Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Brexit

Seperti yang telah kita ketahui, Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa berdasarkan hasil referendum yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2016. Tetapi sebenarnya Inggris tidak langsung keluar dari Uni Eropa segera setelah hasil referendum Brexit tersebut diumumkan, melainkan ada proses yang harus dijalani sebelum Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa.

Tulisan ini akan membahas beberapa hal terkait Brexit yang perlu Anda ketahui.

Apa itu Uni Eropa?

Uni Eropa, atau European Union (biasa disingkat EU), merupakan sebuah kerja sama ekonomi dan politik yang melibatkan 28 negara Eropa. Permufakatan ini dimulai setelah Perang Dunia ke-2 dengan tujuan untuk membantu pemulihan kerja sama ekonomi. Dasar pemikirannya adalah bahwa negara-negara Eropa bekerja sama dalam hal perdagangan, maka potensi untuk terjadi konflik (baca: perang) antar negara Eropa akan lebih mudah untuk dihindari.

Pada perkembangannya, EU tumbuh menjadi sebuah “pasar tunggal” (single market) yang memungkinkan migrasi manusia dan peredaran barang di wilayahnya tanpa sekat-sekat birokrasi, seperti layaknya lalu lintas barang dan jasa dalam satu negara. EU kemudian juga memiliki satu mata uang tunggal, yaitu euro yang diluncurkan 1 Januari 2002 dan dipergunakan oleh 19 negara anggota EU.

EU juga memiliki parlemen sendiri dan sekarang membuat aturan untuk sektor-sektor selain ekonomi termasuk lingkungan, transportasi, hak-hak konsumen dan bahkan biaya pulsa telepon seluler.

Apa itu Brexit?

Mungkin ada di antara Anda yang ketinggalan berita tentang Brexit ini, sehingga bertanya-tanya apa sih sebenarnya Brexit itu?

Brexit merupakan akronim dari Britain Exit, yang menjadi istilah yang memiliki definisi keluarnya Inggris dari EU. Akronim ini mirip dengan Grexit, yang merupakan akronim dari Greek Exit, yang sempat populer ketika Yunani yang sedang dilanda kekalutan politik dan ekonomi kala itu diperkirakan akan keluar dari keanggotaan EU.

Mengapa Inggris keluar dari EU?

Keputusan itu diambil berdasarkan referendum yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2016, di mana mayoritas rakyat Inggris (52%) menginginkan Inggris keluar dari EU. Jumlah rakyat Inggris yang turut serta memberikan suara saat ini mencapai 30 (tiga puluh) juta orang, atau sekitar 71,8% dari total jumlah rakyat Inggris.

Apa yang telah terjadi pasca referendum?

David Cameron mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris sehari setelah referendum, kemudian digantikan oleh Theresa May yang sebelumnya menjabat sebagai menteri dalam negeri Britania Raya. Seperti halnya Cameron, May juga tadinya menentang keluarnya Inggris dari EU namun ia menyatakan bahwa ia akan menghormati pilihan rakyat.

May berkali-kali menegaskan bahwa “Brexit adalah Brexit”, namun masih ada banyak perdebatan tentang apa dampaknya terutama bagi dua isu utama: bagaimana perusahaan Inggris akan berbisnis di Uni Eropa dan pembatasan apa yang akan diberlakukan oleh negara-negara anggota EU bagi warga negaranya untuk tinggal dan bekerja di Inggris.

Bagaimana dengan perekonomian Inggris?

Perekonomian Inggris sepertinya bisa bertahan melewati goncangan awal yang disebabkan oleh hasil referendum Brexit, meskipun nilai tukar poundsterling bergerak di dekat level terendah 30 tahun, namun ada berbagai pendapat berbeda tentang bagaimana perekonomian Inggris akan berjalan untuk jangka panjang setelah meninggalkan EU.

Beberapa perusahaan besar seperti Easyjet dan John Lewis mencatat bahwa pelemahan sterling telah membuat anggaran biaya mereka membengkak. Inggris juga telah kehilangan rating kredit AAA, yang artinya biaya pinjaman pemerintah akan menjadi lebih tinggi.

