal dengan baik. Trading plan adalah hal yang mutlak harus Anda miliki. Itu adalah langkah pertama yang harus Anda lakukan. Saya selalu mengatakan bahwa Anda harus memiliki rencana yang matang. Apakah trading plan saja sudah cukup?

Sebentar, apakah Anda barusan menjawab “YA”? Enak saja…. 🙂

Jawabannya adalah: TIDAK. Trading plan saja tidak akan mengantarkan Anda ke mana-mana. “Plan your trade, trade your plan,” begitu pemeo yang terkenal di dunia trading. Jadi, secanggih dan sedetail apa pun trading plan Anda tidak akan berguna jika Anda tidak menjalankannya. Setuju?

Namun ternyata trading tidak semata berhenti pada mengeksekusi trading plan dengan baik. Anda pun harus secara aktif memantau posisi (transaksi) terbuka yang telah Anda buat. Ingatlah bahwa pasar sangat dinamis sehingga Anda pun harus bisa mengikuti dinamika pasar. Dengan demikian, Anda tidak boleh dengan kaku berkata, “Saya sudah jalankan trading plan saya. Tugas saya sudah selesai.” Bayangkan Anda mengatakan itu dengan suara robot. 🙂

Jadi, apa yang selanjutnya harus Anda lakukan ketika Anda sudah mengeksekusi trading plan Anda? Ini tips-tipsnya.

Dalam Trading Forex Harus Tetap Amati Pasar

Anda mungkin adalah trader yang sangat menggilai analisa teknikal forex . Anda mungkin juga memiliki teman yang sangat mengandalkan analisa fundamental. Di luar sana, mungkin ada juga trader yang berdiri di tengah-tengah: menggabungkan analisa teknikal dan fundamental sekaligus.

Yang mana pun Anda, tetap saja Anda tak bisa mengingkari fakta bahwa berita atau data ekonomi bisa mempengaruhi pergerakan harga. Pasar bisa berubah arah dengan sangat cepat dan signifikan dalam hitungan detik dalam rangka merespon berita yang mungkin baru saja dirilis. Anda tidak bisa mengatakan, “Saya analis teknikal, tak peduli berita”, atau “Data ekonomi AS sedang dalam performa puncak, tak mungkin USD melemah”. (Pakai suara robot lagi… bibip… bibop….)

Apa pun bisa terjadi. Itulah sebabnya Anda tetap harus tetap mengamati perkembangan pasar.

Trading Plan adalah salah satu kunci sukses di Trading Forex

Memang dalam analisa teknikal forex lebih penting mengamati reaksi pasar daripada repot-repot mencari tahu berita apa yang beredar. Namun bagaimana Anda bisa mengetahui reaksi pasar terkini jika Anda sama sekali tak melihat pergerakan harga?

Tetaplah “terhubung” dengan pasar. Jika Anda adalah orang yang sangat mobile, tak ada salahnya melengkapi diri Anda dengan smartphone yang terinstal Mobile Trader. Dengan demikian, Anda akan bisa segera mengambil keputusan begitu melihat ada “gelagat” yang bisa mengancam transaksi Anda.

Trading plan tak harus kaku

Ayolah, jangan kaku. Bahkan dalam aturan militer pun, seorang sersan boleh melawan perintah letnannya jika ia menilai perintah itu akan membahayakan keselamatan pasukannya dan ia punya opsi lain. Aturan militer pun ternyata bisa fleskibel juga.

Dalam trading forex, Anda pun harus berupaya selugas mungkin dalam membuat dan menerapkan trading plan Anda. Namun ini bukan berarti Anda bebas melabrak semua aturan yang telah Anda buat dalam rencana trading Anda itu. Tidak pula lantas meniadakan trading plan. Menjadi fleksibel itu tidak sama dengan menjadi ceroboh.

Ingin Sukses Trading Forex ? Gunakan Trading Plan Yang Baik

Anda harus bisa membuat beberapa penyesuaian jika pasar berubah dan tentu saja tetap berada dalam kerangka trading plan Anda. Contoh mudahnya, katakanlah Anda membuka posisi sell karena Anda melihat ada pola symmetrical triangle yang telah terkonfimasi di chart. Harga kemudian turun namun belum menyentuh target profit berdasarkan pola tersebut. Setelah beberapa waktu ternyata harga bergerak sideway, tak kunjung mencapai target Anda. Indikasi oversold pun mulai terlihat. Apa yang kemudian akan Anda lakukan? Menunggu target tercapai, atau menutup transaksi tersebut meskipun keuntungannya belum sesuai dengan target Anda?

