Minyak Mentah Berpotensi Turun (Lagi)?

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) telah mengalami penurunan sekitar 13 persen dalam satu tahun terakhir ini, masih dilatarbelakangi oleh kekhawatiran kelebihan pasokan minyak dunia. Ini juga berarti bahwa upaya OPEC untuk mendongkrak kembali harga minyak melalui program pemangkasan produksi belum terlalu berhasil.

Menurut data COT (Commitments of Traders) yang disediakan oleh CFTC (Commodity Futures Trading Commission), posisi short di bulan Juni telah meningkat hampir dua kali lipat. Dengan demikian posisi net long atas kontrak berjangka minyak mentah mencapai angka terkecil sejak Agustus 2016. Nah, data market positioning seperti ini sering dipergunakan sebagai “indikator” bahwa ada kemungkinan banyak pelaku pasar yang akan “tergoda” untuk membuka posisi long alias beli.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Memang harga minyak kemudian sempat mengalami rebound dari kisaran $43/barrel yang dicapai di tanggal 10 di bulan ini, sejalan dengan data COT tersebut di atas. Akan tetapi penguatan tersebut juga dilatarbelakangi oleh menurunnya jumlah produksi dari beberapa titik pengaboran minyak. Meskipun demikian, ternyata produksi minyak Amerika Serikat (AS) mengalami peningkatan yang berpotensi akan menahan penguatan harga minyak.

Dalam survey terakhir yang diadakan CNBC, sekitar setengah (lebih sedikit) dari jumlah responden yang berpendapat bahwa Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) telah kehilangan kemampuan untuk mengontrol pasar. Mereka juga berpendapat bahwa ada kemungkinan harga minyak mentah akan kembali ke kisaran $40 per barrel. Sementara itu ada 60 persen responden berpendapat bahwa OPEC sepertinya akan terus berupaya untuk mendongkrak harga minyak.

Tinjauan Teknikal

minyak mentah, crude oil

Sekarang mari kita lihat fakta teknikalnya.

Dari chart (daily) yang saya tampilkan di atas, kita bisa melihat bahwa sejak Januari 2017 harga minyak cenderung bergerak dalam downtrend. Beberapa kali harga sempat “piknik” ke atas MA 20 dan 50 di chart daily, namun tidak bertahan terlalu lama dan kembali turun.

Sementara itu harga sudah melakukan pull-back ke area resistance yang berada di kisaran 45.84-48.18 (perhatikan area yang diberi highlight kuning pada chart). Terlihat pula pola bearish divergence pada stochastic daily.

Jadi, fakta-fakta teknikalnya adalah sebagai berikut:

  1. Harga minyak mentah dalam downtrend sejak Januari 2017
  2. Harga minyak saat ini berada di area resistance
  3. Bearish divergence terlihat

Maka berdasarkan penampakan teknikal tersebut, ada kemungkinan harga minyak mentah akan kembali mengalami penurunan menuju kisaran $44.39 per barrel hingga $42.04 per barrel.

Akan tetapi kami sarankan untuk berhati-hati jika ternyata harga minyak mampu tembus ke atas $49.63 per barrel, sebab hal tersebut berpotensi akan diikuti oleh pergerakan bullish untuk jangka panjang dengan potensi menuju kisaran $51.98 hingga $54.33 per barrel.

Laporan Khusus: Sampai di Mana Penguatan Euro?

Sejak awal tahun 2017 kita bisa melihat bahwa euro berhasil menguat terhadap USD bahkan hingga menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan. Apakah penguatan euro ini akan berlanjut? Bagaimana peluang yang bisa Anda manfaatkan dalam forex trading?

Rally harian EUR/USD yang terakhir terjadi pada tanggal 11 Juli 2017, dilatarbelakangi oleh pelemahan USD yang salah satunya disebabkan oleh skandal email putra sulung Presiden Donald Trump yang memperlihatkan bahwa ia berterima kasih pada bantuan Rusia saat kampanye presiden ayahnya di tahun lalu.

Pantauan Teknikal

euro, EUR/USD

Rally EURUSD telah terjadi bahkan sejak pekan pertama tahun 2017. Penguatan euro terus terjadi hingga kembali mencapai area resistance di kisaran 1.14600-1.17150. Secara teknikal, area resistance tersebut terbentuk dari pergerakan sebelumnya yang tercatat mulai Mei 2015, Agustus 2015 hingga pergerakan antara Maret-April 2016.

Kita bisa melihat juga bahwa pergerakan chart mingguan (weekly) secara umum berada dalam kondisi sideways sejak Maret 2015. Berdasarkan pergerakan tersebut, rally terakhir terjadi dari area support di kisaran 1.05200-1.03400 sejak permulaan tahun 20117.

Saat ini EURUSD berada di area resistance seperti yang disebutkan di atas. Jika saat ini kita memperhatikan chart weekly, terlihat bahwa indikasi jenuh beli (overbought) telah diperlihatkan oleh stochastic dan CCI.