Meskipun demikian, harga-harga saham telah mengalami pemulihan setelah melemah luar biasa, termasuk saham-saham perusahaan yang berpusat di Inggris yang diperdagangkan lebih tinggi dibandingkan sebelum referendum.

Bank of England melakukan pemangkasan suku bunga untuk yang pertama kalinya sejak tahun 2009, dari 0,5% menjadi 0,25% yang merupakan level terendah sepanjang masa.

Sejauh ini tidak terjadi resesi ekonomi seperti yang banyak diperkirakan.

Kapan Inggris akan benar-benar keluar dari EU?

Untuk keluar dari EU, Inggris harus meminta persetujuan mengacu pada Pasal 50 Perjanjian Lisbon yang memberikan waktu pada kedua belah pihak (Inggris dan EU) selama dua tahun untuk membuat kesepakatan terkait pemisahan diri tersebut.

Theresa May telah menyatakan bahwa ia berniat untuk memulai proses tersebut di akhir bulan Maret 2017, yang artinya Inggris diperkirakan akan resmi keluar dari EU pada musim panas tahun 2019. Itu pun akan tergantung pada kesepakatan yang tercapai dalam perundingan antara Inggris dan EU.

Pemerintah Inggris juga akan menetapkan Great Repeal Bill yang akan mengakhiri supremasi hukum EU di Inggris. Semua peraturan yang telah dibuat oleh Uni Eropa selama 40 tahun terakhir ketika Inggris masih menjadi anggota akan dikumpulkan dalam satu buku, setelah pemerintah memutuskan mana yang harus dipertahankan, diubah, atau dihapus.

Apa arti “soft Brexit” dan “hard Brexit”?

Kedua istilah ini semakin sering dipergunakan dalam perdebatan tentang bagaimana Inggris akan meninggalkan EU. Sebenarnya tidak ada definisi yang baku untuk kedua istilah tersebut, namun seringkali dipergunakan untuk menggambarkan sedekat apa nantinya hubungan antara Inggris dengan EU pasca Brexit.

Kondisi “hard Brexit” adalah ketika Inggris memilih kebijakan proteksionis dengan sepenuhnya menutup akses ke pasar tunggal Uni Eropa. Dengan demikian, Inggris akan akan memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur anggaran, undang-undang dan aturan keimigrasian di negaranya sendiri.

Sedangkan “soft Brexit” lebih lunak. Pilihan “soft Brexit” akan tetap membuka beberapa akses bebas tarif ke pasar tunggal. Tetapi pilihan ini kemungkinan juga akan membuat Inggris tetap “terikat” pada beberapa aturan EU, seperti kontribusi pada anggaran keuangan EU dan/atau memberi kebebasan bagi warga negara anggota EU untuk bekerja di Inggris. Kondisi tersebut mirip dengan yang dijalani Norwegia saat ini. Norwegia bukan anggota EU, namun masuk ke dalam keanggotaan European Economic Area.

0 Comments

Saatnya Fed Menaikkan Suku Bunga?

Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney, mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin akan diperlukan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Inggris pasca keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau yang kita kenal dengan Brexit. Apakah benar demikian?

Menurut Mark Gilbert, kolumnis Bloomberg yang juga mantan kepala biro London untuk Bloomberg News, kebijakan seperti itu akan membuat “perusahaan-perusahaan zombie” tetap bertahan hidup, memerangkap modal dalam usaha yang tidak produktif yang hampir mati. Sementara suku bunga negatif belum pernah terjadi sebelumnya dan terlihat bagaikan membiarkan seorang dokter untuk bereksperimen dengan pasien-pasiennya. Mark Gilbert melihat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi bisa jadi merupakan pendekatan yang lebih baik berdasarkan demografi.

Dalam kolomnya, Gilbert menyajikan data tentang perubahan komposisi populasi dunia antara kaum muda (di bawah usia 15-an tahun) dan tua (di atas 65-an tahun).

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Demografi

Komposisi penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun hampir mencapai 9 (sembilan) persen dari populasi dunia dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak awal dekade lalu. Untuk kawasan euro, komposisinya malah mendekati 18 persen sementara di Amerika Serikat (AS) sendiri ada 15 persen penduduk yang telah melewati usia pensiun. Angka itu meningkat sebesar 12,5 persen jika dibandingkan dengan angka sepuluh tahun yang lalu.