Ingatlah bahwa semakin lama Anda membiarkan posisi Anda terbuka maka semakin besar peluang posisi Anda akan menghadapi resiko. Maka, dalam kasus di atas, sah-sah saja jika Anda memutuskan untuk menutup transaksi tersebut. Mengapa? Karena Anda memiliki pertimbangan yang obyektif, bukan semata karena takut keuntungan Anda berubah menjadi kerugian.

Sesuaikan transaksi dengan situasi pasar

Dalam trading forex, tentu Anda ingin selalu meminimalisir resiko. Salah satu cara yang Anda gunakan adalah menerapkan kebijakan “risk-to-reward ratio” yang baik, di mana resiko (stop loss) selalu lebih kecil daripada reward (target profit).

Begitupun, bukan berarti Anda tak boleh memodifikasi transaksi Anda. Meskipun resiko yang akan Anda hadapi sudah pasti akan lebih kecil daripada target keuntungan, Anda masih diizinkan untuk memperkecil volume transaksi yang telah Anda buat.

Seandainya pasar tidak bergerak sesuai dengan harapan Anda, namun Anda masih meyakini bahwa posisi Anda masih berpotensi mencapai target, Anda boleh mengurangi besaran transaksi Anda. Misalnya, dari 5 lot dikurangi menjadi 2 atau 3 lot.

Sukses Trading Forex, perhatikan risk-to-reward ratio

Sebaliknya, jika ternyata harga bergerak sesuai dengan analisa Anda, cobalah untuk mengaktifkan trailing stop, yaitu mengubah level stop loss menjadi “stop profit”.

Dalam Trading Forex, memang sebaiknya hal-hal di atas sudah Anda persiapkan dalam trading plan Anda. Namun seandainya belum, tidak ada salahnya untuk mengaplikasikannya segera pada posisi terbuka yang Anda miliki.

Mudah-mudahan tips-tips ini bisa membantu Anda mempertahankan keuntungan pada transaksi yang Anda buat, sehingga trading plan yang sudah Anda susun dengan susah payah tak berakhir dengan kerugian yang tak terduga. Cobalah untuk menerapkannya.

Selamat trading.

3 Cara Meningkatkan “Pede” Dalam Trading

3 Cara Meningkatkan Pede Dalam Trading 1Sudah bukan rahasia lagi bahwa faktor psikologi adalah hal yang sangat memegang peranan penting dalam trading. Lebih spesifik lagi, rasa percaya diri alias “pede” mutlak dimiliki oleh seorang trader.

Dalam trading, pada dasarnya rasa percaya diri bisa dilihat dari performa trading seseorang. Bicara performa bukan berarti fokusnya ada pada hasil trading semata, namun juga pada kemampuan seseorang dalam menjalankan proses yang benar dalam setiap transaksi yang dilakukannya. Contoh yang paling mudah adalah kemampuannya melawan rasa takut dan mengendalikan keserakahan.

Permasalahan yang sering ditemui adalah sulitnya mempertahankan rasa percaya diri ketika pasar berubah drastis yang menyebabkan loss.  Lalu bagaimana cara menyiasatinya?

Beruntung sekali Anda menemukan artikel ini. Di sini, kita akan membahas cara mempertahankan dan meningkatkan rasa percaya diri ketika melakukan aktivitas trading, apa pun situasi pasarnya.

1. Fokuslah pada proses, bukan pada hasil

Setiap trader tentu ingin menghasilkan uang sebanyak mungkin dari pergerakan pasar. Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya bukan itu yang menjadi fokus Anda?

3 Cara Meningkatkan Pede Dalam Trading 2

Pada dasarnya pasar itu tidak bisa ditebak. Tidak ada jaminan bahwa Anda akan tahu persis apakah transaksi yang Anda lakukan akan menghasilkan keuntungan berlipat atau kerugian yang menyakitkan. Maka daripada Anda fokus pada peluang keuntungan atau resiko kerugian, sebaiknya curahkan konsentrasi Anda pada melaksanakan trading plan Anda dengan baik.