Jadi, fakta-fakta teknikalnya adalah:

  1. EURUSD berada di area resistance tahunan
  2. Indikasi overbought terlihat dari stochastic dan CCI chart weekly

Maka dari itu secara teknikal ada kemungkinan euro akan melemah terhadap USD apabila stochastic dan CCI mingguan berhasil mengonfirmasi sinyal jual. Dengan kata lain, ada kemungkinan EURUSD akan bergerak bearish untuk jangka panjang.

program referral, program afiliasi, afiliate program

Ke Mana Targetnya?

Secara teknikal, target penurunan EURUSD untuk jangka panjang berdasarkan analisa teknikal di atas adalah kisaran 1.10250, dengan catatan jika sinyal bearish terkonfirmasi di chart weekly.

Euro bahkan berpotensi terus melemah ke kisaran 1.05200 jika berhasil tembus ke bawah 1.10250.

Meskipun demikian, skenario bearish ini akan gagal jika harga justru berhasil tembus ke atas 1.17150. Jika penembusan yang terjadi valid, hal tersebut akan membuka peluang bagi pergerakan bullish hingga kisaran 1.20350-1.24000.

Waktunya Beli Emas (Lagi)?

Harga emas mungkin memang sedang berada di bawah tekanan seiring sentimen “risk-on” di sektor pasar modal dan naiknya suku bunga. Meskipun demikian, cukup banyak analis yang berpendapat bahwa ada kemungkinan harga emas akan mengalami recovery karena logam mulia tersebutlah yang benar-benar bisa memberikan “perlindungan” terhadap resiko.

Saat artikel ini mulai ditulis, harga emas saat diperdagangkan di kisaran $1217 per troy ounce. Sejak 6 Juni 2017, harga emas terlihat mengalami penurunan hingga kisaran $1204 per troy ounce, yang merupakan level terendah sejak 16 Maret 2017. Dari sudut pandang analisa fundamental, ada beberapa faktor yang menyebabkan pelemahan tersebut, salah satunya adalah kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve yang kemudian ternyata menambah sentimen positif untuk USD. Akibatnya, harga logam mulia yang nota bene dalam denominasi USD pun mendapat tekanan.

Meskipun demikian, laju inflasi Amerika Serikat  (AS) berpotensi memberikan keuntungan tersendiri bagi harga emas, mengingat emas hingga saat ini masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.

Nitesh Shah, seorang analis komoditi di ETF Securities, berpendapat bahwa inflasi AS berpotensi terus melaju hingga ke atas dua persen. Plus, ketegangan AS-Korea Utara masih berlangsung. Hal ini akan memberikan peluang bagi harga emas untuk kembali pulih setidaknya hingga akhir tahun 2017.

Posisi Para Investor

Menurut UBS, posisi transaksi para pelaku pasar saat ini mendukung untuk recovery harga emas. Posisi Net long – yang artinya para investor masih berkeyakinan bahwa harga emas masih akan bergerak naik – pada emas telah mengalami penurunan sebesar 53%, atau 12 juta troy ounce, dalam empat pekan terakhir. Sementara posisi net short – yang mana investor berkeyakinan harga akan turun – telah mengalami peningkatan.

Jangan tertipu, kondisi ini justru berpotensi membatasi “kekuatan jual” pasar. Kondisi ini berpotensi membuat pasar beranggapan bahwa harga telah mengalami penurunan yang signifikan dan berpikir bahwa mungkin inilah saat yang tepat untuk membeli.

Waktunya Beli?

Harga emas cenderung akan kembali naik ketika sektor lain dianggap buruk. Performa terbaik harga emas biasanya adalah ketika bank-bank sentral kehilangan kepercayaan dari para investor (pelaku pasar) atas langkah-langkah kebijakan yang mereka ambil.

Sebagai contoh, harga emas dan perak (terlepas dari flash crash yang terjadi baru-baru ini) kemungkinan akan mengalami peningkatan signifikan jika European Central Bank (ECB) dan bahkan mungkin Bank of England (BoE) mengikuti langkah Federal Reserve (Fed) memangkas stimulus.

Bagaimana potensi pergerakan harga emas dari sudut pandang analisa teknikal?

Harga Emas, trading emas, investasi emas

Dari sisi analisa teknikal kita bisa melihat bahwa harga emas saat ini berada di area support jangka panjang di kisaran 1194.88-1218.73. Kita bisa melihat di chart Daily (D1) bahwa stochastic dan CCI cenderung memperlihatkan indikasi bullish. Ini berarti ada peluang bagi harga emas untuk mengalami rebound untuk jangka panjang.

Secara teknikal, selama harga emas bertahan di atas 1194.88 maka ada potensi rebound ke area resistance yang berada di kisaran $1245 hingga 1272.02 per troy ounce. Seandainya Anda membuka posisi sebesar 1 lot pada kontrak XAUUSD saat ini (harga berada di kisaran $1217 per troy ounce) maka resiko kerugian yang akan Anda hadapi hanya sebesar $2500 per lot, sedangkan potensi keuntungan Anda adalah sekitar $3000 hingga $5000 per lot.

