Butuh berita seputar forex trading? Kami update berita fundamental setiap hari. Ikuti terus infonya!

Clinton Atau Trump: Siapa Pilihan Pasar?

Dalam trading, termasuk forex, bukan hanya data ekonomi yang perlu dijadikan bahan analisa. Hal-hal yang terkait politik pun tak lepas dari pengamatan para pelaku pasar. Termasuk juga kehebohan politik yang terjadi di Amerika Serikat, di mana Hillary Clinton dan Donald Trump dipastikan akan bertarung untuk menempati kursi Kantor Oval di Gedung Putih.

Di antara pelaku pasar di Amerika Serikat, ternyata 45% berpendapat bahwa pasar akan lebih baik jika ternyata Hillary Clinton yang menjadi Presiden Amerika Serikat, sementara hanya 34% yang “mendukung” Donald Trump. Setidaknya itu yang tercermin dari survey yang dilakukan oleh E*Trade Financial (ETFC) yang dilakukan Juli lalu. Survey tersebut melibatkan orang-orang yang memiliki akun trading online dengan kapital setidaknya $10,000.

Mungkin bukan hal yang mengejutkan jika pasar cenderung memilih Clinton dibandingkan Trump. Investor yang bisa dikatakan “investor serius” dengan jumlah ribuan (atau mungkin bahkan jutaan) di pasar mungkin tidak terlalu peduli apabila House of Representatives dikuasai oleh Demokrat ataupun Republik.

Survey tersebut di atas juga menanyakan pada para responden, kira-kira kandidat mana yang akan bisa memperbaiki perekonomian Amerika Serikat. Hasilnya lebih kurang mirip, yaitu 41% meyakini bahwa Clinton-lah yang akan memilliki prestasi tersebut, sementara 33% berpendapat Trump mampu melakukan hal itu. Sisanya menjawab “tidak satu pun dari kedua orang tersebut”.

Ekonomi: Isu Politik Terkini

Perekonomian Amerika Serikat merupakan isu utama Pemilu kali ini. Amerika Serikat memang mencatat tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang – meskipun tidak secepat harapan – cukup baik. Hanya saja, kegelisahan warganya cukup tinggi terkait prospek ekonomi ke depan. Bahkan di kalangan investor yang disurvey oleh E*Trade, mayoritas responden hanya memberikan nilai B atau C untuk pertumbuhan ekonomi negeri Adidaya tersebut.

Clinton dan Trump saat ini sama-sama berusaha untuk meyakinkan calon pemilih bahwa mereka adalah pilihan terbaik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dalam survey yang berbeda, di mana semua pemilih (bukan hanya investor) ditanya siapakah yang akan bisa memperbaiki perekonomian, Trump memang unggul. Tetapi, sepertinya ada semacam “kesepakatan” antara Wall Street dengan Silicon Valley (sebuah daerah di selatan San Francisco Bay yang memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor) bahwa Clinton akan menjadi pilihan terbaik untuk dunia bisnis dan teknologi. Clinton dianggap telah menawarkan pertumbuhan pesat untuk infrastruktur, memperbaiki jalan-jalan di Amerika Serikat, jembatan dan IT. Selain itu Clinton juga menghendaki adanya kenaikan pajak bagi kaum “the haves”.

Moody’s Dan Analisisnya

Ada semacam kekhawatiran bahwa rencana Trump untuk mengurangi perdagangan luar negeri dan membebankan tarif yang tinggi untuk barang impor asal China – rival ekonomi Amerika Serikat – berpotensi memicu “perang dagang” yang justru beresiko menenggelamkan Amerika Serikat ke dalam resesi. Ekonom di Moody’s Analytics memperkirakan tiga setengah juta lapangan pekerjaan akan menghilang di bawah pemerintahan Trump dan akan terjadi koreksi (atau lebih buruk) di pasar modal. Merespon analisis dari Moody’s ini, seorang penasehat Trump mengatakan bahwa analisis tersebut adalah “sampah” dan berargumen bahwa rencana Trump untuk pemangkasan pajak besar-besaran bagi pebisnis justru akan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Pemilihan gubernur negara bagian Indiana, Mike Pence, sebagai partner Trump memunculkan keraguan tentang bagaimana Trump akan mampu membatasi perdagangan internasional. Pence selama ini diketahui sebagai pendukung perdagangan bebas, termasuk salah seorang yang mendukung perjanjian dagang dengan Panama, Korea Selatan dan Kolumbia ketika ia masih menjadi anggota Kongres.

