Brexit: Article 50 Sudah Dieksekusi, Bagaimana Selanjutnya? (Part-2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Brexit: Article 50 Sudah Dieksekusi, Bagaimana Selanjutnya? (Part-1). Tulisan yang dibagi menjadi dua bagian ini membahas apa yang selanjutnya akan terjadi yang merupakan rangkaian Brexit dari mulai dijalankannnya Article 50 of Lisbon Treaty hingga akhir masa negosiasi selama dua tahun ke depan.

Apa Saja yang Akan Dibahas Dalam Negosiasi?

Surat yang ditulis oleh PM Theresa May kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk antara lain berisi garis besar berikut:

  • Kita seharusnya berdiskusi satu sama lain secara konstruktif dan penuh rasa hormat, dalam semangat kerja sama
  • Kita seharusnya selalu mengedepankan kepentingan rakyat
  • Kita seharusnya bekerja sama untuk mencapai perjanjian yang komprehensif
  • Kita harus bekerja sama untuk meminimalisir gangguan dan sebisa mungkin memberikan kepastian
  • Kita harus memperhatikan hubungan yang unik antara Inggris dengan Irlandia dan pentingnya proses perdamaian di Irlandia Utara
  • Kita seharusnya memulai pembicaraan teknis tentang area kebijakan yang rinci sesegera mungkin, namun kita harus memprioritaskan tantangan yang terbesar
  • Kita seharusnya terus bekerja sama dan melindungi kepentingan Eropa

Inggris mengatakan bahwa perjanjian dagang harus menjadi bagian dari negosiasi, sementara perwakilan Uni Eropa beranggapan bahwa pembicaraan tersebut harus dibicarakan secara terpisah.

Isu lain yang mungkin akan dibicarakan adalah hal-hal yang terkait pengaturan keamanan lintas perbatasan, memindahkan agensi-agensi Uni Eropa yang memiliki kantor pusat di Inggris dan kontribusi Inggris untuk dana pension pekerja sipil Uni Eropa; dan itu adalah perjanjian yang menurut beberapa laporan bisa memakan biaya hingga 50 miliar poundsterling.

Pemerintah Inggris telah mempublikasikan laporan sebelum referendum di tahun 2016 tentang proses pengunduran diri dari Uni Eropa. Dalam laporan tersebut juga dipaparkan hal-hal yang bisa jadi akan diperdebatkan.

Siapa Saja yang Akan Melakukan Negosiasi?

Komisi Eropa telah membentuk satuan kerja yang dikepalai oleh Michel Barnier, yang akan bertanggung jawab untuk melakukan negosiasi dengan Inggris.

Dari pihak Inggris, secara umum tanggung jawab negosiasi ini akan ditangani oleh perdana menteri langsung, didukung oleh Department of Exiting the European Union yang dipimpin oleh David Davis.

Bagaimana Jika Tidak Terjadi Kesepakatan Dalam Dua Tahun?

Seperti yang digambarkan di infografis yang dimuat dalam tulisan sebelumnya, Inggris tetap akan keluar dari Uni Eropa dan hubungan dagangnya dengan negara-negara lain (khususnya anggota Uni Eropa) akan diatur sesuai dengan aturan yang berlaku di World Trade Organization.

Beberapa menteri berpendapat bahwa mungkin akan ada masa transisi segera setelah Inggris secara resmi keluar dari Uni Eropa.

Apakah Parlemen Juga Akan Bersuara?

Article 50 menyatakan bahwa setiap kesepakatan harus disetujui oleh Parlemen Eropa, namun tidak mengatur tentang persetujuan parlemen negara yang akan keluar tersebut.

Meskipun demikian, PM Theresa May mengatakan di bulan Januari lalu bahwa House of Commons dan House of Lords akan melakukan pemilihan suara atas kesepakatan yang dicapai. Parlemen Inggris akan mencermati kesepakatan yang diraih oleh pemerintah melalui debat parlementer, memilih komite kerja dan mengambil suara atas rencana undang-undang yang diajukan.

Selama proses negosiasi, Inggris akan tetap menjadi anggota Uni Eropa, tetapi tidak lagi memiliki hak untuk menjadi pimpinan di Dewan Eropa untuk berkonsentrasi pada proses Brexit. Pemilihan pimpinan Dewan Eropa sendiri dijadwalkan akan diakukan di paruh ke dua tahun 2017.

Apakah Sekarang Inggris Bisa Melakukan Negosiasi Dagang Dengan Negara Lain?

Tidak, karena biar bagaimanapun Inggris masih menjadi anggota Uni Eropa sehingga tidak bisa secara bebas melakukan negosiasi dagang dengan negara non-Uni Eropa lain.

Akan tetapi, akan tetap dimungkinkan untuk melakukan diskusi umum tentang perdagangan dan calon mitra dagang yang berminat terhadap proses negosiasi tersebut.

Brexit: Article 50 Sudah Dieksekusi, Bagaimana Selanjutnya? (Part-1)

Sembilan bulan setelah rakyat Inggris memutuskan melalui referendum bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa (Brexit), Perdana Menteri Theresa May mengaktifkan mekanisme undang-undang yang akan merealisasikan hal tersebut, yaitu Pasal 50 Perjanjian Lisbon, atau yang biasa disebut Article 50 of Lisbon Treaty. Ia menandatangani sebuah surat yang memulai proses tersebut, yang kemudian diserahkan ke tangan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk.

Kemudian PM May memberikan pernyataan di depan House of Commons, di mana ia berkata bahwa sekarang adalah waktunya Inggris bersatu.

Apa Yang Akan Terjadi?

Akan ada perundingan dengan para pejabat Uni Eropa. Namun pekerjaan berat yang sesungguhnya belum akan dimulai hingga Mei atau Juni, ketika negosiasi dengan negara-negara anggota Uni Eropa rencananya akan dimulai.

Perundingan-perundingan tersebut diperkirakan akan berakhir di musim semi tahun depan. Setelah itu, segenap elemen pemerintahan Inggris akan membicarakan kesepakatan-kesepatakan yang telah tercapai untuk memungut suara.

Kapan Persisnya Inggris Akan Keluar Dari Uni Eropa?

Berdasarkan Article 50, proses negosiasi boleh memakan waktu selama dua tahun. Itu pun hanya bisa dilanjutkan jika ada persetujuan dari mayoritas negara anggota Uni Eropa.

Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam tempo dua tahun maka Inggris secara otomatis akan keluar dari Uni Eropa dan semua perjanjian yang telah ada – termasuk akses ke pasar tunggal – tidak lagi berlaku bagi Inggris. Jika ternyata demikian kasusnya, maka Brexit secara resmi akan terjadi pada tanggal 29 Maret 2019.

Apa Itu Article 50?

Article 50 adalah aturan yang berlaku bagi negara anggota Uni Eropa yang berniat untuk keluar dari persekutuan tersebut. Pasal tersebut dibuat sebagai bagian dari Perjanjian Lisbon yang ditandatangani oleh semua negara anggota Uni Eropa yang kemudian menjadi hukum yang mengikat sejak tahun 2009. Sebelum adanya perjanjian tersebut, tidak ada mekanisme formal yang mengatur jika ada negara yang ingin keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Kesepakatan yang terjadi harus disetujui oleh “mayoritas yang kompeten” (72% dari anggota yang tersisa, merepresentasikan 65% populasi) dan didukung oleh Anggota Parlemen Eropa.

Anda bisa membaca teks lengkap Article 50 of Lisbon Treaty.

Bisakah Prosesnya Dihentikan?

Belum pernah ada negara yang keluar dari Uni Eropa dan Article 50 tidak secara eksplisit menyatakan apakah proses tersebut bisa dihentikan. Pemerintah Inggris tidak bisa memberikan pernyataaan legal atas isu ini.