Dalam trading plan ada batasan resiko, ada pengaturan modal, juga ada sistem yang telah Anda yakini tingkat probabilitasnya dalam menghasilkan keuntungan. Itu sudah cukup lengkap, maka pikirkanlah bagaimana cara menjalankan semua  rencana itu dengan baik. Tak usah pikirkan bagaimana nanti hasilnya, karena proses yang baik dan benar tentu akan diikuti oleh hasil yang memuaskan juga.

Latihlah kedisiplinan Anda dalam menjalankan trading plan, misalnya dengan sabar menunggu konfirmasi sinyal jual atau beli sebelum membuka posisi trading. Kesabaran mungkin tidak akan memberikan hasil yang instan, namun percayalah pada akhirnya Anda akan menikmati buah kesabaran itu dengan senyum yang lebar.

2. Berlatih, teruslah berlatih!

Seorang karateka pemegang sabuk hitam tidak mendapatkan sabuk hitam tersebut tanpa latihan yang serius dan konsisten. Tidak mungkin seorang karateka langsung berada di level sabuk hitam hanya dalam waktu semalam. Ia tentu telah melalui bertahun-tahun latihan yang serius, melelahkan bahkan seringkali menyakitkan.

Demikian juga dengan trader. Kebanyakan orang hanya melihat dampak kesuksesan seorang trader saja, namun mereka malas menelisik proses apa yang telah dilalui trader tersebut. Padahal bisa dipastikan bahwa trader tersukses di dunia ini pun pernah merasakan pahitnya loss. Namun pengalaman bertahun-tahun, jatuh-bangun dan tak henti mengembangkan kemampuannya bisa mengantarkannya ke jenjang tertinggi kemampuan seorang trader; yaitu profit yang konsisten.

3 Cara Meningkatkan Pede Dalam Trading 3

Sebagai trader, Anda tak akan pernah tahu apa yang akan Anda hadapi bahkan dalam lima menit ke depan, namun latihan yang serius dan konsisten akan membantu kesiapan mental Anda dalam menghadapi kemungkinan yang terburuk sekalipun. Anda akan dengan percaya diri mengambil keputusan-keputusan yang penting bahkan di saat yang genting.

3. Selalu berpikir positif

Anda tentu pernah mendengar ungkapan ini: “Selalu ada sisi positif dari setiap hal”. Percayalah bahwa itu benar adanya, setidaknya dalam dunia trading.

3 Cara Meningkatkan Pede Dalam Trading 4

Arah pembicaraan ini sebenarnya adalah cara menyikapi loss yang tentu sering dialami oleh trader mana pun. Di  sini, kita sedang membicarakan cut loss yang telah menjadi bagian dari trading plan, yaitu manajemen resiko, bukannya loss yang terjadi berlarut-larut karena seseorang enggan memasang Stoploss.

Cut loss tentu adalah hal yang sangat negatif, namun apakah Anda pernah menyadari bahwa cut loss itu justru menyelamatkan “hidup” Anda dari kemungkinan kerugian yang semakin besar, bahkan seringkali tak terhingga? Nah, sekarang Anda bisa melihat sisi positif dari loss yang baru saja tercatat dalam sejarah transaksi Anda.

Hal yang bisa Anda latih adalah selalu fokus pada hal-hal yang harus Anda lakukan DENGAN BENAR dalam setiap transaksi, bahkan terutama pada saat Anda sedang mengalami kerugian. Anda bisa membuat semacam “checklist” sebelum melakukan transaksi. Misalnya: “Apakah akan ada rilis data penting? Apakah saya sudah mencermati chart dan melihat konfirmasi sinyal jual atau beli? Apakah saya sudah memperhitungkan batasan resiko sesuai dengan kekuatan modal saya?” Dan sebagainya.

3 Cara Meningkatkan Pede Dalam Trading 5

Jika semua daftar dalam checklist Anda sudah terjawab dengan jawaban “ya”, maka tak perlu ragu lagi untuk mengambil keputusan untuk segera membuka posisi, sebab tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sinyal sudah terkonfirmasi, batasan resiko sudah jelas, potensi keuntungan pun telah terlihat. Jadi, tunggu apa lagi?

Solusi Mengatasi 6 Penyebab Kegagalan Trading

Fail trader 1Dunia trading Indonesia sedang berada dalam “masa suram”!