Perbandingan potensi resiko dengan keuntungan (risk to reward ratio) saat ini cukup baik, asalkan Anda benar-benar memperhitungkan kekuatan modal dan menerapkan strategi risk management yang tepat. Untuk hal itu, tim Market Analyst FOREXimf.com siap membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami jika Anda membutuhkan analisa dan strategi lebih detil terkait peluang ini.

Misteri Jatuhnya Harga Perak

Tanggal 7 Juli 2017 ketika pasar Jepang belum lama dibuka, harga perak mengalami kejatuhan – yang disebut “flash crash– sejauh kira-kira 7 hingga 10 persen sebelum kemudian berhasil pulih dan mengalami rebound tajam mendekati harga sebelum tragedi itu terjadi. Ditengarai, ada yang melakukan transaksi jual pada kontrak futures perak senilai lebih dari $450 juta.

Harga perak sempat tertekan ke kisaran $14.34 sebelum kembali mengalami rebound.

Pernyataan tidak resmi dari sumber terkait mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan sebuah “kesalahan” dan mereka sedang “mengerahkan semua tenaga” untuk menyelesaikannya. Jika memang benar demikian, maka dugaan fat finger syndrome mungkin bisa dikesampingkan.

Ada pula kemungkinan bahwa aksi jual yang agresif tersebut – senilai $450 juta – dilakukan oleh pihak yang memang menginginkan harga perak jatuh. Mungkin ada hedge fund atau siapa pun yang memiliki posisi short pada kontrak perak sehingga posisi mereka itu berhasil meraup keuntungan yang besar.

Apa saja kemungkinannya?

Jatuhnya harga perak telah menjadi topik perdebatan yang hangat dalam beberapa hari terakhir pasca flash crash yang terjadi. Seperti biasa, muncul berbagai spekulasi – bahkan tuduhan – mengenai apa sebenarnya penyebab kejatuhan tersebut.

harga perak

Dugaan pertama adalah kemungkinan “fat finger syndrome sebagai penyebab. Fat finger adalah istilah yang dipergunakan ketika seseorang melakukan kesalahan input yang kemudian menyebabkan terjadinya transaksi yang keliru dalam jumlah besar. Biasanya kesalahan yang terjadi adalah memasukkan angka nol terlalu banyak.

Dugaan lain adalah terjadinya penurunan likuiditas yang terjadi secara tiba-tiba hingga memicu kepanikan (panic selling). Jika kita perhatikan, harga memang telah bergerak dalam range yang relatif tipis sejak tanggal 4 hingga 6 Juli. Hal ini dianggap bisa memupuk kekhawatiran bahwa perak telah menjadi aset yang tidak likuid sejak akuisisi JP Morgan baru-baru ini. Konon, ada yang mencurigai JP Morgan melakukan praktek yang melanggar undang-undang antimonopoli.

Teori stop loss order juga diajukan oleh sementara pihak sebagai pemicu kejadian luar biasa tersebut. Secara spesifik, tercapainya stop loss order secara cepat dalam beberapa kali dapat dengan mudah memperbesar efek sell-off, meskipun awalnya mungkin tidak memicu terjadinya pelemahan. Apalagi banyak trader komiditas di Amerika Serikat yang saat itu sedang berlibur saat itu, maka sangat mungkin mereka menerapkan strategi “set and forgetpada transaksi yang mereka lakukan.

Sebenarnya ada banyak kemungkinan yang berpotensi menjadi penyebab terhantamnya harga perak Jumat lalu, namun mungkin kita tidak akan bisa membahasnya satu per satu. Bahkan mungkin saja kejadian tersebut merupakan akibat dari kombinasi beberapa kemungkinan yang dibahas di atas.

Meskipin demikian, setidaknya saat ini harga perak terlihat mulai bergerak stabil sehingga akan menjadi lebih mudah dalam melakukan analisa terhadap pergerakan harga perak secara teknikal.

Brexit: 5 Hal Yang Harus Dibahas Dalam Negosiasi

Inggris dan Uni Eropa resmi memulai perundingan perceraian di hari Senin, 19 Juni 2017. Negosiasi perdana tentang Brexit dilakukan di tanggal tersebut. Ada banyak hal yang harus dibicarakan oleh kedua pihak – Inggris dan Uni Eropa – dalam waktu kurang dari dua tahun, tetapi lima hal terpenting di antaranya adalah berikut ini:

  1. Perdagangan

Inggris akan menjadi negara pertama yang keluar dari Uni Eropa. Ketika masih menjadi anggota Uni Eropa, Inggris bisa menikmati perdagangan bebas dengan semua negara anggota Uni Eropa yang merupakan 44% pasar ekspornya. Pasar bebas Uni Eropa juga merupakan tempat di mana Inggris membeli 53% kebutuhan impornya.

Perceraian dengan Uni Eropa berarti Inggris tak akan lagi bisa menikmati akses bebas ke pasar tunggal tersebut.

Ada kemungkinan Inggris akan tetap bisa memperoleh akses ke pasar Uni Eropa namun dengan persyaratan tertentu: mereka harus membayar untuk itu. Akan tetapi hal tersebut membutuhkan kesepakatan di area lain. Bisa jadi juga adalah menegosiasikan kesepakatan dagang baru.