Meskipun demikian, dalam pidatonya di depan House of Commons, Perdana Menteri Theresa May mengatakan bahwa “tidak akan ada jalan untuk kembali”.

Akan tetapi, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengatakan ia yakin bahwa Article 50 memungkinkan hal tersebut.

Diplomat kawakan Inggris, Lord Kerr juga setuju dengan Donald Tusk. Lord Kerr turut merumuskan Article 50 dan ia berkata dalam wawancara dengan BBC di bulan November 2016, “Anda bisa mengubah pikiran sementara proses berlangsung.” Tetapi Lord Kerr juga mengatakan bahwa ia tak yakin ada politisi Inggris yang ingin kembali.

Mengapa Harus Menunggu Lama?

PM Theresa May pada Oktober tahun lalu mengatakan bahwa ia secara resmi akan mengabari Dewan Eropa di akhir Maret 2017. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin terburu-buru memulai proses Brexit sebelum target-target yang diinginkan internal pemerintah Inggris sendiri belum disepakati.

brexit, article 50

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Brexit

Seperti yang telah kita ketahui, Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa berdasarkan hasil referendum yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2016. Tetapi sebenarnya Inggris tidak langsung keluar dari Uni Eropa segera setelah hasil referendum Brexit tersebut diumumkan, melainkan ada proses yang harus dijalani sebelum Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa.

Tulisan ini akan membahas beberapa hal terkait Brexit yang perlu Anda ketahui.

Apa itu Uni Eropa?

Uni Eropa, atau European Union (biasa disingkat EU), merupakan sebuah kerja sama ekonomi dan politik yang melibatkan 28 negara Eropa. Permufakatan ini dimulai setelah Perang Dunia ke-2 dengan tujuan untuk membantu pemulihan kerja sama ekonomi. Dasar pemikirannya adalah bahwa negara-negara Eropa bekerja sama dalam hal perdagangan, maka potensi untuk terjadi konflik (baca: perang) antar negara Eropa akan lebih mudah untuk dihindari.

Pada perkembangannya, EU tumbuh menjadi sebuah “pasar tunggal” (single market) yang memungkinkan migrasi manusia dan peredaran barang di wilayahnya tanpa sekat-sekat birokrasi, seperti layaknya lalu lintas barang dan jasa dalam satu negara. EU kemudian juga memiliki satu mata uang tunggal, yaitu euro yang diluncurkan 1 Januari 2002 dan dipergunakan oleh 19 negara anggota EU.

EU juga memiliki parlemen sendiri dan sekarang membuat aturan untuk sektor-sektor selain ekonomi termasuk lingkungan, transportasi, hak-hak konsumen dan bahkan biaya pulsa telepon seluler.

Apa itu Brexit?

Mungkin ada di antara Anda yang ketinggalan berita tentang Brexit ini, sehingga bertanya-tanya apa sih sebenarnya Brexit itu?

Brexit merupakan akronim dari Britain Exit, yang menjadi istilah yang memiliki definisi keluarnya Inggris dari EU. Akronim ini mirip dengan Grexit, yang merupakan akronim dari Greek Exit, yang sempat populer ketika Yunani yang sedang dilanda kekalutan politik dan ekonomi kala itu diperkirakan akan keluar dari keanggotaan EU.

Mengapa Inggris keluar dari EU?

Keputusan itu diambil berdasarkan referendum yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2016, di mana mayoritas rakyat Inggris (52%) menginginkan Inggris keluar dari EU. Jumlah rakyat Inggris yang turut serta memberikan suara saat ini mencapai 30 (tiga puluh) juta orang, atau sekitar 71,8% dari total jumlah rakyat Inggris.

Apa yang telah terjadi pasca referendum?

David Cameron mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris sehari setelah referendum, kemudian digantikan oleh Theresa May yang sebelumnya menjabat sebagai menteri dalam negeri Britania Raya. Seperti halnya Cameron, May juga tadinya menentang keluarnya Inggris dari EU namun ia menyatakan bahwa ia akan menghormati pilihan rakyat.

May berkali-kali menegaskan bahwa “Brexit adalah Brexit”, namun masih ada banyak perdebatan tentang apa dampaknya terutama bagi dua isu utama: bagaimana perusahaan Inggris akan berbisnis di Uni Eropa dan pembatasan apa yang akan diberlakukan oleh negara-negara anggota EU bagi warga negaranya untuk tinggal dan bekerja di Inggris.

Bagaimana dengan perekonomian Inggris?

Perekonomian Inggris sepertinya bisa bertahan melewati goncangan awal yang disebabkan oleh hasil referendum Brexit, meskipun nilai tukar poundsterling bergerak di dekat level terendah 30 tahun, namun ada berbagai pendapat berbeda tentang bagaimana perekonomian Inggris akan berjalan untuk jangka panjang setelah meninggalkan EU.

Beberapa perusahaan besar seperti Easyjet dan John Lewis mencatat bahwa pelemahan sterling telah membuat anggaran biaya mereka membengkak. Inggris juga telah kehilangan rating kredit AAA, yang artinya biaya pinjaman pemerintah akan menjadi lebih tinggi.

Meskipun demikian, harga-harga saham telah mengalami pemulihan setelah melemah luar biasa, termasuk saham-saham perusahaan yang berpusat di Inggris yang diperdagangkan lebih tinggi dibandingkan sebelum referendum.

Bank of England melakukan pemangkasan suku bunga untuk yang pertama kalinya sejak tahun 2009, dari 0,5% menjadi 0,25% yang merupakan level terendah sepanjang masa.

Sejauh ini tidak terjadi resesi ekonomi seperti yang banyak diperkirakan.

Kapan Inggris akan benar-benar keluar dari EU?

Untuk keluar dari EU, Inggris harus meminta persetujuan mengacu pada Pasal 50 Perjanjian Lisbon yang memberikan waktu pada kedua belah pihak (Inggris dan EU) selama dua tahun untuk membuat kesepakatan terkait pemisahan diri tersebut.

Theresa May telah menyatakan bahwa ia berniat untuk memulai proses tersebut di akhir bulan Maret 2017, yang artinya Inggris diperkirakan akan resmi keluar dari EU pada musim panas tahun 2019. Itu pun akan tergantung pada kesepakatan yang tercapai dalam perundingan antara Inggris dan EU.

Pemerintah Inggris juga akan menetapkan Great Repeal Bill yang akan mengakhiri supremasi hukum EU di Inggris. Semua peraturan yang telah dibuat oleh Uni Eropa selama 40 tahun terakhir ketika Inggris masih menjadi anggota akan dikumpulkan dalam satu buku, setelah pemerintah memutuskan mana yang harus dipertahankan, diubah, atau dihapus.

Apa arti “soft Brexit” dan “hard Brexit”?

Kedua istilah ini semakin sering dipergunakan dalam perdebatan tentang bagaimana Inggris akan meninggalkan EU. Sebenarnya tidak ada definisi yang baku untuk kedua istilah tersebut, namun seringkali dipergunakan untuk menggambarkan sedekat apa nantinya hubungan antara Inggris dengan EU pasca Brexit.

Kondisi “hard Brexit” adalah ketika Inggris memilih kebijakan proteksionis dengan sepenuhnya menutup akses ke pasar tunggal Uni Eropa. Dengan demikian, Inggris akan akan memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur anggaran, undang-undang dan aturan keimigrasian di negaranya sendiri.

Sedangkan “soft Brexit” lebih lunak. Pilihan “soft Brexit” akan tetap membuka beberapa akses bebas tarif ke pasar tunggal. Tetapi pilihan ini kemungkinan juga akan membuat Inggris tetap “terikat” pada beberapa aturan EU, seperti kontribusi pada anggaran keuangan EU dan/atau memberi kebebasan bagi warga negara anggota EU untuk bekerja di Inggris. Kondisi tersebut mirip dengan yang dijalani Norwegia saat ini. Norwegia bukan anggota EU, namun masuk ke dalam keanggotaan European Economic Area.

