Sterling Dalam Bayangan Theresa May

Sterling bergerak di perdagangan sesi Asia pada Selasa pagi setelah komentar dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May yang mengirimkan pound meluncur ke posisi terendah 2 1/2-bulan, sementara dolar terkoreksi karena investor mengunci keuntungan.

Pound naik sebanyak 0,2 persen menjadi $ 1,2171, setelah jatuh ke level terendah $ 1,2125 pada hari Senin, terendah sejak 28 Oktober, menyusul pernyataan Perdana Menteri Inggris Theresa May bahwa dia tidak tertarik dalam menjaga “keanggotaan” dari Uni Eropa.

Dolar beringsut 0,1 persen lebih rendah terhadap sekeranjang enam mata uang utama, dengan bergerak ke 101,82, meskipun tetap berada dalam minggu tertinggi 103,82, yang merupakan level tertinggi sejak 2002.

Yen turun sebanyak 0,2 persen menjadi 115,90 ¥, jauh di bawah level tertinggi pada sesi sebelumnya di kisaran 117.53, meskipun dari sesi sebelumnya berada di level terendah di kisaran ¥ 115,65 karena para trader di Tokyo kembali masuk kerja setelah pasar ditutup untuk libur nasional pada hari Senin.

Presiden AS terpilih Donald Trump, akan berkantor pada tanggal 20 Januari dan dijadwalkan akan mengadakan konferensi pers pertama pada hari Rabu sejak memenangkan pemilu AS pada bulan November 2016.