Perdana Menteri Theresa May menginginkan untuk memulai perundingan dari masalah hubungan dagang ini, namun struktur negosiasi yang dilakukan di hari Senin ternyata membutuhkan pembahasan di masalah lain dulu.

Jika tidak tercapai kesepakatan hingga Maret 2019, tak pelak Inggris akan berurusan dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk perdagangan.

  1. Imigrasi

Theresa May berkomitmen untuk mengurangi jumlah imigran Eropa yang datang ke Inggris. Tetapi hal tersebut tampaknya bisa membatasi keleluasaannya dalam melakukan perundingan. Uni Eropa membutuhkan akses dari negara-negara anggotanya untuk menjalankan perdagangan bebas dan itu berarti juga adalah kebebasan dalam hal lalu lintas manusia.

Ada masalah lain yang berpotensi muncul dari komitmen May tersebut, mengingat ada beberapa sektor kunci perekonomian Inggris bergantung pada pekerja migran.

Sementara itu, tingkat pengangguran Inggris saat ini menyentuh level terendah dalam 40 tahun. Padahal banyak perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, teknologi dan konstruksi saat ini sedang kekurangan pekerja. Salah satu cara memenuhi kebutuhan itu adalah membuka kran bagi pekerja migran.

  1. Biaya Perceraian

Uni Eropa berharap Inggris akan menghormati komitmen sebagai anggota dengan membayar “tagihan terakhir”.

Negara-negara anggota Uni Eropa membayar iuran yang akan dipergunakan untuk proyek infrastruktur, kegiatan sosial, penelitian ilmiah, subsidi pertanian dan dana pensiun bagi para mantan birokrat Uni Eropa. Dana untuk hal-hal tersebut dirundingkan untuk menutup kebutuhan dalam satu periode, sementara kesepakatan yang sedang berjalan akan berlaku hingga tahun 2020.

Uni Eropa belum menetapkan angka resmi, namun ada perkiraan bisa mencapai 100 milyar euro atau sekitar 112 milyar dolar.

  1. Hak-Hak Warga Negara

Kedua belah pihak – Inggris dan Uni Eropa – menginginkan agar tetap bisa melindungi hak-hak jutaan warga yang tinggal di Inggris atau Eropa.

Angkanya ternyata cukup besar. Tidak kurang dari 3 juta warga negara yang berasal dari negara anggota Uni Eropa tinggal di Inggris, sementara ada 1,2 juta warga negara Inggris tinggal di berbagai negara Uni Eropa.

Uni Eropa juga menginginkan agar ada jaminan akses seumur hidup untuk pensiun dan jaminan kesehatan.

  1. Perbatasan Dengan Irlandia

Perbatasan Irlandia akan menjadi poin yang dibahas di awal-awal perundingan.

Kedua pihak menginginkan agar tidak ada “batas keras” di antara Republik Irlandia (yang masih akan tetap menjadi anggota Uni Eropa pasca Brexit), dan Irlandia Utara (yang merupakan wilayah Inggris).

Warga Irlandia saat ini masih menikmati keleluasaan untuk melintasi perbatasan antara kedua wilayah (Republik Irlandia dan Irlandia Utara). Mereka juga masih bebas melakukan bisnis dan memanfaatkan fasilitas yang ada di kedua wilayah.

Keleluasaan untuk melintasi perbatasan ini merupakan poin kunci dari Good Friday Agreement di tahun 1998 yang berhasil membawa perdamaian ke Irlandia Utara setelah terjadinya konflik selama satu dasawarsa.

Hasil Pemilu Inggris Akan Bebani Brexit?

Pemilu Inggris telah dilaksanakan dan dari sudut pandang pasar, ada potensi masalah yang akan mengganggu proses Brexit.

Partai Konservatif yang saat ini sedang berkuasa tak mampu memenangkan suara mayoritas untuk parlemen dan hal ini ditengarai berpotensi akan mengguncang perekonomian Inggris serta memunculkan ketidakpastian terkait negosiasi Brexit selama kurang dari dua tahun ke depan.

Menurut perhitungan suara sementara, Partai Konservatif hanya mampu meraih 314 kursi, padahal dibutuhkan 326 kursi untuk bisa mencapai status mayoritas. Partai Konservatif saat ini (sebelum pemilu kemarin) memiliki 330 kursi di parlemen. Sementara itu partai oposisi – Partai Buruh – diperkirakan akan meraih 266 kursi, diikuti Partai Nasional Skotlandia dengan 34 kursi dan Partai Demokrat Liberal dengan 14 kursi.

Para analis mengkhawatirkan bahwa komposisi parlemen seperti ini – yang biasa disebut “hung parliament atau “parlemen gantung” – akan memperberat dan memperlambat proses negosiasi Brexit.

Hung parliament atau “parlemen gantung” adalah istilah yang dipergunakan ketika tidak ada partai yang meraih kursi mayoritas di parlemen. Istilah lain yang dipergunakan adalah balanced parliament.