Kebijakan Bank Sentral: Seberapa Pentingkah?

Anda mungkin telah memahami bahwa pergerakan kurs mata uang juga dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang ditetapkan bank sentral negara tersebut. Sementara, tingkat suku bunga, yang merupakan kebijakan moneter, juga dipengaruhi oleh penilaian bank sentralnya atas stabilitas ekonomi dan harga.

Beroperasinya bank sentral membutuhkan pimpinan yang biasa disebut sebagai Ketua, Gubernur, atau Presiden. Mereka adalah individu-individu yang bisa dikatakan merupakan “suara” dari bank sentral tersebut. Merekalah yang bertugas menyampaikan arah kebijakan moneter bank sentral yang dipimpinnya kepada pasar. Tiap kali mereka naik ke podium, mimbar, atau berbicara di suatu forum, hampir bisa dipastikan semua orang akan pasang telinga.

Penting bagi trader untuk mengetahui potensi arah kebijakan moneter (alias suku bunga) bank sentral tertentu karena naik atau turunnya suku bunga akan berpengaruh pada penguatan atau pelemahan mata uang negara tersebut. Untungnya, sekarang kita bisa dengan mudah mendapatkan akses informasi pernyataan pemimpin-pemimpin bank sentral. Jadi, lain kali jika Janet Yellen atau Mario Draghi memberikan pernyataan, buka mata dan telinga Anda lebar-lebar.

Memang pemimpin bank sentral bukanlah satu-satunya pihak yang membuat kebijakan moneter untuk suatu negara atau perekonomian, tetapi setiap pernyataan mereka bisa dianggap sebagai “sabda”. Pernyataan-pernyataan mereka bisa mempengaruhi pasar dan seringkali diikuti oleh pergerakan harga yang signifikan. Meskipun demikian, tidak semua pemimpin bank sentral memiliki “kekuatan” yang sama.

Pernyataan para pemimpin bank sentral bisa berupa alasan di balik keputusan tingkat suku bunga diskusi terkait pertumbuhan ekonomi, hingga perkiraan perubahan ekonomi ke depan. Biasanya setiap pernyataan mereka disiarkan secara live oleh televisi-televisi yang memang khusus memberitakan berita-berita ekonomi seperti Bloomberg atau CNBC.

Tetapi Anda tidak perlu kecewa jika tidak bisa menyimak pernyataan mereka secara langsung, sebab segera setelah pidato atau pengumuman disampaikan, Anda bisa dengan segera mengetahui topik pembicaraan mereka di internet. Kalau Anda tidak berlangganan Bloomberg TV atau CNBC, Anda masih bisa mendapatkan informasinya melalui website mereka.

Para analis dan trader forex biasanya akan mencerna pernyataan para pemimpin bank sentral terutama apabila yang mereka sampaikan berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi atau suku bunga. Reaksi pasar lebih kurang sama seperti mereka bereaksi terhadap data atau indikator ekonomi tertentu, tetapi khusus untuk suku bunga, pasar biasanya lebih bereaksi lebih signifikan terutama apabila ternyata pengumuman tingkat suku bunga tidak seperti yang diperkirakan.

Bank-bank sentral dewasa ini menjadi semakin transparan, sehingga pasar merasa relatif lebih mudah untuk memperkirakan arah kebijakan moneter bank sentral. Meskipun demikian masih tetap ada kemungkinan para pengambil kebijakan di bank sentral akan mengubah pandangan mereka. Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar biasanya meningkat dan Anda harus lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi.

“Hawkish” vs “Dovish”

Dalam dunia trading forex, sikap para pejabat bank sentral biasanya terbagi menjadi dua kubu: “hawkish” dan “dovish”, tergantung pada bagaimana mereka menilai kondisi ekonomi tertentu.

Seorang pejabat bank sentral akan dianggap “hawkish” ketika mereka memperlihatkan sikap atau pendapat yang mendukung kenaikan suku bunga untuk menghadapi inflasi, bahkan meskipun pertumbuhan ekonomi sedang lamban dan kondisi sektor lapangan pekerjaan sedang buruk.

Misalnya Anda mendengar atau membaca berita seperti ini, “Federal Reserve memperkirakan adanya ancaman naiknya tingkat inflasi yang tinggi.” Federal Reserve bisa saja dianggap hawkish jika mereka mengeluarkan pernyataan resmi yang mengarah pada kenaikan tingkat suku bunga yang dimaksudkan untuk mengurangi tekanan inflasi.

Sebaliknya, para pejabat bank sentral yang dovish biasanya lebih memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan sektor lapangan pekerjaan daripada menaikkan suku bunga. Mereka juga cenderung memilih untuk bersikap tidak agresif terkait kejadian ekonomi tertentu.

Anda juga bisa saja menemukan beberapa pejabat bank sentral yang “berdiri di tengah-tengah”, atau bersikap netral. Terkadang mereka menunjukkan sikap hawkish, terkadang juga dovish. Meskipun demikian, sikap “asli” mereka akan terlihat ketika ternyata keadaan pasar berubah menjadi ekstrim.

Para Pejabat Bank Sentral

Para “pejabat bank sentral” yang berulang disebutkan di atas tergabung dalam semacam “dewan”. Misalnya Bank Indonesia memiliki “Dewan Gubernur”; Federal Reserve memiliki “Federal Open Market Committee”. Salah satu tugas “Dewan” ini adalah menentukan kebijakan moneter, dalam hal ini tingkat suku bunga, biasanya melalui mekanisme voting.

Berikut ini adalah daftar beberapa bank sentral utama dunia berikut pemimpin dan “dewan”-nya:

Bank Sentral Asal Sebutan Untuk Pemimpin Nama Pemimpin Saat Ini (2016)

Nama Dewan

Bank of England (BOE) Inggris Governor (Gubernur) Mark Carney Monetary Policy Committee (MPC)
Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat Chairman/Chairwoman (Ketua) Janet Yellen Federal Open Market Committee (FOMC)
European Central Bank (ECB) Uni Eropa President (Presiden) Mario Draghi Governing Council
Bank of Japan (BOJ) Jepang Governor (Gubernur) Haruhiko Kuroda Monetary Policy Board
Reserve Bank of Australia (RBA) Australia Governor (Gubernur) Philip Lowe Reserve Bank Board
Swiss National Bank (SNB) Swiss Chairman (Ketua) Thomas Jordan Governing Board

Gross Domestic Product: Sebuah Penjelasan Singkat

Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) dalam bahasa Indonesia, selama ini diyakini sebagai salah satu indikator penting yang mengukur “kesehatan” perekonomian sebuah negara. Dalam forex trading, GDP merupakan salah satu data ekonomi penting (big figure) yang diperhatikan para trader untuk membaca potensi arah pergerakan pasar selanjutnya.

Kali ini kita akan mencoba memaparkan secara singkat dan sederhana mengenai apa dan bagaimana sebenarnya GDP tersebut. Bagaimana sebenarnya dampak data GDP ini terhadap pasar dan masyarakat umum?

Apa Itu GDP?

GDP merupakan representasi nilai total penjualan dari semua barang dan jasa yang diproduksi dalam kurun waktu tertentu. Singkatnya, GDP adalah segala hal yang dihasilkan oleh masyarakat dan bisnis, termasuk gaji para pekerja.

Data GDP juga merupakan cara untuk mengetahui sektor perekonomian mana saja yang mengalami pertumbuhan atau penurunan.

Di Amerika Serikat (AS), angka GDP ini dikalkulasikan dan diumumkan setiap kuartal oleh Bureau of Economic Analysis (BEA), yang merupakan bagian dari US Department of Commerce. BEA seringkali merevisi estimasi – entah naik atau turun – seiring dengan perkembangan data yang diterima sepanjang kuartal tersebut.

