Harga Minyak Naik Di Tengah Kekhawatiran Sanksi Iran

Harga minyak kembali naik pada hari Kamis, didukung oleh harapan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran, penurunan output di Venezuela dan permintaan yang kuat yang sedang berlangsung.

Minyak mentah Brent berjangka berada di 74,42 per barel, naik 42 sen, atau 0,6 persen, dari penutupan terakhir mereka. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 33 sen, atau 0,5 persen, pada $ 68,38 per barel.

Para pelaku pasar mengatakan pasar naik seiring adanya ekspektasi bahwa Amerika Serikat pada bulan Mei akan memberlakukan sanksi terhadap Iran, produsen minyak utama dan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Rabu selama kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat bahwa ia mengharapkan Trump untuk tetap dalam kesepakatan dengan Iran yang telah dicapai pada tahun 2015, dan memperbaruinya dengan memulai negosiasi dengan Iran .

Presiden AS Donald Trump akan memutuskan pada 12 Mei apakah akan menghentikan sanksi AS terhadap Iran.

Kemudian yang mendorong harga minyak adalah Venezuela yang telah menurunkan output minyak, produsen terbesar OPEC di Amerika Latin.

Produksi minyak mentah Venezuela telah jatuh dari hampir 2.5 juta barel per hari (bpd) pada awal 2016 menjadi sekitar 1,5 juta barel per hari akibat gejolak politik dan ekonomi.

Perusahaan minyak utama AS Chevron Corp telah mengevakuasi eksekutif dari Venezuela setelah dua pekerjanya dipenjara karena perselisihan kontrak dengan perusahaan minyak milik negara PDVSA.

Persediaan minyak mentah AS naik 2,2 juta barel dalam seminggu hingga 20 April menjadi 429,74 juta barel. Itu hampir 10 juta barel di atas rata-rata lima tahun.

Produksi minyak mentah AS naik 46.000 barel per hari (bpd) pada minggu sebelumnya, menjadi 10,59 bpd. Itu peningkatan lebih dari seperempatnya sejak pertengahan 2016.

Produksi minyak mentah Amerika telah melampaui eksportir terkemuka Arab Saudi. Hanya Rusia saat ini menghasilkan lebih banyak, sekitar 11 juta bpd.

Dengan melonjaknya output AS, beberapa analis memperingatkan bahwa kenaikan 20 persen dalam harga Brent sejak Februari mulai terlihat berlebihan.