Clinton Atau Trump

Greg Valliere, kepala strategi di Horizon Investments, berpendapat bahwa skenario terbaik bagi bisnis adalah jika Clinton menang – tetapi tidak menang mutlak – di mana setiap kebijakannya akan selalu dipantau dengan ketat oleh Kongres yang dikuasai kubu Republik.

Akan tetapi, investor harus juga mulai memikirkan bagaimana seandainya jika Clinton menang mutlak dan Demokrat akan “mengambil alih” Senat. “Tiga Serangkai” Demokrat: Clinton, Ketua DPR Nancy Pelosi dan pemimpin mayoritas Senat Chuck Schumer, menurut Valliere bukanlah “skenario yang diinginkan pasar”.

Adapun skenario jika Trump yang menang, yang mungkin saja bisa menyebabkan ketidakpastian di pasar, adalah merupakan hal yang biasanya sangat tidak disukai oleh pasar. Trump, yang sulit untuk ditebak, bisa saja memenangkan pertarungan; dan ini tentu akan memaksa para CEO – terutama mereka yang mencoba untuk menjalin kerja sama dengan China dan negara lain di dunia – untuk berpikir lebih keras.

Memang, beberapa survey terhadap pasar mengunggulkan Clinton sebagai pilihan yang lebih baik. Namun politik, seperti biasa, sangat unik dan seringkali memunculkan kejutan-kejutan. Kita tunggu saja nanti pada tanggal 8 November.

0 Comments

Saatnya Fed Menaikkan Suku Bunga?

Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney, mengatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin akan diperlukan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Inggris pasca keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau yang kita kenal dengan Brexit. Apakah benar demikian?

Menurut Mark Gilbert, kolumnis Bloomberg yang juga mantan kepala biro London untuk Bloomberg News, kebijakan seperti itu akan membuat “perusahaan-perusahaan zombie” tetap bertahan hidup, memerangkap modal dalam usaha yang tidak produktif yang hampir mati. Sementara suku bunga negatif belum pernah terjadi sebelumnya dan terlihat bagaikan membiarkan seorang dokter untuk bereksperimen dengan pasien-pasiennya. Mark Gilbert melihat bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi bisa jadi merupakan pendekatan yang lebih baik berdasarkan demografi.

Dalam kolomnya, Gilbert menyajikan data tentang perubahan komposisi populasi dunia antara kaum muda (di bawah usia 15-an tahun) dan tua (di atas 65-an tahun).

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Demografi

Komposisi penduduk dunia yang berusia di atas 65 tahun hampir mencapai 9 (sembilan) persen dari populasi dunia dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak awal dekade lalu. Untuk kawasan euro, komposisinya malah mendekati 18 persen sementara di Amerika Serikat (AS) sendiri ada 15 persen penduduk yang telah melewati usia pensiun. Angka itu meningkat sebesar 12,5 persen jika dibandingkan dengan angka sepuluh tahun yang lalu.

Jumlah penduduk dunia yang memasuki usia pensiun ternyata bukan hanya bertambah, namun juga bertambah kaya dan mampu membeli rumah yang benar-benar layak serta mendapatkan manfaat dari dana pensiun. Mereka juga mampu untuk membelanjakan uang yang mereka dapatkan dari tabungan mereka.

Akan tetapi, dengan suku bunga yang nyaris nol, tidak ada pemasukan dari tabungan mereka. Mereka juga tidak mau menyentuh modal yang mereka simpan dalam deposito mereka. Maka dari itu, jika suku bunga menjadi semakin rendah, maka tingkat belanja para lansia juga akan semakin rendah. Alih-alih meningkatkan investasi dan permintaan, kebijakan moneter longgar justru mungkin akan “membunuh” daya beli para generasi baby boom.