Biasanya, angka GDP yang diumumkan dibandingkan dengan kuartal atau tahun sebelumnya. Sebagai contoh, jika GDP di kuartal ke-2 naik tiga persen, ini artinya perekonomian negara tersebut telah mengalami pertumbuhan sebesar tiga persen di sepanjang kuartal pertama.

Bagaimana GDP Dihitung?

Menghitung GDP sesungguhnya agak rumit, namun secara sederhana perhitungannya bisa dilakukan setidaknya satu di antara dua cara. Bisa dengan menjumlahkan semua penghasilan masyarakat dalam setahun, atau menjumlahkan semua pengeluaran masyarakat. Semua jalan perhitungan seharusnya menghasilkan data yang lebih kurang sama.

Metode perhitungan yang mempergunakan parameter penghasilan diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan semua karyawan, laba perusahaan, pendapatan hak cipta, pendapatan sewa dan pendapatan bunga bersih.

Sedangkan metode dengan pendekatan pengeluaran dihitung dengan menjumlahkan konsumsi total, investasi, belanja negara dan ekspor bersih.

GDP Nominal Dan GDP Riil

Ini juga mungkin sedikit rumit, tetapi intinya GDP nominal tidak memperhitungkan inflasi sedangkan GDP riil memperhitungkan inflasi. Ini perbedaan yang penting karena inilah sebabnya mengapa beberapa laporan GDP mengalami revisi.

GDP nominal mengukur nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu (misalnya kuartal atau tahun) mempergunakan harga-harga pada waktu tersebut. Tetapi tingkat harga pada umumnya bisa meningkat karena inflasi, yang menyebabkan kenaikan GDP nominal meskipun jumlah barang dan jasa yang diproduksi tidak mengalami perubahan. Meskipun demikian, data GDP nominal tidak mencerminkan kenaikan harga. Nah, di sinilah kemudian GDP riil berperan.

BEA biasanya akan mundur ke kuartal atau tahun sebelumnya dan mengukur nilai barang dan jasa yang disesuaikan untuk mengukur inflasi. Inilah yang kemudian disebut GDP riil (real GDP). Untuk mengukur pertumbuhan GDP tahunan, biasanya yang dipergunakan adalah real GDP ini, karena data tersebut memberikan gambaran yang lebih akurat akan perekonomian negara.

Bagaimana GDP Mempengaruhi Masyarakat Umum?

Perekonomian suatu negara biasanya dianggap “sehat” apabila tingkat pengangguran rendah dan upah meningkat, karena sektor bisnis membutuhkan lebih banyak pekerja untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi.

Meskipun demikian, jika pertumbuhan GDP terlalu cepat, bank sentral (kalau di AS, adalah Federal Reserve/Fed) kemungkinan besar akan menaikkan tingkat suku bunga untuk mengimbangi laju inflasi – dengan kata lain meningkatnya harga barang dan jasa. Ini bisa berarti biaya (bunga) yang diperlukan untuk kredit kendaraan dan perumahan akan menjadi semakin tinggi pula. Pada gilirannya, sektor bisnis pun juga akan merasakan dampaknya, di mana terjadi peningkatan biaya untuk pinjaman modal dan/atau membayar gaji/upah pekerja.

Sebaliknya jika GPD melambat, atau istilahnya negatif, pun akan memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi yang bisa saja akan berakibat meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja dan menurunnya pendapatan bisnis serta belanja masyarakat.

Bagaimana GDP Mempengaruhi Investor?

Para investor memantau pertumbuhan GDP untuk menilai apakah pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan dengan cepat atau tidak, sehingga mereka akan bisa memutuskan penempatan aset mereka. Memburuknya perekonomian biasanya berarti menurunnya keuntungan yang diperoleh para pengusaha, yang bisa berdampak negatif bagi nilai saham-saham perusahaan mereka.

Data GDP juga bisa membantu para investor untuk memutuskan di negara mana peluang investasi yang terbaik. Kebanyakan investor asing memilih untuk membeli perusahaan atau menanamkan modal di negara yang perekonomiannya berkembang. Dengan kata lain, jika banyak investor asing berdatangan ke suatu negara untuk menanamkan modal, itu berarti mereka menganggap perekonomian negara tersebut sedang baik dan prospeknya pun bagus.

Bagaimana Memanfaatkan Data GDP Bagi Trader?

Dalam forex trading, data GDP yang paling diperhatikan adalah rilis data GDP dari negara-negara maju seperti Inggris, kawasan Euro dan – tentu saja – primadonanya adalah data GDP dari AS.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, peningkatan angka GDP berarti tumbuhnya perekonomian negara tersebut. Akibatnya, peningkatan data GDP biasanya diikuti oleh penguatan mata uang negara tersebut. Sebaliknya, jika angka GDP menurun maka biasanya diikuti oleh pelemahan mata uang negara yang bersangkutan.

Jadi, jika Anda melihat rilis data US GDP naik dari – misalnya – 2% ke 3%, kemungkinan akan diikuti oleh penguatan USD. Dengan kata lain, Anda bisa membuka posisi buy terhadap USD. Artinya, di antara transaksi yang bisa Anda lakukan misalnya adalah membuka posisi SELL GBP/USD, SELL EUR/USD, atau BUY USD/JPY.

Tentu saja setiap transaksi membutuhkan analisa dan perhitungan yang cermat. Jika Anda membutuhkan bantuan, Anda bisa bertanya pada tim Market Analyst FOREXimf.com melalui Live Chat.

Demikian penjelasan singkat mengenai GDP, salah satu data ekonomi yang berpengaruh terhadap pergerakan pasar.

Poundsterling Jatuh! Ini Teori-Teori Yang Berkembang

Jumat lalu (7/10/2016), poundsterling merosot dengan sangat tajam, melemah terhadap USD dari kisaran 1.2 ke kisaran 1.18 hanya dalam dua menit saja – sebuah pergerakan tajam yang sangat tidak biasa. Pasar biasa menyebut peristiwa ini sebagai “flash crash”.

Peristiwa tersebut terjadi pada sekitar pukul enam pagi waktu Indonesia Barat, tepatnya sekitar pukul 06.07 WIB. Dalam sekitar 60 detik, GBPUSD bergerak dari kisaran 1.26 ke kisaran 1.203-an. Berdasarkan data dari Reuters, pada puku 06.09 WIB GBPUSD berhasil menyentuh level 1.1819. Tiga puluh menit setelah itu barulah GBPUSD berhasil melakukan recovery ke kisaran 1.24-an dan bertahan di kisaran tersebut hingga tulisan ini dibuat.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Banyak teori yang berkembang namun hingga saat artikel ini ditulis belum ada kesimpulan yang bisa dibuat mengenai apa yang menyebabkan poundsterling terkapar seperti itu. Ada beberapa teori yang bisa jadi adalah kemungkinan penyebab kejadian tersebut, di antaranya adalah seperti yang dipaparkan di bawah ini.

Teori #1: Akibat sindrom “fat-finger”

“Fat-finger” adalah istilah yang dipergunakan ketika kesalahan terjadi akibat salah mengetik/meng-input angka atau besaran transaksi. Mungkin ini mirip dengan istilah anak muda sekarang: “typo”. Hampir mirip ketika Anda salah mengetikkan huruf ketika chat melalui WhatsApp atau sejenisnya. Hanya saja, typo semacam ini efeknya bisa sangat luar biasa. Sindrom fat-finger bisa juga terjadi karena error pada algoritma yang dipergunakan untuk transaksi otomatis di bursa saham.

Pada kesalahan fat-finger, yang terjadi adalah kesalahan dalam memasukkan order transaksi, entah itu buy atau sell namun ukuran transaksi terlalu besar, pada saham atau kontrak yang salah, pada harga yang salah, atau kesalahan input lainnya.