Mengapa? Karena mayoritas “karir” trader Indonesia (terutama pemula) berhenti secara prematur sebelum mereka mampu menghasilkan apa pun. Padahal banyak sekali yang telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk meraih peluang yang ada di pasar, namun tak mampu memperoleh hasil yang berarti.

Ada banyak hal yang menyebabkan perjalanan trading para trader forex di Indonesia berhenti  dengan cepat ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Kali ini, kita akan mencoba untuk membahas setidaknya 6 penyebab kegagalan dalam trading berikut cara mengatasinya.

Penyebab #1: Belum menjadikan trading sebagai kebiasaan

Pernahkah Anda melihat pekerja di pabrik rokok kretek yang bisa melinting 350 batang rokok per jam dengan sangat rapi? Atau juru ketik yang bisa mengetik 80 kata per menit tanpa kesalahan, bahkan tanpa perlu melihat papan ketik?

Rahasianya adalah latihan yang kemudian menjadi kebiasaan. Itulah mengapa mereka terlihat sangat lihai melakukan hal-hal tersebut.

typist

Dalam trading pun demikian. Selama Anda masih belum terbiasa melakukan analisa dan mengambil keputusan, maka Anda akan tetap “gagap”. “Langkah” Anda akan tersendat-sendat dan Anda akan bosan karena menganggap trading forex bukanlah pilihan yang tepat. Padahal masalahnya bukan pada forex-nya, melainkan pada ketidakbiasaan Anda.

Solusinya: jadikan aktivitas trading sebagai kebiasaan. Luangkan waktu setiap hari untuk memantau, menganalisa dan melakukan transaksi. Nah, dalam proses “pembiasaan” ini, Anda bisa menggunakan demo account terlebih dahulu.

Penyebab #2: Masalah  kepercayaan diri

Ada dua masalah tentang kepercayaan diri:

–          Kurang percaya diri

–          Terlalu percaya diri (Oh, ya! Ini juga masalah!)

Kurang percaya diri diakibatkan kurangnya pengetahuan. Terlalu banyak hal-hal negatif yang memenuhi pikiran. Takut salah perkiraan, takut rugi, dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan itu mencegah Anda untuk melakukan transaksi dan akhirnya justru banyak kesempatan emas terlewatkan.

confident 1

Solusinya: perbanyaklah belajar. Lengkapi  pengetahuan dengan teknik trading serta manajemen modal dan manajemen resiko, sehingga beberapa kali loss tidak akan mempengaruhi hasil trading Anda, karena secara keseluruhan Anda masih tetap bisa menikmati profit yang manis.

Sebaliknya, percaya diri yang terlalu tinggi pun bisa menjadi masalah. Terlalu percaya diri akan menyebabkan Anda tidak disiplin pada trading plan. Alih-alih mendapat keuntungan, justru kerugian yang besar akan senantiasa menghantui Anda hingga suat saat akan “membunuh” akun Anda.

Solusinya:Ingat bahwa Anda tidak mungkin bisa mengendalikan pasar. Pasarlah yang selalu benar. Maka patuhi sistem trading, manajemen modal dan manajemen resiko Anda. Ketika semua parameter itu mengatakan Anda harus keluar dari pasar, maka keluarlah. Dengan kata lain, patuhi trading plan Anda!

Penyebab #3: Terlalu banyak mempelajari teori trading

Banyak sekali trader pemula “kalap” dalam melahap berbagai macam teori, trik dan strategi sehingga mereka lupa bahwa semua itu tak akan membuahkan apa-apa tanpa praktek di pasar yang sesungguhnya. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka tidak membutuhkan teori yang terlalu rumit atau canggih untuk bisa menangkap peluang yang ada di pasar. Akhirnya mereka menjadi bingung, teori mana yang harus mereka pakai.

overlearning

Solusinya: Pelajari satu atau paling banyak dua sistem trading saja. Kuncinya adalah: pilih sistem trading yang paling sesuai dengan karakter/style trading Anda. Kenyataannya, para trader profesional hanya menggunakan satu atau dua strategi sederhana dengan konsisten.

Belajar memang perlu, namun terlalu banyak mempelajari teori trading hanya akan membuat Anda bingung.  Semua yang serba “terlalu” memang tak baik. 🙂

Penyebab #4: Terlalu mudah menyerah

Seringkali para trader pemula menyerah kalah setelah didera beberapa kali kerugian. “Ini bukan dunia saya,” kata mereka. Padahal beberapa kali kerugian adalah hal yang wajar dalam bisnis.