Menurut Gilbert, kebijakan suku bunga rendah yang berlarut-larut tidak hanya akan menghapus suku bunga simpanan. Para pensiunan akan terkecoh jika mereka mengikuti saran standar dari penasehat kesehatan dengan memindahkan dana pensiun mereka ke sektor lain, misalnya ke semacam reksadana fix income atau obligasi. Sebagai bukti, yield US Treasury hanya 1,4 persen, turun 1 persen dibandingkan tahun lalu dan bahkan telah turun rata-rata 4,3 persen dalam dekade terakhir. Padahal di tahun 1990-an, sekuritas ini mampu menghasilkan imbal hasil 8,5 persen. Pendek kata, semakin rendah yield obligasi maka itu berarti semakin rendah pula tingkat belanja dan ini buruk bagi perekonomian.

Mereka yang mendekati usia pensiun juga kemungkinan akan terpengaruh oleh rendahnya tingkat suku bunga. Mereka kemungkinan akan merasa butuh untuk menabung lebih banyak karena untuk mendapatkan imbal hasil yang besar dibutuhkan modal yang besar pula dengan rendahnya suku bunga. Pada gilirannya hal ini lagi-lagi akan menekan tingkat belanja.

Faktanya, bahkan meskipun tingkat suku bunga berada di level terendah sepanjang masa, tingkat tabungan masyarakat AS berdasarkan persentase dari penghasilan mereka mengalami kenaikan dan telah mencapai enam persen di akhir kuartal pertama 2016. Artinya, kuantitas uang yang mereka tabung dari penghasilan mereka semakin besar. Ini merupakan level tertinggi sejak akhir tahun 2012.

Saatnya Menaikkan Suku Bunga - Tabungan

Deputi kepala ekonom AS di UBS di New York, Drew Matus, pada bulan April 2015 pernah berargumen sebagai berikut:

“Suku bunga yang terlalu rendah bisa sama mengganggunya dengan suku bunga yang terlalu tinggi. Teorinya suku bunga yang rendah akan memacu perekonomian, mendorong konsumsi dan investasi menjadi semakin tinggi. Itu belum terjadi pada situasi pasca-krisis. Tingkat simpanan telah naik dan investasi telah melemah. Suku bunga nol justru menjadi bagian dari masalah ketimbang solusi: suku bunga rendah justru memicu bertambahnya simpanan dan keputusan perusahaan untuk menahan diri melakukan investasi, mengurangi belanja modal.”

Ide menaikkan suku bunga bisa jadi pada gilirannya akan memicu konsumsi dan mengarah pada percepatan kenaikan inflasi. Para ekonom menyebut teori ini Neo-Fisherism. Memang hal ini terlihat bertolak belakang. Dalam teori bank sentral modern, hal ini ada di dalam bab “kebijakan tak lazim”.

Sudah ada yang menerapkan suku bunga negative. Sudah ada pula petisi anggota Parlemen Eropa yang meminta European Central Bank mempertimbangkan menjalankan strategi “helicopter money”. Dengan demikian opsi kenaikan suku bunga mungkin masuk akal untuk menyelamatkan perekonomian.

Dan Federal Reserve saat ini sangat mungkin sedang mempertimbangkan hal itu.

0 Comments

Biarkan Swiss Franc Menguat: SNB Beri Kejutan!

Kamis lalu (15 Januari 2015), bank sentral Swiss – yaitu Swiss National Bank (SNB) – berhasil membuat kejutan yang “mengguncang” pasar. SNB mengumumkan bahwa mereka akan mencabut batasan kurs Swiss franc terhadap euro yang tadinya ditetapkan untuk mencegah Swiss franc menjadi terlalu kuat terhadap euro. Swiss franc menguat tajam pasca pengumuman tersebut hingga 41% terhadap euro, yang merupakan penguatan terbesar dalam sejarah.

Apa cerita di balik semua itu?

Kita telah lama mengetahui bahwa Swiss merupakan negara yang memiliki track record akan stabilitas finansial yang luar biasa stabil. Siapa sih yang tidak mengenal reputasi bank-bank di Swiss?