Fenomena fat-finger pernah terjadi sebelumnya, di antaranya:

  • Tahun 2006, seorang trader di Mizuho Securities di Jepang melakukan kesalahan fat-finger yang menyebabkan perusahaan itu melakukan short-sell sebuah saham hingga perusahaan tersebut merugi 40 milyar yen.
  • Tahun 2014, seorang broker saham di Jepang keliru menempatkan order senilai lebih dari 600 milyar USD pada saham-saham unggulan Jepang, termasuk Nomura, Toyota Motors dan Honda namun kemudian transaksi-transaksi tersebut dibatalkan. Seandainya tidak dibatalkan, maka nilai transaksi tersebut pada saat itu akan melebihi nilai ekonomi Swedia.
  • Tahun 2015, seorang pegawai junior di Deutsche Bank kebingungan ketika menghitung jumlah kotor dan bersih ketika memproses sebuah transaksi, yang menyebabkan bank tersebut harus membayar kepada sebuah hedge fund di Amerika Serikat sebesar 6 milyar USD, sangat jauh lebih besar daripada jumlah sesunguhnya.

Di tahun 2010 juga pernah terjadi flash-crash pada indeks Dow Jones. Semula hal ini disangka sebagai sindrom fat-finger namun setelah dilakukan investigasi ternyata melibatkan sebuah program trading otomatis yang dipergunakan seorang trader yang tinggal di Inggris bernama Navinder Singh Sarao. Ia dituding memanipulasi transaksi dengan programnya.

Nah, untuk kasus poundsterling tempo hari, sebagian ekonom menilai agak sulit untuk “menuduh” bahwa fat-finger-lah biang keladinya. Jika memang itu yang terjadi, maka konvensi pasar akan sepakat pihak-pihak yang terkait akan menghapus pergerakan harga tersebut dan menghilangkannya dari catatan grafik. Namun faktanya hal itu tida terjadi sehingga kemungkinan fat-finger adalah penyebabnya menjadi kecil.

Teori #2: Ada yang mengambil kesempatan saat likuiditas rendah

Tidak ada bukti yang dimunculkan oleh pengusung teori ini, tetapi jika ada seseorang yang memang ingin menggerakkan pasar dengan tajam, maka waktu yang tepat untuk itu adalah beberapa saat setelah New York tutup sementara para pemain Hong Kong dan Singapura baru akan menyeruput kopi pagi mereka. Memang saat itu Sydney dan Tokyo sudah berjalan, namun Singapura merupakan pusat valuta asing terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Teori #3: Ada kaitannya dengan kedaluarsa kontrak option

Hari Jumat merupakan hari di mana banyak kontrak option forex kedaluarsa dna hal ini bisa menyebabkan pergerakan ekstrim jika para penjual option – dalam hal ini bank – tiba-tiba merasa butuh melakukan hedging untuk berlindung dari penurunan yang besar atas nilai sebuah mata uang. Berdasarkan data dari DTCC (sebuah lembaga kliring dan settlement), kelompok terbesar yang memiliki option GBPUSD yang kedaluarsa berada di level 1.25-an, dengan nilai nosional sebesar 1,23 milyar USD.

Dengan kata lain, penurunan harga yang tiba-tiba ke bawah level 1.25 bisa memicu para penjual option untuk berebut menjual poundsterling demi melindungi diri dari kerugian yang besar.

Teori #4: Ini gara-gara François Hollande

François Hollande yang dimaksud adalah Presiden Perancis saat ini, yang mendesak Uni Eropa untuk melakukan “tough negotiation” dengan Inggris yang bersiap secara formal untuk meninggalkan Uni Eropa. Hal ini dilaporkan oleh Financial Times pada pukul 07.07 waktu Hong Kong (06.07 WIB).

Akan tetapi, para trader yang dihubungi oleh Financial Times melakukan transaksi persis pada pukul tujuh lebih tujuh menit dan TIGA DETIK waktu Hong Kong, dan artikel tentang pernyataan Hollande itu baru dipublikasikan pada pukul tujuh lebih tujuh menit dan TIGA BELAS DETIK waktu Hong Kong.

Mengapa sulit untuk mengetahui penyebabnya?

Pasar mata uang (forex market) bukanlah sebuah pasar tunggal melainkan kumpulan dari banyak sistem perdagangan di seluruh dunia yang memiliki zona waktu berbeda-beda, tidak seperti bursa saham di mana apa yang terjadi bisa diamati di satu tempat, seperti yang terjadi pada kasus-kasus fat-finger di atas. Penyedia data harga seperti Reuters atau Bloomberg mengambil harga yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda-beda pula.

Memang bisa saja order yang disebabkan oleh fat-finger menjadi “viral” dan membesar terutama jika dilakukan oleh bank yang cukup besar, namun tidak ada – misalnya –  hedge fund yang berbasis pada algoritma untuk dimintai pertanggung jawaban seperti Sarao.

Apa yang mungkin akan terjadi?

Para trader beranggapan bahwa ini isyarat bahwa pondsterling masih akan terus melemah. Sterling sendiri telah berada di bawah tekanan sejak Theresa May – Perdana Menteri Inggris – memimpin Partai Konservatif. Bahkan sebelum terjadinya flash crash di poundsterling, Goldman Sachs telah memperkirakan bahwa poundsterling akan melemah lebih lanjut hingga 5 persen dalam tiga bulan ke depan. Dengan kata lain, Goldman Sachs telah memperkirakan bahwa GBPUSD akan bergerak turun menuju 1.20.

Memang GBPUSD telah mengalami recovery ke kisaran 1.24, tetapi masih di bawah 1.26 yang merupakan level sebelum flash crash.

Poundsterling, GBPUSD, Trading forex, forex indonesia

Secara teknikal, grafik harian (Daily) GBPUSD masih memperlihatkan bahwa poundsterling berada di bawah tekanan bearish yang kuat. MA 20 telah memotong ke bawah MA 50 di grafik tersebut, yang dalam analisa teknikal disebut sebagai “death cross” yang merupakan indikasi bearish. Ini memperkuat dugaan bahwa pelemahan poundsterling kemungkinan belum akan berakhir.

Meskipun demikian, kondisi jenuh jual (oversold) telah terlihat pada indicator teknikal stochastics oscillator dan CCI yang diplot di grafik yang sama – bahkan indikasi bullish terlihat pada stochastics. Walaupun belum bisa menjadi sinyal reversal (pembalikan trend) namun hal ini membuka peluang bagi pergerakan pull-back.

Untuk itu, skenario jangka panjang untuk GBPUSD masih bearish apalagi jika muncul sinyal bearish di area resistance Fibonacci 1.24769-1.28423, dengan potensi target di kisaran 1.22508-1.18853. GBPUSD baru akan membuka peluang bullish jika berhasil naik ke atas 1.28423 dengan sasaran masih terbatas di kisaran 1.30684-1.34339.

Clinton Atau Trump: Siapa Pilihan Pasar?

Dalam trading, termasuk forex, bukan hanya data ekonomi yang perlu dijadikan bahan analisa. Hal-hal yang terkait politik pun tak lepas dari pengamatan para pelaku pasar. Termasuk juga kehebohan politik yang terjadi di Amerika Serikat, di mana Hillary Clinton dan Donald Trump dipastikan akan bertarung untuk menempati kursi Kantor Oval di Gedung Putih.

Di antara pelaku pasar di Amerika Serikat, ternyata 45% berpendapat bahwa pasar akan lebih baik jika ternyata Hillary Clinton yang menjadi Presiden Amerika Serikat, sementara hanya 34% yang “mendukung” Donald Trump. Setidaknya itu yang tercermin dari survey yang dilakukan oleh E*Trade Financial (ETFC) yang dilakukan Juli lalu. Survey tersebut melibatkan orang-orang yang memiliki akun trading online dengan kapital setidaknya $10,000.