Hasil akhir perhitungan suara baru akan diperoleh di hari Jumat waktu Inggris. Dengan demikian belum tentu akan terjadi hung parliament, mengingat di tahun 2015 juga pernah diperkirakan akan terjadi hung parliament namun kenyataannya Konservatif berhasil menjadi mayoritas.

Pemilu kali ini diselenggarakan setelah Perdana Menteri Theresa May di bulan April lalu menyerukan agar pemilu dipercepat untuk mengonsolidasikan kekuatan di parlemen yang memungkinkannya untuk meloloskan strategi Brexit dan memperkuat posisinya dalam perundingan dengan Uni Eropa. Saat itu, partainya tengah menuai dukungan yang kuat menurut survei. Namun ternyata setelah beberapa kali kesalahan dalam kampanye, dukungan terhadap Partai Buruh berkurang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Hasil pemilu diikuti oleh pelemahan Inggris sekitar 1,31 persen terhadap USD ke level terendah tujuh-pekan di kisaran 1.2707. Sentimen pasar berubah negatif akibat adanya kekhawatiran akan hung parliament yang berpotensi mengancam posisi Inggris dalam perundingan Brexit.

Masalahnya adalah dalam waktu 11 hari negosiasi Brexit harus dimulai. Karena Theresa May telah memulai pelaksanaan Article 50, dimulailah proses resmi perceraian Inggris dari Uni Eropa yang harus sudah terjadi pada akhir Maret 2019. Dengan banyaknya negosiasi yang harus dilakukan, Inggris tak boleh membuang-buang waktu. Padahal sudah ada setidaknya tujuh hari yang terbuang selama masa kampanye. Semakin banyak waktu yang terbuang, akan semakin memperbesar resiko kegagalan negosiasi.

Meskipun demikian, ada garis pemisah yang tegas antara nilai tukar poundsterling dan negosiasi Brexit. Menurut Kallum Pickering, ekonom Inggris senior di Berenberg mengatakan bahwa hung parliament bisa memaksa terjadinya kompromi antar partai. Jika kompromi tercapai, ada kemungkinan proses Brexit justru akan menjadi lebih soft dan bisa jadi menumbuhkan sentimen positif untuk jangka panjang.

Antara Brexit, Pelemahan Sterling dan Ekspor Inggris

Sebuah survey terkini menyatakan bahwa hanya tinggal satu dari lima warga Inggris yang tetap bertahan pada pendiriannya untuk tetap bergabung bersama Uni Eropa.

Hampir setahun pasca referendum Brexit, sebuah survey memperlihatkan bahwa dari total warga Inggris yang dulunya memilih untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa sekarang hanya tinggal setengahnya yang bertahan pada pendiriannya. Sisanya menyatakan menerima keputusan bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa.

Sekarang hanya tinggal 22 persen dari jumlah pemilih yang mengatakan bahwa mereka tidak mendukung Brexit dan meyakini bahwa pemerintah Inggris harus mengabaikan hasil referendum dan mencari cara untuk membatalkannya. Angka tersebut turun jauh dari jumlah yang diperoleh sebelumnya, ketika referendum dilaksanakan, yaitu 48%.

Sekarang sekitar 68% pemilih menyatakan mendukung langkah pemerintah untuk keluar dari Uni Eropa dan 23% di antaranya adalah orang-orang yang dulunya menentang Brexit.

Pelemahan Sterling Untungkan Eksportir?

Poundsterling masih bergerak dalam downtrend sejak hasil referendum menyatakan bahwa rakyat Inggris memilih keluar dari Uni Eropa.

Para eksportir Inggris merupakan pihak yang bersuka cita atas pelemahan poundsterling, karena pelemahan tersebut telah menaikkan nilai jual barang ekspor mereka hingga sebesar 15 persen sejak setahun lalu. Ada harapan peningkatan yang terjadi di sektor manufaktur akan membantu menyeimbangkan perekonomian Inggris yang selama ini bergantung pada permintaan dalam negeri.

Tetapi Gordon Macrae, manajer senior di Gripple yang berpusat di Sheffield, yang 85 persen pelanggannya ada di luar Inggris, tidak terlalu optimis bahwa peningkatan yang terjadi ini akan berlangsung lama meskipun terjadi permintaan yang tinggi atas produk mereka.

“Pandangan saya sejujurnya adalah bahwa pemerintah agak berkhayal bahwa ada peluang besar untuk perusahaan dengan nilai tukar sterling saat ini,” kata Macrae di pabrik Griffle di Sheffield.

Para pendukung Brexit berpendapat bahwa melemahnya pound akan menstimulasi ekspor dan investasi, sementara koran-koran pro-Brexit telah memanfaatkan membaiknya data ekspor untuk mempublikasikan booming­ ekspor Inggris menjelang pemilu tanggal 8 Juni mendatang.