Nah, pada tahun 2011 lalu, di kala kawasan euro dicekam oleh krisis ekonomi, banyak sekali aliran dana yang masuk ke Swiss, terutama dari euro. Para pelaku pasar kala itu menganggap Swiss franc sebagai “tempat pelarian” yang cukup baik untuk melindungi aset mereka. Walhasil, Swiss franc pun menguat hampir tak terkendali. Sebelum krisis terjadi, mata uang Swiss franc hanya seharga 0,7 euro di sekitar awal tahun 2010. Masuknya dana secara masif membuat Swiss franc berhasil mencapai kesetaraan (parity) terhadap euro di pertengahan tahun 2011.

Pada umumnya, tidak ada negara yang merasa nyaman apabila mata uang mereka menjadi terlalu kuat. Lho, kok begitu? Alasan utamanya biasanya adalah bahwa hal itu akan memberikan dampak yang buruk bagi para eksportir; harga barang-barang mereka menjadi kurang kompetitif.

Swiss sendiri dikenal sebagai pengekspor barang-barang yang memiliki nilai yang tinggi. Kita tentu tahu kualitas jam produksi Swiss yang dikenal memiliki kualitas yang tinggi. Belum lagi sektor farmasinya. Maka dari itu, penguatan Swiss franc yang tak terkendali justru berpotensi akan membahayakan para eksportir dari barang-barang yang bernilai tinggi itu.

Selain itu, ada juga alasan lain mengapa Swiss merasa tak nyaman dengan penguatan Swiss franc yang terlalu hebat. Kaitannya adalah justru dengan sisi finansial; masuknya dana asing yang terlampau besar justru berpotensi akan memberikan efek buruk bagi sistem finansial Swiss.

Dengan alasan-alasan tersebut di atas, SNB lantas mengumumkan bahwa mereka menetapkan batasan bagi penguatan Swiss franc terhadap euro. SNB menyatakan tidak akan membiarkan Swiss franc menguat terlalu jauh, melampaui level 1.2 terhadap euro. Untuk tujuan tersebut, intervensi yang dilakukan SNB adalah dengan mencetak uang (dalam hal ini Swiss franc) dalam jumlah tertentu yang dipergunakan untuk membeli euro. Skenario ini berjalan selama lebih dari tiga tahun.

swissfranc-menguat

Apa yang terjadi kemudian?

Jreng! SNB – dengan tiba-tiba tanpa ada peringatan atau gelagat sebelumnya – kemarin memutuskan untuk menghentikan kebijakan mereka untuk membatasi penguatan Swiss franc terhadap euro. Kebijakan ini diikuti oleh penguatan yang luar biasa oleh Swiss franc terhadap mata uang lainnya. Mengapa bisa demikian?

Efek tersebut bisa dipahami. Selama tiga tahun, SNB “menahan diri” untuk membiarkan Swiss franc menguat terhadap euro. Ketika “rem” tersebut dilepas, para pelaku pasar – terutama yang banyak memiliki aset di euro – merasa melihat peluang untuk lepas dari prospek suram euro. Swiss kembali dianggap menjadi “tempat berlindung” yang paling tepat, mengingat euro diperkirakan akan terus melemah. Seperti yang diketahui, European Central Bank (ECB) – yang merupakan bank sentral untuk kawasan euro – telah mengumumkan akan kembali menjalankan quantitative easing alias meluncurkan stimulus.

Para pelaku pasar tentu tak ingin berlama-lama dibayangi kekhawatiran pelemahan euro. Maka segera setelah SNB mengumumkan untuk membuka “kran” penguatan Swiss franc, mereka berbondong-bondong memborong Swiss franc. Yang terkena dampak paling parah tentu saja adalah euro, karena kebijakan tersebut jelas-jelas telah membuka “portal” bagi penguatan Swiss franc terhadap euro.

Alasan SNB

Dalam pernyataan resminya, SNB memberikan penjelasan mengenai langkah yang diambilnya. Krisis yang terjadi sejak 2011 pada dasarnya memang telah berlalu, namun euro masih tetap dihantui oleh pelemahan lebih lanjut.