Mungkin bukan hal yang mengejutkan jika pasar cenderung memilih Clinton dibandingkan Trump. Investor yang bisa dikatakan “investor serius” dengan jumlah ribuan (atau mungkin bahkan jutaan) di pasar mungkin tidak terlalu peduli apabila House of Representatives dikuasai oleh Demokrat ataupun Republik.

Survey tersebut di atas juga menanyakan pada para responden, kira-kira kandidat mana yang akan bisa memperbaiki perekonomian Amerika Serikat. Hasilnya lebih kurang mirip, yaitu 41% meyakini bahwa Clinton-lah yang akan memilliki prestasi tersebut, sementara 33% berpendapat Trump mampu melakukan hal itu. Sisanya menjawab “tidak satu pun dari kedua orang tersebut”.

Ekonomi: Isu Politik Terkini

Perekonomian Amerika Serikat merupakan isu utama Pemilu kali ini. Amerika Serikat memang mencatat tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang – meskipun tidak secepat harapan – cukup baik. Hanya saja, kegelisahan warganya cukup tinggi terkait prospek ekonomi ke depan. Bahkan di kalangan investor yang disurvey oleh E*Trade, mayoritas responden hanya memberikan nilai B atau C untuk pertumbuhan ekonomi negeri Adidaya tersebut.

Clinton dan Trump saat ini sama-sama berusaha untuk meyakinkan calon pemilih bahwa mereka adalah pilihan terbaik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dalam survey yang berbeda, di mana semua pemilih (bukan hanya investor) ditanya siapakah yang akan bisa memperbaiki perekonomian, Trump memang unggul. Tetapi, sepertinya ada semacam “kesepakatan” antara Wall Street dengan Silicon Valley (sebuah daerah di selatan San Francisco Bay yang memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor) bahwa Clinton akan menjadi pilihan terbaik untuk dunia bisnis dan teknologi. Clinton dianggap telah menawarkan pertumbuhan pesat untuk infrastruktur, memperbaiki jalan-jalan di Amerika Serikat, jembatan dan IT. Selain itu Clinton juga menghendaki adanya kenaikan pajak bagi kaum “the haves”.

Moody’s Dan Analisisnya

Ada semacam kekhawatiran bahwa rencana Trump untuk mengurangi perdagangan luar negeri dan membebankan tarif yang tinggi untuk barang impor asal China – rival ekonomi Amerika Serikat – berpotensi memicu “perang dagang” yang justru beresiko menenggelamkan Amerika Serikat ke dalam resesi. Ekonom di Moody’s Analytics memperkirakan tiga setengah juta lapangan pekerjaan akan menghilang di bawah pemerintahan Trump dan akan terjadi koreksi (atau lebih buruk) di pasar modal. Merespon analisis dari Moody’s ini, seorang penasehat Trump mengatakan bahwa analisis tersebut adalah “sampah” dan berargumen bahwa rencana Trump untuk pemangkasan pajak besar-besaran bagi pebisnis justru akan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Pemilihan gubernur negara bagian Indiana, Mike Pence, sebagai partner Trump memunculkan keraguan tentang bagaimana Trump akan mampu membatasi perdagangan internasional. Pence selama ini diketahui sebagai pendukung perdagangan bebas, termasuk salah seorang yang mendukung perjanjian dagang dengan Panama, Korea Selatan dan Kolumbia ketika ia masih menjadi anggota Kongres.

Clinton Atau Trump

Greg Valliere, kepala strategi di Horizon Investments, berpendapat bahwa skenario terbaik bagi bisnis adalah jika Clinton menang – tetapi tidak menang mutlak – di mana setiap kebijakannya akan selalu dipantau dengan ketat oleh Kongres yang dikuasai kubu Republik.

Akan tetapi, investor harus juga mulai memikirkan bagaimana seandainya jika Clinton menang mutlak dan Demokrat akan “mengambil alih” Senat. “Tiga Serangkai” Demokrat: Clinton, Ketua DPR Nancy Pelosi dan pemimpin mayoritas Senat Chuck Schumer, menurut Valliere bukanlah “skenario yang diinginkan pasar”.

Adapun skenario jika Trump yang menang, yang mungkin saja bisa menyebabkan ketidakpastian di pasar, adalah merupakan hal yang biasanya sangat tidak disukai oleh pasar. Trump, yang sulit untuk ditebak, bisa saja memenangkan pertarungan; dan ini tentu akan memaksa para CEO – terutama mereka yang mencoba untuk menjalin kerja sama dengan China dan negara lain di dunia – untuk berpikir lebih keras.

Memang, beberapa survey terhadap pasar mengunggulkan Clinton sebagai pilihan yang lebih baik. Namun politik, seperti biasa, sangat unik dan seringkali memunculkan kejutan-kejutan. Kita tunggu saja nanti pada tanggal 8 November.

Liputan Khusus: Harga Minyak Dunia Berpeluang Naik Di Tahun 2016?

Sebenarnya, tidak ada satu ahli minyak atau analis ternama pun yang benar-benar bisa mengetahui kapan persisnya harga minyak akan berbalik arah dari terjun bebas menjadi menanjak. Akan tetapi, cepat atau lambat kita akan mengetahui ketika hal itu terjadi. Jumat lalu (12/2/2016), harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) berhasil menguat sekitar 12 persen ke kisaran $29 per barrel, namun prestasi tersebut memang belum terlalu memuaskan jika dibandingkan dengan kejatuhan harga minyak yang terjadi.

Posisi long (beli) untuk kontrak oil WTI mencapai volume tertinggi dalam delapan bulan terakhir meskipun harga minyak mentah masih bergerak dalam downtrend.

Kamis lalu (11/2/2016), harga minyak mentah WTI menyentuh kisaran $26.05 per barrel yang merupakan level terendah sejak tahun 2003. Di hari berikutnya, harga mengalami rally sejauh 12 persen. Akan tetapi harga masih ditutup melemah sebesar 4,7 persen untuk perdagangan pekan itu.

Persediaan minyak mentah dunia masih mengalami oversupply. Tidak tanggung-tanggung, persediaan minyak global mencapai angka tertinggi dalam 86 tahun.

Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa para spekulan justru bersiap untuk menghadapi kenaikan harga minyak?

Tampaknya, ada pertumbuhan jumlah yang signifikan di kalangan para investor yang memperkirakan bahwa produksi minyak akan melambat karena banyak perusahaan minyak terkemuka menurunkan skala operasi mereka agar masih bisa memperoleh keuntungan. Sangat mungkin bahwa para spekulan berpikir bahwa krisis harga minyak akan segera berakhir.

Mengapa para spekulan bisa berpikiran seperti itu?

Berikut ini adalah data yang bisa Anda pikirkan:

  • Perusahaan minyak terkemuka termasuk Chevron dan Anadarko telah mengemukakan rencana mereka untuk menekan pengeluaran.
  • Bloomberg melaporkan bahwa setidaknya ada 44 perusahaan eksplorasi dan produksi minyak di Amerika Utara hanya menganggarkan biaya sekitar $78 milyar tahun ini, sementara di tahun sebelumnya mereka mengeluarkan biaya sebesar $101 milyar.
  • Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail bin Muhammad al-Mazroui mengatakan bahwa OPEC bersedia untuk membicarakan kemungkinan pemangkasan produksi dengan eksportir minyak lainnya.

Ini secara tidak langsung menjadi indikasi bahwa produksi minyak di tahun ini kemungkinan besar akan berkurang dan diperkirakan akan mengatasi masalah oversupply sehingga menciptakan titik keseimbangan (equilibrium) baru antara supply dan demand untuk minyak.

Meningkatnya volume transaksi beli di kontrak harga minyak WTI terjadi ketika perusahaan-perusahaan minyak raksasa berkumpul di London dalam acara International Petroleum Week, dan memberikan peringatan bahwa prospek perminyakan saat ini sangat suram.