Kekhawatiran Peningkatan Biaya Produksi dan Birokrasi

Bank of England memprediksikan pertumbuhan ekspor akan melebihi konsumsi domestik tahun ini seiring peningkatan inflasi – yang juga diakibatkan pelemahan nilai tukar mata uang. Tetapi Macrae berpendapat bahwa Gripple, yang konsumennya lebih suka melakukan pembayaran dengan menggunakan mata uang mereka sendiri, mewaspadai pelemahan sterling sebagai salah satu alat berkompetisi dalam harga. Menurut Macrae, menaikturunkan harga adalah hal yang terburuk dalam mempertahankan hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Salah satu hal yang dikhawatirkan dari Brexit adalah meningkatnya biaya produksi, terutama jika terjadi penundaan di pabean sehingga mempengaruhi kemampuan para produsen untuk mengimpor bahan baku yang diperlukan. Belum lagi kemungkinan terjadi penundaan pengiriman barang dari luar negeri.

Saat ini, meskipun ekspor barang Inggris telah mengalami peningkatan sebesar 15 persen sejak tahun lalu namun jumlah barang yang dijual hampir tidak mengalami peningkatan. Terakhir kali terjadi perbedaan yang besar di antara kedua komponen ini adalah ketika terjadi krisis finansial global, ketika sterling juga tumbang namun volume ekspor tidak mampu membaik. Pelemahan ekonomi global memang menjadi salah satu penjelasannya, namun kuncinya adalah ternyata kawasan Uni Eropa pun tak mengalami peningkatan.

Adalah mungkin bahwa ada semacam time lag antara kejatuhan sterling dan peningkatan produksi yang dilakukan oleh para eksportir. Tetapi sejarah memperlihatkan hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi. Ekspor Inggris cenderung tidak terlalu merespon pelemahan sterling. Tidak hanya di tahun 2008 tetapi juga di tahun 1992 ketika Inggris menghapuskan patokan kurs tetap poundsterling terhadap mark Jerman.

Bulan Maret lalu, deputi gubernur Bank of England Ben Broadbent mengatakan bahwa ketidakpastian yang tercipta karena Brexit mungkin akan menahan langkah para eksportir untuk berinvestasi jangka panjang meskipun tingkat keuntungan saat ini cukup menggiurkan.

Brexit: Apa Korelasinya Dengan Harga Emas?

Akhir Maret lalu Inggris secara resmi menjalankan proses perceraian dari Uni Eropa dengan menjalankan Article 50 of the Lisbon Treaty. Kira-kira apa dampaknya terhadap pergerakan harga emas?

Pada tanggal 20 Maret 2017, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menjalankan Article 50 of the Lisbon Treaty. Dengan demikian, itu berarti Inggris menyampaikan pemberitahuan kepada Dewan Eropa bahwa mereka akan mengundurkan diri dari keanggotaan Uni Eropa secara resmi agar bisa melakukan negosiasi terkait pengunduran diri tersebut. Dengan kata lain, Inggris secara resmi akan memulai proses “perceraian” yang bisa memakan waktu dua tahun itu.

Meskipun peristiwa ini bisa dikatakan sebagai peristiwa bersejarah, namun ternyata tidak membuat harga emas bergerak dengan signifikan, setidaknya tidak saat langkah itu diambil. Mungkin itu karena langkah tersebut memang telah diantisipasi sebelumnya oleh pasar, karena Theresa May sendiri sebelumnya telah mengumumkan bahwa ia akan menjalankan Article 50 di bulan Maret 2017.

Namun itu tidak berarti Brexit tidak akan memberikan dampak sama sekali kepada pasar logam mulia. Tentu akan tergantung pada bagaimana proses negosiasi itu akan berjalan. Jika negosiasi dimulai dengan cara yang salah, atau ternyata lebih alot daripada yang diperkirakan, maka akan sangat mungkin permintaan atas emas – sebagai aset safe-haven – akan mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika para negosiator ternyata bisa melakukan perundingan dengan “santai-santai” saja tanpa adu argumen atau tekanan yang berarti, maka justru harga emas mungkin akan melemah.

Tetapi biar bagaimanapun para investor emas disarankan untuk tetap tenang, karena skenario terburuk untuk Brexit toh belum terjadi dan harga emas belum melambung. Proses perceraian ini akan terjadi dengan sangat bertahap, dengan demikian bisa meredam dampaknya terhadap pasar.

Satu hal yang pasti, perjalanan hingga kurang dari dua tahun ke depan tentunya akan sangat menarik dan banyak hal mungkin bisa terjadi di sepanjang perjalanan. Skotlandia bahkan telah menyuarakan untuk melaksanakan referendum ke-2 untuk kemerdekaan tanah air William Wallace tersebut. Belum lagi Gibraltar, secuil daerah kekuasaan Inggris yang berada di ujung Selatan Spanyol, yang masa depannya juga akan menjadi percekcokan yang panas.

Oh ya, jangan lupakan Irlandia Utara, juga nasib warga negara Inggris yang tinggal di benua Eropa, imigran yang bekerja di Inggris, perjanjian dagang baru, dan sebagainya. Setiap isu berpotensi untuk menimbulkan ketidakpastian yang mungkin – sekali lagi: mungkin – justru akan memberikan sentimen positif bagi emas. Dengan kata lain, setiap ketidakpastian yang muncul akan sangat mungkin diikuti oleh penguatan harga emas.