Yang membuat mereka “angkat tangan” biasanya adalah besarnya kerugian yang diderita. Ini karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemen modal dan manajemen resiko.

give up

Solusinya: sadari bahwa kerugian hanyalah resiko yang memang merupakan bagian dari bisnis mana pun, termasuk trading. Agar bisa meminimalkan resiko, pelajari dan terapkan manajemen resiko yang baik dan benar, sehingga Anda akan memiliki lebih banyak peluang untuk memanfaatkan pergerakan pasar.

Penyebab #5: Tidak memiliki plan

If you failed to plan, you planned to fail.” Apa pun yang dilakukan tanpa perencanaan – terutama bisnis – hampir pasti tidak akan berjalan dengan baik, bahkan berakhir dengan kegagalan.

plan

Trader yang melakukan transaksi hanya secara sporadis, tanpa perencanaan yang matang, tak pernah bisa bertahan lama di kancah per-trading-an. Mungkin pada beberapa kasus ada pemula yang bisa memperoleh keuntungan di awal-awal perjalanan trading mereka, namun tidak pernah ada yang bisa mempertahankan prestasi itu. Justru mereka biasanya “selesai” hanya dalam hitungan minggu.

Solusinya: milikilah trading plan, yang di dalamnya ada aturan-aturan yang harus Anda ikuti termasuk batasan resiko, sistem yang harus diikuti, hingga aturan menggunakan modal. Jangan lupa: disiplanlah menjalankan trading plan tersebut. Dalam trading, ada pemeo yang berbunyi, “Plan your trade, trade your plan.”

Penyebab #6: Tidak fokus

Kebanyakan trader pemula – terutama part-timer – tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan analisa dan transaksi karena kesibukan mereka. Akhirnya mereka hanya melakukan transaksi di waktu-waktu senggang saja. Sayangnya kebanyakan waktu senggang yang mereka miliki justru adalah waktu-waktu yang “sepi”, ketika tidak banyak pergerakan yang signifikan di pasar.

focus

Kalaupun ternyata waktu senggang tersebut bertepatan dengan “jam sibuk” pasar (ketika banyak peluang yang tercipta), namun tidak diimbangi dengan konsentrasi yang cukup baik. Terkadang perhatian mereka teralihkan oleh tayangan di televisi, topik obrolan yang menarik, atau mungkin rengekan sang anak yang mengajak bermain. Akibatnya, banyak sekali peluang yang terlewatkan. Trading pun menjadi tidak maksimal, tidak bisa memberikan hasil yang diharapkan, dan pada gilirannya hanya akan membuat Anda meninggalkan peluang yang sangat luar biasa.

Solusinya: sediakan waktu khusus untuk trading. Pasar biasanya akan ramai pada pukul 14.00-21.00 WIB. Pilihlah waktu di antara jam-jam tersebut. Tidak perlu terlalu lama, cukup satu atau dua jam saja sehari, seandainya aktivitas Anda sudah cukup padat. Jika waktu Anda bisa lebih panjang, tetaplah selingi dengan istirahat sekitar setengah hingga satu jam tiap dua jam sekali. Ini penting untuk menjaga kebugaran Anda.

Seandainya memungkinkan, sediakan juga tempat khusus untuk melakukan aktivitas trading, di mana gangguan bisa Anda minimalkan. Jika tidak memungkinkan, buat kesepakatan dengan teman atau anggota keluarga yang lain bahwa Anda tidak ingin diganggu pada jam-jam trading Anda tersebut.

Mudah-mudahan pemaparan ini bisa mencegah Anda menjadi trader yang “layu sebelum berkembang”, dan dunia trading Indonesia akan segera keluar dari “masa suram” ini.

Apakah Artikel ini bermanfaat? Yuk Sampaikan komentar Anda

 

 

 

Kendalikan Trading Anda Agar Fokus Tak Terpecah

fokus+berita+forex

 

Tidak semua peluang yang Anda lihat harus Anda ambil. Pilihan yang bijak justru adalah membatasi jumlah transaksi Anda pada satu waktu.