Patrick Pouyanné, CEO Total yang merupakan perusahaan kilang minyak terbesar di Eropa, mengatakan bahwa industri perminyakan sedang “menghadapi krisis”. Sementara itu boss BP (dahulu bernama British Petroleum), Robert Warren “Bob” Dudley, menggambarkan bahwa dirinya “sangat bearish”.

Meskipun demikian, Bob Dudley, berpendapat bahwa harga minyak dunia akan naik di semester ke-2 tahun 2016 karena diperkirakan akan ada kenaikan demand dari Amerika Serikat (AS) dan China sedangkan supply atau persediaan minyak dunia akan berkurang karena AS kemungkinan besar akan menghentikan produksi minyak. Hal itu ia kemukakan dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Harga minyak dunia telah jatuh ke level terendah baru dalam 1 tahun terakhir. Dudley berpendapat bahwa harga minyak kemungkinan akan naik dalam satu atau dua setengah tahun dengan tingkat volatilitas yang tinggi dalam enam bulan pertama.

Para spekulan telah bersiap menanti naiknya harga minyak dunia, bagaimana dengan Anda?

KALAU ADA EDUKASI GRATIS BERMUTU, KENAPA HARUS BAYAR ?

KALAU ADA EDUKASI GRATIS BERMUTU, KENAPA HARUS BAYAR ?

“Ada yang lebih bagus dari xxx? Yang lebih mahal banyak!“

Pernahkah anda mendengar tagline iklan obat anti nyamuk yang mengatakan demikian? Tagline tersebut memang mengisyaratkan bahwa untuk apa mencari yang lain, jika produk tersebut sudah memiliki kualitas terbaik. Begitupun dengan ForexIMF.com, yang memiliki kualitas terbaik dalam pelayanannya termasuk pelatihan trading forex untuk para nasabahnya.

Pelatihan trading forex yang bertebaran dimana-mana kadang membuat para trader kebingungan untuk memilih mana yang terbaik agar bisa meningkatkan performa trading mereka. Ada yang menawarkan indikator yang canggih, ada juga yang menawarkan robot – robot trading yang mutakhir, bahkan ada yang menggunakan istilah – istilah yang tidak lazim agar dapat meraup keuntungan dalam bertrading. Tapi perlu diingat semua itu berbayar dan tidak ada yang gratis. Tapi pertanyaannya, apakah yang berbayar itu memberikan pelayanan dan hasil yang maksimal ?

Saya memiliki seorang teman yang telah mengikuti berbagai pelatihan trading forex berbayar diberbagai tempat. Namun apa yang didapatkan? Uang terbuang percuma, performa tradingnya tetap berjalan di tempat dan cenderung mengalami kerugian. Akhirnya, saya merekomendasikan, untuk mencoba pelatihan trading forex di ForexIMF.com dan ia pun berhasil meningkat performa tradingnya.

ForexIMF.com, merupakan broker terbaik yang memberikan edukasi yang maksimal untuk para nasabahnya. Mengapa bisa demikian ?

1. Foreximf.com Memiliki Mentor yang Berpengalaman

Jika anda memang sedang mencari seorang mentor yang kredibel dan berpengalaman yang dapat membimbing anda menjadi seorang trader yang mandiri, disinilah tempatnya. Foreximf.com dihuni oleh mentor – mentor yang berpengalaman, yang telah mengalami pahit manisnya dunia trading. Anda cukup datang ke kantor kami dan bisa bertanya apapun seputar trading forex, meskipun anda belum jadi nasabah. Bayangkan, belum jadi nasabah saja sudah diberikan pelayanan maksimal, bagaimana anda sudah jadi nasabah? Jadi, untuk apa mencari yang berbayar ?

2. Technical Analysis Of The Financial Markets

Banyak berbagai pelatihan yang memberikan pengajaran tradingnya dengan menggunakan teknik yang kurang lazim di dengar, yang akhirnya kerap membuat para trader kebingungan. Ada yang menggunakan indikator custom, ada yang memenuhi chartnya dengan indikator, memberikan robot – robot dan sebagainya. Namun di ForexIMF.com memberikan pengajaran yang singkat, mudah diterapkan dan profit yang berdasarkan pada buku Technical Analysis Of The Financial Market karangan John J.Murphy. Jadi, tunggu apa lagi? Buktikan sendiri edukasi kami.

3. Foreximf.com memiliki fasilitas chat langsung ke tim analis

Kelebihan lain yang dimiliki oleh ForexIMF.com adalah anda semua jika telah menjadi nasabah, bisa langsung terhubung dengan para analis yang telah berpengalaman dibidangnya via chat online. Selain bisa bertanya mengenai edukasi, anda pun jika mengalami kebingungan kemana harga akan bergerak, atau membutuhkan pandangan dari para analis, anda bisa langsung bertanya kepada mereka. Menarik bukan? Jadi, untuk apa mencari jasa sinyal – sinyal posisi berbayar?

Bagaimana? Tertarik untuk belajar bersama kami? Untuk apa mencari yang berbayar? Lebih baik langsung saja belajar bersama kami. Happy trading

WEEKLY OUTLOOK 20 JANUARI – 24 JANUARI 2014

GLOBAL FUNDAMENTAL ISSUES

Dolar AS secara umum mengalami penguatan di minggu ini, sementara itu Aussie justru melemah sangat signifikan. Sentimen Ekonomi ZEW Jerman, keputusan suku bunga BOJ dan BoE, Klaim Pengangguran (Initial Claim) dan data perumahan AS merupakan data-data yang perlu kita cermati di pekan ini.

Berikut ini adalah ulasan untuk data-dat ekonomi (big figure) di pekan ini.