SNB menjelaskan bahwa batasan yang ditetapkan tersebut adalah untuk mencegah penguatan Swiss franc yang terlalu jauh dan keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian pasar finansial. Langkah tesebut melindungi perekonomian Swiss dari bahaya. Dengan langkah tersebut, penguatan Swiss franc yang berlebihan bisa dicegah.

Namun perbedaan di antara kebijakan moneter di area mata uang utama dunia telah semakin menajam. Euro telah terdepresiasi terhadap USD dan hal ini pada gilirannya telah membuat Swiss franc melemah terhadap USD. Dalam situasi ini, SNB menyimpulkan bahwa penetapan batas minimum untuk Swiss franc terhadap euro tak lagi bisa dipertahankan.

Dalam pandangan kami, SNB merasa bahwa sudah tidak masuk akal untuk terus mencetak uang guna membeli euro terus menerus, karena hal itu justru memperlemah Swiss franc terhadap USD.

Bagaimana selanjutnya?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada negara yang mau mata uangnya menjadi terlalu kuat, apalagi dalam waktu yang sangat singkat. Hal tersebut justru akan membahayakan sektor ekspor. Namun SNB semestinya tidak akan tinggal diam. Kemungkinan besar SNB akan kembali melakukan intervensi, namun tidak terhadap euro melainkan terhadap USD. Lagipula, pasar terbesar ekspor barang mewah produksi Swiss saat ini tidak lagi Frankfurt atau Paris, melainkan Beijing atau Shanghai, sehingga mungkin tidak lagi ada alasan untuk “memelihara perdamaian” dengan euro.

SNB kemungkinan besar berharap pada efek suku bunga yang baru. Suku bunga negatif diperkirakan akan berdampak pada selera para pelaku pasar untuk tetap menyimpan dana mereka dalam bentuk Swiss franc. Ditambah adanya kemungkinan Federal Reserve – bank sentral Amerika Serikat – akan menaikkan suku bunga, maka kemungkinan Swiss franc akan kembali melemah akan terbuka.

SNB telah benar-benar sukses mengejutkan pasar, namun juga “bermain cantik” jika skenario yang kami paparkan ini memang telah diantisipasi. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

0 Comments

Rahasia Menggunakan Berita Fundamental Dalam Trading Forex

Analisa fundamental adalah hal-hal yang mewakili ekonomi suatu negara secara umum. Biasanya analisa ini diwakili oleh berita (news) yang berulang secara periodik dan mampu mengerakan pasar pada saat itu. Pengaruh dari fundamental ini pada umumnya bersifat sementara walau kadang bisa mempengaruhi trend secara makro di waktu mendatang.

Berbeda dengan analisa teknikal yang memanfaatkan “history” pergerakan harga, dalam analisa fundamental Anda justru akan mencoba untuk “menangkap” peluang yang mungkin akan muncul mengiringi berita atau data ekonomi terkait negara tertentu yang tentu akan mempengaruhi mata uang negara tersebut.  Dengan mengamati dan mempelajari data-data ekonomi tersebut, seakan-akan Anda mencoba untuk “mengintip” kemungkinan pergerakan harga selanjutnya.

Sebenarnya bagaimana caranya?

Sebenarnya Anda bisa memanfaatkan sumber seperti www.forexfactory.com. Website tersebut menyajikan data-data ekonomi dari beberapa negara penting yang dianggap bisa menggerakkan pasar.

Namun Anda harus ingat bahwa hal tersebut bukan berarti tanpa resiko. Anda harus tetap ingat bahwa tingkat pergerakan volatilitas harga meningkat saat berita di rilis dan cukup sulit untuk menduga kemana harga akan bergerak. Untuk itulah Anda memerlukan strategi yang juga akan dipaparkan dalam artikel ini.

Oke. Anda pasti sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui trik-triknya. Kita mulai saja.

Mengenal Forexfactory.com

1. Menyamakan Zona Waktu

a.Klik link untuk angka jam di sebelah tombol “Login”. Anda bisa melihat link tersebut dalam bentuk jam yang terletak dekat dengan date & today calendar.