Jika seandainya Anda sudah memiliki satu posisi terbuka di currency pair EUR/USD dan satu posisi terbuka di GBP/USD, maka fokus Anda akan sangat mudah terpecah jika Anda menambah lagi posisi terbuka di currency pair yang lain. Kecuali jika Anda adalah seorang trader yang sudah memiliki puluhan ribu jam trading dan Anda memiliki kemampuan konsentrasi tingkat tinggi, jangan lakukan hal tersebut.

Anda sebaiknya memusatkan perhatian dan konsentrasi Anda ke peluang yang memang memiliki kemungkinan berhasil yang paling tinggi. Lakukanlah transaksi pada peluang yang paling besar tersebut, lalu berkonsentrasilah pada transaksi tersebut saja agar perhatian Anda tak mudah terpecah. Analoginya, jika Anda hendak membeli buah-buahan di sebuah kios buah, Anda tentu hanya akan mencari buah yang kondisinya paling baik, bukan?

Banyak trader yang mengira bahwa jika semakin banyak jumlah posisi (transaksi) yang mereka lakukan dalam satu waktu maka peluang untuk mendapatkan keuntungan akan semakin besar. Sebenarnya pendapat ini kurang tepat. Semakin banyak posisi terbuka justru semakin menyibukkan otak Anda. Jika otak Anda menjadi semakin “sibuk”, maka Anda akan semakin sulit untuk fokus pada trading plan Anda.

Sayangnya, itulah kesalahan yang umum dilakukan oleh para trader, terutama pemula. Mereka membuka beberapa transaksi sekaligus dalam satu waktu secara simultan. Latar belakangnya lagi-lagi adalah ketidaksabaran dan keserakahan. Padahal hal ini berbahaya, karena sekejap saja konsentrasi Anda buyar, maka ucapkanlah selamat tinggal pada uang Anda!

Sungguh disayangkan. Itulah yang terjadi.

Anda harus memahami bahwa Anda hanyalah seorang manusia biasa yang umumnya hanya bisa memusatkan perhatian Anda hanya pada satu atau dua hal pada saat yang bersamaan. Maka dari itu bersabarlah. Janganlah terlalu bernafsu untuk melakukan beberapa transaksi sekaligus. Lakukanlah satu per satu. Maksimal dua posisi terbuka dalam waktu yang bersamaan.

Memang, jika pun Anda melakukan saran di atas tidak akan menjamin bahwa Anda akan memperoleh keuntungan secara konsisten. Hal tersebut membutuhkan proses dan jalan yang tidak pendek. Namun yakinlah, saran ini menjamin bahwa Anda tidak akan mengalami kerugian terlalu banyak dan akan memperpanjang karir trading Anda. Cukup panjang hingga Anda mampu menghasilkan profit secara konsisten. Pada saat itulah Anda akan merasakan manfaatnya.

Note:

Saat Anda membaca, sudah lebih dari 12.000 orang sedang Belajar dan mempersiapkan diri untuk terjun di dunia Trading Forex.  Kapan Anda ?

Menjadi Trader Sempurna ? Lupakan !

Menjadi Trader Sempurna. Lupakan

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda harus bisa menemukan rahasia trading yang belum pernah diketahui orang lain sebelumnya? Atau pernahkah Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan selama ini – sebagai trader – belum cukup jika belum bisa menemukan rahasia tersebut?

Ada segolongan trader yang sangat – ya, sangat – terobsesi untuk bisa menjadi trader yang “sempurna”. Golongan ini tidak pernah berhenti untuk selalu mencari hal-hal yang baru, selalu mencari pengalaman baru dan mengembangkan teori serta cara trading mereka. Sayangnya tidak pernah ada hal yang bisa membuat mereka puas. Sialnya, golongan ini selalu mencatatkan prestasi trading yang menurun dari waktu ke waktu. Sia-sia, bukan?

Coba Anda renungkan: untuk apa bersusah payah menghabiskan waktu untuk mencari “rahasia” yang sebenarnya tidak perlu? Untuk apa jika menguras pikiran untuk merancang sistem trading yang “sempurna”? Untuk apa mencari sesuatu yang tak pernah ada?

Ya, tidak pernah ada sistem trading yang sempurna, dengan ataupun tanpa tanda petik. Sistem trading yang sempurna hanyalah mitos. Bahkan sistem yang menggunakan banyak aturan maupun indikator pun bukanlah sebuah sistem trading yang sempurna. Di saat pasar tidak bersetuju dengan logika yang dibangun oleh sistem trading Anda, maka saat itulah Anda harus mau menerima kenyataan dan berkata, “Oke, saatnya cut loss.”