Tim Market Analyst FOREXimf.com senantiasa melakukan pemantauan dan analisis terhadap pergerakan harga emas dan perak serta mempublikasikannya setiap hari di laman Analisa. Tim Market Analyst juga menyampaikan informasi mengenai peluang pasar terkini kepada nasabah FOREXimf.com tiap kali ada potensi untuk membuka posisi. Informasi peluang pasar tersebut disampaikan langsung ke ponsel nasabah melalui aplikasi WhatsApp.

Jika Anda belum mendapatkan layanan tersebut, silakan menghubungi tenaga pemasar kami melalui Live Chat setiap hari kerja, Senin sampai Jumat pukul 09.00-18.00 WIB.

Brexit dan Pemilu Perancis

Emmanuel Macron adalah salah satu kandidat dalam pemilihan presiden di Perancis. Di pemilu putaran pertama, ia berhasil mengumpulkan 8,5 juta suara (23,9 persen) mengalahkan rivalnya Marine Le Pen yang hanya berhasil meraih 7,6 juta suara (21,4 persen). Karena tidak ada satu pun dari mereka yang menjadi mayoritas (kurang dari 50%), maka sesuai dengan aturan yang berlaku di Perancis akan dilaksanakan pemilu putaran ke dua.

Jika Macron menang, hal tersebut diyakini akan memperkecil kemungkinan terjadinya guncangan pada ekonomi dan politik Eropa.

Seperti yang kita ketahui, salah satu kampanye Marine Le Pen adalah agar Perancis mengikuti langkah Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Oleh sebagian pihak, sikapnya itu dipandang oleh sebagian pihak sebagai ancaman bagi keseluruhan proyek Eropa.

Jika Macron menang, besar kemungkinan kemenangannya itu akan disambut gembira oleh kalangan pebisnis yang menganggapnya sebagai sosok pragmatis yang pro-bisnis, kendati belum teruji dan belum memiliki pengalaman.

Efek Brexit?

Ada sementara argumen bahwa kebijakan Macron yang berpihak pada bisnis – misalnya memangkas pajak dari 33% menjadi 25% dan mempermudah pemecatan (juga perekrutan) pekerja – akan membuat Perancis menjadi tujuan investasi bisnis yang lebih menarik di Eropa. Perancis juga diharapkan akan menjadi basis bisnis yang potensial untuk Uni Eropa.

Sebagai contoh, kebanyakan bankir telah menempatkan Perancis hampir di level terbawah sebagai tujuan investasi. Macron diharapkan bisa membawa perubahan untuk hal tersebut.

Terkait Brexit, setidaknya ada dua alasan mengapa kemenangan Macron bisa berdampak bagi negosiasi Brexit.

Alasan pertama adalah niat Macron yang melakukan pemangkasan pajak dan mengurangi hak-hak pekerja. Agar bisa melancarkan programnya itu, pemerintahannya (kalau ia terpilih) harus mendapatkan dukungan dari sayap sosialis Perancis.

Jika Macron memang berniat untuk membuat Perancis menjadi negara tujuan investasi yang menarik, maka ia mau tidak mau harus betul-betul memperhatikan berbagai kepentingan dari dalam negeri dulu. Selama ini, telah banyak upaya yang dilakukan untuk mereformasi pasar tenaga kerja namun belum memperlihatkan hasil.

Alasan ke dua adalah mengenai stabilitas ekonomi Eropa. Ada ketakutan bahwa hengkangnya Inggris dari Uni Eropa akan memicu niat yang serupa di seantero Eropa. Macron dikenal sebagai salah satu supporter Uni Eropa dan ia tidak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Brexit.

Dengan demikian, ada cukup alasan untuk menekan Inggris dalam perundingan-perundingan terkait Brexit yang rencananya akan berlangsung hingga Maret 2019. Itu bisa berarti langkah Inggris setidaknya akan menjadi lebih ringan.

Bagaimana Jika Le Pen yang Menang?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, salah satu kampanye Le Pen adalah “Perancis keluar dari Uni Eropa”. Pemimpin Front Nasional itu pernah mengatakan bahwa ia lebih suka menjadi sekutu Inggris dalam negosiasi Brexit jika ia menjadi presiden Perancis.

Dalam sebuah wawancara dengan radio LBC Le Pen mengatakan, “Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti langkah Inggris dan bekerja sama dengan Inggris dalam negosiasi antara dua bangsa yang memiliki hubungan dagang yang telah berlangsung selama berabad-abad. Saya tidak bisa melihat alasan mengapa Perancis dan Inggris Raya tidak bisa memiliki hubungan yang sangat baik.”

Le Pen juga mengkritik Uni Eropa yang menurutnya “sok kuat” dan menurutnya dipengaruhi oleh Kanselir Jerman Angela Merkel.

“Saya tidak tahan dengan sikap pemerasan dan ancaman Uni Eropa atas Inggris. Struktur ini (Uni Eropa) tidak lagi bisa berjalan tanpa pemerasan dan ancaman.”