6-2-2014 2-41-16 PM

b. Pada bagian “Time Zone”, pilih “(GMT+7:00 ) Bangkok, Hanoi, Jakarta”. Sedangkan pada bagian DST, pilih “DST Off”. Lalu klik “Save Settings”.

6-2-2014 2-45-41 PM2. Penyaringan Berita

Secara default www.forexfactory.com akan menampilkan semua berita dari beberapa mata uang utama yang cukup panjang dan rumit. Agar bisa fokus terhadap mata uang yang sedang di-trading-kan, berikut tips-tipsnya :

a. Klik menu “Filter” di bagian kanan website

6-2-2014 2-47-20 PMb. Pilih mata uang yang ingin diamati

c. Pilih tingkat pengaruh dari berita ( Merah : High Impact, Orange : Medium Impact, Kuning : Low Impact, Putih : Non Economic)

d. Pilih Type Berita

e. Klik tombol “ Apply Filter “

6-2-2014 2-49-08 PM3. Analisis Berita

Setelah melakukan langkah penyaringan diatas, maka daftar berita seminggu yang ditampilkan akan lebih jauh lebih pendek dan mudah untuk diamati. Berikut penjelasan dari menu-menunya :

a.Date dan time: Tanggal dan waktu dari berita

b.Currency: Mata uang yang dipengaruhi berita

c.Impact: Tingkat pengaruh berita

d.Detail: Tombol ini dapat ditekan untuk mendapatkan penjelasan lebih detail atas berita. Pengaruh berita ini dapat dipelajari dari informasi “usual  impact“

e.Actual: angka yang akan dirilis

f. Forecast: Prediksi berdasarkan analisis para ahli

g.Previous: Angka periode sebelumnya untuk data yang sama

6-2-2014 2-52-06 PM

4. Arti Berita dan Dampaknya

Untuk dapat mengerti arti dari berita tersebut dan dampaknya, Anda dapat melakukan hal berikut :

a. Klik gambar folder (kolom “Detail”)

5-29-2014 7-22-36 PM 1

b. Kolom “Specs” untuk mengetahui detail berita dan kolom history untuk melihat hasil rilis data sebelumnya. Bagian “Usual Effect” merupakan dampak berita terhadap pergerakan mata uang negara yang bersangkutan. Jika data rilis berwarna hijau berarti bagus untuk mata uang tersebut, jika data rilis berwarna merah berarti buruk untuk mata uang tersebut.

new 5-29-2014 7-23-31 PM

Strategi Trading

Nah, sekarang kita akan membahas mengenai strategi memanfaatkan berita. Perlu diingat bahwa sebaiknya Anda hanya memanfaatkan data-data ekonomi yang mempunyai dampak besar terhadap pergerakan harga, yaitu data yang memiliki ikon yang berwarna merah seperti ini:6-2-2014 3-04-51 PM , karena data data seperti itulah yang tergolong “data penting”, atau istilahnya “big figure”. Contoh yang paling populer adalah data non-farm payrolls Amerika Serikat (di Forexfactory.com namanya adalah Non-Farm Employment Change).

123 5-29-2014 9-13-01 PM

Berikut ini contoh strategi yang bisa Anda manfaatkan saat data non-farm payrolls akan dirilis. Perhatikan grafik USD/JPY di bawah ini sebelum data di rilis :

5-30-2014 4-25-40 PM

1. Tentukan harga tertinggi dan harga terendah dari candle – candle pada hari bersangkutan. (sangat baik jika kondisi harga dalam keadaan sideways sebelum data di rilis)

12345 5-30-2014 4-25-40 PM

2. Pasang Pending Order Buy Stop di harga 103.157 dengan take profit dan stop loss masing – masing 30 point (risk and reward 1 : 1)

3. Pasang Pending Order Sell Stop di harga 102.828 dengan take profit dan stop loss masing – masing 30 point (risk and reward 1 : 1)