Jumlah penduduk dunia yang memasuki usia pensiun ternyata bukan hanya bertambah, namun juga bertambah kaya dan mampu membeli rumah yang benar-benar layak serta mendapatkan manfaat dari dana pensiun. Mereka juga mampu untuk membelanjakan uang yang mereka dapatkan dari tabungan mereka.

Akan tetapi, dengan suku bunga yang nyaris nol, tidak ada pemasukan dari tabungan mereka. Mereka juga tidak mau menyentuh modal yang mereka simpan dalam deposito mereka. Maka dari itu, jika suku bunga menjadi semakin rendah, maka tingkat belanja para lansia juga akan semakin rendah. Alih-alih meningkatkan investasi dan permintaan, kebijakan moneter longgar justru mungkin akan “membunuh” daya beli para generasi baby boom.

Menurut Gilbert, kebijakan suku bunga rendah yang berlarut-larut tidak hanya akan menghapus suku bunga simpanan. Para pensiunan akan terkecoh jika mereka mengikuti saran standar dari penasehat kesehatan dengan memindahkan dana pensiun mereka ke sektor lain, misalnya ke semacam reksadana fix income atau obligasi. Sebagai bukti, yield US Treasury hanya 1,4 persen, turun 1 persen dibandingkan tahun lalu dan bahkan telah turun rata-rata 4,3 persen dalam dekade terakhir. Padahal di tahun 1990-an, sekuritas ini mampu menghasilkan imbal hasil 8,5 persen. Pendek kata, semakin rendah yield obligasi maka itu berarti semakin rendah pula tingkat belanja dan ini buruk bagi perekonomian.

Mereka yang mendekati usia pensiun juga kemungkinan akan terpengaruh oleh rendahnya tingkat suku bunga. Mereka kemungkinan akan merasa butuh untuk menabung lebih banyak karena untuk mendapatkan imbal hasil yang besar dibutuhkan modal yang besar pula dengan rendahnya suku bunga. Pada gilirannya hal ini lagi-lagi akan menekan tingkat belanja.

Faktanya, bahkan meskipun tingkat suku bunga berada di level terendah sepanjang masa, tingkat tabungan masyarakat AS berdasarkan persentase dari penghasilan mereka mengalami kenaikan dan telah mencapai enam persen di akhir kuartal pertama 2016. Artinya, kuantitas uang yang mereka tabung dari penghasilan mereka semakin besar. Ini merupakan level tertinggi sejak akhir tahun 2012.

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Tabungan

Deputi kepala ekonom AS di UBS di New York, Drew Matus, pada bulan April 2015 pernah berargumen sebagai berikut:

“Suku bunga yang terlalu rendah bisa sama mengganggunya dengan suku bunga yang terlalu tinggi. Teorinya suku bunga yang rendah akan memacu perekonomian, mendorong konsumsi dan investasi menjadi semakin tinggi. Itu belum terjadi pada situasi pasca-krisis. Tingkat simpanan telah naik dan investasi telah melemah. Suku bunga nol justru menjadi bagian dari masalah ketimbang solusi: suku bunga rendah justru memicu bertambahnya simpanan dan keputusan perusahaan untuk menahan diri melakukan investasi, mengurangi belanja modal.”

Ide menaikkan suku bunga bisa jadi pada gilirannya akan memicu konsumsi dan mengarah pada percepatan kenaikan inflasi. Para ekonom menyebut teori ini Neo-Fisherism. Memang hal ini terlihat bertolak belakang. Dalam teori bank sentral modern, hal ini ada di dalam bab “kebijakan tak lazim”.

Sudah ada yang menerapkan suku bunga negative. Sudah ada pula petisi anggota Parlemen Eropa yang meminta European Central Bank mempertimbangkan menjalankan strategi “helicopter money”. Dengan demikian opsi kenaikan suku bunga mungkin masuk akal untuk menyelamatkan perekonomian.

Dan Federal Reserve saat ini sangat mungkin sedang mempertimbangkan hal itu.

0 Comments