  1. Sektor manufaktur AS tercatat membaik dengan kenaikan yang signifikan. Sektor penjualan retail (retail sales) juga membaik. Angka inflasi yang solid juga membantu penguatan USD meskipun angka Non-farm Payrolls sangat mengecewakan. Mesipun pound berhasil mengalahkan USD berkat rilis data retail sales Inggris yang luar biasa, namun mata uang lain cenderung defensif. Aussie sendiri jatuh ke level terendahnya di dalam 3 tahun akibat memburukanya laporan sektor tenaga kerja
  2. Sentimen Ekonomi ZEW Jerman, yang akan dirilis hari Selasa (21/1) pukul 17.00 WIB. Sentimen ekonomi mengalami perbaikan pada bulan Desember menjadi 62,0. Ini berarti kenaikan 7,4 poin dari bulan November, di tengah optimisme pasar akan prospek ekonomi tahun 2014. Kenaikan ini jauh di atas perkiraan analis yaitu 55,3. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mencerminkan penurunan yang terjadi baru-baru ini di sektor industri pada bulan Oktober. PDB kemungkinan besar tidak akan tumbuh pada Kuartal 4 seperti yang diharapkan, tetapi hasil survei menunjukkan meningkatnya optimisme untuk pertumbuhan PDB pada tahun 2014. Untuk rilis data berikutnya, diperkirakan data ini akan naik 63,4.
  3. Data inflasi Australia (CPI), yang akan dirilis hari Rabu (22/1) pukul 07.30 WIB. Data tersebut naik tipis sebesar 1,2% pada kuartal ketiga, menyusul kenaikan 0,4% pada kuartal kedua. Para ekonom memperkirakan data tersebut akan turun menjadi 0,5%. Angka-angka ini menaikkan ekspektasi bahwa RBA kemungkinan akan memangkas suku bunganya di tahun 2014.
  4. Keputusan Suku Bunga Jepang, yang akan dirilis pada hari Rabu (22/1). Bank of Japan diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter longgar, menyusul keputusan tapering AS yang membuat yen terkapar ke level terendah lima tahun terhadap USD. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda menegaskan janjinya untuk memperluas basis moneter tahunan sebesar 60 trilyun hingga 70 trilyun yen (sekitar $670 milyar).
  5. Data ketenagakerjaan Inggris (Claimant Count Change dan Unemployment Rate) yang akan dirilis pada hari Rabu (22/1) pukul 16.30 WIB. Jumlah klaim pengangguran di Inggris turun 36.700 pada bulan November menjadi 1,27 juta, dan tingkat pengangguran turun menjadi 7,4% pada bulan Oktober. Angka ini merupakan level sejak tahun 2009. Inggris memerlukan perbaikan yang lebih besar di sektor tenaga kerja untuk lebih mempercepat pemulihan ekonomi. Data klaim pengangguran ini (Claimant Count Change) diperkirakan akan mengalami penurunan lebih lanjut menjadi 32.300 sedangkan tingkat pengangguran (Unemployment Rate) diperkirakan akan turun menjadi 7,3%.
  6. Keputusan suku bunga Kanada, hari Rabu (22/1), pukul 22.00 WIB. Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan Desember. Suku bunga acuan tersebut telah berada di bawah level 2% sejak Mei 2012 terutama akibat harga bahan bakar minyak yang masih lemah. Hal ini memperlihatkan bahwa inflasi masih lemah dan menekan dolar Kanada ke level terendah tiga tahun. BOC diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya di tahun 2014 dan baru akan menaikkan suku bunga pada kuartal kedua tahun 2015. Yang akan menarik untuk dicermati adalah apakah BOC akan bereaksi terhadap lemahnya sektor tenaga kerja.
  7. Klaim Pengangguran AS (Jobless Claims), rilis hari Kamis (23/1) pukul 20.30 WIB. Jumlah warga negara Amerika Serikat yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran diperkirakan menurun sejak program federal khusus berakhir bulan lalu. Namun demikian, jumlah klaim baru stabil, menunjukkan pemulihan yang kuat dalam ekonomi AS. Data Jobless Claims ini diperkirakan meningkat menjadi 331.000.
  8. US Existing Homes Sales, akan dirilis hari Kamis (23/1) pukul 22.00 WIB. Penjualan rumah di AS menurun tajam pada bulan November sebesar 4,90 juta unit, tingkat terendah dalam hampir satu tahun. Penurunan ini menunjukkan bahwa sektor perumahan AS kehilangan momentum pertumbuhannya. Situasi ini diperburuk oleh tapering yang dilakukan oleh The Fed. Lebih lanjut, Badan Keuangan Perumahan Federal berencana untuk mengurangi ukuran maksimal KPR yang dapat dibeli oleh wajib pajak yang diharapkan memiliki biaya pada sektor perumahan. Begitupun, rilis data perumahan ini diperkirakan akan naik 4,99 juta unit.

TECHNICAL OUTLOOK

DOLLAR INDEX

TECHNICAL OUTLOOK DOLLAR INDEX

 

Indeks dollar secara umum masih berada dalam uptrend di chart 1 jam. Terlihat indeks dollar menguji resistance 81.30. Jika resistance tersebut tembus, maka dollar diperkirakan akan melanjutkan penguatan dengan sasarn di ksiaran 81.50-81.73.

Di chart yang sama terlihat bearish divergence pada stochastic sehinga kita perlu mewaspadai koreksi di minggu ini. Untuk itu, perhatikan area support yang berada di 80.87 (Fibonacci 50%). Jika koreksi terjadi ke area tersebut dan sinyal bullish muncul/terkonfirmasi, maka dollar kemungkinan besar akan rebound dengan sasaran hingga kisaran 81.10-81.30.

Namun penguatan dollar untuk jangka menengah diperkirakan akan terhenti jika support 80.87 tembus. Jika itu terjadi, dollar diperkirakan akan melemah ke kisaran 80.64-80.44.

GBP/USD

TECHNICAL OUTLOOK GBP/USD

Meskipun Jumat lalu pound sempat melambung namun ternyata jika dilihat di time-frame yang lebih panjang pair tersebut tertahan oleh trendline turun (chart H4). Sinyal bearish telah terlihat di stochastic dan CCI, oleh karenanya di minggu ini ada peluang GBP/USD akan kembali bergerak bearish dengan sasaran di area support yang berada di kisaran 1.6357-1.6308.

Meskipun demikian, tetaplah waspada karena bias mingguan akan berubah menjadi bullish jika harga berhasil berakselerasi ke atas 1.6467, yang itu juga berarti bahwa trendline turun telah tembus. Jika itu terjadi, GBP/USD kemungkinan akan menemui level 1.6516 di minggu ini.

AUD/USD

TECHNICAL OUTLOOK AUD/USD

AUD/USD masih tetap berada di bawah tekanan bearish yang kuat. Bias bearish akan menjadi semakin kuat jika support 0.8756 tembus dan jika itu terjadi Aussie diperkirakan akan terus melemah hingga kisaran 0.8714-0.8668.

Akan tetapi, bullish divergence muncul di stochastic dan CCI 4 jam. Maka dari itu waspadai kemungkinan pullback mengincar area resistance yang berada di kisaran 0.8823-0.8865. Perhatikan area resistance tersebut untuk mencari konfirmasi sinyal bearish dengan potensi target setidaknya di kisaran 0.8797-0.8756.

Berhati-hatilah jika resistance 0.8865 tembus karena jika itu terjadi maka bias mingguan akan berubah menjadi bullish dan berpotensi akan diikuti oleh pergerakan bullish dengan sasaran di kisaran 0.8890-0.8932.

GOLD

TECHNICAL OUTLOOK GOLD

Harga emas berada dalam uptrend sebagaimana yang terlihat di chart 4 jam. Harga emas sempat menyentuh kisaran 1261.70 dan saat ini kita anggap sebagai resistance terdekat. Bias bullish akan menjadi semakin kuat jika resistance tersebut tembus, dan berpotensi akan memperpanjang uptrend hingga kisaran 1272.58-1284.75.

Meskipun demikian, perhatikan bahwa stochastic dan CCI 1 jam memperlihatkan indikasi jenuh beli sehingga kita perlu mewaspadai kemungkinan koreksi di pekan ini. Sebagai skenario alternatif, perhatikan area support yang berada di kisaran 1244.08-1233.20 untuk mencari konfirmasi sinyal bullish dengan potensi rebound hingga kisaran 1250.81-1261.70.

Berhati-hatilah jika support 1233.20 tembus karena hal tersebut akan mengubah bias mingguan menjadi bearish dan berpotensi akan menekan harga emas ke kisaran 1226.46-1215.58.

NIKKEI

TECHNICAL OUTLOOK NIKKEI

Jika kita lihat di chart 4 jam, Nikkei sebenarnya masih bergerak di bawah trendline turun. Stochastic pun memperlihatkan sinyal bearish sehingga ada kemungkinan Nikkei akan bergerak turun mengarah ke support 15375 di pekan ini.

Meskipun demikian, CCI ternyata telah berada di area oversold. Maka dari itu, kita perlu mencermati trendline dan resistance 15755 sebab jika indeks mampu tembus ke atas area itu maka bias mingguan diperkirakan akan berubah menjadi bullish dan berpotensi akan mengangkat Nikkei untuk mengincar kisaran 15956-16135.

HAPPY TRADING.

 

JADWAL UPDATE ANALISIS DAN NEWS WEBSITE IMFUTURES ( www.foreximf.com )

Topik

Jam Tayang (± 15 menit)

Analisis teknikal indeks saham Asia

08.00 WIB

Analisis teknikal forex pagi

09.00 WIB

News/analisis fundamental saham Asia

09.30 WIB

News/analisis fundamental forex pagi

10.00 WIB

Analisis teknikal komoditi (gold, dll)

15.00 WIB

Analisis teknikal forex sore

17.00 WIB

News/analisis fundamental malam

21.30 WIB

Ulasan upcoming economic data

22.00 WIB

FOLLOW Twitter: @imfutures untuk mengikuti “Flash News” dan “Kultwit” dari Tim Riset & Edukasi.

“LIKE” page IMFutures di Facebook: www.facebook.com/IMFutures