4. Jika salah satu pending order kena, maka tutuplah pending order lawannya.

5. Ternyata hasil data rilis bagus untuk USD (berwarna hijau) dan USD menguat dratis sekitar 50 point. Dalam contoh di bawah terlihat datanya naik dari 129K menjadi 175K, padahal “forecast”-nya hanya 151K.

new123  5-29-2014 9-13-01 PM

1asd 5-30-2014 4-25-40 PM

Efek data Non-farm Payrolls AS yang dirilis pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 20.30 WIB terhadap pergerakan USD/JPY

Jika Anda ingin mencoba strategi ini, Silahkan Anda dapat mencobanya di demo account kami dengan mengunjungi website kami di www.foreximf.com atau menghubungi tim kami di 0821-1505-1612. Semoga informasi diatas berguna bagi semua yang membacanya.

Selamat menganalisa.

 

Article by Garry Adrian

Editing & proofreading by Eko Trijuni

 

36 Comments

Siklus Pasar

Sebagian besar fenomena yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu kejadian yang terjadi dalam satu siklus. Ini adalah fenomena yang sering terjadi pada satu musim, terbit dan terbenamnya matahari, pasang surut air laut, siang dan malam, bumi berputar untuk mengelilingi matahari, dll. Kami mengambil contoh ini untuk membuka pola pikir yang jarang sekali di pikirkan oleh banyak orang dalam fenomena siklus. Kita tahu, hari ini dunia telah memiliki instrumen yang cukup akurat untuk dapat memperkirakan kejadian alam tertentu di masa depan, yang berkisar dari badai cuaca, tabrakan dalam ruang alam semesta dan tsunami atau gempa.

Yang mendasari faktor dalam forecasting adalah serangkaian siklus yang berulang ulang dan pada dasarnya akan membentuk satu hipotesis. Metode yang sama diterapkan untuk analisis pada pergerakan pasar uang. Kita bisa menggunakan teori siklus pasar untuk meramalkan evolusi di pasar keuangan, yaitu kita dapat memprediksi kapan harga berada di level terendah dan level tertinggi dari sebuah siklus yang mungkin akan terjadi. Dengan menggunakan informasi ini, para trader, para analis dengan demikian dapat menguraikan strategi trading masing-masing ketika mereka sesudah mengetahui kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi dan tercermin dalam satu pergerakan harga mata uang.

Pertanyaannya sekarang, apakah siklus pasar?

Mari kita memahami konsep dasar dari siklus pasar. Bayangkan dalam satu pergerakan harga mata uang bergerak naik dan turun yang digambarkan pada satu grafik dalam bentuk gelombang. Bagian bawah gelombang adalah titik terendah dan bagian atas gelombang adalah titik tertinggi. Setiap titik rendah terhubung ke titik tinggi, yaitu puncak gelombang. Waktu antara dua titik rendah atau dua titik yang paling tinggi dapat dianggap sebagai siklus. Bayangkan ini seperti hari terpanjang musim panas dan hari terpanjang berikutnya yang dapat kita lihat di penanggalan Sumeria dalam satu siklus musim. Harga sering mengulangi siklus selama periode waktu yang digunakan untuk menentukan trend dan kecenderungan yang digunakan sebagai dasar untuk metode forecasting peramalan dan karena itu, gambar di bawah adalah Euro / USD grafik harian, yang menunjukkan bahwa, dalam setiap 30 sampai 43 hari, pergerakan harga EUR/USD berada di harga terendah dan tertinggi.

Siklus Pasar

Siklus pasar dapat di bagi dalam beberapa kelompok yang berbeda, yaitu siklus pendek, menengah dan jangka panjang.

Siklus jangka menengah dan jangka panjang sering digunakan dalam analisis forex jangka panjang, dimana diperkirakan harga yang berada pada satu siklus pergerakan ada kurang lebih 20-45 candle dengan time frame harian atau hingga kurang lebih 30-50 candle dengan time frame mingguan. Analisis forex dengan menggunakan jangka pendek melibatkan periode 100-400 candle dengan time frame 1-jam.

Anda mungkin menemukan siklus yang lebih pendek, namun siklus jangka panjang yang paling banyak digunakan untuk menentukan trend pasar dari harga tertinggi dan harga terendah, yaitu pada saat para trader menggunakan kesempatan untuk membuka posisi beli atau membuka posisi jual.