Dalam beberapa kesempatan Le Pen sering memuji keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa. Ia juga telah bertekad untuk melakukan hal yang sama jika ia terpilih menjadi presiden Perancis.

Brexit: Article 50 Sudah Dieksekusi, Bagaimana Selanjutnya? (Part-2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Brexit: Article 50 Sudah Dieksekusi, Bagaimana Selanjutnya? (Part-1). Tulisan yang dibagi menjadi dua bagian ini membahas apa yang selanjutnya akan terjadi yang merupakan rangkaian Brexit dari mulai dijalankannnya Article 50 of Lisbon Treaty hingga akhir masa negosiasi selama dua tahun ke depan.

Apa Saja yang Akan Dibahas Dalam Negosiasi?

Surat yang ditulis oleh PM Theresa May kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk antara lain berisi garis besar berikut:

  • Kita seharusnya berdiskusi satu sama lain secara konstruktif dan penuh rasa hormat, dalam semangat kerja sama
  • Kita seharusnya selalu mengedepankan kepentingan rakyat
  • Kita seharusnya bekerja sama untuk mencapai perjanjian yang komprehensif
  • Kita harus bekerja sama untuk meminimalisir gangguan dan sebisa mungkin memberikan kepastian
  • Kita harus memperhatikan hubungan yang unik antara Inggris dengan Irlandia dan pentingnya proses perdamaian di Irlandia Utara
  • Kita seharusnya memulai pembicaraan teknis tentang area kebijakan yang rinci sesegera mungkin, namun kita harus memprioritaskan tantangan yang terbesar
  • Kita seharusnya terus bekerja sama dan melindungi kepentingan Eropa

Inggris mengatakan bahwa perjanjian dagang harus menjadi bagian dari negosiasi, sementara perwakilan Uni Eropa beranggapan bahwa pembicaraan tersebut harus dibicarakan secara terpisah.

Isu lain yang mungkin akan dibicarakan adalah hal-hal yang terkait pengaturan keamanan lintas perbatasan, memindahkan agensi-agensi Uni Eropa yang memiliki kantor pusat di Inggris dan kontribusi Inggris untuk dana pension pekerja sipil Uni Eropa; dan itu adalah perjanjian yang menurut beberapa laporan bisa memakan biaya hingga 50 miliar poundsterling.

Pemerintah Inggris telah mempublikasikan laporan sebelum referendum di tahun 2016 tentang proses pengunduran diri dari Uni Eropa. Dalam laporan tersebut juga dipaparkan hal-hal yang bisa jadi akan diperdebatkan.

Siapa Saja yang Akan Melakukan Negosiasi?

Komisi Eropa telah membentuk satuan kerja yang dikepalai oleh Michel Barnier, yang akan bertanggung jawab untuk melakukan negosiasi dengan Inggris.

Dari pihak Inggris, secara umum tanggung jawab negosiasi ini akan ditangani oleh perdana menteri langsung, didukung oleh Department of Exiting the European Union yang dipimpin oleh David Davis.

Bagaimana Jika Tidak Terjadi Kesepakatan Dalam Dua Tahun?

Seperti yang digambarkan di infografis yang dimuat dalam tulisan sebelumnya, Inggris tetap akan keluar dari Uni Eropa dan hubungan dagangnya dengan negara-negara lain (khususnya anggota Uni Eropa) akan diatur sesuai dengan aturan yang berlaku di World Trade Organization.

Beberapa menteri berpendapat bahwa mungkin akan ada masa transisi segera setelah Inggris secara resmi keluar dari Uni Eropa.

Apakah Parlemen Juga Akan Bersuara?

Article 50 menyatakan bahwa setiap kesepakatan harus disetujui oleh Parlemen Eropa, namun tidak mengatur tentang persetujuan parlemen negara yang akan keluar tersebut.

Meskipun demikian, PM Theresa May mengatakan di bulan Januari lalu bahwa House of Commons dan House of Lords akan melakukan pemilihan suara atas kesepakatan yang dicapai. Parlemen Inggris akan mencermati kesepakatan yang diraih oleh pemerintah melalui debat parlementer, memilih komite kerja dan mengambil suara atas rencana undang-undang yang diajukan.

Selama proses negosiasi, Inggris akan tetap menjadi anggota Uni Eropa, tetapi tidak lagi memiliki hak untuk menjadi pimpinan di Dewan Eropa untuk berkonsentrasi pada proses Brexit. Pemilihan pimpinan Dewan Eropa sendiri dijadwalkan akan diakukan di paruh ke dua tahun 2017.

Apakah Sekarang Inggris Bisa Melakukan Negosiasi Dagang Dengan Negara Lain?

Tidak, karena biar bagaimanapun Inggris masih menjadi anggota Uni Eropa sehingga tidak bisa secara bebas melakukan negosiasi dagang dengan negara non-Uni Eropa lain.

Akan tetapi, akan tetap dimungkinkan untuk melakukan diskusi umum tentang perdagangan dan calon mitra dagang yang berminat terhadap proses negosiasi tersebut.