Benar bahwa tidak ada seorang pun yang ingin menjadi trader yang sembrono atau asal-asalan, namun di sisi lain Anda tidak harus menjadi trader yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga konsekuensinya adalah tidak ada satu sistem trading pun yang sempurna.

Coba simak kisah berikut ini:

Ada seseorang – sebut saja namanya Badu – yang sejak dulu adalah seorang siswa yang pintar di sekolah. Nilai rapornya tidak pernah di bawah sembilan. Ia selalu berada di rangking pertama di kelas. Lulus kuliah pun dengan predikat cum laude dengan IPK nyaris empat. Ia adalah siswa dengan nilai “sempurna”.

Kemudin ada Iwan. Iwan adalah siswa “rata-rata”. Di kelas pun tak pernah tembus rangking sepuluh besar, paling hebat hanya urutan ke 11 atau 12. Prestasi kuliahnya pun biasa saja. Nilai akademisnya lebih didominasi B dan C.

Beberapa tahun kemudia, Badu bertemu Iwan. Tahukah Anda di mana Badu bertemu dengan Iwan? Mereka bertemu di sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Iwan, di mana Badu bekerja sebagai General Manager.

Kisah ini bukan fiktif, meskipun menggunakan nama samaran. Namun bukan pula dimaksudkan untuk menyepelekan nilai-nilai akademis. Tidak sama sekali. Anda tentu sudah cukup dewasa dalam menilai maksud sebenarnya dari tulisan ini. Nilai akademis itu penting dan menjadi pintar tentu adalah hal yang perlu, namun bukan itu inti tulisan ini.

Inti tulisan ini adalah: sebagai trader, daripada berusaha untuk menjadi “sempurna”, sebaiknya Anda lebih fokus pada menemukan kemungkinan yang lebih baik untuk menjadi sukses. Bisa jadi profit yang Anda hasilkan tiap kali melakukan transaksi jumlahnya tidak sefantastis yang diimpikan oleh sang “trader sempurna”, namun Anda justru akan punya lebih bayak waktu untuk mengembangkan kemampuan Anda. Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dan – tentunya – menghasilkan profit. Anda akan lebih santai karena Anda tidak terlampau gelisah untuk bisa mencetak transaksi-transaksi yang sempurna. Anda tidak akan stres, yang justru sering dirasakan oleh para perfeksionis.

Trading itu adalah tentang kemungkinan-kemungkinan. Mengenai peluang. Untuk mendapatkan hasil yang Anda inginkan, Anda harus melakukan transaksi sesering mungkin agar teori peluang  bekerja dengan baik. Semakin sering Anda mencoba, maka semakin tinggi peluang Anda untuk memperoleh keuntungan. Tentu ada resiko yang menyertai, tapi – hey – bukankah resiko berbanding lurus dengan peluang? Semakin tinggi resikonya, semakin besar pula peluangnya.

Selama sistem trading Anda cukup bisa membuktikan bahwa ada peluang yang bisa Anda raih – katakanlah kemungkinannya 70% Anda akan untung – dan Anda menerapkan money management serta risk management yang baik, tak perlu khawatir. Anda akan mampu untuk “membayar” kerugian dari 30% kemungkinan transaksi yang berakhir dengan loss. Jadi tak perlu memiliki sistem trading yang 90% atau bahkan 100% akurat.

Jika Anda adalah seorang perfeksionis, selalu mendambakan sistem trading yang sempurna, maka Anda akan selalu menghadapi hambatan ketika akan memulai trading. Anda tidak akan pernah mau melakukan transaksi jika Anda tidak yakin 100% bahwa transaksi itu akan berbuah untung. Anda ingin setiap transaksi Anda memiliki nilai A, bukannya B apalagi C.

Cobalah beranikan diri Anda untuk hanya mendapatkan nilai C. Trader dengan nilai A mungkin memang lebih pintar, namun trader dengan nilai C mungkin justru akan lebih kaya, seperti Iwan dalam kisah di atas.

 

 

note:

Saat Anda membaca, sudah lebih dari 12.000 orang sedang Belajar dan mempersiapkan diri untuk terjun di dunia Trading Forex.  Kapan Anda ?