Jadi metode ini juga dapat menambah satu masukan yang dapat dipertimbangkan ketika kita hendak masuk ke dalam pasar.

0 Comments

Shutdown di Amerika Serikat

Kesepakatan yang tidak tercapai hingga batas waktu yang diberikan antara Partai Republik dan Partai Demokrat mengenai Penentuan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara AS (RAPBN AS), memaksa terjadinya “Shut down“ di Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat menghentikan anggaran belanja partial (partial shutdown) mulai Selasa 1 oktober 2013 untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 17 tahun. Lembaga Federal diperintahkan untuk memangkas layanan publik setelah anggota parlemen tidak bisa memecahkan kebuntuan politik. Partai Republik meminta kebijakan pelayanan kesehatan yang dikenal dengan Obamacare di revisi terlebih dahulu sebelum RAPBN AS disetujui. Namun permintaan partai republik tersebut di tolak oleh partai Demokrat. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan “government shutdown AS ” itu? Government shutdown AS adalah suatu kondisi dimana pemerintah menutup sementara layanan publik pemerintahan AS, yang diakibatkan karena kongres yang terdiri atas senat dan DPR AS, tidak mencapai mufakat mengenai biaya operasional AS hingga batas waktu yang diberikan.

Shutdown di Amerika Serikat

Apa dampak dari shutdown ini terhadap perekonomian Amerika Serikat. Berikut penjelasannya :

  1. Pemasukan negara berkurang karena layanan publik AS terpaksa dihentikan

Akibat shutdown ini, sekitar sepertiga dari tenaga kerja Federal –  terpaksa cuti tanpa dibayar dari pekerjaan selama “shutdown” berlangsung. Lalu beberapa layanan publik di AS pun dihentikan sementara yang dapat menyebabkan pemasukan negara berkurang. Analisa lembaga riset IHS menyebutkan Amerika akan merugi US$ 300 juta per hari. Lembaga-lembaga pemerintah seperti Badan Imigrasi, tidak akan memproses paspor, visa, dan hal – hal yang berhubungan dengan keimigrasian. Pengadilan tidak bisa melakukan sidang. Taman Nasional dan museum tidak dibuka. Lalu beberapa fasilitas kesehatan pun terpaksa menolak pasien. Namun ada beberapa layanan publik yang tetap beroperasi selama “ shutdown ” yakni dinas perkiraan cuaca nasional, pelayanan medis di fasilitas federal , angkatan bersenjata , manajemen lalu lintas udara , dan lembaga permasyarakatan.

  1. Kepercayaan Konsumen dan Investor Berkurang

Apabila shutdown tidak segera berakhir, diperkirakan efeknya akan menjadi lebih buruk. Dengan ditutupnya fasilitas publik, bakal mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap pemerintahan. Lalu dengan penutupan fasilitas publik akan mempengaruhi keuangan para pegawai negeri yang harus menarik tabungan untuk membiayai kehidupan mereka. Karena ketidakstabilan perekonomian AS, investor lari untuk mencari asset safe haven lainnya seperti yen untuk investasi sementara mereka.

  1. Perekonomian Global Terguncang

Pada perdagangan saham pada Selasa 2 Oktober 2013, Indeks Dow Jones turun hampir 1 persen. Sejumlah bursa saham regional Asiapun ditutup melemah rata-rata 1.3 persen. Pelemahan terbesar dialami indeks Nikkei sebesar 2 persen serta HangSeng Hong Kong yang turun 1.5 persen. Dollar semakin tertekan terhadap mata uang utama lainnya seiring para investor menjauh dari dollar untuk sementara waktu.

  1. Beberapa data fundamental tidak akan dirillis

Data construction spending AS untuk periode Agustus yang seharusnya di rilis semalam, akhirnya ditunda akibat shutdown. Jika tidak tercapai kesepakatan hingga jumat nanti, maka non-farm payrolls juga berpotensi untuk mengalami penundaan karena semua survei akan terhenti dan website layanan masyarakat tidak akan update.

0 Comments